Satu Hati 2 CINTA

Satu Hati 2 CINTA
I want to sleep


__ADS_3

Sekar: Aku ingin tidur. Tidak ingin bangun lagi.


....


"Bagaimana dok keadaannya?" Seorang dokter pria mengenakan kemeja putih rapih langsung menjadi sasaran Arnold kala dirinya baru keluar dari ruangan Sekar.


"Alhamdulilah beliau baik-baik saja. Di perbanyak ya waktu istirahat nya. Silahkan, bisa Bapak lihat adik nya."


Arnold berdelik tajam pada pria yang sudah berlalu itu. Pasalnya ia kesal saat Sekar disebut sebagai adiknya.


"Hay."


Sekar tengah melamun. Melipat kedua tangannya di atas perut. Menatap langit-langit ruangan rumah sakit dengan tatapan kosong. Bahkan pada panggilan Arnold yang pertama ia tidak menyadarinya.


"Sekar?"


"E-eh iya. Hay, Kak," ia membenarkan posisinya. Bangun lalu duduk dengan senderan. Setelah itu melemparkan senyuman manis kepada Arnold.


"Gimana? Baikan?" Arnold menarik sebuah kursi besi lalu di dekatkannya ke arah brankar Sekar terbaring saat ini.


"Alhamdulilah. Udah," senyuman indah tak lepas dari bibir mungilnya.


"Maaf, bukan maksudnya ingin menyakitimu atau apa. Tapi kenapa sampai pingsan di rumah Mamah Tami?"


Tami? Tidak. Sekar kembali mengingatnya. Ia ingat jelas saat Tami mengatakan Sekar adalah adik Arka. Meski sebenarnya belum pasti. Sakit? Tentunya. Namun entah apa yang membuat Sekar merasa sakit. Mungkin karena ditelantarkan oleh Tami? Dibohongi oleh Arka dan keluarganya? Atau karena tidak tahu kebenaran yang sesungguhnya. Tidak tahu siapa keluarga Sekar yang asli? Ya. Semuanya. Semua rasa sakit itu bercampur menjadi satu. Menciptakan sebuah meteor hebat yang melayang dari atas langit lalu mendarat di hati Sekar. Membuat hatinya terpecah belah menjadi beberapa keping.


"Kayaknya aku kecapean," mengapa mulut Sekar bisa dengan mudahnya menyembunyikan rasa sakit? Padahal Arnold pasti bersedia mendengarkan segala keluh kesahnya dan menemukan jalan keluar bila Sekar menceritakan segalanya.


"Bohong. Tante Tami melukaimu bukan?" tanya Arnold. Dibalas gelengan kepala oleh Sekar.


"Kalau begitu Papah Arman?" Sekar kembali menggeleng.


"Kalau begitu. Pasti Bi Iy-"


"Kak?" ucapan Arnold terhenti.


Sekar semakin membenarkan posisinya agar lebih tegak. Ia menarik tangan Arnold yang semula berada di pangkuannya. Ia menggenggam tangan Arnold begitu erat. Seolah-olah meminta kehangatan dari tangan Arnold. Kelakuan Sekar kali ini membuat Arnold menciptakan lipatan-lipatan kecil di keningnya.


"Tolong carikan aku pria."


Arnold tersentak. Sontak ia melepaskan pegangan tangan Sekar, "Ma-maksudnya?" laki-laki itu langsung gugup.

__ADS_1


"Carikan aku pria. Yang bersedia menjadikanku istrinya. Bersedia menjadikan aku dunianya. Tidak perlu kaya, tampan ataupun pintar. Yang penting dia bisa mencintaiku. Menyanyangiku."


"Ka-kamu sedang mengigau?" Arnold bahkan berjalan mundur. Takut-takut Sekar kesurupan setan rumah sakit yang ngebet ingin menikah.


"Tolong Kak. Tolong," air mata Sekar luruh. Tanpa Arnold ketahui maksudnya. Ia menangis.


"Tolong...," perlahan suaranya memelan, berubah menjadi lirih. Ia menunduk dan... kembali menangis.


"Tolong.. tolong.."


"Ta-tapi kan kamu belum memiliki surat cerai dari Arka?" tanya Arnold.


"Tidak masalah. Arka akan segera mengirimkannya. Tolong. Tolong."


Arnold benar-benar kebingungan. Mengapa Sekar begitu tiba-tiba ingin menikah dengan pria lain?


Arnold memejamkan mata. Berusaha berpikir jernih. Ini adalah saatnya. Saat yang ia tunggu-tunggu 5 tahun lamanya. Haruskah ia menyatakannya sekarang?


"Baik. Akan kucarikan. Kamu akan menikah. Tapi setelah mendapat surat cerai dari Arka," itulah keputusan Arnold. Sudah tahu bukan siapa mempelai pria nya?


"Kenapa harus menunggu surat cerai dulu, Kak? Sekarang! sekarang atau besok. Aku bisa menikah di KUA, di masjid atau bahkan di jalanan kalau perlu!" Ia mencabut selang infusan yang sedari tadi menempel di tangannya. Kemudian bangkit dari tidurnya. Sekar benar-benar seperti orang depresi saat ini. Tak hanya itu, ia juga mengguncang-guncangkan bahu Arnold dengan cepat.


"Sekar. Dengar, dengar. Menikah itu tidak mudah sayang. Lagipula kamu kan belum resmi bercerai dengan Arka. Katanya ingin bahagia setelah menikah lagi. Bagaimana kalau suatu hari Arka datang, menjemputmu kembali dan mengatakan bahwa kau masih istrinya?"


