Satu Hati 2 CINTA

Satu Hati 2 CINTA
Kebenaran


__ADS_3

Arka: Dari khilaf, apa yang mau di salahkan?


Sekar: Manusia memang seringkali khilaf. Itu memang tidak bisa disalahkan, karena khilaf adalah salah satu naskah dalam kehidupan. Akan tetapi, ada khilaf yang sangat fatal. Bolehkan, aku membutuhkan waktu untuk memaafkan khilaf yang fatal itu? Aku rasa boleh. Karena menerima kenyataan pahit tidak semudah mengigit punggung Arka.


.....


"Maaf untuk apa Ka?" Tanya gadis itu dengan alis memicing.


Tak perduli pada keramaian. Tak perduli pada pasang mata yang menatapnya aneh. Tak perduli pada asumsi aneh yang akan mereka keluarkan. Arnold sujud. Memegangi kedua belah kaki Sekar saat itu juga.


"Sekar maaf. Maafkan aku. Maaf."


"Lho? Arka ini Kak Arnold kenapa?" Sekar mundur. Berusaha menyingkirkan kaki nya dari Arnold.


"Sudahlah. Jangan disini juga," Arka membantu Arnold bangkit. Agar setidak nya pria itu tidak malu.


"Ayo bicara di dalam. Sekar, gak papa ya makan bakso nya nanti aja? Ada yang harus kita bicarakan soalnya. Penting."


Gadis itu mengangguk. Ia berjalan dengan di bantu dua pria di sampingnya. Hingga ketiga nya sampai di halaman depan rumah sakit. Tepatnya di taman. Duduk di sebuah bangku kayu panjang.


"Tadi kok bisa mau ketabrak Kak? Ngelamun ya? Lain kali hati-hati," Arka menatap Sekar dengan tatapan horor nya. Berani ya ia berkata lembut kepada pria lain di depan Arka?!


"Apa?!" Sentak Sekar sambil melirik ke arah Arka. Malah Arka yang kicep dan bungkam.


"Nggak. Ada yang mau Arnold katakan."


"Arnold, ini kesempatan terakhirmu. Atau mungkin tidak sama sekali. Katakan semuanya pada Sekar, sebelum kenyataan yang membongkar semuanya. Sebelum Sekar membenci mu untuk selamanya," titah Arka.


"Lho? Maksudnya apa Ka? Kak Arnold mau bicara apa memangnya? Benci? Kenapa aku harus membencinya?"


"Sekar. Tenang dulu ya. Tunggu sampai Arnold angkat bicara," titah Arka.


Arnold yang kala itu sedang di introgasi Arka. Berusaha mengumpulkan niat dan tekadnya. Memantapkan hati untuk mengatakan kejujuran. Akan sangat besar resikonya. Tetapi lebih besar resiko jika Sekar tahu dengan sendirinya. Mungkin Sekar akan benci pada Arnold selama-lamanya.


Mengatakan kebohongan saja aku bisa. Mengapa mengatakan kebenaran aku tidak bisa?


Arnold menatap Sekar memelas. Siapkah ia jika Sekar membenci nya?


"Kenapa Kak?" Sekar sudah tidak sabar.


"So-soal apa yang aku katakan tentang A-Arka itu bohong."


Kedua alis Sekar menyatu. Tak mengerti maksud Arnold, "Maksudnya Kak? Tentang Arka yang mana?"


Arka tak ikut menimpali. Ia memberikan waktu kepada Arnold. Tapi kalau Arnold sampai berkata yang lain-lain, mungkin tangan berotot Arka yang akan berbicara.


"So-soal Arka dan Viona," Arnold memejamkan matanya dalam. Berani berbuat berarti berani bertanggung jawab. Berbuat nya sudah. Sekarang tinggal bertanggung jawab nya.


