Satu Hati 2 CINTA

Satu Hati 2 CINTA
Merindukannya


__ADS_3

Sudah berjam-jam yang lalu Arka pergi. Namun Waluyo belum juga kembali. Kini Sekar sedang sendirian. Di meja makan. Ada begitu banyak makanan yang tadi pagi sempat Waluyo belikan. Namun tak ada sedikitpun selera untuk menyentuhnya. Bahkan melirik nya pun tidak.


Yang Sekar lakukan saat ini hanyalah melamun. Menatap sebuah objek. Benda pipih yang ia harapkan berdering lalu tertera nama Arka di sana.


Sayangnya itu tidak terjadi. Tak sekalipun Arka menelefon. Sekar pun tidak mencoba menelefon Arka. Sekar takut menganggu.


"Sabar Sekar sabar. Arka begini juga untuk dirimu," Sekar mencoba menenangkan dirinya sendiri.


Rasanya dunia nya hampa. Saliva yang ia teguk begitu hambar. Udara di sekitar mendadak panas dan menyesakan dada. Padahal hari masih pagi.


****


"Pah. Arka ngirimin Mamah SMS katanya dia pergi ke Bali sama Jayur. Terus Sekar di rumah sendiri. Minta Mamah nemenin," ucap Tami sembari membaca deretan SMS yang di kirim Arka.


"Yaudah Mamah pergi aja temenin Sekar. Kalau Sekar nya mau ajak aja dia kesini," ucap Arman tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop yang kini sedang ia gunakan untuk bekerja.


"Duh Mamah bukannya gak mau Pah. Tapi Mamah mau ngurusin berkas-berkas Viona yang katanya belum selesai yang mau dikirim ke Australia. Gimana dong?"


"Papah juga gak bisa Mah. Soalnya Papah lagi banyak kerjaan. Tuh Mamah bisa liat sendiri," tunjuk Arman pada laptopnya.


"Apa kita suruh Iyam aja kesana?" Usul Tami.


"Kan Mamah mau ngurusin berkas Viona. Kalau Iyam kesana disini siapa yang masakin Papah?"


Keduanya terlihat berpikir. Mencari jalan keluar. Tidak ada waktu yang senggang untuk keduanya.


"Papah percaya kok Sekar bisa sendiri. Dulu juga kan dia sering di tinggalin Arka kerja," ucap Arman santai. Ia memang tahu bahwa menantu satu-satunya itu sering di ghosting oleh Arka dulu.


"Iya sih. Tapi Mamah kayak kasian aja."


"Berdo'a aja Mah. Sekar bakalan baik-baik aja kok. Percaya sama Papah," ucap Arman.


*****


Pada jam 12 siang barulah Waluyo pulang. Sekar dengan segala antusiasnya menyambut kedatangan Waluyo untuk sekedar menanyakan tentang Arka.


"Pak tadi Arka gimana? Sama Pak Jayur juga kan katanya? Arka udah makan belum? Dia tadi baik-baik aja kan di jalan? Arka bilang gak pulang nya kapan? Arka nyuruh Sekar nelefon gak?"


Waluyo tersenyum seulas. Ia benar-benar tidak tega melihat kekhawatiran Sekar. Gadis itu seperti tak biasa ditinggalkan Arka. Padahal dulu Arka sering meninggalkannya. Namun entahlah, kali ini berbeda.


"Duh saya bingung Non mau jawab yang mana dulu," ucap Waluyo garuk-garuk kepala.


"Arka baik-baik aja?" Pertanyaan terakhir Sekar.


"Alhamdulilah Mas Arka baik-baik aja. Non Sekar udah makan?" Tanya Waluyo. Teringat akan pesan Arka yang menyuruhnya memastikan Sekar makan dengan teratur.

__ADS_1


"Sekar belum laper Pak. Terus Ar---"


"Udah jam 12 siang Non Sekar belum makan?" Waluyo menoleh ke arah meja makan. Dimana semua makanan yang ia beli tadi masih tertata rapih disana. Lengkap.


"Iya. Nanti Pak," ucap Sekar lesu.


"Non jangan sampai sakit yah. Non tau sendiri kan Mas Arka di sana untuk bekerja. Kasian kalau Mas Arka tau Non Sekar sakit. Pasti dia khawatir berat," ucap Waluyo. Mencoba memberikan pengertian pada wanita itu.


Sekar mengangguk lemah. Kemudian masuk ke dalam. Merebahkan diri di kamar. Menunggu telefon dari Arka datang.


Waluyo geleng-geleng kepala, "Cinta anak muda emang luar biasa."


