
Arka: Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya. Tapi rencana dan kejutan Tuhan, memang di luar dugaan. Sungguh, aku senang.
Sekar: Dulu aku pikir kebahagiaan itu hanyalah dongeng teruntuk mereka yang namanya selalu di belakang. Tapi aku lupa bahwa nama mereka yang di belakang pun memiliki kebahagiaan sendiri yang tidak dibuat dongeng. Dan inilah kebahagiaanku.
.......
Setelah Sekar dan Arka kembali, mereka tidak mendapati satu orang pun yang tadi berada di tempat tunggu. Tak ada Tami, Arman dan juga Jayur disana.
"Lho? Tadi kemana?" Tanya Sekar sambil menengok ke kanan dan ke kiri. Mencari tiga orang tua itu.
"Tadi disini 'kan?" Tanya Sekar.
"Saya senang kamu sudah sadar," suara bariton itu mengalihkan atensi Sekar dan juga Arka. Mereka berdua melirik ke arah terdapat suara.
"Di dalam!" Tunjuk Arka.
Lantas mereka berdua masuk ke dalam ruangan tempat dimana Lestari terbaring tadi.
"Mamah!" Sekar memekik. Gadis itu berlari menuju ke arah Lestari. Lestari sudah sadarkan diri.
"Sekar? Anak Mamah?" Sayangnya, kegilaannya belum kunjung hilang. Wanita itu masih melafalkan kalimat yang sama. Ia tertawa dengan begitu melengking. Nyaris seperti suara kuntilanak.
Tak perduli segila atau seseram apapun Ibu nya. Sekar tetap memeluk Lestari meski Lestari berontak dan terus memukulinya.
"Ini Sekar. Anak Mamah," ulang Sekar. Air matanya kembali luruh. Ia sangat rindu Lestari. Wanita tua yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu dengannya. Wanita yang melahirkannya, membesarkannya meski hanya sementara. Meski begitu, Sekar sangat menyanyanginya. Lestari adalah wanita kedua yang Sekar cinta setelah Siska.
"Bagaimana kalau test DNA darah Sekar dan Lestari?" Tami tiba-tiba angkat suara.
Arka terperanjat. Sejauh ini yang ia pikirkan hanyalah menunggu Lestari waras dan mengatakan kebenarannya. Harusnya Arka langsung saja mengetes DNA Lestari saat itu juga.
"Benar. Ayo sekarang," Arka menarik lengan Sekar.
"Heh! Mau dibawa kemana?!" Bentak Tami.
"Kan mau tes DNA," ucap Arka dengan begitu antusias.
"Kan dokter yang melakukan tes nya. Bukan dirimu. Lepaskan Sekar! Biar dokter yang mengetesnya," imbuh Tami. Membuat Arka terkekeh saat itu juga.
"Yasudah. Arka panggilkan dokternya," Arka berlari keluar. Hendak memanggil dokter. Dirinya benar-benar tidak sabar menantikan hasil test DNA yang menyatakan bahwa Arka dan Sekar bukanlah Kakak ber-adik.
"Heh! Dokternya di sini!" Teriak Jayur.
Sontak Arka menghentikan larinya. Arka terkekeh karena malu. Lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Makannya pikirannya jangan belah duren mulu!" Imbuh Jayur. Membuat Tami--- yang berada di sampingnya memukul punggung Jayur mantap dengan kencang.
"Saya meminta waktu untuk mengetes DNA keduanya," ucap Dokter.
Sekar melirik ke arah Tami. Wanita tua itu mengangguk seolah-olah menyuruh Sekar mengikuti kepergian dokter.
__ADS_1
****
Arka melafalkan do'a-do'a yang ia hafal. Bahkan Arka membaca surah Yasin di Aplikasi di handphonenya. Mulutnya tak berhenti komat-kamit. Hatinya enggan berhenti meminta.
Arka berdo'a agar darah Sekar dan Lestari cocok. Arka memohon agar Sekar bukanlah Adik nya. Arka berharap agar Sekar memanglah jodohnya.
