Satu Hati 2 CINTA

Satu Hati 2 CINTA
Pulang


__ADS_3

Arka: Sekar, are you ready?


Sekar semakin gelagapan saat engsel pintu bergerak. Ia memejamkan matanya. Pasti sebentar lagi kena sembur orang yang hendak meeting itu.


"Oh? Masih di pel ya, Mba?" Tanya salah seorang pria yang sudah berumur jika di lihat dari penampilannya. Ia masuk ke dalam dan mendapati Sekar tengah mengepel lantai.


Sekar gelagapan, "I-iya Pak. Se-sebentar lagi selesai," ucap gadis itu sembari menundukan badannya dan menambah kecepatan memgepel nya.


Pria yang tadi bertemu Sekar di lorong menunculkan badannya. Ia menghampiri Sekar, "Hallo. Saya Zaki," ia mengulurkan tangannya. "Teman Arka," sambung Zaki.


"Tadi kita sempat bertemu di luar. Saya juga sempat berbicara dengan Arka. Senang berkenalan dengan Anda."


Sebelum menjabat tangan Zaki, Sekar mengelap tangannya pada baju kerjanya. Membuat Zaki terkekeh.


"Sekar," ucapnya.


"Gak usah takut. Saya dan Arka berteman baik. Saya harap Anda betah dan nyaman bekerja disini. Tadi Arka sudah menelefon saya. Katanya beliau mengizinkan Anda bekerja."


Sekar termangu. Tadinya dirinya mengira bahwa ia akan mendapatkan kecamuk amarah dari para atasannya itu. Tapi ternyata tidak sama sekali.


"Masih di pel, ya?" Tanya Zaki lalu melirik ke bawah. " Yasudah. Lanjutkan dulu ya ngepelnya. Kami akan meeting di ruangan sebelah."


Zaki mengajak ketiga karyawannya yang lain untuk enyah dari sana. Memberikan Sekar kesempatan untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Sekar mematung. Sambil memegangi kain pel lan, ia setia menatap kepergian 4 orang itu yang tak lain adalah jajaran para Bos nya. Tidak ada gurat kemarahan di wajah mereka. Membuat Sekar bergeming cukup lama.


"Sekar kata Arka jangan terlalu lelah," teriak Zaki ketika ia sudah berada di luar.


Sekar meneguk ludah nya kasar. Ia menampar-nampar pipinya pelan. Apa itu tadi? Itu kah marahnya seorang Bos? Padahal jelas-jelas Sekar bekerja dengan lelet karena tadi sempat menelefon dengan Arka dan itu menyita banyak waktu kerjanya.


Namun Sekar tak ingin ambil pusing. Mungkin itu salah satu kebijakan mereka disini dalam memperlakukan pegawai baru.


"Tidak perlu berfikir yang baik-baik. Bisa jadi Arka hanya mengujimu," ucap gadis itu lalu menyambung kembali pekerjaannya yang tadi sempat tertunda dengan begitu antusias dan semangat agar mendapatkan hasil yang memuaskan.

__ADS_1


****


Di dalam mobil sesekali Arka melirik ke belakang. Tempat di mana Lestari berada. Di pegangi oleh kedua anak buah Jayur. Tujuan mereka saat ini adalah hotel kediaman Arka. Mengemasi barang-barang Arka lalu meluncur ke Jakarta. Tak lupa Jayur juga ikut untuk jaga-jaga bila sesekali Lestari berontak.


Senyum di bibir Arka enggan untuk hilang. Terlebih saat ia tahu Sekar berada di kantornya---- bekerja. Membuat dirinya berlipat-lipat ganda senang plus bahagia.


"Ekhem," Jayur melirik ke arah Arka. Ia tersenyum simpul. "Tolong di kondisikan senyumnya. Untuk yang di rumah nanti," ucap pria itu.


Arka tak menggubrisnya. Ia fokus mengemudi dan terus membayangkan Sekar. Apa Arka jatuh cinta? Entahlah. Tapi akhir-akhir ini ia memang selalu kepikiran Sekar. Bahagia mengingatnya. Ralat nya ketika mereka sudah berpisah rumah.


"Bagaimana surat cerainya?" Tanya Jayur.


