Satu Hati 2 CINTA

Satu Hati 2 CINTA
Tawaran Licik Dari Viona


__ADS_3

Arnold: Cintaku adalah untuk membuatnya bahagia. Mungkin... sekalipun bukan dengan diriku.


Arnold merutuki dirinya sendiri. Mengusap wajah nya gusar. Mencengkram erat stir. Menjambak rambutnya. Mendadak dada nya sesak. Pikirannya kalang kabut.


Tadi Arnold sudah kembali ke jalanan dimana dia meninggalkan Sekar. Tapi gadis itu tidak ada disana. Tidak ada juga yang bisa ditanya. Saat ini Arnold memutuskan akan pergi ke kantor Arka. Barangkali Sekar ada disana.


Sungguh, Arnold tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri bila terjadi apa-apa dengan Sekar.


"Arnold setan! Arnold sialan!" Umpatan untuk dirinya sendiri. Arnold bahkan mengutuk dirinya sendiri bahwa ia akan celaka jika Sekar celaka.


***


"Eh maaf Mas. Mau kemana ya?" Tanya salah satu Satpam yang mencegat Arnold karena pria itu main terobos kantor Arka begitu saja.


"Saya Arnold. Teman Sekar," ucap Arnold tak sadar. Lalu ia menghela nafas, "Saya teman Arka," ujarnya lagi.


"Maaf Mas. Tapi tidak boleh sembarangan masuk begini. Apalagi Mas main terobos. Ada kepentingan apa? Ada janji tidak?" Pertanyaan beruntun dari satpam ini membuat Arnold ingin melayangkan bogeman mentah.


"Saya cari Sek--"


"Dia teman saya. Tolong di lepaskan Pak," suara bariton itu mengalihkan perhatian keduanya. Arnold melirik ke arah si pemilik suara. Itu Arka. Arka yang saat ini sedang berjalan ke arah Arnold dengan santai dan dua tangan di masukan ke dalam saku celana.


"Mana Sekar?" Tanya Arnold. Ia memegangi kerah baju Arka.


Arka menyentak tangan Arnold. Arka mendorong tubuh Arnold ke luar lalu memberikan aba-aba kepada satpam agar jangan mengikutinya, "Bicarakan ini di luar."


"Aku tidak ingin bertemu denganmu. Yang aku inginkan hanya Sekar. Mana dia?" Arnold dan Arka sudah berada di luar lobby utama saat ini. Tidak banyak yang lalu lalang karena memang sudah jam masuk kerja. Arnold sendiri sudah telat masuk ke rumah sakit.


"Untuk apa menanyakan dia?" Tanya Arka masih dalam posisi santai.


"Urusanmu? Yang saya inginkan hanya Sekar!" Bentak Arnold.


"Tentu urusan saya," Arka maju beberapa langkah, "Lalu kenapa tadi ditinggalkan di tengah jalan kalau Anda khawatir padanya?" Tanya Arka dengan menatap Arnold dengan tatapan tajam menghunus.


"Bukan urusan Anda. Saya sudah telat. Dimana Sekar? Saya ingin menemuinya," pinta Arnold. Arnold berusaha kembali masuk. Namun Arka kembali menghadangnya.


"Apa Anda yakin Sekar mau menemui Anda setelah apa yang Anda lakukan tadi padanya?" Arka menahan tubuh Arnold kuat-kuat agar tidak berhasil masuk ke dalam kantor dan membuat keributan disana.


"Sekar gadis baik. Saya yakin dia akan memaafkan saya!" Bentak Arnold.


"Itulah dia. Apa Anda memanfaatkan kebaikan Sekar? Mentang-mentang dia baik lalu Anda bisa memperlakukan Sekar semena-mena?"


Arnold berdesis. Ia memukul angin, "Ayolah Arka. Jangan munafik! Disini siapa yang memperlakukan Sekar semena-mena? Aku atau dirimu?" Dan pada akhirnya Arnold menghabiskan waktunya untuk berdebat dengan Arka.


