Satu Hati 2 CINTA

Satu Hati 2 CINTA
Bunuh Diri


__ADS_3

Arka, Arnold: Bermain catur di malam hari adalah tingkat kebahagiaan dunia lain. Soal terlambat? tidak masalah. Kan kita Bos nya.


.....


Viona memberantakan semua make up yang tadinya tersusun rapih di meja riasnya. Ia menarik sprei lalu melemparnya. Ia meruntuhkan lemari bukunya. Memecahkan foto nya. Memberantakan isi bajunya. Tak urung dari itu, Viona juga berteriak-teriak. Meremas kuat kepalanya.


"Viona? Ini Bibi sayang. Buka pintunya dulu. Kita bisa bicarakan ini baik-baik," ucap Bibi Viona. Sementara Tami dan Arman sudah pulang sedari tadi. Memberi waktu untuk Viona sendiri dan mengelola keadaan. Mereka akan kembali setelah Viona sadar dan bersedia menerima semuanya.


"KALIAN SEMUA BAJINGAN!" Viona frustasi. Tentu sangat frustasi. Melebihi apapun. Ia merasa hidupnya sudah tidak berguna.


Viona sangat menyukai Arka meski tahu Arka tak sepenuhnya menyukai Viona. Viona sangat ingin memiliki Arka meski Arka sudah milik orang lain. Tadinya semangat Viona sangat membara karena dia merasa dirinya bisa mendapatkan Arka dan mengalahkan Sekar.


Namun semuanya menjadi terasa tidak mungkin ketika tahu Tami adalah Ibu nya. Dalam artian lain, Viona adalah Adik Arka dari Ayah yang berbeda. Lantas bagaimana Viona bisa menjalin kasih bersama Arka. Itulah yang membuat Viona stress setengah mati. Karena dirinya mencintai Arka sepenuh hati.


"KALIAN SEMUA GILA!"


Pandangan Viona tertuju pada salah satu laci. Dengan tangan gemetar, Viona membuka laci tersebut. Tidak ada gunting atau pisau disana. Hanya ada tusuk konde tajam nan panjang.


Viona mengambil tusuk konde tersebut. Mengarahkannya ke perutnya. Meneguk ludahnya kasar. Memejamkan matanya dalam-dalam.


"Jika Arka adalah Kakak ku. Maka tidak bisa aku mendapatkannya," kata terakhir yang terucap dari mulut Viona sebelum akhirnya gadis itu tidak sadarkan diri dengan perut mengeluarkan banyak darah.


Bunuh diri. Itulah kalimat yang cocok untuk menggambarkan kelakuan Viona saat ini. Bagi seseorang yang lemah iman seperti Viona. Ketika mereka terserang musibah, tertimpa masalah tentu bunuh diri adalah jalan satu-satunya.


Tak ada lagi harapan bagi Viona untuk mendapatkan Arka. Sayang sekali, pikiran Viona begitu sempit. Tidak memikirkan Tami atau yang lainnya. Yang ia pikirkan hanya dirinya. Ketika harapannya sudah pupus, tentu tak ada lagi keinginan untuk melanjutkan hidup.


Tak perduli apa yang terjadi selanjutnya. Pikiran Viona yang sedang kalut, emosi berkabut dan iman lemah membuat setan dapat dengan mudah menguasai pikiran dan tubuh Viona. Mengarahkannya pada kesesatan yang berujung maut yang akan menyesakan dan menjadi masalah berat di dunia dan akhirat.


Bibi dan Paman Viona masuk ke dalam dengan cara mendobrak pintu ketika mereka tak lagi mendengar teriakan Viona yang sedari tadi mendominasi seisi rumah.


"ASTAGFIRALLAH, VIONA?!" ucapnya berteriak kala melihat Viona terkapar di lantai. Tangan memegang tusuk konde dan perut mengeluarkan banyak darah.


*****


"Tidur di lantai!" Arka melemparkan selimut dan juga bantal kepada Arnold.

__ADS_1


"Heh! Kau kira aku ini pembantu, apa?!" Pekik Arnold sambil melemparkan kembali bantalnya kepada Arka.


"Harusnya kau bersyukur masih ku tawari masuk ke dalam!" Ujar Arka kesal sambil berkacak pinggang.


"Ohh begitu yah. Siap-siap yah Sekar besok menginap di rumahku. Karena mulai besok aku akan mengatakan kepadanya bahwa Arka menyuruhku tidur di lu--"


"Pilih kamar yang kau mau! asal jangan kamar ku!" Arka kalah lagi. Arnold memang pintar. Dengan beralasan Sekar, begitulah dirinya mengusili dan membuat Arka kesal.


"Aku mau kamar mu," ucap Arnold bersidekap tangan di dada. Sambil memasangkan selimut di tubuhnya.


"Kan sudah kubilang jangan kamarku. Sana kamar belakang saja!" Teriak Arka menggema.


