
Viona: Aku pergi ke tempat baru. Semoga bisa mendapatkan kebahagiaan baru
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Kak Sekarr!!!" Sekar di sambut meriah oleh anak-anak panti. Memeluknya dengan sangat erat. Ada yang memeluknya di kaki bahkan. Mereka semua merindukan Sekar seolah-olah gadis itu sudah pergi lama dari perauntauan. Tapi memang. Kebaikan Sekar sulit untuk di lupakan. Sikapnya membuat orang-orang ingin selalu berada di dekatnya. Merindukannya.
"Kak Sekal apa kabal? Kok gak pulang? Tidul dimana?" Itu Zakiya. Zakiya adalah anak berusia 6 tahun yang sangat pintar khatam Al-Qur'an. Zakiya sangat sayang kepada Sekar. Kata Zakiya. Sekar itu penerang ketika Zakiya dalam kegelapan.
"Maaf ya. Kakak kemarin ada urusan." Sekar menunduk. Mengusap halus pucuk kepala Zakiya. "Ibu Anisa nya ada?" Dibalas anggukan lucu oleh Zakiya.
"Zakiya sini," gadis itu menggendong Zakiya. "Kak Sekar bicara sebentar ya sama Ibu Anisa. Zakiya mau tunggu?" Zakiya mengangguk dengan lucunya. "Anak pintar."
"Eh Sekar?" Itu Ibu Anisa. Ia baru keluar dari dalam sambil mengenekan celemek masak. Mungkin Anisa sedang masak.
"Assalamualaikum Bu," ucap Sekar seraya mengulurkan tangannya.
"Waalaikumsalam. Apa kabar?" Anisa melirik ke belakang Sekar, "Sendiri? Arka mana?" Anisa memang sudah tahu kalau Sekar menginap di rumah Arka.
"Mas Arka nya ada urusan, Bu. Sekar kesini ada yang ingin dibicarakan." Anisa mengangguk. Mempersilahkan gadis itu masuk. Kemudian mengkondisikan anak-anak yang sedang berkumpul di luar.
"Mainnya jangan jauh-jauh ya. Terus jangan bertengkar," ucap Anisa memberi peringatan yang dibalas anggukan oleh anak-anak.
"Duduk Nak."
Sekar tidak langsung bicara. Gadis itu malah merunduk. Memainkan jari-jemarinya. Sekar sedikit canggung untuk memulainya.
"Kenapa? Cerita yuk sama Ibu. Ibu ini kan bukan siapa-siapa kamu," Anisa mengelus bahu Sekar. Berusaha meneguhkan hati gadis itu untuk buka suara.
"I-ini soal Mas Arka, Bu," ujar Sekar sedikit gelagapan.
"Oyah? Kenapa sama suami mu Arka?"
Sekar menghela nafas dalam. Menolehkan kepalanya. Menatap wanita tua yang kini sedang berada di sampingnya. Ada ketakutan di sorot mata Sekar.
"Apa Sekar harus kembali ke Mas Arka? Maksudnya. Menerima Mas Arka sebagai suami Sekar." Bukan mengenai siaap yang di ajak bicara. Tapi mengenai apa yang di bicarakan. Itulah yang membuat Sekar sedikit ragu untuk sekedar buka suara.
"Sudah kamu tanyakan pada Nya?" Ujar Anisa sembari melihat ke atas.
Sekar mengangguk, "Sudah. Semakin Sekar berdo-a, beristiqamah maka sifat Mas Arka kepada Sekar semakin baik," ucap Sekar.
"Lalu kenapa masih bimbang? Berarti itulah jawabannya," Anisa meraih kedua belah tangan Sekar.
"Sekar adalah gadis kuat yang pernah Ibu kenal. Gadis dengan ketabahan dan kesabaran tinggi dalam menjalani sulitnya kehidupan. Gadis yang menghabiskan masa kanak-kanaknya dengan penuh kesedihan. Namun gadis itu sangat bijak. Menjadikan penderitaan teman hidupnya, teman berkelana. Dan kini, gadis itu sudah besar. Sudah menjalani segala pahitnya kehidupan. Sudah saatnya bahagia. Manusia itu tidak mungkin selalu menderita dan tidak mungkin selalu bahagia. Sekar, inilah kebahagiaanmu. Saatnya kau bahagia bersama pria yang mencintaimu."
"Sebenarnya Ibu sedikit ragu berbicara seperti ini seolah-olah Ibu adalah Tuhan yang maha tahu. Tapi, jika kau sudah bertanya padanya dan itulah kejadiannya. Maka boleh bukan kita simpulkan bahwa Arka memang jodohmu?"
Sekar diam bergeming. Tak tahu harus bicara apa. Jujur perasaannnya sangat tidak karuan saat ini, "Mas Arka sepertinya ingin segera memiliki Anak."
