Satu Hati 2 CINTA

Satu Hati 2 CINTA
Perjuangan


__ADS_3

Sekar: Selamat berjuang.


......


Nyali Arka sempat ciut saat melihat betapa deras nya hujan yang diiringi petir besar seperti hendak menyambar. Tidak ada yang berjualan harumanis di kantin rumah sakit. Menurut informasi yang ia dapat, Arka harus membelinya di jalanan seberang. Di seberang rumah sakit letaknya.


Arka celingukan. Mencari seseorang yang bisa ia pinjami payungnya. Atau setidak nya jas hujan.


Ia gagal. Di hujan yang sederas ini tak ada satupun orang yang berjalan. Mereka semua sibuk berteduh. Karena sekalipun mengenakan payung tidak akan berhasil menjamin tubuh mereka tidak terkena air hujan.


Hingga akhirnya Arka bertarung melawan hujan itu sendiri. Berlari menyebrangi jalan. Tak perduli pada hujan sekalipun pada petir yang menyambar. Meski dirinya basah kuyup. Yang terpenting ia bisa mendapatkan yang Sekar inginkan.


Arka tidak menggunakan mobilnya. Tadi ia diantar Jayur kesini. Lagipula, tempatnya hanya berada di seberang rumah sakit.


"Pak, disini ada harumanis?" Sudah sampai di pasar. Bertanya pada salah satu penjual. Bapak-bapak berkumis yang terlihat sangar.


"Habis Mas. Lagian kok hujan-hujan gini carinya harumanis?"


"Iya pak, hehe. Buat istri saya. Lagi ngidam," jelas Arka.


"Oalah ngidam ya. Kasian juga ya. Ada sih Mas yang jualan harumanis. Tapi jauh. Tuh di gang paling ujung," menunjuk tempat yang ia maksud.


"Gak masalah Pak. Makasih banyak ya," Arka kembali menelusuri jalanan di tengah hujan. Di area pasar. Menuju tempat yang orang itu maksud.


"Pak ada harumanis? Tadi kat--"


"Gak ada Mas. Udah abis. Tadi di borong sama anak kecil itu," ia menunjuk seorang anak kecil yang sedang asyik memakan harumanis di sebuah bangku panjang.


"Oh yasudah. Makasih Pak," ucap Arka. Menghampiri anak kecil tersebut.


"Halo adek," ada sekiranya 5 bungkus besar harumanis yang anak itu bawa.


"Kenapa Mas?" Tanya seorang perempuan yang mungkin adalah Ibu nya.


"Bu maaf. Boleh saya beli harumanis nya?" Pinta Arka.


"Duh maaf Mas gak boleh. Anak saya suka banget."


Arka mencoba menjelaskan situasinya, "Begini Bu. Ini atas permintaan istri saya. Dia sedang hamil. Dan dia ngidam. Ngidamnya ini makanan ini. Tadi saya sudah datang ke dua penjual, tapi katanya sudah pada habis," jelas Arka.

__ADS_1


Perempuan tersebut terlihat iba. Melirik ke arah anak nya yang sedang asyik makan, "Aqila. Boleh ya beri Om nya satu? Nanti Qila beli lagi deh," bujuk nya ramah.


"Gak mau! Punya aku semua!" Ia meraih semua bungkus harumanis. Di peluknya erat-erat.


Melihat Arka sesaat. Namun ternyata kembali iba. Sehingga terpaksa harus membujuk anak nya.


"Besok kita beli lagi. Om ini soalnya perlu banget."


Arka menunggu dengan sabar dan penuh harap. Di rasa hanya ini satu-satunya harapannya.


"Gak mau! Ini punya Qila," tegas sang anak tanpa melepaskan harumanis nya sedikitpun.


"Halo. Nama Om, om Arka. Nama kamu Qila ya? Wih cantik banget. Kayak kamu," Arka membungkuk. Ia berusaha ikut merayu.


"Makasih," ucap anak itu polos.


"Qila punya banyak ya harumanis nya? Boleh gak kalau Om minta satuuu aja? Om bayar kok," ucap Arka penuh harap.


