
GOOD BYE SEKAR.
Sekar: Aku sudah bukan kepompong lagi yang bisa terus dikurung. Sekarang aku sudah berubah menjadi kupu-kupu dan ingin terbang bebas kemanapun aku mau. Tapi jangan lupa, bukan kupu-kupu malam.
.......
Ia melihat pemandangan luar dari jendela yang berada di sampingnya. Mendadak udara menjadi sangat panas sehingga membuat dadanya sesak. Ada sesuatu di tenggorokannya yang mengganjal juga susah di keluarkan.
Matanya bergelimang. Tapi tidak bisa lagi untuk mengeluarkan sebuah tetesan air. Sudah lelah. Sudah habis rasanya air matanya itu. Keluar dari saat ia masih bayi sampai sebesar ini.
Bukan maksudnya ingin mengeluh. Hanya saja tidak mengerti pada dunia yang kejam ini. Belum pernah ia merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Saat selangkah lagi ia pikir akan bahagia dengan suami pilihan sang Kakak ternyata ada ombak dari depan yang menerjang dan langsung menyeretnya jauh ke belakang.
"Non?" Waluyo melihat Sekar dari kaca spion. Meski tak tahu sebesar apa derita gadis ini tapi ia cukup dewasa dan mengerti.
"Non Sekar?" Gadis itu masih sibuk pada dunianya yang entah dimana. Pandangannya masih tertuju ke alam luar. Padahal mungkin raganya sedang tidak menyatu dengan tubuh.
"Non Sekar?"
Barulah pada panggilan ketiga gadis ini memalingkan muka dan melihat Waluyo.
"Iya, Pak?" Tanyanya lesu. Sudah tidak ada gairah hidup rasanya. Bingung mau berbuat apa ke depannya.
"Non Sekar yakin mau pisah dari Mas Arka?" Sebuah pertanyaan yang Sekar tidak ingin dengar untuk saat ini.
Pandangannya kembali ke luar seolah-olah bertanya dan meminta jawaban kepada alam. Haruskah ia kembali atau tetap berjalan tanpa tahu arah sebenarnya.
"Yakin," sepertinya angin telah membisikan sesuatu kepada Sekar. Memberikan jawaban yang sebenarnya Sekar tidak inginkan.
"Non Sekar udah 5 tahun loh menikah sama Mas Arka. Memang mas Arka belum mencintai Non Sekar sekarang. Tapi Bapak yakin Mas Arka akan segera melakukannya. Dia manusia Non, bisa berubah. Dan Bapak sudah melihat setitik perubahan di dalam dirinya. Mungkin tidak akan langsung berubah melonjak ke 1000 persen. Tapi perlahan, kalian pasti bisa," perpisahan yang terjadi antara Sekar dan juga Arka bukanlah hal yang juga diinginkan Waluyo. Ia sungguh ingin melihat keduanya bahagia.
"Iya Pak. Sekar ngerti kok. Semoga aja Mas Arka bisa berubah sama istri barunya nanti. Kalau Sekar udah nggak mau nunggu Pak, udah capek. Sekar nunggu kebahagiaan bukan 5 tahun doang. Tapi dari dulu, dari Sekar masih kecil," ia menunduk. Meng- on-off kan handphone yang berada di tangannya. Mengingat kembali masa-masa kecilnya dulu. Masa-masa Tigor memperlakukannya bak hewan, di tolak oleh Ibu angkat lalu di perlakukan bak pembantu oleh suami sendiri.
Sudah tidak ada lagi pengecualian dan ampunan. Dirinya sudah lelah mengalah pada dunia yang tiada ujung nya ini. Hatinya sudah mantap meninggalkan kekasih yang bisanya hanya memberikan luka.
"Tapi apa Non Sekar yakin akan bisa mendapatkan kebahagiaan di panti asuhan nanti?"
Itu yang belum terpikirkan oleh Sekar. Kemanapun ia akan berpijak ia tidak tahu apakah kebahagiaan akan menghampiri atau tidak. Ia merasa sedang hidup di dunia orang. Numpang dan tidak membayar sehingga tidak layak mendapatkan kebahagiaan.
