Satu Hati 2 CINTA

Satu Hati 2 CINTA
Lelahnya hati


__ADS_3

Disaat keduanya sedang terlelap dalam kesedihan disertai kebingungan, Arman datang dan langsung meminta Arka menemuinya.


"Kemari! Ada yang ingin Papah bicarakan."


Arka masuk ke dalam. Sementara Sekar masih berdiri di luar, sibuk dengan air matanya.


Tidak lama kemudian, datang Iyam.


"Maaf Bibi lancang. Tapi Bibi mendengar semuanya."


Tanpa perlu ambil ancang-ancang lain, Sekar langsung ambruk di pelukan Iyam. Pelukan dari seseorang yang ia butuhkan saat ini.


"Sekar lelah bi, Sekar lelah." Ujarnya sambil menangis di pelukan Iyam.


"Bibi mengerti neng. Sangat mengerti. Sabar ya sayang, non Sekar kuat."


Kuat? Maaf. Sepertinya tidak untuk kali ini. Seluruh badan Sekar sudah lemas rasanya. Ia sudah tidak kuat menghadapi kenyataan dan penderitaan yang pahit ini.


Perlahan, Sekar melepaskan pelukannya dari Iyam.


"Apa yang harus Sekar lakukan?"


Bibir Iyam bergetar, tangisannya sudah hampir pecah. "Ya Allah mengapa kau timpahkan penderitaan yang teramat besar bagi gadis lugu ini? Seluruh keluarganya sudah tiada, suaminya tidak mencintainya. Sekarang? Apa lagi?" Batin Iyam.


Tapi itu tidak Iyam ungkapkan. Justru ia berkata.


"Kalau Non Sekar diceraikan non akan tinggal dimana?"


Jleb!


Itulah alasan mengapa Sekar mempertahankan rumah tangganya dengan Arka adalah karena ia bisa memiliki tempat untuk berteduh.


Haruskah Sekar tinggal di kolong jembatan? Sungguh, ia tidak memiliki tempat untuk tinggal.


"Sekar tidak tahu." Ujarnya lemah.


Iyam kembali memeluk Sekar "Maaf, Bibi tidak bisa membantu non Sekar."


Ingin sekali Iyam membantu Sekar dengan setidaknya memberikan Sekar tempat tinggal. Sayangnya itu tidak bisa ia lakukan karena rumahnya berada di kampung yang jauh.


Sementara di dalam sana...


"Jangan ceraikan Sekar. Kamu tahu apa alasan Papah akan mengirimu ke luar kota saat ini?"


Arka menggeleng.


"Ibu Sekar ada di sana. Di Yogyakarta! Temukan dia dan bawa dia kemari dalam keadaan apapun. Baik itu waras atau gila."


Kini Arka menunduk. Ia tidak pusing soal menemukan Ibu Sekar, ia justru pusing mengambil keputusan soal tawaran talak Sekar.


"Tapi dia yang minta cerai." Tutur Arka.


"Kan kau yang menceraikan! Hanya kamu yang bisa mengambil keputusan. Bisa Sekar hanyalah meminta, maka jangan berikan! Demi Papah, mau kan kamu tetap bertahan dengan Sekar?"


"Lalu bagaimana dengan Mamah?" Tanya Arka. Ia baru teringat soal Tami.


"Biar Papah yang urus. Akan Papah jelaskan segalanya. Papah tahu bahwa Mamahmu orang baik yang pasti bisa menerimanya. Yang jelas, temukan dulu Ibu Sekar dan jangan ceraikan gadis itu. Arka? Kamu ingin tahu mengapa Papah tidak ingin kamu menceraikan Sekar?"


Arka menggeleng "Apa?"


"Karena kamu adalah cahaya dalam kegelapan Sekar dan Sekar adalah kehangatan dalam kedinginanmu. Kalian bisa saling melengkapi. Gadis seperti Sekar bukanlah gadis yang mudah ditemukan. Perlahan, Papah yakin kau bisa mencintainya bahkan lebih mencintainya daripada mencintai Siska kakaknya. Papah melihatnya Arka, papah melihat Tuhan di dalam sorot mata Sekar. Dia pantas untuk mu dan kau pantas untuk nya. Bawa dia ke dalam kebahagiaan maka dia pun akan memberikanmu kebahagiaan. Kehidupan jaya sedang menanti kalian berdua." Ucap Arman sambil memegang kedua belah bahu Arka.


Arka masih enggan untuk mengangkat kepalanya.


"Pah?" Tanya Arka.


"Kenapa?"


