
Arka: Mencintai Sekar bukanlah sesuatu yang aku rencanakan. Aku hanya menemukan kebahagiaanku di dalam dirinya. Dan bersedih saat ia tidak ada.
.....
Rupanya gadis manis berambut panjang itu pun tak kalah gundah gulananya dengan Arka yang tadi sedang memanjatkan do'a.
Seluruh badan ia baluti dengan kain bernama mukena. Duduk di atas sajadah menghadap kiblat lalu menengadahkan kedua tangan. Memanjatkan do'a yang hampir ia ucapkan setiap harinya di sepertiga malam.
"Sampai saat ini, hamba masih mencintainya sebagaimana cinta seorang istri kepada suami. Hanya saja hamba tidak tahu bagaimana keadaannya di sana. Kepada angin malam, aku titip Mas Arka. Berikanlah dia kesejukan dalam tidurnya. Kepada hewan yang bernyanyi malam ini, berikanlah lagu ketenangan yang dapat membawanya mengarungi mimpi indah. Ya Allah, hamba titip rindu hamba untuk Mas Arka. Jagalah dia. Lindungi lah dia. Sebagaimana hal yang biasa hamba lakukan jika hamba berada di sampingnya."
Suara Sekar berubah menjadi berat. Setets air mata telah berhasil lolos keluar dari pelupuk matanya.
"Besok. Bangunkan dia jam 6 pagi. Dan semoga ia bisa menyempatkan dirinya sarapan di rumah. Sarapan makanan yang ada. Besok beliau memiliki meeting penting di luar kota. Jagalah ia. Lindungilah ia. Permudahlah segala urusannya. Dan jangan lupa, semoga Mas Arka tidak salah memasang dasi," Sekar terkekeh hingga air asin itu terasa oleh lidahnya. Ia terkekeh kala mengingat bahwa Arka cukup payah perihal memasang dasi. Dan itu merupakan pekerjaan Sekar. Sekar bahkan tidak yakin Arka bisa memakai dasi nya dengan benar.
"Maafkan hamba yang telah lancang meminta cerai pada suami yang selama ini telah memenuhi kewajibannya yakni menafkahi hamba. Tetapi hamba lelah Ya Allah. Hamba lelah diperlakukan seperti pembantu tanpa di sentuh sedikitpun. Hamba juga lelah melihat wanita ketiga yang selalu hadir dalam berbagai kesempatan. Maaf," kali ini Sekar menjeda do'anya. Ia menggigit bibir bawahnya. Tak mampu lagi berkata-kata.
"Terimakasih telah menghadirkan pria seperti Mas Arka di kehidupan hamba yang sebelumnya. Siapapun yang akan menjadi wanita pilihan Mas Arka nanti, hamba harap beliau akan bahagia dimiliki dan memiliki Mas Arka. Jangan sampai ada luka seperti yang hamba rasa di kehidupan berikutnya. Amiin," Sekar menutup do'anya dengan mengusap wajah. Setelah itu ia merenung untuk sesaat. Cukup berat rasanya berpisah dari Arka.
Meski Arka kasar, sering mengeluh, mengomel justru itulah yang saat ini di rindukan oleh Sekar. Panti asuhan memanglah tempat yang tenang dan damai. Tapi hati kecilnya tak bisa berbohong bahwa ia merindukan teriakan kasar Arka di setiap paginya.
Tangannya rindu ingin memasak sesuatu untuk dijadikan santapan pagi, siang dan malam Arka. Matanya rindu ingin melihat Arka memakai jas di pagi hari sambil marah-marah karena takut kesiangan padahal hari masih pagi.
Kakinya rindu ingin melangkah ke kamar Arka meski hanya sekedar mengantar minuman.
Dan dirinya juga rindu pada... ah Tami dan Arman!
Pandangan Sekar langsung buyar saat mengingat bahwa dirinya belum memberigahu Tami serta Arman!
"Aku akan datang ke rumahnya besok," ucap Sekar.
***
__ADS_1
Jika kedua insan itu sedang terlelap dalam dunia kelam. Dunia yang penuh akan kesedihan. Maka di satu sisi lain terdapat pria yang sedari tadi sore tidak bisa berhenti melukiskan senyuman.
Itu adalah Arnold. Pemuda yang telah terpahat hatinya oleh Sekar. Janda rasa gadis yang saat ini sedang berada di panti asuhan.
Tadi sore ia tidak sempat menemui Sekar dan memutuskan akan menemuinya besok pagi.
Tidur Arnold gelisah. Ia terus saja memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Sesekali ia terbangun lalu duduk. Menopang dagu dan tersenyum. Membayangkan sesuatu.
Arnold membayangkan bahwa dirinya akan segera mendapatkan kebahagiaan kecil dari keluarga kecil yang ia bangun bersama Sekar.
Sesekali Arnold juga mengacak-ngacak rambutnya. Bahagia sekali rasanya. Serasa di ujung langit di kelilingi bidadari berparas cantik. Seperti seorang pujangga yang baru merasakan indah nya jatuh cinta pada pandangan pertama.
"Kalau nanti punya anak... apa ya anaknya?" tanyanya pada diri sendiri.
