
Sekar: Boleh aku jujur? aku menyukai perubahannya. Aku akan lebih menyukainya apabila ia berubah karenaku
Susah payah Sekar menelan pahit salivanya. Dadanya naik turun. Ia berlari ke arah kamar sesaat setelah memarahi Viona tadi. Bagaimanapun juga, Sekar tidak biasa memaki atau memarahi seseorang. Biasanya ia yang di marahi. Maka pada saat dirinya di hadapkan dengan situasi seperti tadi tentu membuat Sekar gerogi.
Sekar menempelkan punggungnya di pintu kamar. Ia mengusap keringat yang mulai menetes di dahinya. Sesaat setelah itu pandangannya beralih pada keranjang baju yang berada di kolong tempat tidurnya. Ia tersenyum. Tahu harus melakukan apa untuk menghilangkan sedikit perasaan geroginya.
****
"Kalau Sekar istri kamu bagaimana?" Tanya Jayur yang sedang berada di samping Arka. Arka sedang mengemudi--hendak menuju rumah teman Jayur yang katanya tidak terlalu jauh. Untuk menemui mertua wanitanya disana.
"Kalau Sekar istri saya ya akan saya minta dia kembali dan kami menjalani kehidupan sebelumnya."
Punggung Jayur merosot. Wajahnya berubah lesu, "Oh." Nada suaranya menjadi lirih.
Arka memalingkan wajahnya melihat orang yang duduk di sampingnya terlihat lemas, "Kenapa?"
"Padahal saya mengharapkan Sekar." Dasar Jayur, aki-aki tak tahu diri.
"Sekali Anda sentuh Sekar saya. Bersiaplah kehilangan satu ginjal Anda," ucap Arka sambil mengepalkan tangannya dan di arahkan ke muka Jayur.
"Whoa whoa whoa. Kenapa jadi tegang begini? 'Kan saya bercanda," ucap Jayur. Tak lama kemudian ia terkekeh. Lucu melihat Arka yang mendadak jadi possesif begini, "Kamu tuh sebenarnya menyukai Sekar tidak sih? Sifatmu ini jadi-jadian. Susah di tebak," ucap pria kumis tipis itu.
Arka menghela nafas berat, "Saya menyukainya. Tapi baru sadar sekarang ini. Setelah dia pergi," gumamnya lirih dengan pandangan hampa ke depan.
"KALAU SUDAH TIADAAA BARU TER--"
"Anda menyanyi saya lempar keluar!" ujar Arka sambil memelotot. Membuat Jayur kicep.
"Bercanda, hehe," kekeh nya. Kemudian Jayur menghela nafas, "Saya tidak tahu bagaimana mengatakannya. Tapi keadaan Lestari sangatlah buruk. Ia enggan untuk makan dan minum. Selalu tertawa sambil mengacak-ngacak rambutnya. Sesekali menyerukan nama suaminya... dan nama Siska serta Sekar," ucap Jayur.
"Siska dan Sekar?" Ulang Arka.
"Iya. Kenapa? Lupa sama Siska? Gadis cantik kakak nya Sekar," tambah Jayur.
"Ingat. Dia menyebut Sekar juga?" Arka tambah melongo.
"Saya tahu kamu sedang patah hati. Tapi tidak usah jadi tuli segala, Arka," ucap Jayur.
"Biasanya orang gila itu menyebut nama orang-orang yang dekat dengannya. Yang ia sayang. Berarti Sekar---" imbuh Arka.
"Berani kamu mengatai mertuamu gila?!" Tanya Jayur. Pria di sampingnya itu-- Arka terkekeh karenanya.
"Memang mertua saya gila. Saya juga gila terhadap kedua putrinya."
Jayur membulatkan matanya lebar-lebar. Arka yang pendiam, tegas, galak kini sudah hilang. Dan.. dari mana ia tahu kalimat romantis seperti ini?
"Baru kali ini saya melihat kamu seperti manusia. Dulu waktu Siska baru meninggal kamu seperti robot. Bahkan setelah menikah dengan Sekar. Arka-Arka. Kenapa harus menunggu ditinggalkan dulu baru tersadar?"
Arka tersenyum. Kepalanya sedikit miring. Bayangan Sekar tiba-tiba saja ada di dalam benaknya. Berada di bagian depan mobil.