"Jika jati diri Sekar ditemukan lalu Sekar adalah adik Arka bagaimana?" Arka menatap Arman dengan memelas.


Perlahan tangan Arman mulai jatuh ke udara. Kini ia menunduk.

__ADS_1


"Apa bisa kau mencintai Sekar sebagai adik?" Tanya Arman lirih.


Jawaban yang sangat sulit. Arka sendiri tidak tahu bagaimana perasaannya nanti pada Sekar. Bagaimana kalau ia mencintai Sekar sebagai seorang kekasih? Haruskah ia melakukan hubungan terlarang?


Tidak. Akhirnya Arka sudah menemukan jawabannya sendiri.


"Ya. Aku bisa mencintainya sebagai seorang adik, meski aku tidak bisa aku akan berusaha. Kini aku telah menyadari suatu hal. Datangnya Sekar ke kehidupanku bukanlah untuk memberikan luka tapi mendapatkan kebahagiaan yang sudah seharusnya ia dapatkan. Entah itu sebagai kekasih atau entah itu sebagai adik seorang Sekar harus bahagia. Dan aku, Arka berjanji bahwa aku sendiri yang akan memastikan Sekar mendapatkan kebahagiaannya. Selama 5 tahun ini, aku sudah cukup berbahagia dengan segala pengabdian yang Sekar berikan dan sekarang saat nya aku yang memberikan Sekar kebahagiaan. Ia sudah cukup menderita. Ia hadir untuk mengambil hak nya, maka aku akan memberikannya. Sekalipun bahagia Sekar bersama pria lain, aku akan tetap terima. Aku sudah cukup bahagia dan Sekar sudah cukup menderita, aku akan menukarkan dunia kita."


Hidayah telah diberikan kepada seorang Arka. Kini ia sudah menemukan jawabannnya. Jika Sekar bukan adiknya, maka akan ia jadikan Sekar kekasihnya dan membahagiakannya. Dan jika Sekar adalah adiknya, maka akan ia bahagiakan dengan cara yang berbeda, sebagaimana perlakuan seorang Kakak.


"Papah bangga sama kamu. Sekarang keluarlah, katakan kepada Sekar bahwa kau tidak akan menceraikannya tapi tidak usah katakan apa alasannya. Hapus air matanya, usap lembut kepalanya. Baik dia adikmu atau kekasihmu, bahagiakan dia."


Arka pergi dengan tersenyum untuk segera menghampiri Sekar.


Arka keluar dari ruangan kerja Arman dan meninggalkan Arman di dalamnya. Sebelum ia benar-benar sampai di tempat Sekar. Arka menangis.


"Aku sudah mulai mencintainya sebagai seorang kekasih. Bagaimana caranya mengubah rasa cinta ini menjadi rasa sayang seorang kakak? Ini tidak mudah." Arka membatin. Perlahan tubuhnya merosot ke lantai dengan bersenderkan ke tembok.


Segala kebingungan kini berpindah pada Arka. Tidak mudah bagi Arka untuk melupakan Siska dan membuka hati pada wanita baru. Bahkan ia mengalami beribu kesulitan saat dalam proses melupakan Siska.


Dan sekarang setelah hatinya mulai terbuka pada adik Siska sendiri apa harus kembali kandas jika wanita itu ternyata adiknya?


Lalu apa Arka harus kembali berusaha membuka hati untuk wanita lain? "Ini tidak mudah." Arka menjambak rambutnya sendiri ditutur dengan mengusap wajahnya gusar.


***


"Sekar?" Arka sudah sampai di luar. Ia mendapati Sekar sedang duduk bersama Iyam.


"Bibi masuk dulu ya Non," sadar bahwa tuan-tuannya memerlukan waktu untuk berbicara empat mata maka Iyam pun pergi ke dalam.


Arka lalu duduk di tempat yang sebelumnya di duduki Iyam.


"Aku mau bicara," Arka berkata agar Sekar memperhatikannya. Tapi ternyata gagal. Sekar masih terus menunduk tanpa melihat ke arah Arka sedikitpun.


"Bisa lihat aku sebentar?" Pinta Arka. Namun Sekar masih tetap menunduk.


"Tidak boleh bukan membantah perintah suami? Sekarang aku perintahkan padamu untuk menatap matamu."


Tidak untuk kali ini. Sekar tidak mengindahkan pinta Arka. Ia masih menunduk.


Barulah Sekar menatap Arka. Ia menyorotkan sebuah kebingungan di mata nya yang sendu. Arka lalu tersenyum, "Ya. Aku masih suamimu. Untuk hari ini, besok dan mungkin nanti."


