
Ark: Aku rela berperilaku konyol, asal itu bisa membuat Sekar bahagia.
Sekar: Pada kenyataannya suamiku itu memang konyol sungguhan.
........
Sekar dan Arka sedang berolahraga saat ini. Berlari saling mengejar satu sama lain. Keringat membasahi sekujur tubuh. Namun diiringi kesenangan. Nafas mulai terpenggal. Dada sesak rasanya. Angin berhembus kencang. Menjadi saksi bagaimana kedua insan itu sedang...... berlari pagi.
Sekar meminta Arka menemaninya berlari pagi di sekitaran hotel. Agar tubuh sehat bugar katanya. Soalnya kan Arka penyuka kesehatan. Begitu sih kalau kata Sekar.
Sebenarnya bukan itu. Sekar pusing kalau berada di dalam kamar hotel terus. Bukan karena bosan tak ada kegiatan. Tapi karena bosan pada Arka yang terus saja minta jatah. Di kira gak cape apa?!
Maka dari itu pagi ini Sekar memutuskan untuk berolahraga di luar setelah olahraga di dalam selesai. Bersama Arka, gadis itu berlari-lari kecil di pinggiran jalan raya.
Ada banyak sorot mata yang tertuju pada Sekar. Tentu karena kecantikannya. Selain itu karena gadis itu menebar senyuman kemana-mana. Menjadi asupan pagi bagi yang melihatnya.
"Bibir nya di kondisikan!" Imbuh Arka--- berjalan lebih cepat agar bisa menyusul Sekar yang tadi berjalan lebih dulu darinya.
"Senyum itu ibadah," ujar Sekar diakhiri kekehan kecil.
"Tapi kalau mengundang mala petaka mending gak usah sama sekali!" Arka menutup mulut Sekar menggunakan tangannya.
"Ar- mmm-mm," hingga gadis itu kesulitan berbicara.
"Sekar itu cantik. Menggoda. Jangan sampai dilirik orang lain. Karena apa?" Arka membuka bungkaman mulut Sekar. "Karena Arka cemburu." Morning kiss di dapati Sekar di keningnya.
Sekar tersenyum. Ia sangat senang di perlakukan seperti itu oleh Arka. Lantas mereka merubah larinya menjadi jalan pagi. Dengan saling bergandeng tangan.
"Arka ada orang mancing!" Sekar memekik. Menunjuk ke arah dimana terdapat beberapa orang yang sedang duduk di pinggiran empang (Kayak kolam gitu)
"Terus?"
"Ke sana yuk. Liat yang mancing," sebenarnya Arka tidak mau. Menurutnya memancing adalah kegiatan membosankan. Tapi tak enak kalau harus menolak Sekar. Terlebih gadis ini terlihat sangat antusias sekali melihat aktivitas memancing tersebut.
"Arka kamu ikutan mancing coba," ucap Sekar ketika mereka sudah sampai di area pemancingan. Membuat Arka terlonjak kaget. Pasalnya, Arka tidak bisa memancing. Bahkan tidak pernah memancing sekalipun seumur hidupnya.
"Itu ada alat pancing satu!" Sekar menunjuk alat pancing yang tergeletak di salah satu titik. Ia berlari. Meminta izin kepada salah satu bapak-bapak yang ada di sana. Memberikannya uang kemudian berlari kecil menghampiri Arka.
"Ini. Ada umpan nya juga. Arka mancing ya. Pengen liat," dan saat inilah sifat kekanak-kanakan Sekar muncul. Sialnya, kenapa Arka harus yang di suruh memancing?! Arka meneguk ludah nya kasar. Memutar otak berusaha mencari alasan. Tidak sampai Sekar memekik kegirangan.
"Arka itu liat! Bapak itu keren banget mancingnya," entah sengaja untuk membangkitkan semangat Arka atau bagaimana. Tapi apa yang dilakukan Sekar----jingkrak di tempat dan memuji bapak-bapak membuat darah Arka berdesir hebat, mendidih saat itu juga.
Dengan pengetahuan minim, Arka memasang umpan cacing di ujung alat pancing nya. Itu pun ia melirik salah satu pemancing yang ada di sampingnya.
"Mau liat aku memancing? Sini," Arka menepuk-nepuk tempat kosong di sampingnya. Sekar melepas sepatunya, di jadikan kursi untuk duduk di samping Arka.
Gadis itu duduk dengan mata penuh binar. Menanti hasil pancingan Arka. Beberapa kali membasahi bibir nya yang terasa kering.
"Ekhem," berdehem sebentar untuk membasahi tenggorokan yang terasa seret. Sebelum akhirnya melemparkan pancingan ke kolam ikan.
"Ka?" Sekar melongo, "Kok kamu ngelemparnya deket banget?"
__ADS_1
Gelak tawa bapak-bapak yang ada disana pecah seketika. Pasalnya, orang lain melempar sampai ke tengah bahkan ada yang lebih jauh. Tapi Arka hanya melempar ke depan, dekat dengan ujung kakinya.
"Eum anu itu. Anu apa sih namanya. Pemanasan. Nah iya pemanasan," Arka kikuk sendiri. Untungnya Sekar polos. Jadi hanya bergumam oh saja saat Arka memberikan penjelasan.
"Lempar lagi Ka. Yang kenceng, sampai ke tengah," Sekar begitu antusias menyemangati suaminya ini.
Plung
Kesialan kedua bagi Arka. Ia sudah mengambil ancang-ancang. Tadinya, agar bisa sampai ke tengah kolam. Arka melempar alat pancingnya ke belakang terlebih dahulu. Bukannya terlempar ke tengah kolam. Alat pancing malah tersangkut di daun pisang.
