Satu Hati 2 CINTA

Satu Hati 2 CINTA
Luka Arka


__ADS_3

Hanya kehadiran satu orang yang Sekar terima. Yaitu Ibu asuhnya, Anisa. Siang ini Anisa pergi ke rumah sakit. Dengan membawa si kecil Zakiya. Dengan senang hati Sekar menerimanya. Masa mau marah juga ke anak kecil.


"Kak Sekall!!!" Zakiya menghambur. Mendekap tubuh Sekar.


"Zakiyaa!!"


"Kak Sekal kok tidul di sini cih? Kak Sekal itu tangannya kenapa? Kok muka Kak Sekal pucet?"Tanya Kiya dengan wajah tanpa dosa.


"Kiya," Anisa membungkuk. Memegang kedua belah pundak Zakiya. 'Kak Sekar lagi sakit namanya. Kak Sekar lagi di rawat di rumah sakit karena badannya sakit."


Dengan lucu nya Zakiya naik ke atas brankar. Duduk di perut Sekar. Membuat wanita itu meringis kesakitan. Tapi tak tega menyuruh Zakiya turun.


"Kak Sekal kok sakit sih? Kak Sekal nyuluh Iya jangan sakit. Kok kak Sekal yang sakit?"


Anisa tersenyum lembut, "Kiya... sakit itu bukan keinginan manusia. Itu atas kehendak Allah. Yang dimana ar---"


"Kak Sekar karena keinginan Kak Sekar sendiri," potong Sekar. Membuat Anisa membulatkan matanya.


"Sekar?"


"Tidak usah mendongeng Bu. Kiya sudah cukup dewasa untuk tahu. Katakan saja pada dia bahwa Sekar mencoba bunuh diri. Bukankah bunuh diri bukan bagian dari rencana Allah? Bilang saja pada Kiya bahwa Sekar sudah lelah hidup. Jadi dia tidak akan terkejut ketika suatu hari nanti Sekar pergi dan tak kembali," ucap Sekar.


"Kok hidup nya bosen sih Kak? Emang nya mahu pelgi ke mana? Kak Sekal gak mau liat Iya lulus sekolah ya? Bental lagi ulang tahun Iya loh. Kak Sekal udah janji sama Iya mau dateng telus ngasih kado boneka. Kak Sekal gak lupa kan? Iya inget loh."


Melihat bagaimana lugu nya anak kecil berbicara mampu membuat hati Sekar koyah. Rasa kasihan dan iba menyerang. Bagaimana ia sampai hati bisa berbicara begitu pada Zakiya yang jelas-jelas tak tahu apa-apa?


"Iya sayang kak Sekal. Jangan ketemu Allah dulu Kak. Iya mau sukses dulu telus mau beliin Kak Sekal boneka," ucap Zakiya dengan begitu lucu nya sembari memainkan perut Sekar.


"Awww," ringis Sekar ketika tak sengaja Zakiya mencubit perutnya.


"Sekar kenapa? Barusan meringis ya? Ada yang sakit? Mana?" Arka yang tak sengaja mendengar rintihan Sekar buru-buru masuk ke dalam. Memasang wajah panik.


Kemudian tersenyum saat melihat Kiya di atas perut Sekar.


"Adek turun dulu ya. Perut Kak Sekar nya nanti sakit. Soal nya ada dede bayi di dalam sini."


Baik Anisa maupun Zakiya semuanya terlonjak kaget. Pasalnya memang Anisa belum tahu kalau Sekar hamil. Zakiya, anak itu jingkrak di tempat.


"Kok bisa ada dede bayi sih om? Kapan di masukinnya?"


"Kamu belum ngerti. Tapi suatu hari nanti pasti ngerti. Yang jelas, adek harus jagain kak Sekar ya. Harus lindungin perut nya. Karena disini ada," Arka mengusap perut Sekar. "Anak Om sama anak Kak Sekar. Temen kecil kamu," mencolek hidung Zakiya.


"Yeee Iya punyaa temen kecil. Makasih ya Om udah ngasih Iya temen kecil. Pasti lucu deh. Iyaa gak sabal. Kapan Om dedek bayi nya keluar? Nanti atau besok?"


