Satu Hati 2 CINTA

Satu Hati 2 CINTA
Udang


__ADS_3

Udang cabai yang mengeluarkan aroma sedap sudah tersedia di atas meja makan. Bak juri master chef, begitulah Arka duduk di kursi dan dihadapannya berdiri Sekar yang sedang tertunduk sambil memainkan jari jemarinya.


Mulutnya tidak berhenti komat-kamit membaca basmallah. Sudah diketahui mengapa, karena dirinya alergi udang berat dan sekarang harus memakan udang.


"Tunggu apa lagi? Makanlah."


Piring yang semula di dekat Arka ia geser ke arah Sekar.


Sekar tiba-tiba berpikir bahwa Arka masih tetap membencinya, kebaikannya tadi saat membersihkan rumah hanyalah kedok semata. Jika tidak, mengapa Arka bisa setega itu menyuruh Sekar memakan udang sementara dirinya sudah tahu bahwa istri nya itu alergi besar.


"A-aku belum lapar." Masih ada secercah harapan di hati Sekar untuk menolak permintaan Arka dengan mengatakan bahwa dirinya belum kunjung lapar.


Permainan tangan beralih ke baju, kini ia meremas kuat bagian bawah bajunya. Arka sadar akan hal itu, ia tersenyum, senyum yang menyeringai.


"Kalau makan satu atau dua saja tidak akan membuat perutmu begah bukan?"


Diambilnya udang berukuran besar kemudian diberikan kepada Sekar.


"I-ini pedas." Ujar Sekar.


Dengan cekatan Arka mengambil air dari galon yang terletak di belakang Sekar, ia menaruhnya dengan kasar di hadapan Sekar.


"Ada begitu banyak air di rumah ini, kau bisa minum kalau kepedasan!" Bentak Arka.


Tubuh Sekar sudah sangat gemetar. Selain melawan suami, memakan udang adalah sebuah pantangan dalam hidupnya.


Arka bangkit, ia berjalan ke arah Sekar, dan kini ia sudah berdiri tepat di hadapan Sekar, jarak mereka hanya beberapa centi saja.


"Tunggu apa? Katanya udang adalah makanan kesukaanmu?"


Sekar diam, perasaannya sudah tak menentu, ia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika satu udang itu melesap masuk ke dalam mulutnya lalu ia telan.


"Sekar? Kau pikir waktu seorang CEO itu tidak berharga? Dengan hanya berdiam diri saja kau telah membuang waktuku!"


Dibentak Arka, Sekar semakin gemetaran. Matanya tidak teralihkan dari sepiring udang yang tadi ia masak.


Ia sudah kuat memasak udang tapi tidak jika harus memakannya pula.


"Sedang ingin bermanja? Mau kusuapi hah?"


"Tidak!" Sekar berteriak.


Arka tersenyum, ia senang karena sebentar lagi Sekar yang akan mengakui sendiri bahwa ia tidak menyukai udang dan selama ini makanannya adalah mie serta telur.


"Biar aku makan sendiri saja." Arka terperanjat, matanya terbelalak. Ia tidak menyangka ternyata Sekar memenuhi permintaannya.


Perlahan sangat perlahan tangan Sekar meraih udang yang berada di atas piring yang sudah dibumbui cabai dengan kecap itu, aromanya memang sedap namun tidak berarti apa-apa bagi seseorang yang tidak menyukainya sama sekali.


Entah apa yang ada di pikiran Sekar saat itu. Harusnya ia menolak, kalau tidak tubuhnya akan celaka. Hanya karena tidak ingin Arka mengetahui dirinya tersiksa, Sekar rela melanggar pantangan.


Tap!


Tangannya sudah berhasil memegang salah satu udang yang terkapar di atas piring. Sekar menelan pahit salivanya, menelan ludah nya berat. Tubuhnya sangat gemetar, entah kata apa yang bisa menggambarkan bagaimana gemetarnya Sekar saat ini.


Keningnya mengkerut semengkerut mungkin.