"Hah? Alat pancing kamu mana Ka?" Tanya Sekar yang belum sadar bahwa alat pancing Arka ada di belakang-----nyangkut di pohon pisang.
Arka pun sama dongo nya. Menengok ke kanan, kiri. Sedikit berdiri menengok ke tengah kolam, mencari alat pancingnya.
"Iya ya. Alat pancing aku mana? Perasaan tadi di lempar kesana?"
Sekar tepuk jidat saat sadar apa yang terjadi. Tidak lama kemudian ia tertawa. Tawa nya begitu mengudara.
"Nyangkut di pohon pisang Ka," mati-matian Sekar tidak kembali tertawa. Takut Arka malu. Tapi Arka sudah malu. Mukanya merah padam. Bangkit untuk melepaskan alat pancing nya. Dengan malu-malu tentunya.
Saat sudah kembali, Sekar menatap Arka sangat dalam sambil menahan tawa, "Kamu gak bisa mancing ya Ka?"
Arka gugup. Mau ngaku juga malu. Demi mengatasi rasa malunya, ia menggeleng tegas, "Kata siapa? Aku bisa kok. Tadi itu sengaja. Biar kamu ketawa."
Sesaat setelah mengatakan itu Arka kembali melempar alat pancingnya. Dan tepat. Kali ini keberuntungan berpihak padanya. Ia melemparnya tepat ke tengah kolam. Sehingga tinggal menunggu ikan melahap umpan nya.
Arka duduk dengan busung dada, "Tinggal kita tunggu ada ikan memakan umpanku."
Sekar melirik ke arah pemancing lain. Dimana mereka sudah mendapatkan banyak ikan. Besar-besar pula. Sekar jadi curiga. Jangan-jangan Arka musuhan sama ikan?! Terus ikan nya lagi marah sama Arka.
"Ka? Pulang aja yuk. Gakpapa gak dapet ikan." Padahal Sekar sangat antusias. Bukan main semangatnya. Ia sangat senang melihat ikan. Senang juga melihat orang yang memancing. Senangnya akan berlipat-lipat ganda jika orang yang dia sayang terus memancing terus mendapatkan ikan. Namun kenyataan tak seindah khayalan ternyata.
"Tunggu sebentar. Pasti kita dapet ikan," kini justru Arka yang berantusias. Ia penasaran. Pada kemana larinya ikan itu.
"Arka pancingannya gerak!" Sekar memekik saat melihat alat pancing Arka bergerak-gerak.
Dengan gerakan gesit, pria itu menariknya. Mengulurnya. Mencoba membawa ikan ke daratan.
"Kayaknya ini gurita. Berat banget soalnya."
"Hah?" Sekar menganga. Cem mana pula ceritanya ada gurita di empang? Arka bener-bener yah.
"Sebentar lagi dapet," teriak Arka kegirangan saat hampir berhasil membawa hasil pancingannya ke daratan.
"Yang kuat Ka pegangnya. Tarik Ka. Ayo. Semangat," Sekar menyemangatinya di samping Arka. Gadis itu berdiri sambil jingkrak dan tepuk tangan.
"Gurita nya hamil!" Teriak Arka.
"Ih Arka serius. Nanti ikan nya lepas!" Sekar memukul pelan lengan Arka.
"Hitung sampai 3 Sekar. Nanti ikan nya aku tarik."
__ADS_1
Sekar pun mematuhinya.
"Satu...," Sekar tertawa kegirangan.
"Dua....," Sekar semakin tak sabar.
"Tiga...," Sekar tersenyum begitu lebar.
"Hor....," Senyuman Sekar pudar.
"Sepatu bot?!"
Semuanya menganga.
Satu...
Dua...
Tiga..
Gelak tawa pun pecah seketika.
"Bapak umpan nya pake apa? Jangan-jangan pake kaus kaki ya. Sampai-sampai dapet nya sepatu bot. Haha," teriak salah seorang bapak-bapak berkumis tebal.
"Lain kali kalau mancing jangan lupa baca bismillah. Kalau perlu yasin nan pak," teriak yang lainnya.
"Haha. Punya masalah apa pak sama ikan?" Yang lainnya menyahuti.
"Kayak nya bapak banyak dosa. Sampai-sampai ikan gak mau di sentuh sama bapak," teriak yang lainnya.
Arka memegangi sepatu bot penuh lumpur itu. Kemudian melirik ke arah Sekar. Gadis itu diam mematung, seperti orang jantungan.
Mulutnya menganga, matanya membulat sempurna, "Ini yang namanya gurita?"
Arka garuk-garuk kepala. Kemudian menaruh sepatu bot itu di bawah. "Sepatu bot ajaib," tukasnya di akhiri kekehan kecil.
Barulah Sekar sadar bahwa suaminya ini tidak bisa memancing. Sekar memutuskan untuk mengajak Arka pulang. Dari pada Arka berubah menjadi pembersih kolam.
Setelah sepatu bot, jangan-jangan setelah ini Arka dapat knalpot motor. Tak ingin itu terjadi, Sekar meraih tangan Arka dan mengajaknya pulang.
"Itu gurita yang menjelma jadi sepatu bot!" Teriak Arka pada bapak-bapak yang masih saja menertawainya.
Menertawai Arka yang mancing sepatu bot.
Sepatu bot adalah siluman gurita
Dikira gurita. Ternyata sepatu bot. Tahan Arka tahan, ada Sekar
__ADS_1