
Flash Back And
"Kamu tuh harus segera memilih antara Sekar atau Viona?! Sudah 5 tahun kamu berumah tangga dengan Sekar dan 5 tahun berpacaran dengan Viona, kapan mau melepas keperjakaan mu itu?!" Tukas Arman. Ia berbicara dengan penuh penekanan dan mata yang mulai melotot.
Arka berdecak sebal, kalau diberi kesempatan berdua bersama Arman pastilah hal ini yang ditanyakannya.
"Melepas keperjakaan kan bisa gak harus sama perempuan, sama Kambing juga bisa."
Plak*
Sebuah sendok kembali mendarat di kepala Arka dengan lebih keras dari sebelumnya sehingga membuat si pemilik kepala meringis kesakitan.
"Ngelantur kamu! Kambing mana juga yang mau sama kamu, lelaki tanpa kepastian!"
Arka hanya memutar bola matanya malas, entah sudah berapa ribu kali dirinya di cap sebagai 'Lelaki Tanpa Kepastian' oleh Ayah nya sendiri.
**
Jika Tami tidak mengetahui prahara dan kisah kasih Arka dan Sekar, maka berbeda dengan Arman. Ia mengetahui segalanya. Mengetahui bagaimana Sekar dan Arka menikah secara terpaksa, mengetahui bagaimana Arka tidak pernah bisa mencintai Sekar, mengetahui bagaimana sikap dingin dan kasar Arka pada Sekar.
Ia juga tahu akan hubungan terlarang Sekar dan Viona yang entah bagaimana bermulai. Arka sendiri sangat stress dengan pernikahan ini sehingga membutuhkan seseorang untuk berbagi kisah dan memberinya solusi, dan itu ia lakukan pada Arman.
"Menurut Papah, aku harus memilih yang mana?"
Arka kembali memasang muka serius setelah tadi sempat mempermainkan Arman.
Sebelum angkat bicara, Arman menyempatkan diri menarik nafas panjang.
"Ikuti kata hatimu, jangan kata Papah. Papah tidak tahu wanita mana yang cocok untuk mu, Papah tidak mengerti bagaimana sikap kedua wanita itu."
Arka berdesis, ia tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Ayah nya sehingga harus kembali dilanda dilema.
"Sekar, dia cantik dan berbakat, sayangnya ia pemurung dan senantiasa menangis tanpa sebab. Berbeda dengan Viona, dia cantik dan ceria, tapi Papah tahu kan bahwa Viona hanyalah pelarian Arka saat Siska meninggal?"
Arman menarik tangan Arka dan mengelusnya pelan seraya tersenyum.
"Wajah dan kebiasaan murung bisa diubah dengan mudah tapi tidak mudah mendapatkan gadis setia seperti Sekar yang mau berumah tangga denganmu selama 5 tahun padahal ada Arnold yang lebih segalanya darimu."
Arka melepaskan pegangan tangannya dengan kasar dari Arman, ia kesal kalau dirinya sudah dibanding-bandingkan dengan Arnold.
"Tapi Arka masih ingat kejadian itu, Arka masih ingat perkataan orang itu." Mimik mukanya berubah menjadi sedih, bayangan masa lalu kembali menghampiri.
"Perkataan apa?" Tanya Arman seraya memgangkat sebelah alisnya.
"Dia yang mengatakan jangan ceraikan Sekar tapi jangan buahi perutnya."
__ADS_1
Kini gantian Arman yang berdecak sebal.
"Perse**n dengan itu semua Arka! Bagaimana bisa seorang suami tidak melakukan hal yang paling harus ia lakukan? Kau masih percaya dia rupanya?" Nada bicara Arman mulai meninggi manakala Arka membicarakan masa lalu.
"Tapi bagaimana kalau Sekar memang adik tiri Arka, Pah?" Bentak Arka.
"Bukan! Papah sudah melakukan tes DNA, bukannya kamu juga ada saat itu?"
"Tapi kan bisa jadi golongan darah yang Sekar miliki adalah golongan darah Ayah nya."
"Bukan Arka! Bukannya kamu mengetahui orang tua kandung mereka?" Tukas Arman.
"Tidak, Arka tidak pernah tahu kedua orang tua kadung Siska dan Sekar, yang Arka tahu hanya Ibu angkatnya." Jawab Arka.
Arman memijit keningnya yang sudah tampak pening.
"Kalau begitu cari Ibu Sekar yang masih hidup, tanyakan padanya siapa Ayah dan Ibu kandung Sekar." Sahut Arman.
Arka menunduk dan kemudian menarik nafasnya berat, ada suatu hal yang sulit untuk dikatakan.
"Dia gila." Ujarnya singkat.
Singkat namun sangat mematikan, bisa membuat Arman jantungan saat itu juga.
Ayah yang meninggal dan Ibu yang dipenjara mungkin memang benar kedua orang tua kandung Siska, tapi tidak untuk Sekar.
Pernah seseorang datang kepada Arka dan mengatakan bahwa Sekar adalah buah hati Tami. Namun.... dengan pria lain.