Arnold memberanikan diri menatap Sekar setelah sedari tadi menunduk, "Aku berbohong soal Arka dan Viona. Arka tidak pernah bermain dengan Viona. Bahkan berciuman pun tidak pernah. Aku mengarang cerita. Bahkan soal Siska. Pada kenyataannya Arka setia. Ia mencintaimu, menyayangimu lebih dari pada aku."

__ADS_1


Sekar tertawa. Tawa penuh kekonyolan, "Kenapa hm? Arka yah yang menyuruh Kak Arnold berkata seperti itu? Tidak perlu Kak. Aku sudah tidak percaya pada Ar---"


"Karena aku mencintaimu lebih daripada cinta seorang Kakak," Sekar bungkam. Arnold berdiri. Memegangi kedua belah pundak Sekar.


"Aku yang melihat kecantikanmu. Aku yang berupaya merebut Siska. Aku juga yang berusaha merebutmu. Kalau tidak percaya, tanyakan pada Viona. Tanyakan pada Ibu ku. Tanyakan juga pada Pasha. Sungguh, aku minta maaf."


Lagi-lagi Sekar harus di buat bingung oleh perkataan Arnold. Pria di depannya ini benar-benar berhasil membuat otak Sekar berpikir keras.


"Kenapa Kak Arnold setega itu?"


Arnold menunduk. Meratapi kesalahannya. "Maaf. Aku terlalu mencintaimu. Cintaku membutakan. Aku hanya kehabisan akal. Pikiran ku buntu. Di saat pikiranku buntu datang seseorang yang mampu mengelabuiku. Dia meng---"


"Kak Arnold tahu apa akibat dari kebohonganmu itu? Aku dan anak ku nyaris mati Kak! Hidupku yang buntu. Semangat ku yang patah saat mendengar kabar Arka main dengan Viona."


"Aku mempercayaimu. Karena ku pikir kau benar-benar perduli kepadaku. Benar-benar ingin melihatku bahagia. Aku percaya pada mu. Tapi ini balasannya? Kalau memang cinta kenapa tidak bicara baik-baik dan tidak usah melakukan hal sekonyol ini."


"Kak Arnold tau gimana perasaan aku waktu itu? Sakit Kak! Menderita! Terluka. Bahkan hal konyol yang sebelumnya tidak pernah terlintas di benak aku. Aku lakuin. Aku bunuh diri!"


"Lihat aku sekarang. Seluruh badan remuk rasanya. Lihat Arka! Dia juga terluka. Bukan cuman kami. Tapi anggota keluarga lainnya juga terluka. Kemana otak Kak Arnold? Bisa-bisa nya berpikir sejauh ini?!"


Arnold membisu. Membiarkan Sekar menumpahkan segala kekesalannya. Jika di tusuk menggunakan belati pun Arnold rela. Karena apa yang ia lakukan benar-benar merugikan banyak orang. Pantas mendapatkan hukuman yang lebih daripada itu.


"Kak Arn--" Sekar menunjuk muka Arnold. Ia menahan apa yang akan ia katakan berikutnya. Tak tahan, Sekar berlari saat itu juga.


Arnold hendak mengejarnya. Dengan cepat Arka meraih bahu Arnold. Menghentikan langkah pria itu, "Biar aku saja."


"Hey Sekar. Mau kemana?" Lari Sekar yang memang lemah bisa di kejar oleh Arka. Arka memegangi lengan gadis itu. Sekar menangis. Menyeka air matanya dengan kasar.


"Arka. Kak Arn--"


"Sttt. Sini," Arka menarik lengan gadis itu. Menarik tubuh nya untuk di peluk. Menelungkupkan kepalanya di dada bidang Arka. Memberi Sekar ruang untuk menangis di sana.


Membiarkan Sekar menumpahkan segala kecewa nya pada Arnold. Sekar kecewa besar pastinya. Orang yang paling ia percaya mengkhianatinya. Parahnya, merusak hubungannya dengan suaminya sendiri. Bahkan membuat nya nyaris mati.


"Arka Kak Arnold..." lirih Sekar.