Sekar sadar bahwa secara tidak langsung Arka mengatakan bahwa ia tidak akan menceraikan Sekar.


Sekar menunduk, ia mengepalkan tangannya lalu digenggamnya kuat-kuat. Tangisannya kembali pecah.


Arka panik saat melihat Sekar kembali menangis. Ia bangkit dari duduknya, berdiri di hadapan Sekar dengan berjongkok.


"Hey? Kenapa nangis?" Tanya Arka sambil memegang kedua paha Sekar. Ia menatap Sekar sendu.


Tidak ada jawaban apapun dari Sekar. Ia masih terus menangis.


"Aku tidak suka melihatmu menangis, berhentilah."


Perlahan, tangan Arka naik lalu menghapus air mata Sekar. Mengusap pipi Sekar dengan menggunakan ibu jarinya.


"Katanya perintah suami tidak boleh dilanggar. Aku sudah memerintahkan mu untuk berhenti menangis. Kenapa tidak berhenti?" Tanya Arka saat Sekar masih terus menangis.


Arka tidak kuat menahannya. Ia menarik tangan Sekar, membuatnya bangun dan berdiri lalu memeluknya.


Bukannya berhenti menangis justru Sekar tambah menangis saat Arka memeluknya, mendekapnya, mengusap kepalanya.


"Jangan menangis. Sudah Sekar. Jangan menangis."


Tidak! Arka sedang tidak berusaha menenangkan Sekar. Ia sedang menenangkan dirinya sendiri


Arka bukan tidak kuat melihat Sekar yang menangis. Ia tidak kuat menghadapi kenyataan jika sebenarnya Sekar adalah adiknya!


Pernikahan selama 5 tahun itu ternyata bukanlah pernikahan cuma-cuma saja. Selama 5 tahun, Arka mendapatkan kehangatan yang diberikan oleh Sekar. Selama 5 tahun Arka tersenyum dengan tingkah konyol dan lugu Sekar. Selama 5 tahun Arka tidak pernah kesusahan dan kesulitan karena Sekar.


Selama 5 tahun itu Arka mencintai Sekar, menyayanginya. Buktinya ia selalu khawatir jika Sekar tidak ada dan ia tidak tahu dimana. Hanya saja Arka tidak menyadarinya. Ia tidak sadar bahwa Sekar adalah bidadari kecil pelindungnya. Dirinya terlalu sibuk pada pekerjaan dan disibukan oleh dunia yang sebenarnya kejam.

__ADS_1


Ya, dunia yang kejam. Setelah Arka sadar bahwa ia mencintai Sekar. Setelah Arka sadar bahwa ia takut kehilangan Sekar. Mengapa dunia harus memisahkannya? Setelah 5 tahun Ibu Sekar tidak ditemukan mengapa ia harus tiba-tiba ada? Apa Sekar akan segera lepas dari pangkuan Arka dan melepas ikatan pernikahan karena Sekar adalah adiknya?


Bukannya membuat Sekar berhenti menangis justru Arka yang menangis. Ia mengigit bibir bawahnya, "Jangan menangis Sekar... jangan menangis," ucapnya.


Padahal dalam hati ia berkata, "Jangan menangis Arka... jangan menangis."


"Mas Arka?"


"Hmm?"


Perlahan Sekar menarik tubuhnya keluar dari Arka namun ia tidak menjauh. Ia melihat ke arah Arka, ia sadar Arka menangis. "Mas Arka menangis?"


Arka semakin sedih melihat keluguan muka Sekar. "Apakah kata 'Mas' itu akan segera berubah menjadi kata 'Kak'? Batin Arka.


"Kelilipan," jawab Arka gengsi.


"Aku tidak akan menceraikanmu."


Sekar menunduk, "Kenapa?" Tanyanya.


"Aku tidak mempunyai alasan untuk menceraikanmu," jawab Arka.


"Ada," sahut Sekar.


"Viona," Arka terkekeh, "Viona bukan alasan untuk aku menceraikanmu," jawabnya sambil tersenyum dan menyeka air mata.


Sekar mulai menjauh dari tubuh Arka, "Ada alasan lain," ucap Sekar sambil masih terus menunduk.


"Apa?" Tanya Arka.


"Arnold," kini barulah Sekar mengangkat kepalanya dan menatap Arka. Wajahnya sudah tidak sendu lagi.


"Maksudmu?"


"Arnold adalah alasan mengapa Mas Arka harus menceraikanmu."


"Kenapa?"


"Karena aku mencintainya."


Hancur, dunia Arka hancur. Hatinya remuk. Dunia seperti berhenti berputar. Meteor jatuh nenimpa Arka tanpa henti.


