Satu Hati 2 CINTA

Satu Hati 2 CINTA
CIE ( Cause I Envy)


__ADS_3

Arnold: Bukan hari ini. Tapi tunggu saja. Akan ada waktunya. waktu yang tepat yang sudah ku atur dengan sang Maha Pencipta.


.....


Ia menggeleng dengan keras. Batinnya berkata, tidak. Ini bukan saat yang tepat untuk menyatakan cinta kepada Sekar.


"Siapa?" tanya Sekar membuyarkan lamunan Arnold.


"Nanti kamu tau," ucapnya sambil kembali duduk di posisi awalnya.


Sekar hanya menunduk. Rasa penasaran sekaligus sedih merundungnya kembali. Penasaran siapakah orang yang menyanyangi Sekar seperti apa yang dikatakan Arnold barusan. Sedih jika orang itu ternyata tidak pernah ada.


"Sekar?"


"Hmm?"


"Nanti siang ikut aku yuk," ajak Arnold dengan begitu antusias.


"Kemana?"


"Jalan-jalan. Tapi kamu harus izin dulu sama Ibu panti. Soalnya kita jalan dari siang sampai malam."


Sekar terkejut. Ia membulatkan matanya. Hampir saja ayam yang di makan Sekar loncat kala melihat bulatnya mata Sekar.


"Hah? Jalan-jalan kemana Kak selama itu?"


"Nanti tempatnya biar aku yang milih. Kamu udah lama 'kan gak jalan-jalan? Nanti kita beli baju, beli hadiah ulang tahun juga buat Pasha. Dia kan sebentar lagi ulang tahun," ucap Arnold senang.


Sekar tersenyum. Jalan-jalan dengan kebebasan adalah hal yang sudah lama ia inginkan. Bertahun-tahun berumah tangga dengan Arka kapan dirinya bisa bebas jalan-jalan dari siang sampai malam apalagi membeli baju.


"Aku mauu," ujar gadis itu antusias.


Arnold senang. Sangat senang. Langkah awal nya membahagiakan Sekar telah berhasil. Perlahan tapi pasti ia akan meyakinkan Sekar bahwa pria yang berprofesi sebagai dokter itu benar-benar mencintainya.


Tidak ada lagi yang Arnold takuti kala Sekar sudah terbebas dari belenggu penjara dengan Arka. Kapanpun ia dan Sekar mau berjalan bersama. Maka pasti akan Arnold laksanakan. Sekalipun Sekar meminta pergi ke bulan, Arnold akan menurutinya.


Sekar adalah segalanya. Sekar adalah dunianya.


***


Pagi-pagi sekali Arka sudah ricuh dengan dasi yang tak kunjung rapih. Tangannya urak-urakan.


"Ah dasi sial*n!" umpat pria itu sambil mengulur dasi ke bentuk semula dan kembali memasangnya.


"Ah terserah. Aku ke Yogyakarta untuk mencari Ibu Sekar bukan untuk bertemu klien. Tak perduli jika tampilan ku tidak rapih!"


Sebenarnya ia sangat perduli pada tampilan dan kerapihan. Namun jera juga rasanya memasang dasi yang tak kunjung benar dan jauh dari kata tepat.


Maklum saja. Selama ini dipasangkan dasi oleh orang lain. Dirinya tidak tahu menahu. Hanya tahu selesai saja.


"Sekar? Buatkan aku kop--" ia keluar dari dalam kamar. Meneriakan nama Sekar.


Langkahnya tiba-tiba terhenti. Pandangannya tertuju pada kamar Sekar yang pintunya terbuka. Menampakan kekosongan di dalamnya.


Tangan dan kakinya bergetar seketika. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat dan mengigit bibir bawahnya.


"Sekar tidak ada Arka!" gerangnya pada diri sendiri.


Arka memejamkan mata. Berusaha menerima kenyataan bahwa memang Sekar nya sudah tidak ada. Ia turun dari tangga dengan tergesa-gesa. Ingin segera pergi dari rumah yang penuh akan duka ini. Rupanya kehadiran Sekar sangat berarti bagi Arka.


"Waluyo? Kita berangkat!" ujarnya kepada Waluyo yang kala itu tengah menjalani rutinitas paginya yakni mencuci mobil Toyota Fortuner hitam milik Arka.


"Lho? Pak itu sepatunya kotor. Kemeja Bapak lecek. Terus dasi nya mana? Terus rambutnya kok kayak gak disisir? Mata Bapak juga sebam. Katanya mau ke Kota. Bapak mau ke luar kota atau ke sawah cari belut Pak?" tanya Waluyo kurang ajar.