"Gak tau Pak."
"Pak?"
"Iya, Non?"
"Kok hidup Sekar gini ya?"
Pegangan tangan Waluyo pada stir langsung mengencang. Jantungnya seperti baru digigit semut. Kakinya lemas seketika. Sekilas ia melihat Sekar dari spion. Dilihatnya Sekar yang menunduk seraya memainkan kuku-kuku jari dan sedang menahan tangisan.
Waluyo sendiri tidak tahu mengapa dunia ini begitu kejam pada gadis satu ini. Seolah-olah ia memiliki sebuah kesalahan besar di kehidupan sebelumnya. Susah dimaafkan dan tidak akan mendapatkan kebahagiaan di masa sekarang dan di masa yang akan mendatang.
"Non harus percaya ya sama Allah. Dia tuh gak pernah tidur. Allah juga gak akan ngasih masalah ke umatnya di luar batas kemampuannya. Non harus yakin kalau suatu saat nanti Non pasti bisa bahagia."
"Semoga saja."
****
Matanya yang terlihat dari celah-celah helm tertuju ke depan. Tangan kananya terus menambah kecepatan saat berada di jalan tanpa belokan.
Ia tidak tahu kemana perginya Sekar. Tapi tidak ada salahnya mencoba mencari.
"Ya Allah lindungi dia. Bawa dia kembali kepadaku. Kalau tidak apa artinya aku di dunia ini. Lebih baik mati saja."
"Aaaaaaaa!"
Seorang anak kecil tiba-tiba saja berada di tengah jalan. Terdengar Ibu nya dari pinggir jalan berteriak histeris karena ketakutan anaknya tertabrak.
Mata Arka langsung membulat. SeCenti lagi ia akan menabrak anak kecil yang berada di depannya. Tidak mau itu terjadi, Arka banting setir. Ia obsite. Keluar dari jalur jalan raya.
Mungkin karena do'a nya barusan. Arka bisa menyelamatkan anak itu tapi tidak bisa menyelamatkan dirinya.
Setelah banting setir. Ada pohon besar menantinya. Arka tidak bisa menghindari pohon itu dan langsung saja menabraknya.
Asap mengepul keluar dari bagian belakang knalpot motornya. Ia terluka. Sangat parah sampai tidak sadarkan diri dengan posisi kaki yang tertimpa motor. Kepalanya mungkin masih aman karena terlindung helm tapi entah dengan bagian tubuh lainnya yang mengalami benturan keras.
"Tolongg!" Ibu dari anak kecil tadi menghampiri Arka yang sedang tergeletak. Ia berteriak dari samping Arka. Ia meminta tolong kepada siapapun yang melihatnya.
Untungnya banyak orang di tempat kejadian. Mereka membantu Arka. Membawa Arka ke rumah sakit terdekat.
Mereka yang menolong tidak hanya membawa Arka ke rumah sakit. Tapi juga memberi kabar kepada pihak keluarga melalui ponsel Arka yang ditemukan di saku celana Arka.
Melalui sidik jari Arka maka handphone itu pun terbuka.
"Telefon Ayah dan Ibu nya," perintah salah satu pria dengan perawakan tinggi kekar dan kulit hitam. Ia sedang berada di luar ruangan dimana di dalamnya terdapat Arka sedang di periksa.
"Kalau istrinya saja bagaimana? Aku menemukan kontak bernama 'Sekar-My Wife."
"Terserah," ujarnya lagi.
***
Lamunan Sekar langsung buyar saat handphone yang berada di tangannya berdering.
Ia langsung membalikan handphonenya ke posisi telungkup saat melihat siapa yang menelefon.
"Pak Arka ya Non?" Tanya Waluyo penuh selidik. Ia bisa melihat dari raut muka Sekar yang langsung berubah lesu lalu kembali melihat keluar.
"Iya," jawabnya dingin sambil terus membiarkan ponsel berdering.
__ADS_1
"Coba diangkat Non. Siapa tahu penting," titah Waluyo.