"Kulaporkan pada Sekar?!" Ancam Arnold. Membuat Arka tak bisa berkutik.


"Bocah!" Ujar Arka lalu melenggang pergi dari sana.


"Wah. Sudah tua masih main PS yah," Arnold melirik kamar Arka---- mereka saat ini masih berada di rumah Tami.


Arnold memegangi beberapa barang Arka yang langsung mendapat tatapan tajam dari Arka, "Jangan sentuh satupun barangku atau kupatahkan tanganmu!"


Padahal dulu Arka dan Arnold berjanji untuk tidak saling menyakiti. Saling menghargai dan saling menghormati. Berjanji untuk tetap bersama dan selalu ada untuk satu sama lain.


Rupanya, kehadiran seorang gadis membuat persahabatan mereka runtuh. Janji hanya tinggal janji. Kenangan hanya tinggal kenangan.


Apa yang dulu terjadi dan di janjikan sudah hilang. Dulu keduanya saling memuji, saling membanggakan. Tapi sekarang justru saling mengalahkan. Saling mengejek.


Ternyata. Dunia, cinta dan persahabatan selucu itu ya. Yang asing bisa menjadi akrab. Teman bisa menjadi cinta. Cinta bisa menjadi musuh. Lalu musuh bisa menjadi teman. Pusing kan? Sama Mimin juga.


Mata Arnold tertuju pada papan catur yang terletak di atas lemari baju Arka. Arnold melangkah ke sana. Papan catur sangat menarik perhatiannya. Entah mengapa.


"Main catur yuk Ka."


Awalnya Arka menolak. Ia justru duduk di kursi kerjanya. Membuka laptop. Berbicara datar tanpa menoleh ke arah Arnold sedikitpun, "Nggak."


Arnold menutup laptop Arka dengan kasar. Membuat Arka geram.

__ADS_1


"Katanya Bos besar. Masa di tantang main catur sama dokter gak mau sih? Takut kalah? Malu ya kalau kalah? Gak nyangka ternyata seorang Arka bis--"


"Ayo!" Arka menarik papan catur itu. Membukanya. Mereka bermain di bawah tempat tidur. Dengan beralaskan karpet bulu mini.


Arnold tersenyum miring. Ternyata musuhnya ini sangat mudah di pancing. Tapi Arka tahu. Kalau Arnold sudah memancing begitu biasanya ia akan susah diam dan akan terus memancing sampai apa yang diinginkannya tercapai. Maka dari itu Arka lebih memilih mengalah. Padahal kata takut kalah tidak ada di dalam kamus Arka.


"Kau yang putih. Aku yang hitam," ucap Arka sambil mendirikan bidak-bidaknya.


"Enak saja. Aku lebih suka hitam. Kau yang putih," Arnold membalikan papan caturnya. Membuat bidak-bidak yang sudah Arka susun rapih berantakan.


Pria itu menatap Arnold dengan tajam dan geram, "Heh!" Bentaknya. Namun Arnold acuh tak acuh.


****


Waktu sudah menunjukan pukul dua belas malam. Namun kedua pria ini masih sibuk dan asik bergulat dengan para kuda dan raja serta pati bidak catur. Tak ada rasa kantuk yang menerpa.


"Skak!" Teriak Arka menggema.


"Skak matamu! Tuh kuda ku masih ada," Arnold memajukan kuda nya dengan letter L. Lantas memakan benteng Arka.


"Mana bisa!" Teriak Arka sambil kembali mengambil bentengnya.


"Bisa lah!" Bentak Arnold.


"Kan itu kuda mulutnya tertutup! Mana bisa makan benteng. Lagipula kuda makannya rumput!"


Sepertinya Arka sudah frustasi. Karena sedari tadi Arnold terus yang menang. Hampir gila Arka rasanya.


Gelak tawa Arnold pecah seketika, "Bos tapi bodo," ledek Arnold sambil menoyor kepala Arka. Arka hanya garuk-garuk kepala. Entah efek ngantuk entah efek apa sampai-sampai ia bisa berkata begitu.


Mereka tertawa, marah, bingung, kasihan, iba. Tiba-tiba lupa pada dendam yang membara. Asyik pada dunia saat ini hingga lupa waktu.


Selucu itu yah. Terpisah gara-gara gadis. Bersatu gara-gara catur. Sebenarnya Arka dan Arnold ini manusia spesies apa?


Hingga pada jam 3 dini hari barulah keduanya terlelap. Arnold duduk di atas sofa. Sementara Arka duduk di bawah. Di karpet bulu. Catur beserta isinya berserakan dimana-mana. Tapi itu bukan masalah. Rasanya mata sudah tinggal 1 ½ watt. Susah di ajak berkompromi dan main catur lagi. Padahal tadi keduanya masih asyik.

__ADS_1


__ADS_2