"Aku. Tapi aku sudah mengakuinya dan akan memperbaikinya," ucap Arka yakin seratus persen.


"Oyah? Tidak akan saya biarkan Sekar jatuh ke pelukaan orang yang salah untuk kedua kalinya," Arnold mendorong tubuh Arka.


Lagi-lagi Arka mencekal tangannya, "Karena Anda mencintai Sekar bukan?" Apa yang dikatakan Arka barusan mampu membuat Arnold mematung. Arnold mundur beberapa langkah dan kini ia bertatap muka dengan Arka.


"Apa saya salah? Anda mencintai Sekar bukan? Sebelum aku yang membukakan matamu silahkan kau buka matamu sendiri Arnold. Sekar mencintaimu tidak lebih daripada cinta seorang Kakak!"


Bruk!


Satu pukulan melesat mengenai pipi sebelah kanan Arka. Membuat pria itu jatuh tersungkur. Ada satpam yang menghampiri Arka. Namun Arka menyuruhnya diam tanpa harus melakukan apa-apa.


"Ayolah Arnold. Jangan biarkan apa yang terjadi diantara kita dan Siska kembali terjadi di antara kita dan Sekar," Arka bangkit dan memegangi pelipis nya yang mengeluarkan bercak darah.


Arnold maju beberapa langkah. Menunjuk muka pria itu, "Benar. Apa yang terjadi diantara kita dan Siska tidak boleh terjadi lagi. Maka dari itu, harus aku yang mendapatkan Sekar!"


Arnold melenggang pergi dari sana, "Sekar tidak akan mencintaimu lebih dari seorang Kakak!" Teriak Arka.


"Sudah Pak. Saya baik-baik saja," ujar Arka kepada satpam yang berusaha membantunya berdiri. Arka menatap kepergian Arnold.


Apa yang dilakukan Arnold barusan memanglah sakit. Tapi lebih sakit ketika mengingat siapa Arnold sebenarnya. Perlu saya ceritakan? Baiklah.


Arnold dan Arka adalah teman lama. Mereka berdua satu sekolahan. Satu SMA dan satu universitas. Saat masih kuliah keduanya berteman sangat baik. Arka sangat menyukai kesehatan. Arka meminta kepada Arnold agar Arnold menjadi seorang dokter agar ketika Arka sakit Arka bisa datang kepada Arnold. Dan Arnold meminta Arka untuk membangun sebuah perusahaan lalu merekrut orang-orang yang susah.


Singkat cerita, hadirlah Siska---Kakak Sekar dalam kehidupan mereka berdua. Sialnya, dua pria itu mencintai Siska dalam kurun waktu yang sama. Arka terlebih dahulu mengutarakan cintanya kepada Siska. Maka dari itu Arka yang memenangkan hati Siska. Tentu Arnold tak terima karena ia pun mencintai Siska. Sejak hari itu. Tepatnya sejak saat Arka memulai hubungan dengan Siska, saat itulah Arnold membenci Arka. Ia bersumpah akan menjadi musuh Arka di kehidupan berikutnya. Dan sumpahnya menjadi kenyataan.

__ADS_1


Hingga pada masanya Siska meninggal. Arnold menyalahkan Arka atas kematian Siska. Sementara Arka menyalahkan Sekar atas kematian Siska. Suatu hari Arnold tahu bahwa Siska mempunyai adik perempuan. Arnold mencari tahu dimana keberadaan gadis itu. Dan puji Tuhan, Arnold bisa menemukan Sekar. Begitu singkat ceritanya. Sekar tinggal bersama Arnold. Sekar memulai hidup baru bersama Arnold. Sekar dan Arnold melakukan banyak hal bersama.