"Masyaallah," ujar Anisa dengan nada sedikit terkejut.
"Kalau Arka pengen punya anak itu berarti bagus dong. Artinya Arka serius. Artinya Arka memang ingin melanjutkan hidupnya bersama kamu. Arka ingin memiliki keturunan darimu, hak waris dirinya suatu hari nanti. Maka ikatan kalian berdua sudah pastilah kuat. Terus, apalagi yang kamu ragukan?" Tanya Anisa penuh pengertian.
"Sekar takut Mas Arka tidak serius. Sekar tak--"
"Jika hidupmu dipenuhi ketakutan untuk melangkah ke jenjang berikutnya, maka kau tidak akan bisa menjalani kehidupan. Sampai kapan kamu akan takut begini? Sampai perawan tua? Apa Allah menjanjikan penderitaan dan kebahagiaan? Tidak bukan? Tapi inilah kehidupan. Ada bahagia dan ada menderita. Jalani saja. Kau akan lebih kuat daripada yang kau kira. Sekar, Arka menyanyangimu. Jika kau takut pada Arka maka kau pun akan takut pada pria lainnya. Lalu, bagaimana kau akan menjalani kehidupan ini?"
"Ibu juga dulu begitu. Di penuhi ketakutan saat mau menikah. Tapi Ibu memasrahkan diri Ibu sama Allah. Dan alhamdulilah, Allah membantu Ibu melewati segala kesulitan huru hara rumah tangga Ibu dengan Bapak. Dengan Bapak, Ibu mendapatkan kebahagiaan baru. Kebahagiaan yang tidak pernah Ibu kira. Meski terkadang Ibu juga mendapatkan penderitaan dari Bapak. Tapi memang itulah manusia. Tidak ada yang sempurna yang selamanya bisa memberikan kebahagiaan. Sekar mengerti?"
Sekar. Gadis itu mengerti, sangat mengerti. Ke egoisan dan sifat keras kepala tidak ada di darah dagingnya.
"Sekar mengerti," ucap gadis itu sembari melukiskan senyuman.
"Lagipula usia mu itu bertambah. Memangnya mau punya anak di usia berapa? Kasihan Anak mu kalau punya orang tua terlalu tua. Agar suatu hari nanti kau bisa menyaksikan anak cucu mu wisuda," ucap Anisa. Di balas kekehan oleh Sekar.
"Bismillah. Lahawula walakuwata. Allahuma Yasir Wala Tu'asir. Kita pasrahkan semuanya sama Allah. Sekar berdo'a yah. Dan satu lagi, kalau Arka macam-macam. Ibu yang akan maju paling depan dan menjewer telinganya."
__ADS_1
Sekar merangkul tubuh wanita tua itu. Anisa adalah sosok Ibu pengganti yang patut di acungi 5 jempol. Kasih sayangnya kepada Sekar dan anak panti tak dapat di bandingkan dengan banyaknya buih di lautan. Baginya, kebahagiaan orang lain jugalah kebahagiaan dirinya. Membantu menyelesaikan masalah orang lain adalah sesuatu yang mulia. Sekar sangat beruntung di pertemukan dengan wanita seperti Anisa. Pertemuan dengan Anisa pun bukan sesuatu yang Sekar perkirakan sebelumnya.
****
Arka sudah menjemput Sekar. Karena tadi Sekar menelefonnya. Kini mereka berdua hendak menuju ke rumah Tami atas perintah Tami dan Arman.
"Memangnya apa Mas yang mau Mamah Tami bicarakan?" Tanya Sekar.
"Tidak tahu. Tadi Mamah tidak jadi cerita. Katanya menunggu kamu," ucap Arka.
"Oh? Maaf ya. Aku kira aku tidak ditunggu. Jadinya keasikan ngobrol sama Ibu Anisa," ujar Sekar.
"Gak masalah. Ngomong-ngomong ngobrolin apa emang?"
Sekar kembali melamun. Ingin ia menceritakan kepada Arka bahwa dirinya sudah siap untuk memiliki anak. Tapi sepertinya mobil bukanlah tempat yang tepat untuk mengatakan itu.
"Jawaban yang spesial harus dikatakan di tempat spesial," ucap Sekar. Menirukan perkataan Arka tadi. Yang membuat Arka terkekeh karenanya.
*****
"Silahkan Viona." Semua keluarga sudah berkumpul di ruang tengah rumah Tami. Bahkan Iyam dan Waluyo pun di kumpulkan di sana. Seakan-akan ada pengumuman yang begitu penting.
Viona bangkit dari duduknya. Kepalanya menunduk.
"Ada yang ingin aku katakan," ucap Viona dengan raut wajah sedih.