"Sekar terlalu baik sampai berhasil menutupi kejahatan saya. Eh tidak. Sekar terlalu... ah entahlah. Gadis itu begitu baik," Arka salah tingkah. Mukanya tiba-tiba memerah. Membuat Jayur yang berada di sebelahnya tersenyum.
__ADS_1
"Yasudah. Perjuangkan dia kalau kamu mencintainya."
"Siap," ucap Arka. Semangat 45.
****
Atensi Sekar yang saat itu sedang melipat baju teralihkan kala benda pipih yang berada di sebelahnya berbunyi.
"Halo. Kenapa, Kak?" Tanya Sekar pada orang di seberang sana.
"Ada pekerjaan. Di kantor. Sesuai dengan apa yang kamu inginkan."
Spontan Sekar bangkit dari duduk nya. Matanya berbinar seketika. Ia bahkan membekap mulutnya sendiri. Kemudian meloncat dari kasur tempat tadi dirinya melipat baju. Tak percaya apa yang dikatakan Arnold barusan.
Memang. Selalu saja ada cara dan jalan untuk orang baik. Meski terkadang terlambat dan tidak sesuai harapan. Namun, Allah tidak memberikan sesuatu tanpa alasan. Tujuan yang baik akan menghasilkan hal baik yang pula.
"Di kantor mana? Kapan?" Tanya Sekar yang saat itu langsung jingkrak di tempat.
"Nanti aku kirim alamatnya. Besok siap-siap ya. Akan aku jemput," ucap Arnold.
Sekar menggeleng meski Arnold tidak bisa melihatnya, "Tidak usah, Kak. Aku bisa berangkat sendiri."
"Tidak ada penolakan. Besok hari pertama kerja. Harus kuantar," ucap Arnold finish.
"Siap. Bos, Kak," ucap Sekar dengan semangat 45.
Arnold hanya terkekeh di seberang sana. Terkadang gadis itu bisa bersikap seperti anak kecil. Namun apapun itu Arnold tetap menyanyanginya.
"Melipat baju di malam hari adalah kebiasaan seorang Sekar," ujar cowok itu diakhiri kekehan kecil.
"Oke siap," ucap gadis itu sambil hormat.
Sekar meraih semua baju yang tergeletak di ranjang dengan berantakan menggunakan kedua tangannya. Ia lantas menyimpannya pada keranjang besar yang berada di bawah kolong ranjang. Tanpa perlu dilipat lagi.
Sekar mengikuti apa kata Arnold. Berhenti melipat baju. Ia merebahkan tubuhnya dengan tangan dan kaki terlentang-- terbuka lebar. Senyum manis tercetak di bibirnya. Wajahnya menatap langit-langit kamar. Tidak sabar menunggu esok hari segera datang.
***
Siang tadi Arka dan Jayur tidak jadi menemui Lestari dikarenakan teman Jayur, pemilik rumah yang ditinggali Lestari sedang tidak ada sehingga mereka tidak memiliki akses untuk masuk.
Sore harinya Arka mengantar Jayur untuk pulang. Beliau berjanji akan membawa Arka bertemu Lestari besok pagi dan berjanji akan menelefon temannya terlebih dahulu.
Kini pria berjakun itu sedang mandi. Di dalam kamar mandi pikirannya tidak lepas dari Sekar. Sempat terbelit di benaknya ia mandi berdua dengan.... sudahlah.
Dengan nafas menggebu dan tubuh yang terasa panas Arka menyudahi mandinya. Daripada ujungnya jadi manstruba*i sendiri.
Sambil mengeringkan rambutnya yang basah. Arka melihat handphonenya yang tergeletak di atas kasur. Kasur yang sudah di rapihkan pelayan hotel tentunya. Senyuman manis tercetak di bibirnya. Ia tahu akan berbuat apa.
***
Sekar terbangun saat mendengar bunyi nada dering ponsel yang berada di meja samping tempat tidurnya. Tertera nama Arka disana. Yang membuat Sekar memutar bola matanya malas.
__ADS_1
Tak urung dari itu ia masih saja tetap menjawab panggilan Arka. Cerai bukan berarti harus tidak kontekan.
"Iya, Mas?" Tanya Sekar.
"Halo. Apa kabar?" Tanya Arka dari seberang sana.