Arka menunduk. Memperhatikan setiap inci dari dirinya. Sayangnya, meski kurang ajar namun apa yang dikatakan Waluyo benar.


Ia sangat kusam. Tak rapih. Tak mencerminkan bahwa dirinya seorang Big Boss di sebuah perusahaan. Lebih terlihat seperti anak angkat yang hendak minggat dari rumah.


Tapi mau bagaimana lagi. Biasanya yang menghandle itu semua Sekar. Dan sekarang mendadak Sekar tidak ada. Jelas Arka tidak bisa menggantikan posisi Sekar dan menghandle segalanya apalagi secara tiba-tiba.


"Nanti bisa saya benerin di mobil. Antar saya ke bandara," tukas Arka.


"Yasudah. Bapak sudah sarapan? Sudah minum kopi?"


Sarapan? Tidak sempat, tidak ingat, dan tidak ingin. Dirinya tidak selera makan dari kemarin. Minum kopi? Ya, itu yang Arka inginkan. Namun kopi buatan Sekar.

__ADS_1


"Nggak. Nanti disana," ujarnya sambil berlalu menuju ke arah mobil.


***


Arka tengah bergulat dengan laptopnya di dalam mobil. Tangannya beradu dengan keyboard begitu cepat. Menciptakan suara-suara. Meski begitu, pikirannya tidak tertuju kesana.


Tanpa sadar. saat dirinya harus mengetikan sebuah data pemasukan perusahaan namun yang ia tulis adalah nama Sekar. Sehingga membuat salah satu karyawannya kebingungan.


KY: Sekar? maaf, Pak. Maksudnya bagaimana ya?


Arka mengerjap-ngerjapkan matanya. Berusaha kembali kepada dunia nyata dan melupakan Sekar. Dengan segera ia menghapus apa yang telah ia ketikan tadi.


Namun dirinya gagal. Bukannya lupa, menyebut nama Sekar membuatnya semakin teringat akan Sekar.


Ia ingat saat Sekar memasangkan dasinya saat Arka terburu-buru hendak berangkat ke kantor. Lalu dengan kasar Arka mendorong tubuh Sekar agar Sekar menjauh darinya.


Ia ingat saat Sekar tidak berani masuk dan membangunkan Arka padahal sudah jam 8 siang dan Arka harus bekerja.


Ia ingat saat Sekar tertawa karena melihatnya mengepel dengan berjalan mundur.


Ia ingat saat ia membelikan makanan dan mengajak Sekar makan bersama namun Sekar menolak dan lebih memilih makan di dapur sendirian.


Ia ingat saat Sekar hampir mencelakai dirinya senidiri dengan memakan udang hanya karena mengikuti perintah Arka.


Ia ingat saat Sekar berusaha melawan Viona.


Ia ingat saat Sekar menunduk kala dimarahi oleh dirinya. Ia ingat bagaimana cara Sekar mengucapkan kalimat maaf. Ia ingat bagaimana cara Sekar menundukan badannya sebelum pergi. Ia ingat tetesan keringat Sekar setiap kali membersihkan rumah. Ia ingat rasa masakan Sekar. Ia ingat wangi baju hasil cucian Sekar. Ia ingat bagaimana Sekar tersenyum. Ia ingat bagaimana reaksi Sekar saat kedatangan Viona. Ia ingat saat Sekar harus berpura-pura menjadi baik di depan Tami.


Ia ingat semuanya. Semuanya kembali muncul di dalam benaknya! Bayangan Sekar ada dan nyata! Arka mengingatnya.


"Argh!" Ia mengepalkan tangannya. Meninju pintu mobil sekeras mungkin. Lalu memegang keningnya.


"Astagfirallah, Pak?! Kenapa?" tanya Waluyo mulai takut saat melihat Arka yang tiba-tiba marah.


"Kenapa Pak? Kenapa? Kenapa Sekar pergi?!" Ia sudah tidak dapat menahannya lagi. Bayangan Sekar terus menghantuinya. Ia belum siap kehilangan Sekar.


"Set*n!" ucap Arka geram.


"Nyebut Pak nyebut!" titah Waluyo mulai panik.


Waluyo hanya memasang muka miris. Kasihan melihat Arka yang sepertinya depresi berat.


Arka menangis. Ia memegangi kepalanya, menjambak rambutnya. Setelah semalam mimpi Sekar kini bayangan gadis itu terus saja menghantuinya seolah-olah tak ingin hidup Arka tenang dan bahagia tanpanya.