Matanya menatap langit-langit kamar. Kedua tangannya ia lipat lalu dijadikan bantal. Senyum manis terus terukir dan menolak untuk memudar
"Sekar... Arnold... apa ya? Kalau wanita mungkin... Kara? Hmmm kalau pria? Arkas? Eh tidak tidak!" Pria itu menggeleng keras tanpa merubah posisinya.
Arnold menutup wajah nya. Malu karena bayangan Sekar tak kunjung hilang. Juga tak sabar untuk segera meminang segar.
"Bismillah. Kupinang Sekar dengan Bismillah," ucapnya lalu terkekeh. Geli akan perkataannya sendiri.
"Menyatakan cinta dimana ya enaknya? Dulu Sekar suka sekali pinggiran danau. Ya, aku akan menyatakan cinta disana. Ah tidak tidak! Jadul rasanya. Kalau restoran? Kalau pantai? Kalau laut? Aaah aku akan melamar Sekar di bintang!!"
Akhirnya ia frustasi akan pertanyaannya sendiri. Arnold bangkit lalu terduduk dengan melipat kedua kakinya. Senyumnya terus saja terpancar indah.
"Aku janji akan menjadikan Sekar wanita paling bahagia di dunia ini. Aku janji. Aku janji," ucapnya. Sesekali ia kembali mengusap wajah nya. Tak sabar.
"Ayo lah malam cepat berlalu. Pagi.. izinkan aku menemuinya dan membuatnya tersenyum sebelum memulai hari."
"Oh iya. Aku akan mengundang artis yang Sekar suka diacara pesta pernikahan kami nanti. Aku akan membuat pernikahan ini pesta yang paling meriah yang tidak akan Sekar lupakan sepanjang hidupnya."
__ADS_1
Arnold menjatuhkan badannya lalu merentangkan kedua tangannya. Membayangkan wajah Sekar juga membayangkan memeluk Sekar (Belum sah bang. Jangan dibayangin dulu:v)
Dari sore tadi hingga jam 11 dini hari Arnold belum juga menutup matanya. Ia terlampau gembira akan kabar bercerainya Sekar dan Arka. Hal yang sudah ia tunggu-tunggu selama 5 tahun lebih.
Tidak akan ia sia-siakan kenangan indah itu dengan tertidur. Jika perlu, Arnold tidak akan tidur 3 hari 3 malam asal ia terus mendapat kabar bahagia mengenai dirinya dan Sekar.
Arnold berjanji bahwa setelah masa iddah Arka dan Sekar selesai ia akan langsung melamar Sekar dan mengajaknya ke pelaminan. Setelah itu, ia akan membangun keluarga kecil yang diliputi kebahagiaan kecil.
Berdua bersama Sekar yang nantinya akan banyak ditambah jumlah buah hati dirinya dan Sekar. Itulah janji Arnold. Janjinya yang sudah sekian lama belum bisa ia tepati karena terhalang oleh Arka.
"Sholat Tahajud ah terus berdo'a semoga aku akan berjodoh dengan Sekar. Cinta sepertiga malam, hehe," ujarnya terkekeh lalu bangkit dari tempat tidurnya untuk mengambil wudhu dan melaksanakan sholat tahajud. Meminta agar dirinya dan Sekar dapat berjodoh di hari kelak.
Sama seperti Arka dan Sekar. Kini Arnold pun tengah menengadahkan tangan setelah selesai shalat tahajud. Bedanya, Arnold berdo'a dengan senyum yang merekah dan muka sumringah.
Senyuman yang tidak hilanh dari tadi sore.
"Ya Allah hamba mencintainya. Hamba menyanyanginya dan hamba berjanji akan membahagiakannya dengan segenap jiwa. Boleh hamba meminta? ijinkan dia menjadi jodoh hamba. Kekasih hati hamba yang akan menemani hamba menua. Hingga rambut hamba memutih nanti, ijinkanlah Sekar senantiasa berada di dekapan hamba. Ia sudah cukup menderita. Ijinkanlah hamba datang ke kehidupannya dan memberikan ia kebahagiaan yang sesungguhnya." Arnold menunduk. Ia menarik nafas lalu terkekeh sendiri.
"Bercerai nya Arka dan Sekar hamba yakin merupakan sebuah petunjuk bagi hamba bahwa hamba bisa memiliki Sekar. Hamba tidak seperti Arka. Hamba bisa membahagiakan Sekar. Meski hamba tidak bisa, hamba akan berusaha."
"Hamba titip Sekar. Jagalah ia sampai suatu hari nanti hamba menjemputnya dan membawanya pergi."
Ketiganya sama-sama menengadahkan kedua telapak tangan. Memanjatkan do'a yang berbeda-beda. Duduk di atas sajadah dengan menghadap kiblat. Berharap apa yang diinginkan dapat terkabul.
Meski begitu. Tidak ada yang tahu apa dan bagaimana akhirnya. Mereka akan tetap berjuang untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Karena sama halnya dengan sebuah game jika berdo'a tanpa berusaha.
Arka berdo'a agar Sekar bisa kembali ke pelukannya. Arnold berdo'a agar Sekar bisa menjadi miliknya. Dan Sekar berdo'a agar segera mendapatkan kebahagiaan dari pria yang tidak ia tahu siapa.
Nih muka aa Arnold waktu mikirin neneng Sekar
__ADS_1