Satu Hati 2 CINTA

Satu Hati 2 CINTA
Good Bye Sekar


__ADS_3

Sekar: Terimakasih untuk kebahagiaan sementara ini. Aku pamit ya. Ingin tidur.... dan tak bangun lagi.


.....


Pikirannya kalut. Yang ada di hatinya hanya kebencian. Benci pada dunia, takdir, dan orang-orang sekitar. Yang terus memojokannya. Menaruh nya pada titik rendah. Membuat nya bersedih di setiap saat.


Kebahagiaan sesaat yang ia dapat. Tak mengerti lagi pada dunia yang terus mempermainkannya. Kemarin di buat bahagia. Terbang sampai ke langit ke tujuh. Lalu di terjunkan ke tanah sekencang mungkin. Menciptakan luka baru yang enggan untuk hilang.


"Aku benci Arka! Aku benci Arka! Aku benci Arka!" Umpatnya.


Seharus nya ia tahu pahitnya, baru manisnya. Sayang, sifat kemanisan Arka menutupi segala sikap buruk nya.


"Pembohong! Pengkhianat! Ingin enaknya saja!"


"Ayolah Sekar. Sampai kapanpun kau tidak akan pernah bahagia! Bagaimana bisa kau berharap kepada pria seperti Arka?! Sekar bodoh! Sekar bajingan! Kak Siska kenapa gak ngasih tau Sekar kalau ternyata Arka itu bajingan!"


Ia menendang kerikil-kerikil yang ada di jalanan---di hadapannya. Melepaskan sepatu selop nya sembarangan. Kini Sekar berjalan tanpa alas kaki. Membiarkan kaki nya terluka. Semoga luka di badan bisa mengubur luka di hati.


***


"Kok Bapak gak larang Sekar pergi sih?" Tanya Tami. Membentak Waluyo.


"Saya gak bisa Bu. Kasihan juga kalau Non Sekar di tahan," Waluyo mencoba membela diri.


"Lebih kasian Sekar kalau ada apa-apa sama dia! Terus dimana dia sekarang? Gak ada yang tau kan? Dia itu perempuan Yo! Kalau ada apa-apa saya juga yang khawatir. Emang Sekar bisa bela diri? Emang Sekar bisa bergulat?"


Waluyo lah yang menjadi samsak kemarahan Tami. Perkara Sekar pergi----- sendiri, malam-malam, tentu bukan masalah kecil bagi Tami. Kekhawatiran begitu besar menyelimuti dirinya.


"Udah Mah udah. Mendingan kita cari Sekar yuk," ajak Arman. Berusaha menenangkan istri nya yang kini sedang seperti kerasukan.


"Saya gak akan tinggal diam kalau ada apa-apa sama Sekar." Tunjuknya pada Waluyo. Sebenarnya Tami tidak semarah itu pada Waluyo. Ia justru lebih menyalahkan dirinya dendiri. Hanya saja ia bingung harus di utarakan pada siapa.


"Kalau sampai Sekar kenapa-napa Mamah susul Arka sekarang juga! Mamah hukum dia! Mam--"


"Mah. Dengan Mamah mengumpat gitu gak akan ada yang di dapat. Ucapan adalah do'a. Mamah gak boleh lupa akan hal itu. Dengan Mamah berkata begitu sama saja bukan Mamah bilang kalau Sekar bakalan kenapa-napa?" Tegas Arman.


Tami frustasi. Sekar mana pernah seperti ini sebelumnya, "Sebenarnya ada apa sih sama Sekar dan Arka? Baru kali ini Sekar pergi begini. Arka gak nyakitin dia kan?"


Arman teringat kembali pada perkataannya kemarin saat Arka di rumah nya. Mati-matian Arman menasehati Arka agar berbuat baik pada Sekar. Tidak kah Arka memahaminya? Sejauh ini Arman juga sedikit kecewa pada Arka. Jika bukan karena Arka, lalu karena siapa lagi Sekar sampai pergi? Itulah yang ada di pikiran Arman.


****


Bingung ingin menggunakan metode apa. Di depannya ada sungai, di pinggirannya jalanan besar. Ada juga pedagang buah yang mungkin bisa di pinjam pisau nya.


Sebelumnya Sekar tak pernah berpikir sejauh ini karena ia masih percaya bahwa kebahagiaan itu ada dan nyata. Harapan satu-satunya dirinya untuk bahagia adalah Arka. Namun ternyata Arka sendiri yang menghancurkan harapan itu.