Tapi memang benar. Nyatanya Arka tak bisa hidup tanpa Sekar. Dulu ia selalu berpikir Sekar hanya pembawa bencana dan penghambat kebahagiaan. Nyatanya Arka lah yang menghambat kebahagiaan Sekar dan merebut nya serta menjadikan kebahagiaan itu miliknya dengan memperbudak Sekar.


"Pak? Istigfhar. Serahkan semuanya sama Allah. Percayakan semuanya sama Allah. Percaya aja kalau ini semua salah satu rencana Allah. Bukan, bukan rencana Allah untuk menjauhkan Non Sekar sama Bapak. Tapi rencana Allah utnuk membukakan hati Pak Arka agar bisa melihat siapa itu Non Sekar yang sebenarnya," Waluyo menarik nafasnya. Saatnya menceramahi Arka.


"Bapak ingat tidak kalau dulu Bapak selalu kasar sama Non Sekar? Mungkin ini adalah salah satu cara Allah untuk menghentikan sikap kasar Mas Arka. Tapi semuanya belum terlambat Mas. Masih ada waktu buat Mas Arka kembali sama Non Sekar,"


"Tapi gimana kalau Sekar tidak mau?!" tanya Arka emosi.


"Mas Arka bentak- bentak dia aja dia bertahan sampai 5 tahun. Masa ketika Mas Arka sudah baik dia malah gak mau? Non Sekar wanita pintar Mas. Buktinya dia bisa merubah Mas Arka yang garang menjadi lembut," ucap Waluyo penuh penekanan. Ia sangat berharap Boss nya ini bisa mengerti dan kembali berpikir jernih serta meredakan emosinya.


Arka memang sudah berhenti marah-marah. Tapi bayangan Sekar masih saja mengitari kepalanya. Ia mengigit kuku Ibu jarinya. Sesekali memijit keningnya yang tampak pening.


"Tolong antar saya dulu ke panti asuhan tempat Sekar," titah Arka dengan nada yang kembali normal.


"Tapi Bapak bisa terlambat penerbangan lho," ujar Waluyo dengan memasang muka khawatir. Sesekali ia melihat Arka lewat kaca spion depan. Pria itu masih saja gusar.


"Kalau saya mau saya bisa beli bandara sendiri! Pokoknya ke panti asuhan," Waluyo tersenyum simpul. Ngeri ternyata Arka masih saja bisa sombong selagi kesal begini.


"Baik, Pak."


****


"Kita ke rumah Mamah Tami sama Papah Arman dulu ya," ujar Sekar. Dirinya sudah cantik dan rapih. Urusan rumah pun sudah selesai. Sudah izin pula kepada Ibu panti bahwa dirinya akan pergi bersama Arnold. Dan tidak ada penolakan dari pihak panti. Mereka mengijinkan Sekar untuk pergi karena Sekar bukanlah tahanan.


"Ngapain?" rupanya Arnold kurang setuju. Bisa dilihat dari raut mukanya disertai alis yang meruncing.


"Belum bilang ke mereka kalahu aku sama Arka udah cerai," ujar gadis itu sambil merapihkan bajunya.


"Kayaknya gak usah deh. Pasti Arka juga udah bilang," cegah Arnold.


"Iya sih. Tapi tetep aja gak enak," balas Sekar.

__ADS_1


"Sekar. Kalau kamu ketemu sama mereka justru akan menciptakan kesedihan baru buat kamu sendiri," Arnold berusaha meyakinkan Sekar. Ia bahkan memegang kedua belah bahu Sekar dan menatapnya dalam. Disertai manik mata yang berbinar.


Sekar menunduk. Ia mengulum bibir bawahnya. Sedang mempertimbangkan usul Arnold.


"Yaudah," ujarnya sambil tersenyum. Begitpun sang pemberi usul.


Belum juga Sekar masuk ke dalam mobil, Arka dan Waluyo datang. Arka sudah berdiri tepat di depannya dan melihat ke arahnya. Entah kapan mereka sampai.


"Mas?" tanya Sekar dan menghampiri Arka dengan diiringi Arnold di belakangnya.


"Hi," jawab pria berkemeja putih itu.


"Hallo Non," Waluyo menyembul dari dalam mobil. Kemudian kembali menutup kaca dan memarkirkan mobilnya.


"Mau kemana?" tadinya Arka yang akan berkata begitu. Tapi sudah di dahului Sekar. Padahal jelas-jelas Arka datang ke panti asuhan untuk menemui Sekar.


"Kamu salah nanya. Harusnya nanya 'Mau ketemu siapa'," ucap Arnold dengan memasang senyuman kemenangan.


Arka mengalihkan pandangannya kepada Arnold. Menatap pria itu yang saat ini tengah menggandeng tangan Sekar. Aneh, Sekar membiarkan tangannya di genggam oleh Arnold. Seolah-olah tak tahu bahwa tangannya sedang di pegang.