Kepergian Siska rasanya sudah terhapuskan oleh kehadiran Sekar. Arnold bahagia bersama Sekar. Tidak sampai suatu hari tiba-tiba Arka datang dan meminang Sekar lalu memintanya menjadi istri Arka. Sekar tidak mau, tapi bagaimanapun juga menikah dengan Arka adalah perintah Siska. Arnold pun tak bisa menghentikan Sekar karena itu atas permintaan Sekar sendiri.


Masa lalu kini terulang kembali. Dimana kedua pria berinisial A ini mencintai gadis yang sama. Dulu Siska, sekarang Sekar. Gadis cantik yang memiliki sifat berbeda. Dulu Arnold sudah merelakan Siska untuk bersama Arka karena memang Arnold yang terlambat. Tapi sekarang, Arnold tidak akan membiarkan Sekar lepas dari tangannya. Tidak untuk sekarang. Arnold tidak terlambat. Arnold yang menolong Sekar terlebih dahulu dibanding Arka.


Mari kita saksikan manakah diantara dua pria ini yang berhasil mendapatkan cinta sejati Sekar. Atau mungkin.... tidak ada diantara keduanya yang akan mendapatkan Sekar seperti dulu?


*****


Sekar terkejut ketika mendapati Arka dengan luka baru dan darah segar. Buru-buru gadis itu menghampiri Arka.


Sementara Viona. Gadis itu sudah pergi sedari tadi. Setelah melihat keromantisan Arka dan Sekar.


"Ya Allah Mas. Itu kenapa lagi?" Ucap Sekar sambil memegangi bibir Arka.


"Mau di obati lagi," Arka tersenyum menyeringai. Kali bisa cium Sekar lagi.


"Yasudah ayo," Sekar mengajaknya ke ruangan Arka. Tapi kali ini Sekar lebih pintar. Mereka duduk di sofa panjang samping meja kerja Arka. Buru-buru Sekar mengambil kapas, menetesi nya dengan obat merah lalu mengoleskannya pada luka Arka. Tidak memberi Arka celah untuk menciumnya.


"Kenapa bisa berdarah lagi sih?" Tanya Sekar.


Arka terkekeh, sesekali ia meringis kesakitan. "Kamu khawatir ya?" Tanya Arka.


"Yaiyalah!" Ucap Sekar keceplosan.


"Syukurlah. Aku senang kalau kau khawatir," ujar Arka.


"Tapi aku yang tidak senang!" Ucap Sekar sedikit membentak. Gadis itu kembali fokus mengobati luka Arka.


"Sekar?"


"Hmm?"


"Boleh aku bertanya sesuatu?"


Sekar menyimpan kapas kotornya ke kotak sampah. Ia sudah selesai dengan luka di bibir Arka. Sekar menutup kotak P3K nya dan menanti apa yang akan dikatakan Arka, "Boleh. Apa?"


Sekar membelalakan matanya. Tubuh nya menegak. Ia menatap mata Arka lekat-lekat dipenuh tanda tanya.


"Maksudnya?" Tanya Sekar dengan kening yang mulai mengerut.


"Pilih saja. Aku atau Arnold?"


Pilihan tersulit yang pernah Sekar terima. Arnold? Ia mencintai Arnold, menyanyangi Arnold. Namun tak lebih seperti seorang Kakak. Arnold memang cinta pertama Sekar. Tapi cinta pertama sebagai Kakak.


Lalu Arka. Akhir-akhir ini Sekar memang menyukai Arka. Tapi jika sifat Arka tidak berubah.


"Dalam rangka apa kau bertanya seperti ini?" Tanya Sekar.


"Pilih dulu. Aku atau Arnold?" Arka semakin mendesaknya.


Perkataan Tami, Waluyo, Iyam, Alm. Siska dan yang terkahir, perkataan Ibu Anisa tiba-tiba saja muncul di benak Sekar. Memberikan jawaban matang untuk gadis itu. Entahlah. Padahal Sekar tidak meminta bantuan. Tapi tiba-tiba mereka semua datang.


