
Arka: Jangan di kira Bos juga tidak bisa bergaya.
"Maaf ya kemarin malah bawa ke makam. Bukan bawa ke hotel atau ke restoran. Abis nya mau bawa ke hotel kan harus minta izin sama Ayah nya dulu." Arka, pria itu sudah semakin berani. Ia melingkarkan tangannya di perut Sekar dari belakang. Menyimpan dagu nya di pundak Sekar. Menganggu Sekar yang sedang sibuk memasak untuk makan siang.
"Gakpapa. Lagi pula aku sudah lama tidak ke makam Ayah. Makasih ya Kak," ucap Sekar tanpa mengalihkan fokusnya.
Arka melepaskan lingkaran tangannya. Ia menjentikan jari, "Bagaimana kalau malam ini kita ke hotel?" Tanya Arka.
Sekar terlihat menimang-nimang. Hotel? Malam ini? Berarti.... Sekar menggeleng keras. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri dan beberapa orang lainnya bahwa dirinya sudah siap menjadi istri yang sesungguhnya.
"Ayo," ucap Sekar final. Membuat wajah Arka berbinar.
****
Seperti tak ada kesabaran. Begitulah Arka saat ini mengemasi barang-barangnya yang hendak di bawa ke hotel. Begitu banyak dan rusuh. Seperti takut ketinggalan pesawat.
Rencananya mereka akan menginap di salah satu hotel di Bandung. Green Forest Hotel (Mimin pernah kesini. Indah banget tempatnya:v). Hotel dengan nuansa alam yang begitu menyegarkan. Selain itu juga menyehatkan. Banyaknya pepohonan yang terawat rapih membuat udara di Bandung sana menjadi lebih segar dari pada di perkotaan. Sekar tidak banyak menuntut. Ia mau-mau saja.
Kedua pasangan itu meminta cuti di kantor selama 7 hari lamanya. Awalnya Sekar menolak karena 7 hari itu terlalu lama. Belajar bangkrut namanya kalau 7 hari 7 malam di hotel. Tapi Arka tidak perduli. Ia benar-benar ingin menikmati waktu berdua dengan Sekar.
"Ka Ya Allah itu barangnya kok banyak gitu? Kan cuman 7 hari. Bukan 7 bulan," Sekar tercengang melihat betapa banyaknya Arka mengemas pakaian.
Padahal biasanya wanita yang membawa banyak barang. Ini justru sebaliknya.
Anyway, Arka meminta kepada Sekar agar Sekar berhenti memanggilnya 'Mas' dan panggil saja nama. Mungkin memang terdengar sedikit tidak sopan. Tapi itu permintaan Arka. Katanya kalau di panggil Mas serasa tukang jamu plus terlihat lebih tua.
"Jaga-jaga. Kalau misalkan gak mau pake baju itu ya pake baju ini," ucap Arka sambil menunjukan bajunya.
"Gak gitu sayang konsepnya. Ke hotel bawa baju yang diperlukan aja. Kalau emang gak mau di pake buat apa," Sekar mencoba memperingati.
"Gakpapa nanti ak--- hah? Apa tadi? Sayang?" Arka kupingnya banyak kotoran.
Sekar bungkam, "Kata-kata yang tidak enak di dengar tidak bisa diucapkan dua kali."
"Oh begitu ya?"
Arka menghentikan aktivitas memasukan baju nya. Ia menghampiri Sekar. Jari-jemarinya di gerak-gerakan seperti orang hendak menggelitik. Ia tersenyum menyeringai.
Sekar mundur namun tak urung juga tertawa. Melihat Arka yang hendak mengejarnya.
"Arka mau ngapain?" Tanya Sekar ketika Arka merangkak ke arahnya. Hendak menggelitik Sekar.
"Mau apa ya? Mau bikin Sekar kencing di celana."
Dengan gemasnya Arka menggelitik perut Sekar hingga gadis itu cekikikan. Tertawa terbahak-bahak hingga guling-guling di atas kasur.
"Arka ampunn!!!" Sekar memekik kencang. Tapi Arka tak memperdulikannya. Ia semakin kencang menggelitik Sekar. Sekar bahkan sudah menangis karena tertawa.
"Arka ampun iya iya bawa baju se lemari!"
"Bukan. Tapi kamu panggil aku apa?" Arka berhenti menggelitik Sekar. Kini posisi Arka berada di atas Sekar. Entah bagaimana ceritanya. Mungkin karena tadi Sekar guling-guling dan membuat Arka menjadi berada di atasnya.