"Eh iya. Mas Arka mau kemana?" tanya Sekar begitu polos. Membuat Arka geram dan membuat Arnold terkekeh.


"Aku mau ke luar kota sekarang," ucap Arka.


"Oh yang hari itu kat--"


"Terus? Penting gitu buat kita?" tanya Arnold. Memotong perkataan Sekar sebelumnya.


"Aku cuman mau bilang sama kamu," ucap Arka sambil menatap Sekar.


Rupanya Arnold tak nyaman bila Arka harus berhadapan dengan Sekar. Ia menarik Sekar untuk berdiri di belakangnya. Dan kini Arnold lah yang sedang bertatap muka dengan Arka.


"Bisa minggir?" tanya Arka sambil berusaha meraih tangan Sekar. Namun Arnold menepisnya.


"Ada perlu lain? Kesini cuman mau bilang itu 'kan? Yasudah. Hati-hati di jalan," ucap Arnold tenang tanpa melepaskan genggaman tangan Sekar.


"Urusan saya dengan Sekar! Bukan dengan Anda!" Arka mulai geram. Matanya merah menyala. Ia juga mengepalkan tangannya.


"Sekar? Oh. Mantan istri Anda itu ya yang kemarin pindah ke panti asuhan," ucap Arnold nyolot.


Arka sudah kelewat geram dan tidak mampu menahannya. Satu pukulan melayang tepat di pipi sebelah kanan Arnold sehingga membuat pria itu sedikit terpental.


"Ya Allah, Kak," Sekar melepaskan tas yang sedari tadi ia kalungkan di badannya. Menyusul Arnold yang saat ini sedang tersungkur dengan memegang pipi nya.


"Cuih! Baru satu hari bercerai, sudah di embat! Rupanya Anda belum bisa melupakan Sekar ya?! Tidak laku? Kasihan!" ucap Arka sambil meludah ke tanah. Tangannya masih saja terus mengepal. Kalau saja tidak ada Sekar pasti Arnold sudah kembali di pukulnya.


Disaat yang bersamaan Waluyo datang, "Ini kenapa?" tanya Waluyo.


"Dia! Perebut istri orang!" balas Arka sambil menunjuk Arnold. Namun Arnold tidak jera. Ia kembali bangkit dan tersenyum sungging.


"Istri? Saya bantu rapihkan ejaan Anda. MANTAN ISTRI."


Pukulan kedua hampir melesat di wajah Arnold. Namun Sekar menahannya dengan merentangkan tangannya dan berdiri di tengah-tengah Arnold juga Arka.


"Udah Mas!" teriak Sekar.


"Dengar bukan? Udah katanya!" ledek Arnold diiringi gelak tawa.


"Sial*n!" Arka berusaha menghampiri Arnold. Hendak menghajar pria itu habis-habisan. Namun Sekar dan Waluyo menahannya sekuat tenaga.


"Kalau kamu kesini cuman buat hajar orang mending gak usah kesini sama sekali!" teriak Sekar memekik.


"Tapi kan kamu liat sendiri dia yang nyolot," ujar Arka. Dirinya masih terus berontak. Berusaha melepaskan diri dari cegatan Waluyo.


"Yang nyolot disini tuh kamu! Apa kata Arnold barusan benar! Kita sudah bercerai. Untuk apa kamu masih kesini?"


Benar-benar seperti petir yang menyambar ulu hati Arka perkataan Sekar ini. Mahluk ganas yang sedang marah itu langsung tenang seketika. Tenang dan sakit hati. Ia menatap Sekar begitu dalam.


"Maksudnya?"


"Mas. Aku cerain kamu supaya kamu bisa lebih baik, bukan lebih buruk kayak gini! Kamu harus hilangin watak buruk kamu yang kasar. Aku pikir dengan bercerainya kita akan membuat kamu berpikir dan merasa kehilangan aku setelah itu kamu berubah menjadi manusia yang lebih baik! Ternyata aku salah. Salah besar! Kamu gak berubah sama sekali. Arka yang dulu tetaplah Arka. Sama seperti yang sekarang dan mungkin nanti. Bodoh kalau aku percaya kamu bisa berubah!"


Sekar menggandeng tangan Arnold lalu meninggalkan Arka yang mematung di tempat. Perlahan Waluyo melepaskan tangannya dari tubuh kekar Arka saat monster itu sudah tenang akibat suntikan kata-kata dari Sekar.


Babang Arka pas coming to panti asuhan terus ngeliat mantan istri tercinta lagi sama rival**nya.

__ADS_1



__ADS_2