"Sabar ya. Sebentar lagi. Aku, Arnold berjanji untuk diriku sendiri dan demi Tuhan aku akan membahagiakanmu. Aku janji. Pegang janjiku Sekar. Tidak perduli dengan siapa kau bahagia nantinya tapi aku janji aku akan membahagiakanmu sampai aku mati."


Perkataan Arnold juga sama seperti perkataan Tami tadi. Sama tajamnya dan menusuk di hati. Bibir Sekar bergetar. Tak lama kemudian air mata itu kembali luruh. Kapan air mata Sekar akan berhenti mengalir?


"Aku janji," Arnold memeluk Sekar. Menenggelamkan kepala gadis itu di dada bidangnya.


Sungguh, Sekar beruntung memiliki pria seperti Arnold. Yang sepenuh hati menyanyanginya. Lebih dari apapun itu. Arnold rela mati hanya untuk Sekar.


Sekar adalah gadis kecilnya yang harus mendapatkan kebahagiaan, itulah janji Arnold sehidup semati.


Kalau bisa ia ingin terus mendekap Sekar seperti ini setiap detik dalam hidupnya. Tak ingin melepas Sekar. Tak ingin gadis itu kembali ke pelukan orang lain. Tak ingin Arka kembali. Ingin memiliki Sekar, selama-lamanya.


Tanpa terasa air mata Arnold pun ikut luruh. Ia tak mengerti pada dunia ini yang terus menerus memberikan penderitaan pada gadis mungil ini.


Tapi Arnold juga bahagia. Ia ada disaat Sekar membutuhkannya. Ia bahagia bisa memeluk Sekar meski Sekar menangis.


"Aku berjanji... suatu hari nanti kau akan menangis bahagia.... aku janji," lirih Arnold.

__ADS_1


Di luar sana. Ada dua pasang mata sedang memperhatikan bagaimana Sekar terlelap dalam pelukan pria muda nan tampan bernama Arnold.


Tami terduduk. Ia menyenderkan punggungnya pada tembok rumah sakit lalu merosot secara perlahan.


"Kenapa? Kenapa semuanya jadi begini?" Ia juga menangis. Bagai pasangan yang sedang berada di dalam sana.


Iyam pun ikut terduduk. Mengusap lembut bahu Tami. Memberikan secercah semangat untuknya.


"Apa yang akan terjadi selanjutnya?! Apa Arka dan Sekar adalah Kakak-beradik?! Apa Arka bisa melepas Sekar? Siapa Sekar sebenarnya? Siapa dia?! Apa dia Anak ku atau menantuku. Apa yang harus aku lakukan. Ya Allah?!" Hampir saja Tami berteriak dan menarik perhatian seluruh penghuni rumah sakit.


Namun itu ia tahan. Ia lebih memilih mendekap mulutnya sendiri. Mengeluarkan suara yang tidak dapat di dengar oleh orang dengan jelas.


****


Sementara itu


Yogyakarta, Radison Hotel.


"Have a nice day, Sir," ucap salah satu resepsionis cantik seraya menyerahkan akses kamar Arka.


"Halo, Pah. Arka sudah sampai. Jadi bagaimana rencana ke depannya?" rupanya Arka tidak suka berlama-lama di kota orang ini. Ingin sekali ia segera kembali ke Jakarta. Menemui Sekar, gadis nya.


Terdengar seseorang menyahuti dari seberang sana.


"Ibu Sekar sudah ada di tangan Jayur (Anak buah/ Tangan Kanan/ orang suruhan Arman). Kamu tinggal menemuinya saja besok pagi di Alamat yang akan Papah kirimkan nanti. Pastikan dulu dia Ibu Sekar atau tidak. Ingat ya Arka. Bawa dia ke Jakarta. Baik dalam keadaan waras ataupun gila!" Arman mempertegas kata-katanya agar Arka nya itu menjalankan semuanya dengan baik.


"Baik, Pah. Oyah, Sekar ada kesana?"


"Tidak ada tuh. Memangnya kenapa?"


Arka menarik nafas berat, ia juga mendengus sebal, "Sekar dekat dengan Arnold."


Justru Arman menanggapinya dengan kekehan, "Lalu memangnya kenapa?"


"Ya kan Arka tidak suka. Baik dia adik Arka atau bukan tetap saja jodoh nya jangan Arnold. Arnold menyebalkan! Sebelum Arka ke bandara Arka menemui Sekar di panti asuhan. Dia sedang bersama Arnold. Arnold dan Arka cekcok disana. Terus Arka dimarahin Sekar," pria itu berbicara seperti anak kecil yang sedang mengadu domba. Selang beberapa detik setelah itu pintu lift terbuka.


"Arka sudah sampai di kamar. Bye Pah. Do'akan Sekar jodoh Arka."


Arman tersenyum. Senang rupanya Arka juga telah mencintai Sekar. Padahal dulu Arka mati-matian mengumpat kalau dia tidak ingin berjodoh dengan perempuan pembawa sial seperti Sekar.


Nah, lho. Kemakan ucapan sendiri kan? Maka dari itu, berhati-hatilah dalam bernicara. Hal yang sering di dengar namun masih sering di abaikan:))

__ADS_1


Jangan sampai kayak Arka. Dilepeh tapi dipungut lagi, terus di makan lagi. Kan jijik.


__ADS_2