Sekar tidak berpikir ke depannya bagaimana. Ia sudah tahu. Ke depannya pasti hidupnya akan lebih menderita, itulah pikirannya.


Sekar menarik nafas dalam-dalam. Melepaskan cincin pernikahannya dengan Arka yang selama ini selalu bertengger manis di jarinya. Tidak pernah terlepas sekalipun.


"Aku mencintai Arka. Aku tahu aku tidak akan masuk syurga. Tapi inilah jalan terakhirku."


"Ya Allah, maaf. Asyhadu alla ilaha illallah. Waasyhadu anna muhammadar rassalallah." Sekiranya itulah kalimat terakhir Sekar sebelum dirinya menceburkan diri ke sungai dengan arus besar.


****


Tangan Anisa terluka. Terkena pecahan gelas yang tidak sengaja di senggol Zakiya.


"Kakakk Sekall!!!!" Zakiya memekik. Menutup telinganya. Meneriakan nama Sekar sekencang mungkin.


Anisa menghambur. Memeluk tubuh mungil wanita itu.


"Zakiya kenapa sayang?"


"Kakak Sekal!!! Selamatin Kakak Sekal. Kakak Sekal lagi dalam bahaya. Tolongin Kakak Sekal. Kiya sayang Kakak Sekal. Gak mau kakak sekal kenapa-napa." Zakiya menangis di pangkuan Anisa.

__ADS_1


Perasaan Anisa mendadak tidak enak. Setelah gelas pecah, tangannya terluka kini Zakiya menangis histeris melafalkan nama Sekar. Membuatnya buru-buru menghubungi Sekar.


****


Sekar menatap bagaimana dunia luar dari permukaan air. Sekelebat bayangan semasa hidupnya memenuhi isi kepalanya.


Bagaimana Ayah nya di bunuh.


Bagaimana dirinya di pisah dengan Siska.


Bagaimana dirinya di perlakukan buruk.


Bagaimana Siska meninggal.


Bagaimana Arka menyelingkuhinya.


Bagaimana janji manis Arka.


Dan terakhir, bagaimana Arka menghianatinya.


Inikah kehidupan? Sekar tak pernah meminta di lahirkan. Terlebih jika dirinya hanya untuk menerima segala penderitaan.


Sudah bersabar, namun lelah. Hingga sampai pada puncak terendah. Menjemput ajal. Tidak ada kebahagiaan yang menjamin setelah dirinya pergi. Setidaknya, ia sudah tidak berada di dekat orang-orang yang mengaku mencintai dirinya namun ternyata menyakiti.


Tubuhnya semakin terlelap ke dasar sungai. Senyum terakhir terukir di bibir manisnya. Bayangan wajah Arka menyerbunya. Bayangan bagaimana Arka menempelkan bibir nya hadir secara bersamaan. Memenuhi segala isi kepala sebelum segalanya hilang.


Arka sayang Sekar


Sekar tidak boleh pergi


Arka janji akan menjaga Sekar


Arka janji akan membahagiakan Sekar


Perlahan matanya tertutup. Gelembung kecil keluar dari mulutnya. Pandangannya buram. Tubuh nya terperosok semakin dalam. Kesadarannya sudah tiada.


Terimakasih dunia. Terimakasih luka. Dan... Terimakasih Arka.


Ayah, Kak Siska..... Sekar datang.


*****


Atensi Tami teralihkan saat ponsel nya berdering. Itu telefon dari Anisa. Buru-buru Tami mengangkatnya. Berharap ada kabar baik dari Anisa.


Belum selesai Anisa berbicara. Tubuh Tami bergetar hebat. Ia memekik. Menghentikan Arman.


"Itu sendal Sekar!"


Kedua insan itu turun dari mobil. Mengambil apa yang dilihat Tami barusan. Celingukan kesana kemari mencari Sekar.


Pandangannya terhenti kala melihat orang-orang berkerumun. Segera mereka menghampirinya.


"Mas, ada apa ini?" Tanya Arman pada salah satu orang yang berada di jembatan itu.


"Itu Mas katanya ada yang bunuh diri. Nyeburin diri ke sungai ini."


Tami menggeleng keras. Berusaha berfikir positif, "Itu pasti bukan Sekar. Cowok kan pak?" Tanya Tami. Berharap orang tersebut menjawab iya.