"Udah ya. Yang penting kita gak papa. Arka gakpapa, Sekar juga gakpapa. Semua orang bisa khilaf. Ingat aku dulu bagaimana? Aku juga dulu kasar. Ingat dulu Viona bagaimana? Viona kasar juga. Tapi dia bisa berubah. Semua orang bisa berubah, termasuk Arnold. Cinta nya membabi buta. Hingga tanpa sadar melakukan hal yang beresiko besar. Semuanya karena khilaf. Sebenarnya Arnold sayang kok sama kita semua."


Mau sejahat apapun Arnold nyatanya Arka masih tetap membela nya. Arka tak ingin meninggalkan jejak buruk di mata Sekar mengenai Arnold.


Inilah. Inilah hal yang membuat Arnold mengakui kesalahannya.


Ia khawatir pada keadaan Sekar yang ternyata drop parah mana kala mendengar berita tentang Arka ini. Ia juga iba pada Arka yang terluka.


Selain itu. Ternyata Sekar dan Arka sulit di pisahkan tak perduli sebesar apapun badai menyerang. Karena bukan kedua pihak yang menyerah.


Lalu Arnold juga tidak tega pada masa depan Sekar dan masa depan anak nya nanti jika ia tetap melanjutkan rencananya. Terlebih Arka dan keluarganya pasti hancur.


Melihat bagaimana hancurnya Arka dan keluarganya kemarin sukses membuat Arnold memutar balikan niatnya.

__ADS_1


Dan yang terakhir. Kebaikan dan tingkah laku Arka. Arka tak menyalahkan Arnold berlebihan. Arka juga tak berusaha membuat Arnold menjadi keji di mata Sekar dan keluarganya. Di tambah, Arka menyelamatkan Arnold dari maut yang tadi hampir merenggut nyawanya. Padahal jika dipikir, itu adalah kesempatan Arka untuk menyingkirkan pria bajingan seperti Arnold.


Tapi Arka masih memberi nya kesempatan hidup. Bahkan masih bisa memberi nya maaf. Lantas, Arnold tak memiliki lagi alasan untuk meneruskan niat buruknya. Karena yang ada segalanya hanya kehancuran yang ia dapat.


Suatu hari nanti, Sekar juga pasti tahu kebenarannya dengan sendirinya. Dan jika hari itu tiba. Sekar akan semakin terluka dan Arnold akan di bencinya.


Hingga pilihan terakhir jatuh kepada harus mengatakan yang sebenarnya. Arnold siap dengan segalanya. Siap dengan kecamuk Sekar. Mau dikata bagaimanapun Arnold memang bajingan. Selain merusak tali persahabatan, ia juga merusak kebahagiaan banyak orang.


"Coba liat aku," Arka merangkum wajah Sekar setelah melepaskan pelukan dari gadis itu.


"Sayang. Jangan nangis kayak gini. Lupain apa yang udah terjadi. Ayo kita balik lagi ke rumah sakit. Kita temuin Arnold. Minta klarifikasi lebih dari dia."


Sekar menggeleng tegas, "Aku malu Ka. Aku malu."


"Malu? Malu sama siapa? Kok malu?" Tanya Arka.


"Aku malu sama kamu. Aku malu sama semuanya. Terutama Mamah Tami dan Ibu Anisa. Aku malu."


Bibir Arka berkedut. "Kan kamu juga gak tau. Semisal aku di posisi kamu, aku pasti akan ngelakuin hal yang sama. Seperti yang kamu bilang, istri mana sih yang rela suaminya main gila sama wanita lain?"


"Ayo kita balik lagi ke rumah sakit. Udah mau sore. Abis itu kita jajan bakso ya."


Dipaksa Arka makan burger



Sekar suka kucingg





Memeluk Sekar adalah hobiku



Maaf ya Ka udah salah sangka



Namanya juga manusia, gak luput dari dosa



iya gak pemirsa?


__ADS_1


Sekar, maaf



__ADS_2