Arka menoleh dan melemparkan laser elang kepada Jayur. Masalahnya laki-laki kaki kanan Ayah nya itu mudah sekali merusak mood orang. Arka sedang senang memikirkan Sekar. Seenak jidat ia merusaknya dengan mengatakan cerai. Tentu membuat mood Arka runtuh seketika.


"Sudah selesai. Di urus Papah. Nanti biar ku antar," ucap Arka ketus. Tidak ada lagi terbitan senyum di bibirnya.


"Anda sepertinya ingin sekali melihat saya dan Sekar berpisah," ucap Arka datar.


Jayur terkekeh, "Bukan begitu maksudnya. Habisnya kau senyum-senyum sendiri dari tadi. Daripada kerasukan setan mending aku ingatkan pada perihal cerai. Kan senyum mu jadi pudar," tukas Jayur. Arka hanya memutar bola matanya malas.


"Bawa ke rumah Papah dulu saja. Jangan langsung beritahu Sekar. Biarkan Lestari mendapatkan perawatan khusus dulu dari dokter. Biarkan keadaannya lebih membaik. Setelah itu baru bawa Sekar."


"Kenapa memangnya?"


"Kalau Sekar melihat keadaan Lestari yang benar-benar kacau balau ini nanti ia terluka. Lagipul--"


Perkataan Arka terpotong oleh Jayur, "Bukannya kau sering membuat Sekar terluka? Itulah mengapa aku ingin merebut Sekar." Tukas Jayur dengan begitu percaya diri.


Arka tak asa memukul kepala Jayur dengan kotak tissue paseo kecil yang berada di dashboard. Membuat Jayur meringis kesakitan kepadanya.


"Jangankan kau. Teman ku saja tak ku beri izin dekat-dekat dengan Sekar," timpal Arka.


Jayur mengerutkan keningnya seraya memijit-mijit kepalanya, "Teman? Siapa pula temanmu yang ingin dekat-dekat dengan Sekar?" Tanya Jayur.

__ADS_1


"Arnold namanya."


***


"Bagus. Lakukan lagi hal itu lain kali," Arnold mengacak-ngacak rambut Pasha yang tengah makan sosis bakar di kantin sekolahan. Padahal teman Pasha yang lainnya sedang berada di kelas. Jam pelajaran sedang berlangsung. Dengan seenak jidat Arnold mengajak Adik nya itu keluar kelas dan jajan di kantin bersama.


"Oh. Pantes gak ada otak. Orang lain malah belajar. Dia malah disini."


Atensi Pasha dan Arnold teralihkan kala mendengar suara bariton di belakang mereka. Suara perempuan yang sedikit cempreng. Pasha dan Arnold membalikan badannya. Mereka mendapati Viona yang sedang melirik mereka dengan tajam dan bersidekap tangan di dada.


"Hay Kak Viona. Mau sosis bakar?" Tanya Pasha seraya memberikan sosis bakar sisa ia makan.


"Lihat? Adik mu ini tidak ada sopan santun," timpal Viona.


"Oh. Dia mau sosis bakar punyamu Pasha," ucap Arnold. Di akhiri kekehan di bibirnya.


"Pantas Adik nya tidak tahu sopan santun. Ternyata tidak di ajarkan oleh Kakak nya," Viona tersenyum miring.


"Kak Viona ada cicak di kepala," Pasha menunjuk kepala Viona.


Gadis itu tersentak. Spontan tangannya meraba-raba kepalanya. Ia loncat-loncat di tempat.


"Mana-mana?!"


Gerakan tangan Viona terhenti ketika mendengar gelak tawa dari Pasha dan Arnold.


"Cicak? Disini!" Pasha berdiri. Menunjuk bokongnya.


"Hahaha. Makan tuh cicak," Pasha melemparkan tusuk sosis nya ke arah Viona lalu melenggang pergi bersama Arnold.


"Kak Viona kayak kuntiiii! Rambutnya berantakan!! Ada bercak darah merah juga di bajunya. Iiii Suster Viona ngesot," teriak Pasha.


Viona berdecak sebal. Ia menghentakan kakinya ke lantai. Membalikan badannya menatap kepergian Arnold.

__ADS_1


"Nih," Arnold menunjukan jari tengahnya, "**** you Viona," ucap Arnold dengan gerakan mulut tanpa nada suara.


__ADS_2