"Menurut saksi sih perempuan Bu. Pake levis hitam sama sweater biru. Masih muda, umurnya kira-kira 20 tahunan lebih."


Tami menggeleng keras. Membungkam mulutnya. Namun tak bisa di pungkiri. Tangisannya membuncah. Sebisa mungkin Arman merangkul Tami.


"Itu bukan Sekar kan Pah? Bukan kan? Sekar ada di rumah Kan?"


Pandangan Tami terhenti kala melihat benda berkilauan di jalan. Segera ia memungutnya.

__ADS_1


"Ci-cincin Sekar?" Saat itu juga dirinya tidak sadarkan diri.


*****


Ada Anisa, Arnold, Waluyo di rumah Tami saat ini. Menunggu kabar berikutnya. Semuanya berusaha berfikir positif. Berdo'a yang terbaik.


Sudah satu jam Tami pingsan. Masih juga belum sadarkan diri meski sudah diperiksa dokter.


Arnold mengumpat dalam hati. Menyembunyikan isak tangisnya meski air asin sudah luruh beberapa tetes. Bersumpah akan menghukum dirinya jika ada sesuatu yang terjadi pada Sekar.


"Sekar mana?" Suara bariton itu mengalihkan pandangan semuanya. Menolehkan pandangannya ke pintu masuk.


Itu Arka, bersama Jayur. Waluyo mengatakan semuanya kepada Arka. Dan Jayur pun tidak bisa menahan kepergian Arka ketika sudah tahu titik permasalahannya. Saat itu juga mereka berdua pulang ke Jakarta.


"Kenapa pada diem? Arka nanya Sekar mana? Itu Mamah kenapa tiduran di sofa?" Arka menghempaskan jas nya. Melemparnya ke sembarang tempat.


"Sekar? Ini Arka pulang. Kok gak di sambut? Sekar makan di luar yuk. Aku lapar," Arka menaiki tangga. Tak ada yang mampu menghentikannya. Semuanya bungkam dengan isak tangis masing-masing.


"Sekar? Sekar mau main petak umpet ya?" Arka tak bisa memungkirinya. Air matanya berjatuhan sepanjang jalan.


"Nold, lo sembunyiin Sekar dimana? Kok gak ada. Keluarin dong, gue mau ajak dia jalan nih. Sekarrrr yuhuuu," teriakan Arka menggema. Semuanya tahu bahwa Arka sedang berusaha menahan sesak di dada.


"Itu cincin Sekar kan Pah? Kok di taro di meja? Kok gak di pake sama Sekar? Seumur-umur Sekar gak pernah lepas cincin nikah nya lo Pah." Arka mengambilnya. Kemudian berjalan mengitari rumah. Masih mencari sosok Sekar.


"Arka. Udah Ka. Saya minta kamu tenang. Kita duduk dulu yuk," Jayur bangkit. Berusaha menenangkan Arka.


"Bentar Pak. Arka belum ketemu Sekar. Sekar mana sih? Sekar? Ooh udah pinter main petak umpet yah?"


Arka tidak sebahagia yang kita kira. Ia sedang berusaha menahan sakit. Berusaha memalsukan keadaan. Berpura-pura bahwa Sekar-Nya baik-baik saja.


"Sekar? Ini Arka lho. Aku laper sayang, boleh buatin makanan?"


"Sekar di depan rumah ada bazar. Sekar suka bazar kan? Ke sana yuk. Beli boneka Doraemon."


"Sayangnya Arka mana sih? Sek---"


Plak!!!


"Cukup Arka! Belajar lah dewasa sedikit. Lihat Mamah mu! Belajar lah menerima keadaan. Kamu tahu Sekar sedang tidak ada disini!" Arman bangkit. Menampar putranya dengan hebat. Membuat Arka tersungkur. Arman jera melihat kelakuan Arka yang semakin memperburuk keadaan.


"Kok Papah nampar Arka sih? Kan Arka cuman nanyain dimana Sekar. Salah ya?" Rasa sakit akibat tamparan Arman tidak seberapa. Di bandingkan rasa sakit kehilangan Sekar.


***Good bye Sekar. We are gonna miss yo







Pamit dulu ya




Sekar sayang kalian. Tapi Sekar juga capek.



__ADS_1


__ADS_2