
Arka: Aku terluka, lalu bahagia. Terimakasih cinta.
Arka sempat di halau security di luar sana. Di larang masuk karena tubuhnya yang basah kuyup. Tapi Arka terus berontak. Dan dengan uang, barulah ia bisa masuk ke dalam. Tapi masih dalam keadaan yang sama. Yakni baju yang basah. Dan luka di seluruh muka.
Senyuman itu tak luput dari Arka di sepanjang jalan. Padahal ujung bibir nya sedikit robek bekas hantaman orang tadi. Tapi Arka benar-benar tak perduli.
Bahkan pada badannya yang sudah menggigil. Dan wajah yang pucat pasi. Ia berjalan tergesa-gesa. Tak ingin membuat Sekar menunggu lama.
Langkah Arka terhenti tepat di ambang pintu. Gurat senyum nya hilang seketika. Saat ia mendapati Sekar tengah tertawa.
"Harumanis nya enak Kak. Makasih ya," Arnold mengelap sudut bibir Sekar yang belepotan.
Tangan Arka mengepal. Kantong harumanis yang tadi menggelembung besar kempes seketika. Menimbulkan suara besar.
"Eh? Sini Ka," ucap Sekar.
Dengan hati perih. Perasaan tak enak. Dada berdebar. Langkah lunglai. Dan air mata yang sebentar lagi akan menyambar Arka berusaha menghampiri Sekar. Dengan menenteng sebuah kantong harumanis di tangannya.
"Harumanis nya ya? Sini. Untuk nanti malam. Sekarang aku sudah makan punya Kak Arnold. Tuh. Udah abis dua." Sekar menoleh pada harumanis yang Arka bawa. "Cuman satu ya beli nya?"
Arka tak mengatakan apa-apa. Ia hanya menatap Sekar dengan tatapan tak dapat di artikan. Ada kesal, marah, cemburu dan kasihan.
"Yaudah gakpapa. Makasih Ka. Makasih juga Kak Arnold," ucapan terimakasih nya lebih tulus kepada Arnold. Di balas anggukan oleh pria itu.
Arka diam mematung. Berusaha menahan sakit hatinya. Tahukah Sekar bahwa Arka adalah pria paling cemburu? Tahukah Sekar bagaimana perjuangan Arka mendapatkan makanan ini? Dan tahukah Sekar bagaimana perasaan Arka ketika ia mendapati Sekar sudah mendapatkan makanan dari pria lain? Arka merasa gagal.
"Kok bisa ada dia di sini?" Menunjuk Arnold.
"Iya. Tadi Kak Arnold nelefon terus bilang katanya mau kesini. Jadi sekalian aku minta beliin harumanis di jalan. Karena Kak Arnold yang nyampe duluan jadi aku makan punya dia. Makasih ya Kak," lagi-lagi Sekar membuat hati Arka panas. Dan bodohnya Arnold membalas Sekar dengan senyuman.
"Itu kenapa?" Arnold bertanya pada Arka saat tak sengaja melihat luka di bibir Arka.
"Ini?" Arka meraba ujung bibirnya. "Oh. I-ini tadi..." Arka benar-benar tak ingin membuat Sekar khawatir.
"I-ini... tadi." Sial! Arka tak sengaja menekan lukanya hingga membuat darah semakin banyak keluar, "Awww," ringisnya kesakitan.
"Sini," titah Sekar ketus.
"Hah?" Beo Arka.
"Kita lap darah nya," ucap Sekar datar plus dingin.
Lap? Pake apa?
"Gak usah. Dikit kok," Arka mengelapnya menggunakan Ibu jarinya.
__ADS_1
"Nakal."
Arnold memejamkan matanya rapat-rapat saat melihat Sekar bangkit, meraih kepala Arka lalu mencium pria itu tepat di bibirnya.
"Udah sembuh?"
Arka memelotot tak percaya. Dikiranya tadi Sekar mau apa. Ternyata menciumnya. Tepat di bibir..... dan tepat di depan Arnold. Arka membeku saat itu juga.
Apalagi Arnold. Darah di dalam tubuhnya seperti mendidih.
"U-udah."
"Kak Arnold kalau mau pulang gak papa kok. Udah ada Arka. Makasih banyak ya," ia melemparkan senyuman hangat kepada Arnold yang sedang menatap horor ke arah Arka.
"I-iya. Aku permisi. Assalamualaikum," Arnold sadar bahwa secara tidak langsung Sekar mengusirnya. Maka dari itu ia tak melakukan penolakan. Tak ada lagi alasannya untuk tetap tinggal disana.
"Tadi itu apa?" Arka meraba bibir nya yang masih terasa panas.
"Yang dibawa Kak Arnold? Oh. Itu harumanis."
Arka menggeleng tegas, "Bukan."
"Terus yang mana?" Tanya Sekar linglung.
"Yang ini," Arka menunjuk bibirnya.
"Ohh. Kalau begini ceritanya sering-sering aja kali ya terluka," Arka meraih kursi. Mendudukan dirinya di sana. Menemani Sekar yang masih asyik memakan harumanis.
"Ada juga ya ngidam harumanis."
"Pantesan manis. Makanannya yang manis-manis ternyata."
"Tapi jangan sering-sering entar punya penyakit gula lagi."
"Biasanya orang-orang ngidam mangga muda. Kok harumanis sih?"
Sekar tetap fokus makan. Tak menggubris segala perkataan Arka.
"Setelah ini makan makanan yang lain ya?" bujuk Arka.
"Bisa diam Ka?" Arka bungkam saat itu juga. Namun pandangannya tak luput dari Sekar.
"Lama ya nunggu nya? Maaf ya. Ini harumanis punyaku mau di apain?" Arka menunjuk harumanis yang tadi ia bawa. Sudah lepek.
"Ka baju kamu basah. Gak ganti baju?" Sekar baru sadar bahwa baju kekasihnya itu basah.
__ADS_1
"Ini? Gakpapa kok," ucap Arka. Melemparkan senyuman hangat pada Sekar.
Semoga aja dengan keadaan basah begini Sekar tergoda, batin Arka.
Sialnya, bukannya Sekar yang tergoda. Justru Arka yang tergoda melihat Sekar lahap memakan harumanis itu.
"Manis ya?" tanya Arka dengan jakun naik turun. Tak kuasa menahan nafsu menggoda Sekar.
"Ini?" Sekar menunjuk harumanis nya. Kemudian mengangguk. "Mau coba?"
Arka mengangguk, "Iya. boleh," ucap Sekar.
Seperti biasa. Sapaan mendarat di bibir gadis itu. Arka tidak hanya mengecupnya sesaat. Tapi juga mengigitnya. Arka mengecap bibir nya yang terasa sedikit lengket.
"Manis dan kenyal."
Sekar tak sungkan untuk memukul Arka menggunakan satu kantong plastik harumanis.
"Makasih. Enak. Bagi lagi boleh?" Tanya Arka sembari mendekatkan wajahnya ke wajah Sekar. Namun gadis itu menatap Arka tajam. Sehingga dengan berat hati Arka harus mundur dan duduk lebih jauh dari Sekar sebelum Sekar melayangkan tiang infusan.
Tergoda? Sekar juga sama
Arka kebasahan, tolonggg
Bibir Sekar kayak yuppi
Arka? untung aku lagi sakit
Hmmm
Hmmm 2
Nih guys muka Arka bonyokk abis
__ADS_1