"Kalau nelefonnya ke Sekar gak mungkin penting. Yang penting-penting tuh nelefonnya ke Viona," ia memutar bola matanya malas. Lalu kembali melihat pemandangan luar. Sementara handphonenya masih terus berbunyi.
"Kalau Non Sekar gak mau ngangkat telefon itu buat Mas Arka. Boleh Non Sekar ngangkat telefon itu buat saya? Soalnya saya juga tadi pergi tanpa izin siapa tahu Pak Arka butuh saya."
Sekar terlihat berpikir. Ia membalikan handphonenya. Nomor yang sama masih menelefon.
"Yaudah."
"Hallo, Arka?" (Sekar udah mulai ilang kesopananya:v)
Mata Sekar langsung membulat. Badannya menegak.
"Pak putar balik Pak!" Ia menepuk-nepuk pundak Waluyo dari belakang.
"Kenapa Non?" Tanya Waluyo yang juga ikut panik melihat Sekar panik.
"Arka kecelakaan."
"Astagfirallah."
"Buruan Pak," masih menepuk-nepuk bahu Waluyo.
Waluyo memutar balik setir. Ia parkir dan balik arah.
"Ini nih alamatnya," Sekar memberikan handphonenya lalu diterima oleh Waluyo dan ia pegang sebagai petunjuk jalan.
"Astagfirallah. Kenapa bisa begini?" Sekar menutup mukanya menggunakan kedua tangan. Sesaat setelah itu ia meremas rambutnya sendiri. Duduknya mulai gelisah dan hati nya tidak tenang. Raut wajahnya juga tampak sangat gusar.
Diam-diam Waluyo tersenyum, "Kalau tidak cinta dan tidak perduli mana mungkin khawatir," gumamnya tanpa suara.
***
Hospital PuraWarma
"Istri nya bapak ini ya?" Sekar mengangguk
"Masuk aja Mba ke dalam. Udah di persilahkan dokter kok. Mas nya udah sadar. Kami permisi ya."
Sekar mengeluarkan sejumlah uang yang ia punya dari dalam tas. Memang tidak banyak. Tadi nya juga uang itu akan diberikan kepada Ibu panti asuhan sebagai bayaran karena Sekar akan tinggal disana sebelum ia mendapatkan pekerjaan.
"Makasih ya Pak," ujarnya sambil menyerahkan uang tersebut.
Kedua pria itu saling berbagi pandangan satu sama lain lalu menggeleng, "Gak usah Mba. Kita ihklas bantuinnya. Kan namanya juga orang kecelakaan terus butuh bantuan. Kita permisi ya. Assalamualaikum."
Mereka pergi dengan kosong tangan. Sekar tersenyum, "Alhamdulilah masih ada yang baik di dunia ini," gumamnya.
Di dapatinya Arka sedang terbaring lemah dengan beberapa selang yang tertanam di tangannya. Matanya menerawang ke atas melihat langit-langit bangunan rumah sakit.
Sekar menggigit bibir bawah nya sebentar. Memejamkan matanya. Sebelum Sekar menghampiri Arka, Waluyo memberinya semangat, "Semangat Non. Bapak tunggu di luar yah," ia lalu pergi. Memberikan kesempatan untuk Sekar dan Arka berbicara berdua.
"Arka?"
Arka menoleh ke arah pintu masuk. Ia melihat Sekar datang sambil tertunduk dan menggenggam tangan.
Hampir Arka bangkit dari tidurnya untuk menghampiri Sekar. Tapi Sekar terlebih dahulu menghampirinya.
"Kamu darimana saja? Aku mencarimu. Tadi aku melihatmu pergi bersama Waluyo. Tadi kamu dimana? Sudah sampai mana? Tadi ak--"
"Mas!"
Sekar tidak ingin mendengar Arka banyak bicara. Ia tahu keadaan Arka sedang lemah dan banyak bicara hanya akan memperburuk keadaanya.
Arka tersenyum, "Aku senang mendengarmu memanggilku Mas."