****


Hingga tibalah malam. Sekar belum mandi, belum makan. Ia benar-benar tidak makan. Ingin nya saat ini adalah Arka menelefon atau sekedar memberinya kabar lewat SMS.


Benar, sampai saat ini Arka belum juga mengirimi Sekar pesan apa-apa. Dan pesan dari Sekar pun belum dilihat oleh Arka sama sekali.


*Arka udah nyampe?


Arka baik-baik aja 'kan?


Jangan lupa makan Ka


Sayang Arka*.


Sekar mengulas senyum diiringi luruh nya air mata, "Ternyata begini rasanya jatuh cinta."


******


Arnold mondar-mandir di kamar nya sendiri. Mengetuk-ngetuk bibir nya menggunakan jari telunjuk. Menimang usulan Lucas hari itu.


Lucas, pria yang di tampar Sekar di pesta hari itu mendatangi Arnold suatu hari. Lucas tahu cerita Arnold dari Kemal.


Dengan nekatnya Lucas mendatangi Arnold. Dengan nekat dan segala niat buruknya. Pria blasteran itu berusaha mencuci otak Arnold.


Menyuruh Arnold melakukan hal yang kurang ajar kepada Sekar. Pasalnya, Lucas dendam kepada Arka yang hari itu mempermalukannya di depan umum. Terlebih, ia menyukai Sekar.


Aura gadis itu benar-benar melekat di wajah Lucas. Enggan untuk hilang. Tamparan yang Sekar berikan membuahkan cinta. Sehingga membuat Lucas, pria lajang itu jatuh cinta pada pandangan pertama.


Lucas tak tahu banyak tentang Sekar selain tahunya bahwa Sekar cantik. Dari Kemal, ia mengubek seluk beluk Arka. Dan Arnold lah salah satu informasi yang ia dapatkan.


Menggunakan Arnold, Lucas merasa dirinya bisa mendapatkan Sekar. Tak perduli jika Sekar sudah bersuami. Bagi Lucas, apa yang dia inginkan harus ia dapatkan. Lucas tak mengenal apa itu peraturan.


"Sekali-kali kita harus main kasar ketika cara halus gak berguna, bro," ucap Lucas kala itu.

__ADS_1


"Lo rela cewek sebaik Sekar jadi milik Arka? Gue sih nggak. Dari perawakannya aja gue bisa liat kalau Arka itu berandalan, bajingan. Kasian Sekar."


"Gue sih cuman mau buka mata buka hati lo. Sekar itu cocok abis sama lo. Bukan apa-apa. Gue sebagai cowok kasian aja liat cewek sebaik Sekar tersakiti."


Baik? Jelas-jelas Lucas di tampar di depan umum kala itu. Karena suka, Lucas masih bisa menyebut Sekar baik.


Semua orang mungkin berpikir bahwa Arnold tidak akan pernah melakukan hal sekeji itu. Tapi sepertinya untuk kali ini salah.


Mondar-mandir nya Arnold adalah sedang mempertimbangkan usulan Lucas.


"Ada bener nya juga."


Tunggu, otak Arnold berhasil di cuci? Lucas sialan.


***


Pagi telah berganti siang. Siang telah berganti sore. Dan sore telah berganti malam. Hingga pagi datang kembali menjemput siang.


Sudah dua hari Arka pergi. Tak sekalipun ia memberikan kabar.


"Sesibuk itu ya Arka?"


Dan dalam dua hari itu Sekar hanya minum air putih. Berjuta-juta kali Waluyo menyuruhnya makan. Namun tak Sekar hiraukan. Yang ada di pikirannya hanya Arka.


Tidak pernah jatuh cinta. Sekalinya jatuh cinta bisa segila ini, Sekar.


"Permisi Non," Waluyo mengetuk-ngetuk kamar Sekar. Dengan sedikit ragu. Waluyo tahu majikan muda nya itu sedang patah hati. Waluyo kurang hati-hati bisa-bisa ia di jadikan santapan siang oleh Sekar. Betina kan gitu kalau lagi galau.


"Iya Pak?" Sahut Sekar dari dalam.


"Ada yang mau ketemu sama Non Sekar."


"Siapa?"


"Mas Arnold."


Sekar menyeka buliran air matanya. Menjilat bibirnya yang sudah mengering. Merapihkan baju dan rambutnya yang begitu berantakan.


Membuka pintu kemudian menuruni tangga untuk menjumpai Arnold yang sedang berada di bawah sana.


Rindu Arka



__ADS_1


__ADS_2