Ia terpaku. Membulatkan mata dan menatap Sekar tidak percaya.


Sekar tersenyum, mengusap air matanya menggunakan Ibu jari. "Arnold pernah berkata kepadaku bahwa jangan memaksakan cinta. Tidak perduli dimana dan kepada siapa. Dulu aku tidak sadar akan hal itu dan tidak memperdulikannya. Yang aku pikirkan hanyalah kak Siska yang memintaku untuk mencintaimu. Barulah sekarang aku sadar. Ada hati yang lelah dan harus beristirahat dari memaksakan cinta seseorang dan kak Siska sudah lama tiada. Aku lelah Mas terus berusaha membuatmu jatuh cinta kepadaku. Aku lelah hidup di dalam rumah bersama seseorang yang bernotabe suami tapi tidak pernah mencintai. Aku lelah mencintai dan ingin merasakan dicintai. Dan aku sadar, ada orang yang senantiasa mencintaiku. Selalu menungguku dan selalu ada untukku. Bukan suamiku atau mertuaku, tapi orang lain yang selalu kuasingkan yang bernama Arnold. Orang yang pertama kali memungutku saat aku berada di kolong jembatan. Bukan, bukan seseorang yang bernama Arka yang saat ini sedang berdiri di hadapanku. Haha, aku baru sadar bahwa aku sebodoh ini."


Sekar tertawa, tawanya menahan sakit.


Arka masih diam mematung. Kata demi kata yang diucapkan Sekar bagai anak panah tajam yang menghancurkan hatinya.


Ia memegang tangan Sekar, "Berikan aku kesempatan untuk mencintaimu," pinta Arka.


Namun Sekar menghempaskan tangan Arka, "Bukankah 5 tahun itu kesempatan yang sangat lama?"


"Arka, 5 tahun sudah aku mencintaimu. 5 tahun sudah aku mengabdikan hidupku, melakukan yang terbaik untukmu, memperlakukanmu sebagai seorang suami, tidak membantah dan melanggar titahmu. Kau ingat bukan bahwa aku sering memakan telur dan indomie? Ya, itu adalah tanda patuhku sebagai seorang istri. Tapi apa balasmu? Kau memperlakukanku tidak lebih seperti seorang pembantu. Kau tahu Arka? Bahkan pembantu pun butuh kebebasan. Maka begitupun aku."


Arka benar-benar mematung. Tidak pernah sedikitpun ia menyangka bahwa Sekar akan berkata seperti ini.


"Sekar, dengar. Aku baru sadar bahwa dalam 5 tahun itu aku mencintaimu."


Sekar tersenyum, "Sama. Aku juga baru sadar bahwa dalam 5 tahun itu aku tersakiti. Betapa bodohnya aku. Selama 5 tahun kita berumah tangga tanpa cinta mengapa aku masih berpikir bahwa kau bisa mencintaiku. Itu tidak mungkin Sekar! Kau miskin! Kau bodoh! Kau buta Sekar kau buta. Lihat Arka. Lihat betapa tampan dan kaya nya dia. Bagaimana seorang sampah sepertimu bisa menjadi ratu di hati seorang pria seperti Arka?! Bodoh kau Sekar! bodoh!"


Sekar memukul-mukul kepalanya. Ia menangis lagi setelah tadi tersenyum sesaat.


"Tidak Sekar tidak! Aku benar-benar akan membuatmu bahagia. Aku sadar, aku sudah sadar. Kau ratu di rumahku dan kau ratu di hatiku."


Sekar menatap Arka, "Yang raja butuhkan adalah seorang ratu bukan pembantu."


"Kadang merpati pun ingin terbang bebas keluar meski sarangnya mewah. Ia tetap ingin merasakan kebebasan dunia luar.Begitupun aku. Terkadang dunia luar tidak sekejam yang terlihat. Dan dunia di dalam, di rumah mewah, suami kaya ternyata tidak menjamin kebahagiaan."


"Sekali lagi ku katakan. Ceraikan aku. Selama ini aku tidak pernah meminta apa-apa kepadamu. Dan bukankah wajar jika seorang istri meninta sesuatu? Ya. Ini adalah permintaan pertamaku sekaligus permintaan terakhirku, c-e raikan aku."

__ADS_1


"Tidak Sekar! Aku ingin kau bahagia."


"Bahagiaku adalah saat kau menceraikan aku, Arka." Selama 5 tahun, inilah kali pertama Sekar memanggil Arka tanpa kata 'Mas'. Ia sudah lelah mengalah pada dunia.


__ADS_2