"Arka," Arka terbelalak. Ia menegakan tubuhnya, "Kalau sifatnya sebaik Arnold," sambung Sekar. Membuat Arka kembali loyo.


"Maksudnya?" Tanya Arka.


"Memangnya apa yang terjadi kalau aku memilih diantara kalian berdua?" Tanya Sekar.


"Agar salah satu diantara kami bisa berhenti berharap," ucap Arka matang.


"Aku suka dua-duanya. Aku pilih dua-duanya. Arnold sebagai Kakak ku. Dan Arka sebagai........ Bos ku."


Arka menunduk. Apa itu artinya Sekar tidak mencintainya? Apa itu artinya penolakan bagi Arka? Apa secara tidak langsung Sekar menyatakan bahwa ia lebih memilih Arnold? Benar mungkin ini saatnya Arka menga---


"Bos yang kucintai." Cup! Satu kecupan mendarat di bibir Arka. Singkat sesingkat mungkin. Namun mampu menghentikan nafas Arka.


Sekar berlari. Memegangi jantungnya yang tiba-tiba berdebar kencang. Dadanya naik turun. Nafasnya terpenggal.

__ADS_1


Sementara Arka? Jangan ditanya. Arka sedang mem-pause nafasnya.


Ingat apa yang dikatakan Tami, Iyam, Alm. Siska dan Anisa? Dengan serempak mereka semua mengatakan bahwa Sekar harus memilih Arka. Dengan kompak mereka semua menyetujui hubungan Sekar dan juga Arka. Dan tadi, entah bagaimana perkataan mereka tiba-tiba hadir di diri Sekar. Memberikan Sekar keputusan yang semoga saja tidak akan membuatnya menyesal suatu hari nanti. Mendominasi hati Sekar. Memberikan Sekar jawaban atas pertanyaan Arka.


"Ya Allah? Baper," Arka meraba bibir nya. Mendadak panas. Seperti baru makan hot cabe. Sekar diam-diam menghanyutkan ternyata.


Sekar pun tidak habis pikir mengapa dirinya bisa dengan lancang mencium bibir Arka seperti tadi. Meski ujung-ujungnya kabur juga.


****


Baru Arnold sampai di rumah sakit. Harus kembali keluar lagi karena ada panggilan dari sekolah yang menyatakan bahwa Pasha dan Gilsha kembali bertengkar. Untung saja Arnold menduduki jabatan tinggi di rumah sakit. Ia juga sudah cukup lama bekerja di sini. Jadi tidak masalah jika Arnold izin.


"Kenapa lagi?" Tanya Arnold pada Pasha. Arnold sudah sampai di sekolah Pasha. Saat ini dirinya sedang berada di ruang BK----di sekolah Pasha. Pasalnya Pasha bertengkar lagi dengan Gilsha.


"Adik Anda bertengkar lagi!" Tegas guru botak. Arnold menatap ke arah Pasha. Meminta penjelasan kepada Adik nya itu.


"Bukan aku yang mulai kali ini! Tapi Gilsha!" Pasha membela dirinya dengan menunjuk Gilsha.


Arnold mengelus dada sabar. Seharian ini banyak sekali musibah yang menimpa dirinya.


"Benar. Kali ini Gilsha yang salah. Saya atas nama Kakak Gilsha mengucapkan maaf sebesar-besarnya."


Viona hadir saat itu juga. Memenuhi panggilan guru.


Viona angkat bicara. Penjelasannya mampu membuat Arnold membulatkan mata. Tumben-tumbenan Viona berbicara seperti itu.


"Saya yang akan menyelesaikannya sendiri dengan Arnold dan Adik nya. Saya permisi," Viona menundukan badannya kemudian melenggang dari sana sambil menuntun Gilsha. Diikuti oleh Arnold dan Pasha.


"Kalian masuk ke kelas. Jangan bertengkar lagi dengan anak ini," ucap Viona kepada Gilsha.


