
Tami: Setelah meninggalkan seorang anak bertahun-tahun lamanya, bolehkah seorang Ibu datang dan meminta sebuah pengakuan?
....
Tami tak tahu harus berbuat apa. Jujur, dirinya masih belum siap dengan semua ini. Setahu Tami, seorang anak tidak mudah menerima kehadiran Ibu nya yang sudah lama menelantarkan Anak nya. Apalagi mengingat hubungan Tami dengan Ayah Viona yang begitu miris.
"Hello sayang," kecupan hangat di malam hari mendarat di kening Viona.
Tahan Tami, tahan. Jangan menangis sekarang.
Ah sial! Tami gagal menahannya. Setelah melawan getaran hebat di tubuhnya, air mata Tami akhirnya luruh juga. Menciptakan tanda tanya bagi Viona dan Gilsha.
Sementara Paman dan Bibi Viona. Mereka sudah tahu namun belum menceritakan segalanya kepada Viona. Agar---- biar Tami sendiri yang menceritakannya.
Viona beralih menatap Paman dan Bibinya.
"Kenapa, Mah?" Tanya Viona ketika ia melihat Bibi nya juga ikut menangis.
"Lho? Kalian kenapa? Kok pada nangis sih?" Viona memegangi kedua belah bahu Tami. Membuat wanita itu semakin menangis sekenanya.
"Gilsha ikut Papah yuk," Gilsha. Gadis itu diamankan oleh Paman Viona. Tak baik jika Gilsha harus tahu kabar mengenaskan ini. Usianya belum cukup dewasa untuk mengerti segalanya.
"Mau masuk dulu? Yuk bicara di dalam," Bibi Viona mempersilahkan Tami dan juga Arman untuk segera masuk ke dalam.
Semuanya sedang berkumpul di meja tengah. Tidak ada yang buka suara satu pun. Hanya isak tangis yang terdengar di sela-sela keheningan. Viona sudah mencoba bertanya ada apa. Namun tak ada yang mampu menjelaskan. Semuanya menunggu Tami. Sementara Tami sendiri bingung harus mulai dari mana. Air mata nya saja belum reda.
"Tante, Arka gak papa kan?" Tanya Viona. Ia meraih kedua tangan Tami. Menggenggamnya begitu erat.
Tami menggeleng keras, "Arka gakpapa kok sayang."
"Terus kenapa Tante nangis? Bahkan Bibi juga ikut nangis."
Bismillah, lafadz yang keluar dari mulut Tami barusan. Kalau diam saja, semuanya tidak akan selesai.
Tami menghirup udara dalam-dalam. Menghembuskannya dengan kasar, "Ada yang ingin Tante bicarakan denganmu. Penting, sangat penting." Ucap Tami setelah sekian lama bergeming.
"Boleh. Apa itu?" Tanya Viona antusias.
"Tante adalah Ibumu," tiga kata yang mampu membuat Viona mematung lalu tergelak tertawa terbahak-bahak.
"Tante lucu. Is it April's mop?" Viona melirik kalender yang tertera di depannya. Memastikan apakah ini April Mop atau bukan.
"Bukan kok. Tante mau belajar jadi komedian yah?"
Hening, tak ada satupun yang menjawab. Apalagi tertawa. Hanya isak tangis Tami yang terdengar. Membuat Viona semakin merasa aneh.
"Bibi bisa menjelaskan semuanya padamu. Yang jelas. Kau harus percaya bahwa Tami adalah Ibu kandungmu."
Viona bangkit dari duduk nya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya seraya berjalan mundur, "Bohong. Mamah kandung Viona itu sudah meninggal! Bukan Tante Tami!" Viona mulai berteriak frustasi saat melihat keseriusan di raut muka semuanya.
"Ini," Paman Viona menyerahkan sebuah kertas. Lebih tepatnya, hasil tes DNA Tami dan Viona.
__ADS_1
"Itu hasil test DNA kamu dan Tami beberapa waktu lalu. Darah kalian sama," jelas Paman Viona.
"Bohong! Kalian apa-apaan sih?! Mau bikin acara suprise yah? Tidak ada yang ulang tahun disini," Viona masih menyangkalnya. Semuanya benar-benar tak masuk akal dan sulit di terima oleh Viona.