Sekar tersipu malu. Ingin tersenyum juga malu. Tadi sudah berusaha pergi menjauh namun kembali lagi dan memanggil nama panggilan seseorang yang sudah 5 tahun hidup dengannya.
"Kenapa bisa kecelakaan?" ia mulai memberanikan diri menatap Arka. Dilihatnya luka-luka yang terdapat di bagian tangan dan juga leher Arka.
"Itu lehernya kok sampai biru? Kena apa?" Tanpa sadar tangannya meraba leher Arka yang berada di sebelah kiri atau di dekat tangannya.
Dengan cekatan Arka memegang tangan Sekar. Matanya terpejam dan tidak ingin melepaskan tangan Sekar, "Lehernya butuh sentuhan," gumamnya sambil terpejam.
Sadar Arka sedang menggombal. Sekar langsung mengambil tangannya dan ia lipat di belakang.
Arka tersenyum. Ia melihat pipi mulus Sekar yang mulai memerah, "Tadi aku mau mengejarmu tapi tiba-tiba motornya oleng terus nabrak pohon," Arka merangkum ceritanya.
"Kenapa mengikutiku?"
"Ingin tahu kamu kemana," balas Arka.
"Untuk apa?" Tanya Sekar.
"Untuk membawamu pulang lalu membahagiakanmu."
Sekar mencibir. Ia buang muka, "Janji seorang CEO manis juga."
Arka membulatkan matanya. Tidak menyangka ternyata Sekar juga bisa sinis.
"Istri CEO ternyata bisa galak juga," balas Arka sambil tersenyum.
Sekar memutar bola matanya malas. Tidak akan luluh lagi ia dengan bujuk rayu semata, "Sudah beritahu Mamah dan Papah?"
Arka menggeleng, "Belum."
Sekar membulatkan matanya, ia terkejut, "Kok belum sih? Oh belum sempat yah? Aku kabari sekarang."
__ADS_1
Ia mengeluarkan handphonenya yang tadi dimasukan ke dalam saku celana levis nya. Menekan tombol kontak lalu mencari nomor Ayah dan Ibu nya. Sebelum Sekar berhasil menghunungi orang tuanya Arka menghentikan hal tersebut. Ia mengambil handphone Sekar yang tadi menempel di telinga.
"Gak usah," ucap Arka sambil membatalkan panggilan.
"Kenapa?"
"Lukanya gak parah. Setelah ini aku mau pulang dan mereka gak usah kesini."
Sekar menghela nafas. Ia mangut-mangut.
"Aku gak ngerti kenapa yang mereka hubungi itu kamu Bukan Mamah ataupun Papah," tanya Arka.
"Bukan juga Viona," jawab Sekar ketus.
Melihat Sekar ketus Arka tersenyum. Gemas melihatnya.
"Mungkin itu artinya kita memang ditakdirkan bersama," ujar Arka dengan begitu percaya diri.
Sekar tidak kembali mencibir ataupun ketus. Kali ini ia menunduk, "Setelah kamu pulang ke rumah aku juga akan pergi ke panti asuhan."
Arka terkejut. Sontak ia bangkit dan duduk, "Kenapa?" Tanyanya.
"Kan kita sebentar lagi pisah. Aku tidak mau pulang lagi."
Arka memegang tangan Sekar. Ia memasang muka memelas, "Kita bicarakan lagi ini nanti setelah di rumah. Tolong, pulanglah."
Sekar menggeleng, "maaf," gumamnya lirih.
"Baiklah. Kalau begitu aku akan terus berada di rumah sakit," ucap Arka lalu memalingkan muka dari Sekar.
"Aku akan pergi ketika Mas Arka tidur," ucap Sekar.
"Aku tidak akan tidur," jawab Arka dengan ketus.
"Kalau begitu aku akan pergi ketika Mas Arka di kamar mandi."
"Aku tidak akan ke kamar mandi."
"Kalau begitu aku akan kabur saja sekarang," sahut Sekar sedikit terkekeh.
"Aku akan mengejarmu," balas Arka.