Pasha menatap Arnold. Seolah-olah meminta persetujuan dari Kakak nya ini. Arnold mengangguk, "Jangan bertengkar lagi dengan gadis itu," tunjuk Arnold pada Gilsha.


Arnold hendak enyah dari sana. Urusannya sudah selesai karena Viona. Jadi tidak ada lagi yang perlu dilakukan. Arnold harus segera pergi ke rumah sakit.


Saat baru satu langkah Arnold melangkah, tangannya di cekal oleh Viona.


"Apa?" Tanya Arnold sambil menyentak tangan Viona. Membuat gadis itu meringis.


"Kau mencintai Sekar bukan?" Viona bersidekap di dada. Ia bertanya tanpa ancang-ancang basa basi.


Arnold memejamkan matanya. Membahas soal Sekar saat ini bukanlah hal yang bagus untuk kesehatannya. Terlebih Arnold sudah membuang-buang waktu banyak.


Arnold kembali melangkah, "Arka dan Sekar tadi ciuman," ucap Viona.


Terpaksa Arnold menghentikan langkahnya. Ia membalikan badannya. Menatap Viona. Menantikan apa yang akan dikatakan gadis itu berikutnya.


"Iya. Itu terjadi di kantor, tadi. Aku tahu kau menyukai Sekar. Dan aku menyukai Arka. Aku punya penawaran bagus untukmu."


Viona maju beberapa langkah. Memegang kerah baju Arnold. Namun dengan sekali hentakan Arnold menepis tangan Viona.


"Tidak usah munafik. Kau dan Arka bersaing bukan untuk mendapatkan Sekar? Bagaimana kalau kau memiliki seorang patner. Patner cantik dan pintar sepertiku. Aku bisa membantumu memisahkan Arka dan Sekar," ujar Viona mantap.


"Pintar? Kalau kau pintar kau tidak akan meminta bantuanku," Arnold memasukan tangannya ke saku celananya. "Bukan aku yang membutuhkan bantuanmu. Tapi kau yang membutuhkan bantuanku. Benar bukan?" Tanya Arnold dengan mata menyipit.


"Sama saja! Intinya kita berdua harus bekerja sama. Satu orang saja tidak akan mampu menghentikan hubungan keduanya," jelas Viona.


"Maaf. Aku tidak seperti dirimu. Aku bermain sehat dengan Arka. Kalau aku tidak menang, ya aku akan menerimanya. Dan satu lagi... Sekar juga tidak akan menyukai cara picik mu ini," Arnold menunjuk muka Viona.


"Munafik ya? Ayolah Arnold. Open your eyes stupid! Kau tidak akan bisa mendapatkan Sekar jika hanya bermodalkan do'a," imbuh Viona.


"Oyah? Memangnya Tuhanmu siapa? Maaf, tapi Tuhanku tidak tidur dan tidak buta. Ia melihat siapa yang cocok untuk Sekar. Jika menurutnya itu adalah Arka. Maka aku akan bisa menerimanya. Karena cintaku...bukanlah untuk mendapatkan. Tapi melihat dirinya senang," ujar Arnold mantap.


"Yakin kau bahagia Sekar bahagia dengan Arka?"


"Bahagia atau tidak, bukan urusanmu. Terima kasih sudah menganggu waktuku," Arnold enyah dari sana. Dengan sengaja menabrak pundak Viona. Membuat gadis itu mendengus sebal.


"Arnoldanjir!" Ujar Viona.


Arnold memang sakit hati. Bahkan sangat sakit. Seperti di tulus beribu belati. Tapi jika untuk mendapatkan Sekar dengan cara seperti yang Viona lakukan----- cara kasar. Alhamdulilah Arnold belum berfikir sampai ke sana.

__ADS_1


Sejauh ini, akal sehatnya masih berjalan dengan lancar. Dan bekerja sama dengan Viona bukanlah sebuah pilihan baik. Karena Arnold tahu. Viona mainnya licik.


__ADS_2