"Hmm panggil apa ya tadi?" Sekar memutar bola matanya, "Lupa."
Lantas Arka kembali melanjutkan aksinya. Hingga keduanya berhenti dengan nafas terpenggal. Sekar,gadis itu ngos-ngosan. Lelah karena di gelitiki Arka. Arka, pria itu berhenti dengan nafas terengah-engah. Cape karena menggelitiki Sekar.
Keduanya saling menatap manik mata masing-masing. Sangat dalam. Tidak ada yang buka suara. Hanya terdengar deru nafas. Suasana mendadak hening namun panas. Terlebih Arka. Pria yang kini sedang berada di atas Sekar.
"Sekar?"
"Iya?"
"Boleh ya?"
Sekar mengangguk. Padahal tidak tahu apa yang di maksud Arka.
Perlahan, Arka menurunkan kepalanya. Memegangi kedua tangan gadis itu yang terentang di atas kasur---- di pinggir kepalanya. Pelan, sangat pelan. Sehingga sampai pada tempat landasan.
Kedua bibir telah menyatu menjadi satu. Keduanya saling terpejam. Merasakan kehangatan masing-masing. Rasanya sama seperti waktu itu. Bedanya, kali ini tanpa tuntutan ataupun paksaan. Dengan suka rela jelasnya. Menikmati setiap alunan dan gerakan. Saling membagi kehangatan nafas.
Isi kepala mendadak hilang. Pikiran jernih entah kemana. Hanya ada sebuah rasa yang Arka dan Sekar rasa. Tak tahu bagaimana menjelaskannya.
Sesekali Arka membalikan kepalanya ke posisi kanan lalu ke kiri. Tanpa membuka matanya sedikitpun. Ataupun melepaskan mangsanya. Sekar yang berposisi sebagai korban hanya menikmatinya saja. Setelah it---
"Pak Arka mobilnya sudah siap!" Ya Allah Waluyo. Menganggu saja bisanya!
__ADS_1
Spontan keduanya bangkit dengan terkejut. Saling merapihkan baju masing-masing. Sekar menyusut sudut bibirnya yang sedikit basah. Arka berdiri. Meraih kopernya. Menresletingnya.
"Nanti lanjut di hotel," sebari lewat. Arka mengecup pipi Sekar singkat. Tersungging senyuman indah di bibir gadis itu. Ia mengulum bibirnya. Memejamkan matanya. Ingin berteriak sekencang mungkin
"Arkaaaa akuu baperrrr!!!" Sudahlah. Sekar tidak bisa menahannya.
****
Memerlukan waktu 5 jam dari Jakarta ke Bandung hingga akhirnya keduanya telah sampai di hotel Green Forest itu.
Setelah chek-in keduanya lantas masuk ke dalam kamar hotel. Objek pertama yang mereka lihat adalah pepohonan. Rumah kayu yang indah.
"Bandung dingin ya," Sekar memeluk tubuhnya.
Arka mendekatkan wajahnya ke wajah Sekar. Membisikan sesuatu, "Nanti malam hangat." Langsung mendapat pukulan ringan dari Sekar.
"Kayaknya tangan kamu ini harus di ajarin deh biar jangan gampang mukul orang," jelas Arka sembari memegangi pipi Sekar.
"Mulut kamu juga harus diajarin biar gak gampang ngegombal," ucap Sekar merotasikan matanya.
"Kalau marah gitu gimana caranya mau bikin anak?" Gumam Arka pada dirinya sendiri dengan sedikit berbisik.
"Apa?" Tanya Sekar tak mendengar.
"Ng-nggak. Liat-liat dulu yuk."
Arka menggandeng lengan Sekar. Lalu keluar. (BTW lobby buat check-in di hotel ini outdoor loh)
Hari sudah sore. Mereka tadi berangkat pagi dari Jakarta. Alhamdulilah. Perjalanan lancar. Arka dan Sekar selamat.
Arka menggandeng tangan Sekar. Membiarkan jari jemari gadis itu bertautan dengan jarinya. Ia menganyun-ngayunkan tangannya. Menikmati setiap langkah berjalan di samping Sekar. Sesekali melirik ke arah Sekar. Hanya untuk menyelipkan rambut Sekar ke belakang telinganya.
"Arka itu!" Sekar menunjuk sebuah pedagang kaki lima. Atau pedagang yang berada di pinggir jalan.