"Viona. Ibu yang telah merawatmu selama ini bukanlah Ibu kandungmu. Ibu kandungmu yang sebenarnya adalah Tami. Percayalah Nak, Tami adalah Ibu kandungmu. Dia memiliki segudang kisah yang harus di ceritakan kepadamu. Duduklah dan dengarkan kisah apa itu."
Viona mencekal rambutnya. Ia semakin frustasi. Ingin mencoba tidak percaya. Namun hati kecilnya seolah-olah berkata bahwa semuanya memang kenyataan. Mungkin ikatan kuat Ibu dan Anak.
Air asin di mata Viona yang jarang keluar tiba-tiba saja membucah, "Kalian bohong! Mamah kandungku itu sudah mati! Bukan Tami, bukan dia!" Viona menunjuk Tami. Air mata Tami semakin deras saat menyaksikan Viona menangis---- ditambah Viona yang menunjuk-nujuknya.
Tami bangkit dari duduknya. Berusaha meraih tangan Viona. Mendekap peri yang ia tinggalkan sedari kecil.
"Wanita sialan!" Viona mendorong tubuh Tami sekencang mungkin. Membuat wanita tua itu tersungkur ke lantai. Lalu Viona berlari menuju kamarnya.
Jiwa nya meronta dan mengatakan bahwa dia tidak percaya. Namun, tak dapat di pungkiri. Hati dalam Viona percaya dan mengatakan iya. Ingin ia menampar pipinya sekencang mungkin lalu terbangun dari mimpi. Namun Viona takut merasakan sakit yang dalam.
"KALIAN PEMBOHONG! IBUKU SUDAH MATI! IBUKU BUKAN TAMI!"
Viona menyenderkan tubuhnya di pintu kamarnya. Terduduk sembari memegang jarinya. Ia menjerit sebisa mungkin. Mata yang biasanya selalu ceria kini menangis tanpa ampun. Mendengar kenyataan pahit yang tak pernah terbayangkan di kehidupan sebelumnya.
Viona merasa ini semua terlalu ganjal. Mengapa bisa tiba-tiba seorang wanita tua mengaku dirinya adalah Viona. Terlebih wanita itu adalah Tami. Ibu dari pria yang Viona cinta.
"Nak, buka pintunya sayang!" Tami menggedor-gedor pintu kamar Viona.
"Ini Mamah. Mamah tahu kamu mungkin tidak percaya. Tapi Mamah punya alasan tertentu yang kuat yang nantinya akan membuat dirimu percaya."
"BOHONG! TAMI PEMBOHONG! TAMI BUKAN IBU VIONA. IBU VIONA SUDAH MENINGGAL!"
"Untuk sekarang, berikan Viona waktu dulu yah. Biarkan dia berpikir jernih dulu. Pasti tidak mudah baginya menerima kenyataan ini. Tapi yang pasti, suatu saat Viona pasti akan mempercayai semuanya."
"PERGI! TAMI GILA! ARMAN GILA!" Teriak Viona dari dalam sana.
****
"Wih mau kemana malem-malem gini ganteng bener?" Tanya Jayur sambil mengisap rokok yang diapit oleh dua jarinya.
Ia geleng-geleng kepala melihat penampilan Arka yang begitu rapih. Seperti anak muda. Tak terlihat aura bapak-bapaknya.
Arka nyengir kuda sambil menyugar rambutnya di depan cermin, "Ngapel," ucapnya dingin lalu menyemprotkan parfum Cassablanca nya. Parfum yang selalu menjadi aroma kesukaan Sekar selama ini.
"Bah, ngapel pula. Ingat dosa Ka!" Teriak Jayur yang langsung mendapat hantaman bantal dari Arka.
"Sudah bertahun-tahun tidak pacaran. Ini saatnya," ucap Arka sambil menaikan sebelah alisnya.
"Dih gembel kau! Makannya buka matamu! Pacari Sekar sebelum aku yang memacarinya. Lagian kenapa harus pake apel segala sih? Kenapa gak bawa pulang aja Sekar ke rumah?"
Arka menarik kursi yang berada di depan meja kerjanya. Ia menempatkan pantatnya di situ. Matanya menatap mata Jayur lekat-lekat.
"Tadi sudah di ajak kesini atau ke rumah. Tapi Sekar menolak. Aku ada perasaan buruk. Aku rasa Sekar tidak bisa menerimaku begitu saja. Maka dari itu aku akan berjuang mengambil hatinya. Membuat ia memeluk ku tanpa harus aku paksa," ucap Arka.