Dalam hitungan ketiga udang akan segera masuk ke dalam mulut Sekar.


Satu...

__ADS_1


Dua...


Tiga..


"Aku tahu kau tidak menyukainya." Udang yang sudah di pegang Sekar di hempaskan oleh Arka sehingga terjatuh ke lantai.


Dengan sekali gerakan, Arka menarik tubuh Sekar lalu memeluknya. Ia menenggelamkan kepala Sekar di dada bidangnya, ia menyimpan dagunya di atas kepala Sekar yang lebih pendek darinya.


Sekar membeku, matanya terbelalak, ia melihat ke arah udang yang sudah terjatuh ke lantai. Nafasnya memburu, kehangatan dada Arka terasa begitu jelas di tubuhnya.


"Sudah tahu alergi, masih mau memakannya?" Ia berkata tanpa melepaskan pelukan itu sedikitpun, malah semakin mempereratnya.


Ia mendekap Sekar, memeluk Sekar, meluapkan segala rasa kasihan sejak tahu makanan Sekar adalah telur dadar.


"Kenapa? Tidak sayang perut? Tidak sayang badan? Kenapa tidak bilang padaku kalau makanmu hanya mie rebus? Ingat Sekar, suami mu ini bukan gelandangan yang hidup dalam kesusahan."


Sekar tidak berkedip sama sekali bahkan rasanya ia tidak bernafas. Dalam seumur hidupnya, inilah kali pertama ia dipeluk oleh Arka, pelukan yang penuh kehangatan.


Tidak mudah untuk Sekar menerimanya, semuanya terasa mimpi, ia sangat tidak mengerti apa yang terjadi pada Arka saat ini.


"Kau pikir biaya rumah sakit murah? Jadi kau bisa main masuk dan keluar seenaknya, atau kau amnesia bahwa kau alergi?"


Tidak, masih tidak ada jawaban apapun dari Sekar meski pertanyaannya se simpel itu.


"Sekali lagi aku melihatmu menyentuh udang dan hendak memakannya, aku berjanji akan mengurungmu di kamar."


Itu adalah sebuah ancaman, ancaman yang membuat Sekar senang dan hatinya berbunga-bunga.


"Arkaa? Halo, ak-"


Tiba-tiba datang Viona, tanpa permisi, tanpa salam dan tanpa mengetuk pintu.


Spontan Arka melepaskan pelukannya dari Sekar dan langsung salah tingkah saat mendapati Viona di ambang pintu sedang melihat ke arahnya.


Dengan langkah bak raksasa, begitulah ia menghampiri Arka dan Sekar.


"Aku kesini karena kau tidak ke kantor dan tidak ada kabar, aku takut kau sakit." Viona menyerahkan sebuah kantok plastik transparan yang di dalamnya terdapat obat-obatan.


Setelah memberikan benda itu, matanya berdelik melihat ke arah Sekar dengan tatapan seolah-olah jijik.


"Aku tidak sakit, tidak usah bawakan aku obat." Arka kembali memberikan kantong plastik itu pada pemilik semulanya.


"Kalau begitu kenapa tidak ke kantor?"


Arka menggingit bibir bawahnya, ia sedang memikirkan sebuah kebohongan. Tidak mungkin ia mengatakan pada Viona bahwa dirinya libur karena membantu Sekar mengerjakan pekerjaan rumah.


"Aku sedang malas kerja, ingin istirahat."


Viona tertawa renyah sambil memalingkan muka.


"Cih, bertahun-tahun aku memiliki hubungan denganmu. Kapan kau berkata malas bekerja?"


"Kau pikir aku ini robot?! Manusia ada lelahnya juga." Bentak Arka.


Dibentak seperti itu ternyata tidak membuat Viona tumbang, ia malah makin ganas dan bahkan melipat tangan di dada.


Melihat situasi yang mulai memanas, membuat Sekar merasa tidak baik jika harus terus berada di tengah-tengah Arka dan Viona. Ia menunduk lalu perlahan meninggalkan mereka.


