Satu Hati 2 CINTA

Satu Hati 2 CINTA
Modus Arka.


__ADS_3

Sekar: Aku pernah menyebutnya Sampah. Memangnya kenapa? Jangan lupa bahwa aku juga pemulung.


Seluruh perhatian orang-orang teralihkan kepada Arka dan Sekar. Mereka semua membekap mulutnya dengan mata membulat sempurna. Bukan karena Arka menggandeng tangan Sekar. Tapi karena sudut bibir Arka yang mengeluarkan bercak darah merah. Arka sempat terpukul oleh salah satu preman tadi.


Sekar menolehkan kepalanya ke arah Arka. Melihat apa yang salah dengan pria yang berjalan di sampingnya ini. "A-Arka?"


"Hmm?" Tanya Arka sambil menekan tombol lift. Hendak menuju ruangannya.


"Bibir mu terluka," Arka mengelus sudut bibirnya menggunakan Ibu jari. Arka melihat Ibu jarinya. Benar, itu berdarah. Entah sejak kapan. Yang jelas keduanya tidak ada yang sadar.


"Aku obati ya?" Pinta Sekar.


Obati? Oleh Sekar? Woiya dong keinginan Arka itumah.


Perasaan Arka tiba-tiba saja dagdigdug. Ia tersenyum senang, "Boleh. Nanti ya. Diruanganku," ucap Arka.


Sekar menyempatkan diri ke ruanganan yang bertuliskan 'Mini Hospital' di lantai 10. Di ruangan tersebut ada berbagai keperluan kesehatan. Ada obat-obatan, bahkan alat-alat medis pun tersedia disana meski tidak selengkap rumah sakit pada umumnya.


Arka memang orang yang sangat mementingkan kesehatan. Makannya ia menyediakan ruangan yang disebut rumah sakit mini di setiap lantai di kantornya. Agar ketika ada orang yang sakit bisa langsung di bawa kesana. Tak hanya ruangan, ada juga para pegawai yang menjadi 'dokternya'.


"Sudah bawa P3K nya?" Tanya Arka ketika Sekar sudah keluar dari ruangan tersebut. Sekar mengangguk. Gadis itu memang irit bicara.


"Yuk obati lukanya," pinta Arka.


"Arka kamu darimana saja? Aku men-- Sekar?!" Itu Viona. Gadis itu sudah berada di ruangan kerja Arka entah sejak kapan. Ia sedang duduk manis di kursi ruangan Arka dengan bersidekap tangan di dada. Viona bangkit dari duduk nya.


"Ngapain dia disini?" Tunjuk Viona kepada Sekar.


"Bukan urusanmu," tak sedikitpun Arka menoleh ke arah Viona. Ia duduk di kursi depan meja nya. Mengajak Sekar juga kesana, "Obati ya," pinta Arka. Ia memberikan bibirnya untuk diobati Sekar.


"Wanita jalang! Heh tidak tahu diri kau ya?!" Dengan kasar Viona menarik tangan Sekar. Agar gadis itu menjauh dari Arka.


"Sudah dibuang lalu dipungut lagi?" Sebuah tamparan mendadak mendarat di pipi kanan Sekar. Sampai Sekar memalingkan wajahnya. Rambutnya yang tergerai panjang menutupi wajah Sekar.


"Katanya kau bilang Arka itu sampah! Lalu sekarang apa-apaan ini? Tidak malu kau memakan omonganmu sendiri?" Mata Viona merah menyalang. Gadis itu sudah termakan nafsu setan.


Sekar mengangkat kepalanya seraya memegangi pipi kanannya yang sudah terasa nyut-nyutan bekas tamparan maut Viona.


"Aku memang mengatakan Arka sampah. Tapi apa kau lupa bahwa aku pemulung juga?" Ucap Sekar.


"Oh... berani yah? Kal--"


"Keluar!" Arka memegang tangan Viona yang hendak kembali menampar Sekar. Arka tidak tahu apa yang sedang terjadi di antara kedua gadis ini. Sampah lah. Pemulung lah. Tapi yang jelas Arka tidak mau keduanya bertengkar dan tidak mau Sekar di tampar seperti tadi.


"Kau harus tahu Arka. Hari itu dia mengataimu sampah," adu Viona seraya menunjuk-nunjuk muka Sekar.


"Terus?" Tanya Arka kalem.