Ya, Tami pernah bermain gila saat Arman berada di luar negeri bahkan sampai dirinya hamil. Pada awalnya, Arman tidak tahu bahwa Tami bukan hamil anaknya dan ia tidak menaruh curiga apapun juga.
Akan tetapi, setelah bayi itu dilahirkan, Tami membawanya pergi dan memberikannya pada seseorang. Dan dengan bantuan dokter, ia mengatakan pada pihak keluarganya bahwa bayi malang itu meninggal.
Itu Tami lakukan karena ia berpikir apabila bayi itu dibawa hidup bersama Arman, maka akan menjadi sebuah marahabaya prahara awal hancurnya rumah tangga mereka.
Tapi sepandai-pandainya seseorang menyembunyikan bangkai, pasti akan tercium juga baunya. Arman tahu perihal keji Tami. Tapi yang ia lakukan bukanlah menalak Tami ataupun mengusirnya, melainkan mencari anak Tami yang sudah diberikan kepada orang.
Bertahun-tahun lamanya ia mencari anak Tami namun tak kunjung ia temukan sehingga suatu hari Arman kedatangan seorang pria yang tak ia kenal dan memberikan pernyataan bahwa anak Tami adalah Sekar yang saat itu sudah berstatus sebagai istri Arka. Sekar diangkat oleh kedua orang tua kandung Siska dan dinyatakan sebagai adik Siska.
Tapi dengan berbagai fakta, Arman menyatakan bahwa Sekar bukanlah anak tirinya dan adik tiri Arka. Tapi semua itu masih merupakan teka-teki karena belum ada bukti kuat yang menyatakan siapa Sekar sebenarnya.
Maka dari itu, Arman meminta kepada Arka untuk jangan menceraikan Sekar sebelum semua rahasia terbongkar. Dan Arka juga belum berani meniduri Sekar karena takut Sekar adalah adik tirinya.
Hingga saat ini, kebenaran itu masih dicari tetapi hanya Arka yang mencari. Bahkan ia tidak menceritakan kejadian sebenarnya pada Sekar karena jika Sekar tahu ia bisa kabur. Arman tidak ingin Sekar kabur karena takut Sekar memanglah anak tirinya.
Jika Sekar adalah anak tirinya, Arman akan menjaga dan merawatnya sebagaimana ia merawat Arka sebagai penebus dosa istrinya dimasa lalu karena telah menelantarkan Sekar.
__ADS_1
Itulah alasan Arka tidak menceraikan Sekar dan tidak pernah menidurinya. Selain karena Siska, juga karena Arman dan keadaan mengapa Arka harus tetap bertahan bersama Sekar.
****
"Kamu mau baju yang mana?"
Sudah dua toko dimasuki oleh Tami, Sekar dan juga Viona. Tapi belum ada satupun baju yang Sekar beli, berbeda dengan Viona yang sudah menjinjing 5 tas.
"Huft. Yasudah, bagaimana kalau kita pulang saja?" Usul Tami, ia menyerah pada Sekar yang tak kunjung buka suara.
"Mah?"
Saat Viona berjalan di depannya, Sekar memanggil Tami dengan sedikit berbisik.
"Kenapa sayang?" Tanya Tami halus, ia sangat berharap ada suatu hal yang Sekar minta agar dirinya tidak pulang dengan tangan kosong.
"Ada yang Sekar inginkan." Ia berbicara seraya menunduk dan tersipu malu.
"Nah begitu dong. Ayo katakan, kamu mau apa?". Tanya Tami antusias.
Namun Sekar tidak kunjung menjawab, ia malah semakin menunduk.
"Kenapa Nak? Bajunya mahal? Tidak usah pikirkan soal itu! Jika Mamah bisa dan kamu mau, Helikopter pun akan Mamah berikan untuk mu!"
"Se-Sekar mau baju tidur penganten/piyama." Ujar Sekar dengan setengah berbisik.
Barulah Tami mengerti arti menunduk dan tersipu malunya Sekar, ia juga tersenyum untuk sesaat.
"Begitu rupanya. Mamah akan pilihkan kamu baju yang sangat sexy agar suami mu itu tergoda."
Dengan senang hati Tami kembali masuk ke dalam toko untuk membelikan apa yang menantu nya itu inginkan.
Ya, hal tersebut terlintas di benak Sekar. Ia berpikir mungkin dirinya kurang menggoda sehingga Arka enggan untuk berdekatan dan menidurinya.
Membeli baju tidur pengantin adalah langkah awal Sekar untuk membuat Arka tergoda. Tapi bagaimana kalau Arka ternyata tergoda dan ia khilaf sehingga melakukan tugas suami padahal jati diri Sekar yang sebenarnya belum terungkap?
"Nih. Mamah beliin 3."
Tami datang dengan membawakan tiga buah piyama yang sangat tipis dan bisa dikatakan tembus pandang.
Sekar sempat bergidik ngeri, ia tidak bisa membayangkan dirinya akan memakai pakaian seperti ini. Seumur hidupnya, Sekar tidak pernah memakai pakaian seseksi dan setipis ini apalagi di depan pria.
Tapi demi suami, demi menunaikan tugas istri, Sekar harus mencobanya.
"Terima kasih Mah." Ujarnya sambil mencium tangan Tami.
__ADS_1