"Aku tidak yakin," jawab Sekar sambil memperlihatkan kaki Arka dengan matanya.
"Hanya kakiku yang pincang tapi mulutku tidak," balas Arka ketus.
"Maksudnya?" Tanya Sekar mengernyitkan dahi.
"Aku akan berteriak dan mengatakan "SEKAR ISTRIKUU PULANGLAH BERSAMAKUU AKU TIDAK BISA HIDUP TANPAMU OH SEKARKU," Arka memperagakannya dengan sepenuh hati dan juga setengah berteriak.
Sekar tertawa melihat tingkah laku Arka kali ini. Menurutnya sedikit lucu.
"Aku senang melihatmu tertawa," ucap Arka sambil memperhatikan Sekar.
Saat sadar bahwa dirinya sedang di perhatikan Arka, Sekar langsung menghentikan tawanya dan melipat senyumnya.
"Aku tidak akan membiarkan Waluyo mengantarmu," ujar Arka kembali serius.
"Aku tidak perlu Pak Waluyo. Ada banyak taksi. Lagipula Ibu panti sudah menungguku," ucap Sekar dengan nada sedikit sendu.
"Apa? Kamu sudah memberitahukan pihak panti?" Tanya Arka terkejut. Sekar mengangguk.
"Sudah. Kalau aku tidak datang mereka akan menjemputku," jelas Sekar.
Arka memandangi Sekar dengan begitu dalam. Mengapa wanita ini begitu sulit. Sulit di ajak rujuk Sulit berbicara. Dan kali ini sulit di bujuk.
Padahal kalau soal bujuk membujuk karyawan dan klien Arka lah jagonya. Tapi ia ternyata lemah dalam membujuk wanita satu ini.
Hati Sekar memang bukan seperti hati wanita pada umumya yang mudah luluh lantah karena bujuk rayu pria seperti Arka. Sekali tidak ya tetap tidak.
"Kalau begitu boleh aku yang mengantar ke panti asuhan?"
Sekar beralih menatap Arka, tatapan tidak percaya. Mulutnya hampir saja menganga. Sekar mengira bahwa Arka akan memaksanya tapi malah ingin membantunya.
"Tapi bukan berarti aku senang akan kepergianmu. Aku tetap akan membuktikan bahwa aku mencintaimu. Jauhnya jarak akan menjadi pembuktian dan perjuangan. Suatu hari nanti aku akan membawamu pulang ke rumahku. Rumah kita. Rumah yang sudah kau tinggali selama 5 tahun. Untuk sekarang kalau kau mau pergi silahkan pergi. Rumah kita terbuka lebar kapanpun kau mau kembali."
Hampir saja tangisannya pecah seketika. Bibir bawahnya sudah bergetar. Kali ini bukan karena sakit hati tapi karena terharu.
Meski begitu keputusan lamanya sudah bulat. Yakni pergi ke Panti Asuhan.
"Aku janji. Aku janji akan membuatmu bahagia dengan jarak kita yang jauh ini. Mari kita beristirahat sebentar untuk menenangkan diri masing-masing. Setelah tenang maka kembalilah. Akan kurentangkan tanganku untuk memelukmu."
Arka bangun. Ia melepaskan salah satu selang infusan di tangannya. Sekar membantu Arka, "mau pergi sekarang atau nanti?" Tanya Arka.
Sekar tersenyum, "Sekarang."
"Baiklah. Ayo. Sebelum kita sampai mampir dulu yah di toko buah dan toko sayuran. Aku mau membelinya untuk Ibu panti disana."
"Tapi kakinya Mas Arka?"
"Tidak masalah. Oyah aku senang karena kecelakaan."
Mata Sekar terbelalak. Baru kali ini ia mendengar ada orang senang karena kecelakaan.
"Karena kecelakaan kita jadi bisa bertemu. Setidaknya aku bisa mengantarmu untuk yang terakhir kalinya."
Sekar tersenyum. Ia menopang Arka dan membantunya berjalan, "Terima kasih."
__ADS_1
"Sama-sama."