
Sekar: Love you every minute, every second. Love you 'till i die (Mencintaimu setiap menit, setiap detik. Mencintaimu sampai mati.)
Arka: Sudah mati pun rasanya aku masih tetap mencintainya.
.....
Seminggu lamanya pasangan bernama Arka dan Sekar menikmati kebahagiaan bersama di salah satu kota ternama di Indonesia, Bandung. Kini keduanya hendak kembali menempuh perjalanan menuju kota kelahiran, Jakarta.
"Ka?" Arka menoleh sambil bergumam, "Love you every minute every second."
Arka terkekeh. Satu hal yang paling ia senang: saat dengan blak-blakan Sekar mengatakan bahwa dirinya mencintai Arka.
"Love you 'till i die."
"Dulu aku sempet gak percaya sama yang namanya kebahagiaan. Kayak mustahil aja buat aku ngerasain sesuatu berwujud kebahagiaan itu," Sekar menempelkan kepalanya di lengan atas Arka. Arka tak mendengus. Ia membiarkan Sekar melakukan apapun yang ia inginkan.
"Tapi sekarang percaya 'kan?" Tanya Arka. Mengelus halus pucuk kepala Sekar.
Sekar mengangguk, "Percaya. Boleh aku minta satu hal?" Sekar mendongakan kepalanya. Menatap wajah Arka lekat-lekat meski pria itu tengah fokus mengemudi dan tak menolehkan wajah nya ke arah Sekar.
Sekar meneguk ludah nya kasar. Merapatkan matanya, "Jangan tinggalin aku kalau bukan ajal yang memisahkan." Satu keinginan Sekar. Dirinya tak ingin kehilangan Arka. Kini Sekar sudah percaya bahwa kebahagiaan itu ada dan nyata. Namun ia tak tahu apakah kebahahiaan itu untuk selamanya atau sementara.
"Kok ngomongnya gitu? Kayak yang mau kemana aja. Ngobrol itu harus tentang hal-hal yang membahagiakan." Sekar ingin. Ingin sekali berbicara mengenai sesuatu yang membuat keduanya bahagia. Tapi jiwanya meronta. Memerintah Sekar untuk mengatakan itu.
"Satu hal yang paling kutakutkan sekaligus ku benci, kehilangan."
Krystal mata Sekar luruh. Entah mengapa. Setelah apa yang ia lewati bersama Arka selama ini. Membuatnya begitu tersentuh. Sekar telah jatuh ke pangkuan Arka. Telah memberikan mahkotanya di pria itu. Menyimpan separuh hidupnya di Arka. Maka tak tahu bagaimana nantinya bila Arka tiada.
"Sttt. Kamu kenapa, hm? Perasaannya gak enak yah? Gak papa kok. Kita akan baik-baik aja." Arka meneguk susah salivanya. Tangan dan kakinya bergetar seketika. Perasaannya tidak enak. Melihat Sekar yang dengan tiba-tiba berkata seperti itu. Di tambah dirinya yang menangis.
"Gak usah mikir yang aneh-aneh. Manusia hidup untuk menepati janji. Dan sekarang aku berjanji bahwa aku akan menjagamu. Dan aku akan tetap hidup untuk memastikan dirimu bahagia." Perasaan Sekar teriris. Mendengar kata yang seharusnya menjadi semangat baru bagi dirinya justru terdengar menyakitkan. Ia tak ingin. Tak ingin kehilangan Arka. Sudah banyak dirinya mengalami kehilangan. Tolong, jangan Arka.
"Ka? Janji adalah hutang. Manusia mati gak boleh bawa hutang. Aku pegang janji kamu sampai kapanpun. Arka, satu-satunya orang yang kupunya yang ku percaya bisa membuat ku bahagia."
Ada yang mengganjal. Mengganjal pikiran Sekar dan mengganjal hati Arka. Sebelumnya Sekar sangat periang. Tak kenapa, kenapa. Mendadak dirinya menjadi dramatis begitu. Seakan-akan ada sesuatu yang akan menimpa.
"Janji. Arka gak akan pergi sebelum Sekar bahagia," imbuh Arka.
*****
"Selamat datang Mr. Arka dan Mr.s Sekar," terdengar terompet di tiup. Balon berterbangan di udara. Rumah di hias menggunakan pita-pita. Orang-orang berdiri sejajar membentuk barisan. Ada Iyam, Waluyo, Arman, Tami, dan juga Anisa. Semuanya melebarkan tangan. Menyambut meriah kedatangan Sekar dan Arka.
"Anak nya Mamah," Tami menghambur memeluk menantu kesayangannya. Melepas rindu 7 hari tidak bertemu. Yang lainnya menunggu giliran untuk bisa saling memeluk Sekar.