Air matanya turun tiba-tiba. Ia menyekanya. Kemudian mengangkat kepalanya, "Aku akan ke Australia."
Semua orang memelototkan matanya. Saling berbagi pandangan satu sama lain. Kecuali Tami, wanita itu menangis di dada Arman.
"Kenapa?" Tanya Arka.
"Ada begitu banyak alasan yang tidak dapat kukatakan. Salah satunya agar aku bisa melupakan Arka," ucap Viona begitu blak-blakan.
Viona melirik Sekar. Ia maju beberapa langkah ke arah Sekar. Memegang pergelangan Sekar. Mengangkat tubuh Sekar lalu memeluknya.
"Aku minta maaf," tangis Viona pecah seketika kala bayangan bagaimana dirinya dulu menyakiti Sekar hadir. Bagaimana dirinya dulu bermesraan dengan Arka di depan Sekar padahal Sekar adalah istrinya.
"Aku benar-benar minta maaf Sekar. Aku bodoh. Aku gila." Viona mendekap tubuh Sekar.
"Aku adalah wanita paling egois di muka bumi ini. Dengan kejamnya aku merebut Arka padahal sudah jelas Arka adalah milikmu. Aku berperilaku jahat padamu. Menamparmu. Mengata-ngataimu. Tapi kau, kau tetap saja sabar dan baik padaku. Disaat aku lemah sekalipun kau justru membangkitkan semangatku. Terimakasih Sekar. Aku benar-benar minta maaf. Aku menyanyangimu. Aku mohon, maafkan aku. Karena aku akan menghukum dirimu jika aku tidak mendapatkan maaf darimu."
Tidak ada yang dapat membendung air matanya ketika dua gadis yang dulu membenci sekarang menyanyangi.
Sekar mengelus punggung Viona, "Tidak masalah. Tidak, kau tidak jahat, gila atau apapun itu. Kau wanita paling hebat yang pernah aku kenal. Darimu, aku belajar banyak hal. Aku menyanyangimu. Maaf pernah berperilaku kasar padamu. Maaf pernah menghinamu. Aku memaafkanmu. Mari kita berbaikan."
Viona melepaskan pelukannya dari Sekar. Ia berjalan mendekati Arka. Arka bangkit dari duduknya. Berusaha tersenyum. Menyembunyikam rasa haru di dalam hatinya.
"Kak Arka. Maaf ya. Aku selalu jahat kepadamu terutama kepada istrimu. Maaf juga dulu aku selalu menyusahkanmu, merepotkanmu."
Arka mengelus pucuk kepala Viona. "Tidak masalah. Jadi Adik yang pintar ya untuk Arka dan Sekar. Jadi anak yang baik untuk Tami dan Arman. Setiap orang memiliki sisi buruknya masing-masing. Tapi orang baik pasti bisa membuang sisi buruk itu meski secara perlahan. Buang ya sisi burukmu. Jadikan keburukanmu itu pelajaran."
Viona mengangguk lemah. Melukiskan sebuah senyuman, "Kak Arka adalah pria paling beruntung karena memiliki istri seperti Kak Sekar. Do'akan ya semoga aku bisa menjadi wanita seperti Kak Sekar nantinya. Aku har--"
"Tidak akan bisa," potong Arka. "Wanita seperti Sekar itu tidak ada duanya." Semuanya tertawa mendengarnya. Di saat seperti ini, Arka masih saja bisa menggombal.
"Iya, iya. Seorang Arka memang hebat menggombal," gumam Viona merotasikan bola matanya.
"Maka dari itu Adik nya juga harus hebat," Arka mengacak-ngacak rambut Viona.
Viona menoleh ke arah Sekar, "Sekar. Boleh peluk Kak Arka sebentar?" Sekar mengangguk. Bibirnya tersungging senang. Ia tak menaruh curiga apapun pada Viona. Viona hanya ingin memeluk Arka untuk terakhir kali. Sebagai bentuk perpisahan.
"Maaf ya. Jaga Sekar. Berikan aku keponakan yang lucu," bisik Viona.
"Pastilah lucu. Arka tampan, Sekar cantik. Bayangkan bagaimana wajah ponakanmu nanti," ujar Arka.
__ADS_1
Kini, saat yang paling menyakitkan tiba. Dimana sebuah keluarga kehilangan salah satu anggotanya sekalipun anggota baru.
Viona melangkahkan kaki nya dengan menarik sebuah koper besar. Di luar sana, sudah ada Waluyo yang dengan setia menanti Viona untuk mengantarnya.