Benar, mereka jalan kaki. Tidak menggunakan mobil. Arka ingin menikmati suasana sore kota Bandung. Menghabiskan setiap sore bersama Sekar.
"Mau itu?" Tanya Arka. Sekar mengangguk cepat. Manik matanya begitu berbinar. Itu adalah pedagang siomay.
"Ayo," ajak Arka antusias.
"Aku gak nyangka ternyata Viona memilih ke luar negeri cuman buat ngehindarin kamu," Sekar membuka topik pembicaraan. Sebenarnya banyak hal lain yang bisa dibicarakan. Hanya saja Sekar sedang ingin membicarakan itu.
"Aku juga. Tapi ada bagusnya. Aku justru khawatir kalau Viona ada disini. Khawatirnya dia apa-apain kamu." Arka memasukan anak rambut Sekar. Kemudian mengusap pucuk kepala gadis itu.
"Tah tuangeuna," ucap pedagang siomay yang sudah datang dengan membawa dua piring siomay. "Sing resep alias semoga suka. Hehe," kekeh nya lalu melenggang dari sana setelah merapihkan serbet yang tergantung di pundaknya.
"Emangnya kamu suka siomay?" Tanya Sekar dengan sebelah alis terangkat. Meski Arka suka makanan rumahan. Tapi Sekar tidak pernah tahu apakah Arka menyukai siomay atau tidak.
"Suka. Nih liat," pria itu memasukan satu sendok siomay penuh ke dalam mulutnya. Membuat Sekar terkekeh.
"Makasih ya udah repot-repot ngajakin aku ke Bandung terus ke hotel ini," Sekar belum memasukan sesuap makanan ke dalam mulutnya. Ia sedang menikmati pemandangan indah di depannya---- Arka yang dengan lahap makan siomay.
"Repot? Gak tau. Cuman aku gak suka dengernya. Aku lebih seneng kalau kamu bilang 'Mas Arka sering-sering ya bawa aku ke hotel," ujar Arka sambil menirukan suara wanita di akhir kata.
Sekar memajukan tangannya. Mengusap bumbu kacang yang berada di sudut bibir Arka. Kepala Sekar miring. Ia menikmati setiap inci ketampanan wajah Arka.
"Pantes Kak Siska suka sama kamu. Kamu tampan," ucap Sekar.
"Iya dong. Makannya anak nya nanti harus tampan kayak Papahnya. Baik kayak Mamah nya," ucap Arka.
"Kamu emangnya kenyang liatin aku gitu doang? Makan Sekar," Arka mengambil siomay di piring Sekar menggunakan sendoknya. Menyuapkannya ke mulut gadis itu. Yang diterima baik oleh Sekar.
"Habis ini mau kemana? Mau jalan-jalan atau langsung ke kamar hotel?"
Sekar terlihat berfikir. Melihat sekelilingnya. "Gimana kalau jalan-jalan sampai malam? Nanti pas malam baru kita pulang?"
Arka setuju. Ia mengangguk. Kemudian melanjutkan acara makannya dengan cepat agar cepat habis dan bisa segera jalan dengan Sekar.
****
Pria itu benar-benar tak mau melepaskan tangan Sekar. Di genggamnya kuat-kuat. Sesekali ia melingkarkan tangan kekarnya di pinggang ramping Sekar tanpa memperdulikan pejalan kaki lainnya.
"Arka liat!" Sekar menunjuk ke suatu arah. Dimana terdapat sebuah konser kecil-kecilan disana. Ada spanduk besar bertuliskan 'Bazar Amal lewat Bakat'. Sekar tampak antusias. Ia tertarik dengan acara tersebut dimana ada seorang pemuda yang sedang bernyanyi menggunakan gitar di atas panggung kecil dengan di hiasi lampu tumblr.
Ada banyak pengunjung yang berdiri dan menyaksikan orang bernyanyi. Turut serta bernyanyi sambil melambai-lambaikan tangannya ke kanan dan ke kiri.
__ADS_1
Arka memenuhi keinginan Sekar. Mereka berdua berjalan ke tempat tersebut. Sekar memekik kegirangan. Ia bertepuk tangan. Bahkan jingkrak di tempat.
"Vokalis nya tampann. Suaranya merdu," ucap Sekar pada pria di depan yang sedang memetik gitarnya dan menyanyikan sebuah lagu mellow romance.