"Ayo Mamah ceritakan kejadian sebenarnya," Tami menarik lengan Arka.
Namun Arka menyentaknya. Membuat Tami terperanjat saat itu juga, "Tunggu Mah. Arka lagi baca Yasin," ucap Arka. Membuat semuanya terkekeh.
"Heh! Baca yasin kalau ada perlunya saja!" Sindir Jayur yang saat ini sedang menempelkan tubuhnya di tembok rumah sakit.
"Daripada tidak sama sekali," ucap Arka santai.
"Dengar dulu cerita Mamah. Nanti lanjut lagi baca Yasin nya."
Arka mebekan tombol off handphonenya. Memasukan handphonenya ke saku celana. Kemudian duduk yang disusul Tami dan juga Arman.
Tami mengucap basmallah. Wanita itu menggenggam lengan Arka," Sebelumnya maafkan Mamah."
"Mamah mengetahui bahwa Viona itu anak Mamah baru-baru ini. Setelah hari itu berbicara dengan Bibi Viona.... hari itu."
Turn Back On.
Malam itu aku pergi sendiri ke rumah Viona. Menunggu Arka dan Arman bertindak memang melelahkan. Mereka bergerak seperti siput, lambat!
Dari dalam, terdengar seseorang menyahut yang ku kira itu adalah Bibi atau orang yang kerap di sapa Mamah oleh Viona.
Singkat cerita, kami berbincang di luar rumah Viona tanpa sepengetahuan Viona. Hanya aku, Bibi dan Paman Viona saja.
Lantas aku menanyakan kepada mereka siapa Viona sebenarnya. Sayangnya, tidak ada pernyataan memuaskan dari mereka.
"Setahu ku, Viona adalah Anak kandung dari Adik ku. Aku tidak tahu bahwa kau merasa bahwa Viona adalah Anak mu. Memangnya, kenapa kah berfikir begitu?" Tanya Bibi Viona. Mukanya sudah di tekuk. Tentu saja ia pasti kesal padaku.
"Maaf. Kau mungkin tahu sendiri bagaimana ikatan seorang Ibu dan Anak. Sangat kuat. Dan aku memang mendapatkan kabar dari seseorang yang menyatakan Viona adalah anak ku," ucapku.
"Mau coba tes DNA saja?" Tanya Paman Viona.
Aku mengangguk. Aku sangat menyetujuinya. Sayangnya, tes DNA adalah hal yang pernah kami lakukan sebelumnya. Dan, darahku serta darah Viona tidak lah cocok.
"Sudah kucoba. Tapi darah kami tidak cocok. Mungkin darah Viona ikut ke darah Ayah nya," ucapku.
"Apa maksudmu kau bermain belakang dengan Adik iparku--- Ayah Viona," tanya paman Viona dengan mata berkaca-kaca.
Aku menggeleng, "Tidak. Kalau memang Viona adalah Anak ku. Berarti Viona bukan anak Adik mu. Dulu, aku memberikan Viona pada seseorang. Mungkin saja orang itu adalah Adik mu. Tapi mereka tidak menceritakan kepada kalian siapa Viona sebenarnya," ujarku dengan penuh antusias.
"Bisa jadi. Lalu bagaimana memastikan siapa Viona yang sebenarnya?"
Maaf, masalah ini ternyata sangat membuat sulit banyak orang. Selain keluargaku, Viona, beberapa orang lain seperti paman dan bibi Viona juga ternyata mengalami kesusahan. Terlebih, Ayah dan Ibu Viona sudah tidak ada. Aku jadi semakin kesulitan memastikan siapa Viona yang sebenarnya. Karena pada saat aku menyerahkan Viona, aku tidak melihat wajah orang yang memungut Viona. Yang kuingat, hanya disinilah wajah aslinya.
__ADS_1
"Siapa pria yang main gila bersamamu?" Tanya paman Viona.
Aku menunduk. Malu, "Teman Mas Arman," ucapku.
"Yasudah. Suruh saja dia Tes DNA dengan Viona," ucap Bibi Viona.