"Tidak sopan yah, ada tamu tapi tuan rumahnya malah pergi!" Hal tersebut diperuntukan dari Viona kepada Sekar saat Sekar enyah dari sana.

__ADS_1


Langkah Sekar terhenti, ia menegakan badannya.


"Tidak sekolah atau sekolahnya di sawah? Ada tamu bukannya dilayani, malah main pergi saja." Ketus Viona dengan penuh penekanan.


Sekar menarik nafas, kemudian membalikan badannya dan tersenyum.


"Anda yang sepertinya tidak sekolah. Dimana ada bertamu tanpa permisi? Dan main masuk begitu saja. Sekolah Anda di sawah?"


Sumpah, Arka dan Viona dibuat menganga oleh tingkah dan perkataan Sekar saat ini. Viona yang tadi sedang santai dan melipat tangan di dada, langsung berdiri tegak, matanya terbelalak dan mulutnya menganga.


Merasa semuanya sudah usai, Sekar kemudian pergi lagi ke tempat tujuan semulanya.


Viona menatap kepergian Sekar dengan tatapan tidak percaya. Lain halnya dengan Arka, bukannya marah, ia malah sedikit tertawa dan Viona sadar akan hal itu.


"Apa yang kamu ketawakan?" Tanya Viona.


"Gadis lugu itu sudah mulai aktif." Ujar Arka tanpa merasa bersalah sedikitpun.


Viona semakin panas, kepalanya sudah mengepul dan tangannya sudah mengepal.


"Akan kubungkam mulut perempuan itu."


Ia berlalu dari hadapan Arka dan pergi menyusul Sekar yang pergi ke dapur.


"Wah, kinerja otak nya sudah mulai aktif ya bund." Viona mendapati Sekar sedang mengambil sepuah sapu dan serokan, langsung saja ia menyerbunya.


"Sekarang sudah berani menyindir orang."


Sekar tidak mengacuhkan Viona, ia masih tetap fokus pada pekerjaannya yakni menyapu bagian dapur.


"Oh gitu yah. Otaknya aktif, mulut nya bisu."


Ia terus saja memancing Sekar agar Sekar tersulut emosinya. Sayangnya, Sekar sudah kebal akan hal tersebut. Kesabarannya adalah kesabaran tingkat dewa.


Kesal karena dirinya tidak kunjung diladeni, Viona hendak memulai aksi lainnya. Ia melihat sebuah rantang yang berisi minyak, lalu hendak menuangkannya di lantai.


Tidak masalah jika Sekar tidak terpeleset, setidaknya ia lelah mengepel dapur, itulah pikir Viona.


Namun sebelum itu terjadi, Waluyo datang dan menarik tangan Viona sehingga keusilan Viona tidak kunjung ia lakukan.


"Nyonya di panggil pak Arka."


***


"Ada apa?" Tanya Viona ketika dirinya sudah sampai di kamar Arka.


"Mamah memintamu untuk menemuinya ke rumah."


Tiba-tiba tanpa diminta, Viona duduk di paha Arka yang saat itu Arka sedang duduk di kursi kerjanya.


"Baiklah, bagaimana kalau kita pergi bersama?" Ujarnya sambil mulai memegang dagu Arka.


"Aku sedang ada kerjaan mendadak, pergilah sendiri." Tolak Arka.


"Akan kubantu menyelesaikan pekerjaan rumah ini, setelah itu kita pergi bersama." Tak ada jawaban apapun dari Arka, tangannya masih terus bergulat dengan keyboard laptop tanpa melihat ke arah Viona sedikitpun.


"Mentang-mentang tampan, sok jual mahal." Viona berkata seperti itu namun ia masih tetap di atas pangkuan paha Arka.


Disaat yang bertepatan, Sekar datang dengan membawakan Viona dan Arka minuman.

__ADS_1


Ia tersenyum mana kala melihat Viona berada di pangkuan Arka dan dengan lantang ia berkata.


"Tamu apa namanya yang bergelayut manja di pangkuan tuan rumah?"


__ADS_2