Arka terkekeh. Menggendong Zakiya tinggi-tinggi. "Masih lama. Tapi kamu harus bantuin Om ya."


"Siap. Iya halus bantuin om apa? Mau mau Iya beliin pelmen? Nih iya ada pelmen kaki," Zakiya mengeluarkan permen kaki dari saku bajunya.


"Om gak mau permen. Om mau kamu bantuin bujuk Kak Sekar biar gak marah sama Om," ucap Arka. Mendapat tatapan horor dari Sekar.


"Kan Kak Sekal gak malah sama om," ucap Zakiya tulus.


"Hmm."


"Jangan sangkut pautkan dia Arka! Dia masih terlalu kecil. Bawa dia keluar sekarang juga. Atau kau yang keluar," teriak Sekar. Mendapat sorot tajam dari mata Anisa.

__ADS_1


"Saya bawa dia keluar ya Bu," pamit Arka pada Anisa.


"Kamu hamil Sekar?" Tanya Anisa. Namun Sekar tak kunjung menjawab.


"Alhamduli--"


"Astagfirallah!" Potong Sekar. "Sekar gak mau hamil! Sekar gak mau punya keturunan dari Arka! Kalau bisa Sekar juga pengennya mati! Cuman Allah belum ngizinin. Dengan berat hati Sekar harus jaga bayi ini. Menyebalkan!" Sekar memukul perutnya sebanyak dua kali.


"Istigfhar Sekar! Kamu ngomong apa sih? Jangan ngelantur."


Sekar menatap intens Anisa, "Kalau Sekar cerita. Apa Ibu bakal berhenti menyalahkan Sekar?" Tak di balas apa-apa oleh Anisa.


Sekar memejamkan mata. Ia harus lagi mengatakan kalimat menyedihkan ini, "Arka main sama Viona."


"Apa?! Gak mungkin Sekar. Arka itu baik. Dia sendiri yang pernah bilang sama Ibu kalau dia gak main apa-apa sama Viona," balas Anisa.


"Emang Ibu tau kelakuan Arka di belakang? Sekar aja gak tau Bu. Selama ini Sekar emang bodoh. Mau aja di selingkuhin sama Arka. Dan sekarang, baru Sekar sadar. Dan bodoh nya kenapa Sekar harus sadar sekarang setelah ada benih Arka."


"Sekar! Ibu gak pernah ngajarin kamu buat bersikap dan berpikir kayak gini! Istigfhar! nyebut. Kamu gak boleh berpikiran buruk begitu soal Arka. Arka itu sayang kamu. Dia gak mungkin kayak gitu," ucap Anisa sedikit emosi.


Sekar tersenyum sinis, "Beda yah kalau orang kaya. Banyak yang bela. Sementara Sekar? Anak buangan! emang pantesnya di buang. Tenang aja Bu. Setelah anak ini lahir, Sekar akan kasih dia ke Arka. Terus Sekar akan pergi selama-lamanya. Tapi kalau Arka gak mau anak ini. Sekar juga gak bisa jaga dia. Biarin nasib anak Sekar sama kayak Sekar. Anak buangan."


Anisa mengusap wajahnya gusar. Tak menyangka pada apa yang dikatakan Sekar.


"Astagfirallah Nak. Ada apa sih ini sebenarnya? Kenapa kamu sampai punya pemikiran sebuntu itu?"


"Arka gila Bu! Sekar benci sama Arka! Sekar benci anak ini. Sekar benci semuanya!"


Arka yang baru pulang dari kantin tak sengaja mendengar teriakan Sekar. Mengapa hatinya bisa seperih ini? Mengapa kepergiannya kemarin menjadi duka baru.


"Gak papa. Om cuman lagi ada masalah sama Kak Sekar. Nama kamu siapa tadi? Zakiya. Oh iya. Zakiya abis ini mau kemana?"


"Mau ketemu sama Kak Sekar."


Terpaksa Arka kembali masuk ke dalam menemui Sekar atas permintaan Zakiya. Ia melihat pemandangan yang tak sedap di pandang. Dimana kedua wanita yang ia sayang dan ia hormati sedang menangis sesegukan.


