Satu Hati 2 CINTA

Satu Hati 2 CINTA
Bukan Malam Kedua


__ADS_3

Gak tau ah gak bisa.


Aku sampe nanya ke temen yang udah nikah lohh buat part ini.


Biar gak nanggung. Nih othor kasih lagi yang kayak sebelumnya. Tapi di part selanjutnya jangan minta lagi ya. Kalau minta ku lempar botol minyak kayu putih setruk!


.....


Tengah malam Arka terbangun. Melihat apakah wanita yang berada di sampingnya itu baik-baik saja atau tidak. Keringat sudah mengering. Dinginnya udara Bandung kembali menusuk jantung.


Entah bagaimana ceritanya. Selimut yang tadi menutupi tubuh Sekar sudah tergeletak di lantai. Membuat tubuh naked wanita itu terlihat sepenuhnya.


Arka ingin kembali memulainya. Jujur, yang tadi itu hanya permulaan. Namun melihat Sekar yang terpejam pulas ia menjadi tidak tega.


Arka berusaha mengubur niatnya dalam-dalam. Namun ia gagal saat Sekar terbangun dan memanggil namanya. "Arka?"


Arka menoleh. "Masih mau?" Tanya Sekar. Tunggu, apa ini benar-benar Sekar?


Arka meneguk ludahnya kasar. Dengan canggung ia mengangguk.


Sekar bangkit dari tidurnya. Memegang sebelah pipi Arka. Menatap teduh manik mata Arka. "I love you." Sekar menempelkan bibirnya di bibir Arka. Sebelum membalasnya Arka mengukir sebuah senyuman.


Apa Sekar kerasukan? Sekar menuntut. Ia menerobos masuk. Memegangi tengkuk Arka. Matanya terpejam sangat dalam. Membiarkan sensasi demi sensasi ia rasakan.


Arka tak mau menanyakan ada apa dengan Sekar. Dengan segera ia membalikan tubuhnya. Memposisikan dirinya seperti tadi. Tubuhnya menindih tubuh Sekar. Namun adegan ciuman masih terus berlangsung.


Sekar yang menghentikannya. Ia memegang kedua belah pipi Arka. "Maaf. Aku masih saja polos," gumam Sekar sendu.


Arka menurunkan kepalanya. Membisikan sesuatu di telinga Sekar. "Maka dari itu aku akan menodai pikiranmu."


Here we go with Arka.

__ADS_1


Ia memulai kembali permaiannya. Lebih cepat, gesit dan lihai dari sebelumnya. Dengan posisi sedikit berdiri dan tangan memegangi perut Sekar.


Sekar menggeliat. Menggigit bibir bawahnya. Arka tersenyum senang melihat itu. Sesekali Sekar mengusel. Berusaha mengikuti permainan Arka agar Arka tidak lelah sendirian. Arka membelai wajah perempuan itu. Sekar membuka matanya. Ia mengukir sebuah senyuman. Memegang kedua belah pipi Arka. Menariknya. Menempelkannya seperti biasa. Permainan masih terus berlanjut. Entah kapan akan berhenti. Karena keduanya begitu antusias.


"Ingat ya. Jangan di tahan. Aku ingin mendengarnya."


Sekar mengangguk. Memejamkan matanya dalam-dalam. Namun enggan untuk mengeluarkan suara. Sehingga Arka geram sendiri.


(Oke. Jangan dibaca! Bagi yang masih SMA:v)


Arka kesal karena Sekar tak kunjung buka suara. Lantas ia mempercepat gerakannya. Naik turun dengan cepat.


Sekar menggeleng-gelengkan kepalanya. Tangannya memegang pinggang Arka dengan kuat. Dengan lancangnya Arka memegang kedua gunung kembar Sekar. Ia hanya ingin mendengar Sekar buka suara.


"A-Arka?"


"Iya. Keluarkan. Aku senang mendengarnya."


"A-Arka. Mmmm," Sekar bungkam. Menggigit bibir bawahnya. "Sa-en--" geli. Sangat geli Sekar mengatakannya. Mengapa pula Arka ingin mendengarnya?!


Arka turun sejenak. Meraih ponsel yang ia letakan di atas nakas. Melihat jam disana. "Ja-jam 4?" Beo Arka.


Arka menempelkan tubuhnya pada tubuh Sekar. Membisikan sesuatu di telinga gadis itu. "Bangun dulu yuk. Mandi. Bentar lagi Adzan shubuh. Shalat terus tidur lagi." Ujarnya sambil mengecup kening Sekar.


Sekar berusaha bangkit dari tidurnya. Namun tubuhnya begitu ngilu. Ia meringis kesakitan sambil memegangi area sensitifnya. Membuat Arka yang melihatnya ketakutan.


"Kenapa?" Tanya Arka dengan penuh ke khawatiran.


"Sa-sakit."


Arka tak tahu harus bagaimana. Bodohnya dia malah memegang dan mengelus benda sensitif itu. Membuat Sekar menyentak tangannya, "Geli!"

__ADS_1


Arka terkekeh. "Yang besar gak geli. Masa yang kecil gini geli?" Sekar mendelik tajam ke arahnya.


"Terus gimana mau mandinya? Gak mungkin gak mandi soalnya harus shalat," ucap Arka kebingungan. Sekar tak menjawab. Ia masih meringis kesakitan sehingga membuat Arka merasa bersalah sendiri.


"Kayaknya karena kelamaan aku mainnya," Arka mengingat-ingat kapan ia mulai.


"Dari jam delapan sampai jam 11. Terus berhenti satu jam. Mulai lagi dari jam 1 sampai jam 4. 7 jam lebih?!" Pekik Arka terkejut.


"Se-Sekar maaf. Aku tudak bermaksud begitu tadi. A-aku."


Sekar menggeleng. Mengusap lembut wajah Arka, mengulas sebuah senyuman. "Semuanya juga merasakan hal yang seperti ini. Bukan salahmu. Kamu mandi duluan gih. Aku nanti belakangan." Arka mengangguk. Ia bangkit dari kasur lalu mengambil sebuah handuk. Berjalan mundur menuju kamar mandi. Matanya tidak terlepas dari Sekar yang sampai saat ini masih meringis kesakitan.


Baru juga masuk ke kamar mandi. Arka sudah keluar lagi. Memunculkan kepalanya. "Kalau mandi bareng aja gimana? Biar aku mandiin," tawar Arka.


"Mandi bareng? Yakin mandinya bersih? Nanti yang ada mal--"


"Yaudah. Ini yang terakhir, sebelum mandi." Padahal tadi sudah masuk kamar mandi. Malah balik lagi. Nyium Sekar lagi. Turun ke lehernya juga.


"Buruan mandi Ka. Takut keburu Adzan shubuh," usir Sekar halus karena pria itu masih saja menghujani pipi Sekar dengan ciuman.


"2 menit," pinta Arka. Kembali menelusuri leher jenjang Sekar yang sudah banyak jejak merah di sana. Bekas Arka tentunya!


"Nanti siang atau malem bisa lanjut lagi. Nanti keburu Adzan. Soalnya aku juga mau mandi," Sekar mencoba memberikan pengertian.


Arka menggerutu. Memanyunkan bibirnya, "Sayangnya Sekar harus nurut. Nanti Allah marah kalau shalatnya kesiangan," ujar Sekar lembut.


Arka melenggang dari sana. Ia mengatakan sesuatu sebelum akhirnya menutup pintu, "Nanti siang main lagi ya!" Teriaknya.


Diiket sama Arka ...h


__ADS_1


Waktu mau ke Bandung



__ADS_2