"Siap. Kalau usahanya gagal kasih tahu ya," ujar Jayur sambil menaik turunkan alisnya.
__ADS_1
Arka sudah sampai di rumah Sekar dengan membawa mobil Jazz putihnya. Berkali-kali Arka melafalkan Bismillah. Hatinya berdebar kencang. Arka merasa nervous. Arka merasa ini seperti pertemuan pertamanya dengan gadis cantik bernama Sekar.
Tapi itu wajar. Sebut saja ini first date mereka. Bertahun-tahun keduanya menikah. Tapi belum sekalipun pernah berkencan seperti ini. Jadi, ini adalah kali pertama untuk Sekar dan Arka.
"Assalamualai---- Ya Allah bidadari," Arka menghentikan ucapannya. Mulutnya menganga. Matanya terbuka lebar saat ia melihat Sekar keluar dari dalam rumah dengan mengenakan dress putih. Wajah yang berbalutkan make up. Tidak mencolok namun menambah kesan cantik wajah Sekar. Dan yang terakhir, sebuah anting besar berbentuk love. Sempurna. Gadis itu seperti bidadari yang baru terjun dari kayangan.
Sial. Arka tidak membawa inhaler. Sekarang nafasnya mendadak sesak.
"Waalaikumsalam," ucap Sekar sambil memegangi bagian bawah gaunnya.
Arka mengenakan setelan jas casual. Dan Sekar, dia mengenakan gaun. Karena malam ini keduanya berencana hendak menghadiri pernikahan teman sekantor Arka yang dirayakan di salah satu hotel di dekat rumah Arka.
"Mas?" Panggil Sekar ketika Arka melongo tanpa mengedipkan matanya dan terus menatap Sekar.
"Hello, Mas?" Sekar mengayun-ngayunkan tangannya di depan wajah Arka. Sesekali menjentikan jarinya. Tapi Arka masih saja belum sadar.
"MAS ARKA!" teriak Sekar----kesal karena Arka tidak menggubrisnya.
"IYA SAYANG! .... Eh maksudnya.. anu--eum. Iya. Eh, apa tadi?" Arka menggaruk tengkuknya yang tidak gatal setelah mengerjap-ngerjapkan mata dan mengantupkan bibirnya.
"Mas Arka liat apa? Kok bengong?" Tanya Sekar polos.
Perlukah Arka memujinya malam ini?
"Ka-kamu cantik," ucap Arka tanpa sadar. Karena sulit dipungkiri bahwa malam ini Sekar tampil mempesona. Tak hanya Arka. Pria seperti Arman pun pasti akan tergoda karenanya.
"Benarkah? Mas Arka malu yah aku berpenampilan seperti ini? Ini usulan dari Bu Anisa. Katanya kalau mau ke kondangan harus seperti ini pakaiannya. Kar---"
"Aku suka," ucapan Sekar terpotong oleh Arka. Tidak hanya karena Arka berkata. Tapi juga karena Arka mengecup kening Sekar. Membuat gadis itu terkejut.
"Ayo," Arka meraih tangan Sekar agar bisa ia gandeng dan jalan bersama.
"Aku bukan anak kecil," ujar Sekar sambil berusaha melepaskan pegangan tangannya.
"Gakpapa. Takut ada setan yang bawa kamu. Soalnya kamu cantik," ujar Arka sambil membukakan pintu mobil untuk Sekar.
"Nanti di pesta jangan tebar pesona ya," Arka sudah ancang-ancang dari sekarang. Ia takut Sekar-Nya dilirik orang lain.
Arka tidak bisa fokus mengemudi. Perhatiannya selalu teralihkan kepada Sekar yang berada di sampingnya. Sekar benar-benar mempesona malam ini.
"Tebar pesona bagaimana?" Tanya Sekar polos.
"Ya maksudnya jangan dekat-dekat pria gitu," ucap Arka dengan sedikit ketus. Sekar itu kelewat polos. Jadi sesekali kalau ingin mengingatkan dirinya harus dengan cara blak-blakan.
Sekar mangut-mangut, "Oke." Ujarnya.
Ini Neneng Sekar sukarsih waktu OTW kondangan.
Gimana? bidadariable banget 'kan?
__ADS_1