"Gimana gimana? Bandung seru gak? Mamah juga udah lama lho gak kesana," Tami menarik tangan perempuan itu. Mengajaknya duduk di kursi ruang tengah. Memijiti pundak Sekar. Meminta gadis itu menceritakan kejadian yang ia alami di Bandung kemarin.
"Mah Sekar nya masih capek. Jangan di ganggu dulu," teriak Arka mendominasi ruangan. Melihat Tami yang langsung menyerbu Sekar dengan beribu pertanyaan.
"Hush diem kamu! Sana main sama Papah kamu," teriak Tami. Sekar tertawa renyah mendengar nya.
"Lho? Kamu seminggu di Bandung kok kurusan? Gak di kasih makan sama Arka?" Tami memperhatikan setiap lengkuk tubuh Sekar.
"Bukan gak di kasih makan. Kebanyakan ronde itu mah bu," ucap Waluyo. Yang kemudian di sikut oleh Arka.
"Harus nya di perhatiin dong! Mamah nikah sama Papah kamu mana pernah sekurus ini. Nih liat," Tami menarik pergelangan Sekar. Di tunjukan kepada orang-orang rumah.
"Bi Iyam tolong masakin Sekar sesuatu dong. Apa kek. Sekalian buat kita makan juga. Yang banyak ya masaknya," titah Tami. Di balas anggukan semangat oleh Iyam.
"Gimana Bandung? Dingin gak? Duh Mamah udah lama loh gak kesana. Bagus gak pemandangannya?" Sekar memang lelah. Tapi mendengar pertanyaan beruntun dari Tami justru ia senang. Semangatnya mendadak kembali lagi.
"Iya Mah dingin. Pemandangannya bagus banget."
"Terus hotel nya gimana? Pelayan--"
"Mah udah ya biarin istri Arka istirahat dulu. Dia cape tau di perjalanan. Mamah gak kasihan apa sama utun nya?" Sekar melotot. Mendelik tajam pada pria yang ada di hadapannya ini.
Sontak Tami berdiri. Membekap mulutnya, "U-utun? AAAAAAA Papah kitaaa punya Arka juniorrrrr!!" Teriak Tami histeris. Menembus tembok pembatas rumah. Terdengar sampai ke Ke RT-an belakang.
"Arka ih!" Bentak Sekar kesal. Mana ada Utun. Arka mah ngadi-ngadi bener.
"Hehe. Tuh liat Mamah langsung histeris. Kamu kabur gih ke kamar. Tidur. Biar aku yang halau Mamah. Selagi belum puas Mamah pasti nyerang kamu pake pertanyaan," Arka mengelus pucuk kepala Sekar. Mengecup kening wanita itu.
Sekar menggeleng halus, "Gak papa. Lagian mana bisa tidur. Gak ngantuk juga kok. Kamu kalau ngantuk tidur gih. Nanti aku bangunin kalau masakannya udah selesai."
__ADS_1
"Gak. Tidurnya mau sama Sekar," Arka menaik turunkan alisnya. Melingkarkan perutnya di pinggang ramping Sekar.
"Ish Ka! Di liat Mamah gak enak," Sekar menunjuk Tami menggunakan ekor matanya.
"Mamah mah masa bodo. Tuh liat. Lagi excited gitu nyebut-nyebut Arka Junior," Arka terkekeh melihat Tami yang sedang jingkrak sambil menciumi Arman. Arman hanya mengelus dada sabar.
"Kamu kalau udah tua jangan kayak Mamah yah. Mamah tuh bawel," Arka mencolek hidung Sekar pelan.
"Kualat kamu Ka ngatain Mamah kamu sendiri."
"Gak papa hehe sekali-kali. Sekar nya Arka jangan kecapean ya." Arka menunduk. Menyentil dahi Sekar pelan, "Kalau cape entar gak bisa olahraga di ranjang."
"Arka!!!"
*****
"Gimana Ka? Lancar jaya?" Arman menghampiri Arka yang sedang duduk di teras depan sendirian. Waluyo sedang pergi men service mobil Arka yang kemarin di bawa ke Bandung. Sementara kaum hawa sepertinya sedang berkumpul di dapur. Iyam- Sekar dan Anisa sedang masak. Dan Tami sedang menjadi wartawan mendadak. Yang terus saja menghujani Sekar dengan ribuan pertanyaan.
"Apa nya yang lancar Pah?"
"Segala-galanya."
Sekelebat bayangan saat malam pertama itu di mulai hadir di benak Arka. Membuat pria itu menyunggingkan senyuman.
"Lancar." Jawab Arka mantap.
"Berumah tangga itu bukan akhir. Namun awal. Dimana kamu akan memulai kehidupan baru bersama orang yang kamu sayang. Untuk sekarang mungkin kalian berdua terlihat baik-baik saja. Tidak ada masalah yang menerpa. Tapi kita tidak tahu ke depannya."