"Iiih Arka lagunya enak banget. Dia keren," Sekar jingkrak di tempat. Sesekali meremas baju Arka. Sementara Arka----- pria itu tampak jengah dan jengkel saat Sekar memuji pria lain bahkan tak memperdulikan dirinya. Sekar mendadak lupa dunia. Lupa kalau dia sedang bersama dengan suaminya yang possesif dan cemburunya setengah mati.
"Arka aku su--"
Sekar menoleh ke samping. Ia celingukan ke sana kemari disaat tidak mendapati Arka di tempatnya. Pria itu menghilang hanya dalam sekejap mata. Padahal perasaan tadi Sekar memegangi bajunya.
"Lho? Arka mana?" Tanya Sekar sambil melihat sekeliling. Namun nihil. Ia tak mendapati Arka. Arka kabur kemana? Masa baru segitu saja udah kesal terus meninggalkan Sekar? Sekar di gendong tukang siomay baru tahu rasa lho.
"Oke selamat sore semuanya kepada sobat Bandung yang hadir di acara ini," suara bariton orang yang sedang berada di atas panggung.
"Jadi hari ini kami kedatangan tamu istimewa yang katanya mau menyumbangkan suaranya." Suaranya terhenti. Ia bisik-bisik.
"Oke. Pria ini akan bernyanyi untuk seorang perempuan spesial di hidupnya," MC itu kembali berbisik.
"Bukan perempuan. Maksudnya bidadari. Bidadari yang menjelma menjadi perempuan cantik bernama...."
"Sekar."
Sekar kenal suara itu. Sekar tahu siapa itu. Lantas Sekar menolehkan kepalanya ke atas panggung. Disana, dia bisa melihat pria yang sedari tadi berada di sampingnya. Pria yang menghilang tiba-tiba. Pria yang membuat Sekar khawatir.
Sekar membulatkan matanya saat melihat Arka berdiri di atas panggung dengan memegangi sebuah gitar. Sekar memberi Arka kode agar pria itu turun. Bukannya turun, Arka malah menarik mic dan mendekatkan ke wajahnya. Mulai memetik gitar. Melantunkan sebuah lagu dengan suara merdu.
Don't go tonight
Stay here one more time
Remid me what it's like
And let's fallin love, one more time
I need you now, by my side
It tears me up, when you turn me down
I'm begging please, just stick around
I'm sorry, don't leave me
I want you here with me
Don't say that your love is gone
Pria itu memetik senar gitar dengan pasti. Mengikuti nada lagu. Membuahkan suara indah nan merdu. Namun matanya tak terlepas dari gadis cantik berambut panjang tergurai yang kini sedang menatapnya dengan perasaan menggebu.
Satu yang Sekar tahu. Arka adalah CEO dingin. Tak pernah tersirat di benaknya bahwa Arka bisa bermain gitar, bernyanyi dan suaranya merdu.
Gadis itu termangu. Suara khas suaminya mampu menghipnotisnya dan membuat Sekar membeku.
Suara tepuk tangan terdengar menyeruak. Menggema. Di susul suara siulan dan teriakan para wanita.
Arka turun dari panggung. Menghampiri Sekar. Meraih tangan gadis itu. Mencium punggung tangannya. Damai dan di penuhi kelembutan, "I'm sorry. Don't leave me, Sekar."
Sekar tak kuasa. Melihat segala keromantisan yang Arka berikan. Meski hanya sekedar bernyanyi dan bermain gitar di atas panggung.
"Aku mencintaimu," dua kata yang mampu meluluh lantahkan Arka. Sekar ambruk memeluknya. Mendekap tubuh kekar pria itu. Tak memberinya izin untuk bernafas sedikitpun. Tak perduli pada mata yang saat ini tengah tertuju padanya.
****
"Aku kira kamu bisanya cuman urusan kantor doang," ucap Sekar yang sudah kembali berjalan.
"Nggak dong. Arka juga pernah muda. Masa muda ku gak dihabisin hanya dengan mengurusi berkas-berkas perusahaan. Dulu aku sering nyanyi bareng Arnold."
Sekar menghentikan langkahnya, "Arnold? Kok bisa bareng sama Kak Arnold?" Arka mengantupkan bibirnya rapat-rapat. Buru-buru ia merangkul pundak Sekar. Mengajaknya kembali berjalan.
Ada sebuah keanehan yang Sekar rasa. Namun ia tak tahu itu apa. Sekar juga tak kunjung bertanya. Karena saat ini ia sedang benar-benar ingin bermesraan dengan Arka.
Neneng Sekar waktu di Bandung nih
Cuss. Mau ikut ke Bandung gak?
__ADS_1