Awalnya aku menggeleng. Tapi tiba-tiba aku teringat akan sesuatu. Sebuah mukjizat rasanya. Aku memiliki rambut orang yang bermain gila bersamaku.
Kami meminta rambut Viona. Lalu mengetes nya. Alhamdulilah, puji Tuhan. DNA mereka sama. Membuatku akhirnya bisa bernafas lega. Tapi tak cukup sampai di situ.
"Aku rasa Nenek juga tahu kisah sebenarnya," ucap Paman Viona saat kami sedang berada di rumah sakit.
Aku langsung antusias. Mengubah posisiku menjadi tegak. Segala do'a kuucapkan. Berharap agar Nenek Viona mengetahui kejadian sebenarnya.
"Syukur kalau kau adalah Ibu kandung Viona. Viona memang bukan cucu kandungku. Dia anak yang putriku temukan di depan rumahnya."
Setelah mendapat tamparan keras dari tangan keriput Nenek Viona aku lantas sujud syukur. Tangisanku pecah seketika. Nafasku menggebu-gebu. Akhirnya Ya Allah. Akhirnya aku tahu siapa itu Viona sebenarnya. Aku yakin, sangat yakin bahwa Viona memanglah Anak ku.
Aku baru bisa membuktikan segala-galanya sekarang. Sebelumnya, aku memang ingin membuktikannya karwna aku sudah tidak sabar mendengar Viona memanggilku dengan sebutan Ibu.
Namun, aku sadar bahwa ternyata Viona menyukai Arka. Langkahku terhambat. Aku takut Viona terluka saat dirinya tahu bahwa Arka adalah Kakak nya. Maka dari itu, ku tunda dulu langkahku membuktikan siapa Viona dan membiarkan Viona menyukai Arka. Ini semua salahku. Murni salahku, aku tahu itu. Tapi jalanku benar-benar buntu. Aku tak tahu harus apa.
Setelah hari itu, aku mendengar kabar dari Mas Arman yang katanya menyuruh Arka menjemput Lestari di Yogyakarta. Sebenarnya aku sudah tahu berita ini, aku hanya pura-pura tidak tahu saja agar aku bisa mempersiapkan diriku untuk langkah berikutnya. Aku berfikir bahwa aku akan menunggu Lestari dan mengetes DNA Lestari dengan DNA Sekar. Jika memang sama. Baru akan kukatakan bahwa Viona adalah anak ku. Meski sudah ada bukti kuat sebelumnya.
Kini, yang harus kulakukan adalah mencari rekan kerja Mas Arman. Yang pernah bermain gelap bersamaku."
*****
Turn Back Off.
Sekali lagi Tami mengelus pundak Arka. Berharap Arka tak marah atau mungkin menyimpan dendam padanya.
"Semuanya sudah terjadi Mah. Kita ambil hikmahnya saja dari semua ini. Yang jelas, Mamah jangan mengulanginya lagi ya." Arka memeluk Tami. Membuat Tami membulatkan matanya.
Tami tahu bahwa Arka adalah anak yang sangat baik. Tapi secepat itukah Arka memaafkan Tami tanpa membentaknya sedikitpun?
"Terima kasih Mamah sudah membuktikan yang sebenarnya. Arka sayang Mamah. Arka juga akan menyanyangi Viona sebagaiman---"
"Mas Arka!" Arka menoleh. Ia mendapati Sekar bersama dokter. Sekar sedang memegangi tangannya.
"Iya?" Tanya Arka lalu bangkit dari duduknya.
"DNA Ibu Sekar dan Ibu Lestari sama."
Tolong tampar Arka sekarang juga. Buktikan padanya bahwa ini bukanlah mimpi.
Kata yang sudah lama ingin Arka dengar saat ini. Kata yang selalu mengusik jiwa Arka setiap harinya. Kata yang begitu membahagiakan sekaligus mengharukan. Seperti pecah bisul rasanya. Sangat lega.
Arka menangis. Arka menggendong tubuh Sekar. Memutar-mutar tubuh gadis itu. Membuat gadis itu terperanjat kaget namun tak urung juga senang.
__ADS_1