"Nggak mau! Om cari yang lain aja," Arka menghela nafas lelah. Namun ia tak ingin menyerah.


"Atau begini deh. Om bakalan lakuin apapun yang Qila mau. Tapi, boleh ya Om minta harumanis nya?"


"Hmm," ia mengetuk-ngetuk jarinya. "Aha. Qila tau," menjentikan jari nya di depan wajah Arka. Membuat Arka sumringah.


"Om harus goda tante-tante itu!" Qila menunjuk seorang perempuan yang sedang belanja.


"Qila!" Bentak sang Ibunda.


Arka meneguk ludah nya kasar. Mungkin tidak masalah jika yang akan ia goda hanya wanita lajang atau sedang sendirian. Masalahnya, ada pria gagah berorot di sampingnya.


"Gimana? Kalau om gak mau Qila juga gak mau ngasih ini."


"Baik. Om goda dia. Tapi habis itu janji ya kasih om harumanis nya?" Di balas anggukan oleh Qila. Resiko nya begitu besar jika Arka melakukan itu. Entah tamparan atau pun tuntutan. Tapi semuanya ia lakukan demi Sekar. Demi mewujudkan keinginannya.


Di perjalan menuju tempat wanita itu Arka mengumpulkan niatnya sebanyak mungkin.


"Pe-permisi mba," tingkah Arka tak luput dari perhatian Qila yang saat ini sedang terkekeh melihatnya. Sesekali Arka meliriik ke arah Qila. Ada kekesalan di raut wajah Arka.


"Iya?" Tanya sang wanita. Berbalik badan menghadap Arka. Diiringi pria di sampingnya.

__ADS_1


Arka merangkai kata yang tepat untuk menggoda wanita tersebut. Sialnya tatapan Qila membuat nya salah tingkah. Hingga..


"Anda sexy."


"Apa? Sialan!" Satu hantaman penuh tenaga melesat di pipi sebelah kanan Arka. Membuat pria itu tersungkur ke jalanan. Itu pria si wanita yang memukulnya.


"Bilang apa kau barusan bodat? Bangkit sini!" Teriaknya menggema. Untung hujan sangat deras. Membuat orang-orang yang ada di disana tidak banyak yang menyadarinya dan melihat ke arah Arka.


"Bajingan kau. Dia ini istriku. Harus kau tahu itu. Macam tak punya otak kau." Pria itu meraih badan Arka. Menghujani perutnya dengan pukulan di tengah jalan. Untung hujan, jadi tak banyak motor dan mobil lewat. Tubuh kekar pria itu membuat Arka tak mampu mengimbanginya sehingga Arka merelakan tubuhnya babak belur di tangan orang yang tak dikenal.


"Mas Mas udah. Saya minta maaf. Dia ini suami saya. Dia sedikit gila," Ibu Qila maju. Berupaya menghentikan perkelahian itu. Ralat. Menghentikan pria itu memukuli Arka.


"Jaga suamimu ini! Jangan sampai dia jelalatan!" Ucap pria itu lalu melenggang pergi.


"I-iya. Maaf, dia gila," ucap Ibu Qila.


Hingga akhirnya Qila menghampiri Arka yang sedang terhuyung bahkan berdiri pun kesusahan. "Om berhasil. Nih Qila kasih satu harumanis nya. Gak usah bayar. Babay Om."


Ibu Qila menarik tangan anak nya itu dengan kasar setelah mengucapkan maaf kepada Arka. Namun Arka tak perduli dengan pakaian basah, malu, dan bahkan luka yang ia dapat. Senyum terbit di bibir nya. Akhirnya ia telah berhasil mendapatkan sekantong harumanis untuk Sekar.


"Sekar pasti senang," ucap nya menyusut sudut bibir nya yang terluka.


Ekhem. Monmaap ya menodai mata kalian. Tapi percayalah, tubuhku hanya untuk Sekar.





Terserah Arka.



Sekar si dede gemesss



__ADS_1


__ADS_2