Pertemuan ini bisa dikatakan pertemuan yang singkat. Bahkan Viona belum merasakan kehangatannya. Namun Viona berfikir dirinya tidak pantas merasakan kehangatan dari keluarga ini mengingat segala kejahatan yang ia lakukan. Lagipula Viona berfikir bahwa dirinya memang tidak pernah diinginkan di dunia ini. Mengingat bagaimana naasnya dirinya dilahirkan dulu.
Tapi tak perduli sejahat apapun manusia. Ia pantas mendapat kebahagiaan meski hanya sesaat apalagi jika manusia itu sudah taubat. Viona, ia berharap dirinya akan mendapat kebahagiaan baru di negeri orang nanti.
Viona menarik nafas dalam. Memejamkan matanya rapat-rapat. Setelah berpelukan dengan Tami secara erat tadi. Kini ia sudah berada di luar. Di depannya ada banyak anggota keluarganya yang sedang menangis pilu. Melihat kepergian gadis malang itu.
"Terimakasih ya untuk semuanya sekali lagi. Maaf ya karena sering merepotkan," ucap Viona. Lalu melenggang dari sana secara perlahan.
"Pulang nanti jangan lupa bawa oleh-olehnya," teriak Iyam.
"Nanti pas pulang akan ada anggota keluarga baru. Anak Arka," teriak Jayur.
"Hati-hati di jalan. Jangan lupa beri kabar kalau sudah sampai," teriak Arman.
"Cari pria Australia yah. Harus lebih tampan dari aku," teriak Arka.
"Jaga kesehatan. Makan yang teratur yah," teriak Sekar.
"Viona. Mamah menyanyangimu. Mamah akan selalu menunggumu. Kau adalah anak Mamah. Jaga dirimu baik-baik," teriak Tami dengan air mata yang terus mengalir.
"We love you Viona Aknasa Galeria. Kami menyanyangimu," teriak semuanya serempak. Membentuk sebuah love. Arka dan Sekar menyatukan kedua tangannya agar bisa membentuk love.
Dan inilah akhirnya......akhir dari kisah seorang Viona Aknasa Galeria. Wanita berusa 28 tahun yang bertemu dengan Arka secara tiba-tiba. Pertemuan mereka yang tidak sengaja membuahkan sesuatu yang baru. Yang akhirnya berubah menjadi batu yang menggelinding dan menghantam lalu memberikan rasa sakit.
Viona digunakan Arka untuk bisa melupakan Siska--- cinta pertamanya yang sudah lama meninggal. Namun ternyata Viona mencintai Arka dengan nyata. Ia berusaha sekuat tenaga untuk memiliki Arka.
Hingga datang masanya Arka menikahi Sekar atas dasar paksaan kedua orang tuanya. Meski sudah berubah tangga. Dengan penuh kesabaran Viona menunggu, menanti Arka dan berharap Arka akan menjadi miliknya.
Namun kejutan kehidupan datang. Menerpa dan menerjang. Menerbangkan Viona jauh dari dekapan Arka. Kenyataan pahit nan memilukan yang sulit di terima dengan hati terbuka.
Kenyataan yang mengharuskan Viona menjauh dari Arka karena guratan takdir. Tak perduli seberapa besar usaha Viona untuk mendapatkan Arka ia tetap harus berhenti karena memang itulah peraturan agama yang tidak boleh di langgar.
Viona masih memiliki keimanan meski hanya sedikit. Ia masih sadar bahwa dirinya tidak boleh mencintai Kakaknya sendiri melewati batasan. Australia akan menjadi negara baru bagi Viona. Dimana dirinya akan berusaha melupakan Arka. Dimana dirinya akan memulai kehidupan baru yang semoga saja menjadi lebih baik.
Gara-gara kecerobohan. Tami harus menanggung semua ini. Melihat anak nya menderita. Melihat anak nya pergi dan berpisah dengannya dalam kurun waktu yang tidak tahu berapa lama.
Tapi Tami tak menentang. Ia mengerti inilah jalan terbaik yang bisa di lakukan. Daripada nantinya akan berakhir fatal jika dibiarkan. Tami hanya berfikir mungkin ini adalah hukuman yang pantas atas segala dosanya.
'Viona. Maafkan Mamah. Gara-gara Mamah kamu menjadi menderita'
Selamat jalan Viona Aknasa Galeria. Semoga kau mendapatkan kebahagiaanmu di luar negeri sana. Semoga kau mendapatkan orang yang mencintaimu setulus hati.
Terimakasih sudah pernah hadir di dalam cerita ini. Mengisi beberapa part di cerita ini. Maaf, aku menempatkanmu menjadi tokoh Antagonis.
We love you Viona Aknasa Galeria. No matter how cruel you are❤.
Bukankah ini akhir yang bahagia untuk Viona?
Jaga dirimu baik-baik disana, Viona.
Viona lagi salaman sama Sekar.
Viona pas di elus Arka.
Babay Viona
__ADS_1