"Alhamdulilah. Kamu?" Ucap Sekar.
"Alhamdulilah juga," mata Sekar terbelalak. Jarang sekali Arka mengucap hamdalah dan bismilah-- selain waktu itu ketika hendak membersihkan rumah.
"Sudah makan?" Tanya Arka.
"Sudah. Kamu?"
"Alhamdulilahilladzi attamana wassakona wajaalna muslimin udah makan," Sekar terkejut sekaligus terkekeh mendengar jawaban Arka. Benarkah ini yang menelefon adalah Arka?
"Ternyata kamu bisa do'a setelah makan juga. Aku kira cuman bisanya makan doang," ujar Sekar terkekeh. Ia sudah tidak dapat menyembunyikan tawanya.
"Hehe. Baru belajar," ucap Arka. Mereka bertindak seolah-olah remaja. Ayolah Arka, ingat umur!
"Senang mendengarmu tertawa," ucap pria di seberang sana.
Sekar mengantupkan bibir rapat-rapat. Arka ini aneh. Kemarin-kemarin marah, galak. Sekarang mendadak lembut? Setan apa yang sudah menghuninya?
"Oh. Gimana kerjaannya? Lancar?" Tanya Sekar.
"Gak lancar," ucap Arka dengan nada sedikit lesu.
"Lho? Kenapa?"
"Gak ada kamu disini," gelak tawa Sekar pecah seketika. Membuat Arka melengkungkan alisnya. Kenapa Sekar tertawa?
Rasanya tidak cocok saja. Seorang Arka yang usianya sudah menginjak 35 tahun yang dikenal garang dan galak tiba-tiba menjadi baik. Bahasanya non-baku. Sungguh, bukan Arka sekali.
"Kamu baru selesai baca Novel remaja, ya?" Tanya Sekar sambil mengusap sudut matanya yang sedikit berair. Karena tertawa.
"Kenapa memangnya?" Tanya Arka dengan kening mengerut.
"Bahasanya beda," ucap Sekar. Singkat namun mampu membuat Arka membungkam. Ia mengantupkan bibirnya rapat-rapat. Arka rupanya baru sadar bahwa sedang ada kelainan dari bahasanya.
"T-tidur sana, sudah malam!" Ucap Arka lalu mematikan telefon. Wajahnya tiba-tiba berubah menjadi warna merah merona. Ia meremas benda pipihnya itu kuat-kuat. Senyum tersungging di bibirnya. Kenapa Arka jadi begini?
Arka mengacak-ngacak rambutnya sendiri. Tak urung dari itu ia juga tersenyum. Kemudian telentang di atas kasur dengan keadaan rambut yang masih basah. Ia menatap langit-langit kamar hotel. Tersungging sebuah senyuman manis di bibirnya. Membayangkan betapa bahagianya ia akan segera mengetahui siapa Sekar.
Di lain sisi. Di sebuah kamar dengan kasur kayu pun tak kalah. Ia juga sama tersenyum. Senyuman dengan lengkungan panjang. Tapi hatinya tak tahu tersenyum pada siapa. Mungkin Arka, mungkin Arnold, mungkin juga pekerjaan barunya yang kini sedang menanti.
Sekar lantas bangkit. Meraih boneka Doraemon yang beberapa hari lalu dibelikan oleh Arnold. Sekar membalikan badannya menjadi tengkurap. Ia menggoyang-goyangkan boneka Doraemon itu. Tersenyum kepadanya.
"Bilang makasih ya ke Kak Arnold. Karenanya hari ku menjadi lebih berwarna."
Ada sebuah ikatan yang terlepas dari tubuh Sekar. Membuat gadis itu bisa bergerak lebih bebas dari sebelumnya. Ia tak tahu apa dan bagaimana. Tapi sungguh, bercerainya Arka dan Sekar merupakan awal yang baik Sekar sendiri. Meski sempat sedih untuk beberapa saat. Namun itu tak berangsur lama.
__ADS_1
Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri. Akan lebih dewasa dan akan lebih mandiri. Kini Sekar sudah tidak sabar lagi untuk menantikan kantor yang akan menampungnya bekerja. Ia lebih tidak sabar ketika suatu hari ia mendapatkan gajih nya dan bisa membeli apapun yang ia mau dengan uang hasil keringatnya sendiri.