Arka memeprhatikan Arman. Setiap nasihat. Setiap kata yang keluar dari dirinya yang akan menjadi bekal hidup Arka.
"Hidup gak lurus-lurus aja. Ada beloknya, buat nyampe ke garis finish. Di saat ada belokan, jalan berbatu, jurang, badai, ombak, satu peringat Papah. Jangan pernah tinggalkan Sekar sendirian. Jangan biarkan segala kesulitan menimpa istri kamu. Dan kamu, setiap manusia ada batas sabarnya. Suatu hari nanti, kamu pasti akan emosi pada salah satu sikap Sekar."
"Di saat itu terjadi. Tahan emosi mu. Jangan kau limpahkan pada Sekar. Lebih baik kau pergi, menyendiri lalu kembali saat keadaan hatimu sudah tenang. Jangan sampai ada kata-kata yang kau keluarkan yang nantinya bisa menyakiti Sekar."
"Papah adalah Ayah mu. Dan tugas Papah adalah mendidik mu. Mungkin tugas mu sebagai anak sudah selesai. Kini tugas baru mu menanti. Sebagai suami, dan Ayah dari anak-anak mu nanti. Pesan Papah, persiapkan dirimu dari sekarang. Buat benteng pertahanan yang kokoh sehinngga sewaktu-waktu jika badai menyerang kau dapat bertahan."
"Pernikahan bukanlah permainan. Yang bisa kau mulai dan sudahi sesuka hatimu. Pernikahan adalah janji sakral, mengikat dua insan, menyatukan dua hati. Jangan pisahkan hati yang sudah menyatu itu. Bangunlah hati baru. Yang nantinya akan berguna bagi bangsa dan negara."
Terkadang Arka menganggap remeh Arman. Karena Arman yang sering bercanda. Tapi bagaimanapun juga Arman ini adalah orang tua. Yang memiliki pengalaman hidup lebih.
"Iya Pah. Siap menikah berarti siap menanggung segala konsekuensi di dalamnya. Siap menerima tantangan berikutnya. Dan Arka sudah siap untuk semua itu."
Arman menepuk pundak Arka. Bangga pada putra semata wayang nya itu, "Jangan ubah kata siap mu itu. Jadikan siap kata start dalam perjuangan hidup mu. Kini tanggung jawab mu lebih besar daripada sebelumnya. Sebelum mementingkan dirimu, Papah harap kau bisa mementingkan anak dan istri mu kelak. Papah percaya padamu. Jangan sungkan datang dan bertanya pada Papah atau Mamah mu kalau ada sesuatu yang tidak kau mengerti. Jangan sampai ads duri di dalam rumah tangga kalian. Sekali khilaf tidak apa-apa, asal jangan di ulangi. Dan jangan ada kekerasan."
Meski dikata Arka dan Sekar sudah 5 tahun menikah lamanya. Namun tetap saja segalanya baru bermulai. Dulu, pernikahan itu----ah hanya selembaran kertas saja. Tapi kini sudah lain ceritanya. Menuju jenjang yang lebih serius. Menyangkut dua nyawa yang nantinya akan melahirkan nyawa-nyawa lainnya.
*****
"Mah itu Sekar mana mungkin bisa makan sebanyak itu," komentar Arka pada Tami. Masalahnya, Tami seperti memberi makan sumo yang kelaparan. Tiga belah paha ayam, nasi putih setumpukan gunung, tempe goreng 5 potong, tahu 2 potong, timun, dan juga kentang cabai.
"Diem! Mamah gak ngasih kamu makan. Mamah ngasih makan Sekar."
Sekar mengerucut. Menatap Arka. Meminta bantuan pada suaminya itu. Karena Sekar tidak bisa menghabiskan semua makannya.
"Mah inget. Itu Sekar. Menantu kita. Bukan sumo," cercah Arman.
"Papah juga diem! Sekar nya aja gak komen. Iya 'kan sayang?" Tanya Tami sembari menuangkan sesendok sambal tomat.
Punggung Sekar merosot. Melihat isi makanan di piringnya yang sudah seperti hendak meletus.
Sekar menatap Arka dengan harapan memohon. Mengerutkan bibirnya.
"Ya mana mungkin Sekar koment," gumam Arka.
"Heh diem ya! Udah sih kalian makan aja. Diemin Mamah sama Sekar." Mamah sama anak sama saja. Over protektif.
"Tapi itu Sekar nya makan gimana Mah?"
"Ish. Pengen banget Mamah nyeburin Arka ke kolam. Sekar makan yang banyak yah. Biar utun nya," Tami memegang perut Sekar. "Nggak kelaparan." Menunduk kemudian menciumnya.