Setelah Arka dan Zakiya datang. Buru-buru Sekar menyeka air matanya. Air mata sialan menurut nya. Kenapa pula harus menangisi Arka.


"Katanya Zakiya mau ketemu," ucap Arka canggung.


"Zakiya sini! Jangan main sama dia!" Teriak Sekar. Zakiya berlari ke arah Sekar.


"Sekar!" Bentak Anisa.


"Apalagi Bu? Masih mau bela Arka?! Ibu gak ngerti sih 5 tahun di selingkuhi, gak dianggap. Ibu gak ngerti saat tahu gimana suaminya main gila sama wanita lain! Selama ini Sekar diam Bu. Berusaha tabah dan sabar. Tapi kalau udah sejauh ini Sekar juga gak bisa! Sekar manusia. Bukan malaikat."


Arka menatap nanar istri tercinta nya itu.


"Ngapain masih disitu Ka? Bisa tolong keluar gak? Saya muak melihat pria bajingan seperti Anda."


Perkataan Sekar dihadiahi tamparan oleh Anisa. Begitu kencang. Hingga wajah gadis itu miring ke samping. Bahkan memerah. Permen yang Zakiya **** terjatuh ke lantai. Saat tak sengaja ia menyaksikan bagaimana naas nya Sekar di tampar.


Lagi-lagi air mata Sekar harus keluar. Tapi ia tersenyum.


"Keterlaluan kamu Sekar! Ibu gak pernah ngajarin kamu untuk berperilaku buruk sama suami. Apapun yang Arka lakukan dulu biarkan menjadi masa lalu. Ap--"

__ADS_1


"Tapi Viona hamil anak Arka! Semuanya gak akan usai begitu aja Bu. Akan ada masanya anak itu keluar dari rahim Viona. Gimana nasib Sekar saat mendengar anak itu memanggil Arka ayah nya? Apa Ibu pikir Sekar akan baik-baik aja? Gimana perasaan Sekar saat melihat anak itu di gendong Arka? Sekar tahu Sekar sering menderita. Tapi tidak untuk kali ini!"


Anisa menoleh ke Arka. Meminta penjelasan dari pria yang berdiri jauh dari Sekar itu.


"Demi apapun saya tidak pernah main bersama Viona Bu. Saya bisa membuktikannya dengan cara apapun," Anisa bisa membaca raut wajah Arka. Setumpuk kejujuran ada di sana. Kemudian ia beralih menatap Sekar.


"Sekali bajingan ya tetap bajingan! Harus nya aku tidak memungutmu Arka. Ah bukan, harusnya aku mati. Harus nya aku tidak menceburkan diri. Harusnya aku langsung saja menusuk bayi di dalam perut ini! Har--"


Arka tak kuasa melihatnya. Saat itu juga ia menghampiri Sekar. Memeluk tubuh gadis itu.


"Lepas!" Teriak Sekar.


"Tidak akan!"


"Aku bilang lepas atau ku bunuh anak ini sekarang!"


"Tidak akan!"


Sekar meraih vas bunga di sampingnya. "Lepaskan!"


Entahlah. Tak sengaja atau bagaimana. Berakhir dengan lumuran darah. Lumuran darah dari kepala Arka. Zakiya, Anisa baik Sekar sekalipun memelototkan matanya. Ketika Sekar memukul Arka menggunakan vas bunga dengan begitu kencang.


Arka oleng saat itu juga. Darah itu turun begitu deras. Melewati kening dan muka. Terpaksa ia melepaskan diri dari Sekar.


"A-Arka?" Beo Sekar ketika melihat darah berlumuran dari kepala Arka. Kemudian melirik vas bunga yang ia pegang. Pecah.


"Ibuu!!! Iya takut kak Sekal!!" Zakiya loncat. Menangis. Berlari keluar.


"A-aku..."


"Arka? Ikut Ibu Nak. Puas kamu Sekar?!" Teriak Anisa. Kemudian membawa Arka keluar.


Ini Zakiya





Kalau yang ini sih udah pasti kenal.





kalo ini bumil




__ADS_1


__ADS_2