Ini semua gara-gara Arka. Pantas saja Tami jadi over protektif gitu. Arka berdehem singkat saat Sekar memelotot ke arah nya.
"Se-Sekar mm a-anu Mah," beo Sekar. Mau menolak tapi tak ingin menyakiti hati Tami.
__ADS_1
"Sekar mau di suapin Arka." Arka bangkit dari duduk nya. Mengambil kursi yang berada di samping Sekar. Duduk di sana. Mengusis Tami yang juga bersds di sampingnya.
"Mamah kesana. Jangan ganggu Arka."
Tami berdecih pelan. Arka kalau sifat keterlaluan nya udah kambuh emang nyebelin.
"Aaaa buka mulutnya yang lebar sayang," dengan telaten pria berjakun itu menyuapi Sekar makan.
Belum juga makanan mendarat di mulut Sekar. Tami sudah menyentak tangan Arka, "Yang bener nyuapinnya! Itu masa di kasih tempe doang. Pake ayam dong!"
Arka menggaruk kepalanya kasar. Pusing menghadapi Tami. Arman, Anisa dan Sekar hanya geleng-geleng kepala melihatnya.
"Yaudah nih. Aaaaa," satu suapan masuk ke dalam mulut Sekar. Arka menunggu gadis itu hingga selesai mengunyahnya.
"Buruan di suapin lagi! Itu mulut istri jangan di anggurin!" Duh Tami. Mulut Sekar aja masih monyong ngunyah makanan.
"Mamah sabar napa. Kalau Sekar keselek gimana?"
Sekar merasa istimewa. Kehadirannya diterima baik di keluarga Arka. Padahal Sekar bukan terlahir dari keluarga berada. Orang tua tak ada. Sekalimya memiliki Ibu masih gila. Semuanya berawal dari Siska. Karena Siska, Sekar bisa merasakan kebahagiaan dan kehangatan keluarga ini.
"Di kasih minum dulu jangan terus di suapin nasi!" Bentak Tami.
"Mah lama-lama Mamah Arka suapin tulang ayam," ujar Arka geram. Ekor mata Tami tak lepas dari tangan Arka yang sedang telaten menyuapi Sekar.
"Kamu sih jadi suami gak peka. Kucing aja kalau makan harus minum. Bukan di jejelin makanan terus!"
"Mamah tega samain Sekar sama kucing?!" Teriak Arman.
"Eeh maksudnya bukan gitu. Au ah. Salah Arka!"
Sekar tertawa. Lantas memegang tangan Arka, "Sekar bisa makan sendiri Mah. Mas Arka juga harus makan. Mamah gak usah khawatir. Sekar bakalan makan banyak kok," ucap Sekar penuh pengertian.
"Beruntungnya Arka punya istri macam Sekar," ucap Tami terkagum-kagum.
"Kamu mau makan apa? Ayam? Tempe?" Sekar menarik piring Arka yang tadi belum Arka habiskan.
"Ma--"
"Biarin dia ambil sendiri aja sayang. Sekar fokus makan aja," potong Tami.
Arka jadi curiga. Ini yang anak kandung dia atau Sekar sih. Kok Arka jadi berasa anak buangan.
****
"Duh Mamah gak bisa nginep ya sayang. Soalnya Papah Arman besok mau keluar kota. Gak papa ya?" Tami dan Arman sudah pamitan. Hendak pulang ke rumah. Hari sudah malam. Sementara Anisa sudah pulang sedari tadi diantar Waluyo.
"Iya. Gimana Arka mau enak-enak kalau ada Mamah," ucap Arka merotasikan bola matanya.
"Awas Ka anak orang jangan dijadikan santapan malam," ujar Arman.
"Nggak. Arka cuman mau meriksa Utun doang kok," Arka menyenggol lengan Sekar. Gadis itu mendengus sebal.
"Utan utun utan utun. Biarin Sekar istirahat. Kamu pikir yang di bawah gak cape apa?!" Ujar Tami keceplosan.
"Yuk Pah pulang. Lain kali Mamah main lagi ya sayang," Tami mengecup kening Sekar lama. Lalu melenggang pergi dari sana.
"Lha? Arka gak dicium, Ma?" Teriak Arka.
"Minta sama Sekar!"
Arka menoleh. Menatap Sekar sambil cengar-cengir, "Kamu denger gak apa kata Mamah barusan?"
Sekar mendelik, "Nggak."
Arka mendengus sebal, "Nggak bakal nolak maksudnya." Cup! Satu kecupan mendarat di bibir Arka.
"Bibir Sekar pedes!" Teriak Arka setelah mengecap bibirnya.
Gak mau denger. Pokoknya menggoda Sekar adalah canduku
Oyah?
__ADS_1