"Ya harusnya kau marah! Kau ini Bos besar. Dan--"


"Dan kuminta kau keluar sekarang juga!" Viona mengantupkan bibirnya rapat-rapat. Membulatkan matanya. Menatap Arka dengan tatapan tajam nan sulit diartikan.


"Tuli? Kubantu ejakan lagi. KE-LU-AR!" Arka menunjuk pintu keluar.


"Bajingan kau Arka!" Viona melenggang keluar setelah menghentakan kakinya ke lantai. Ia berjalan dengan menabrak pundak Sekar. Seolah-olah tidak bisa melihat bahwa Sekar ada disana.


"A-Arka apa yang dikatakan Viona barusan benar," Sekar mencoba memberikan penjelasan pada Arka setelah Viona pergi. Sekar akan mengatakan yang sejujur-jujurnya bahwa hari itu ia memang mengatai Arka sampah.


"Nanti jelaskannya setelah mengobati lukaku. Ayo," Arka menarik lengan Sekar. Arka duduk di kursi lalu menempelkan tangan Sekar di sudut bibirnya, "Bagian ini yang sakit." Jelas Arka.

__ADS_1


Sekar sedang tak ingin ambil pusing. Ia akan menjelaskannya setelah mengobati Arka nanti. Tak perduli jika Arka akan marah padanya.


Sekar mengobati Arka dengan berdiri. Arka mendonggakan kepalanya agar bisa dengan mudah Sekar mengobatinya.


"Susah. Aku ambil kursi dulu ya," ucap Sekar.


Arka menahan Sekar, "Untuk apa ambil kursi kalau ada ini," Arka mendudukan Sekar di pahanya. Lalu bagaimana Sekar bisa mengobati Arka jika dengan jarak sedekat ini? Masalahnya tangan dan kaki Sekar bergetar hebat, lemas seketika. Sumpah, seumur-umur inilah pertama kali Sekar duduk di pangkuan Arka. Tidak bagus untuk jantung Sekar duduk berdekatan dengan Arka dengan jarak seperti ini. Apalagi wajah Arka terlihat sangat jelas.


"Kenapa diam?" Arka membuka matanya yang tadi sedang terpejam. Terlihat Sekar sedang meneguk ludah nya kasar.


"Sekar?" Pandangan Arka menurun ke bibir Sekar. Semulanya ia hanya menatap teduh mata Sekar. "Maaf ya," timpal Arka.


"Maaf untuk apa?" Tanya Sekar.


"Untuk ini," tanpa aba-aba. Tanpa izin. Dengan lancangnya Arka menempelkan bibirnya di bibir Sekar. Ia mengecupnya cukup lama dan dalam. Bahkan sedikit menuntut.


Sekar membuka matanya lebar-lebar. Tubuhnya menolak. Tapi hatinya mengatakan jangan. Dusta jika Sekar tidak menikmati ciuman ini. Jantungnya berdebar kencang. Suaranya lebih kencang dari putaran jarum jam.


Arka memegangi tengkuk Sekar. Memperdalam ciumannya. Sekar mencoba berontak. Tapi tidak bisa. Bukan karena kukungan Arka. Tapi karena hatinya berkata tidak. Ada jiwa yang meronta di dalam tubuh Sekar yang mengatakan jangan berhenti.


Kepada siapapun. Maaf, Sekar menikmatinya.


Setelah di rasa cukup barulah Arka melepaskan bibirnya perlahan dari bibir Sekar agar benda kenyal milik gadis itu tidak terluka. Arka mengelus pipi Sekar. Memasukan anak rambut Sekar ke belakang daun telinga.


"Lancang ya? Maaf. Habisnya bibir mu ini mengandung magnet kalau dekat-dekat denganku," Arka menunjuk bibir Sekar.


Sekar menggigit bibir bawahnya, "Jangan di gigit. Semakin menggoda!" Ujar Arka.


Arka mengecap bibirnya, "Habis makan strawberry yah? Rasa strawberry. Enak."


Ayolah Arka, tidak perlu dikatakan juga. Muka Sekar sudah merah padam saat ini.


Lalu untuk apa tadi menyuruh Sekar duduk di pangkuanmu? Untuk modus saja? Dasar Arka!


"Jangan bengong atau ku cium lagi," Arka mendekatkan bibirnya. Hendak melakukannya lagi. Tapi buru-buru Sekar menghindar. Bisa copot jantungnya kalau membiarkan Arka melakukannya lagi. Kini Sekar sudah berdiri.


"Takut sekali dicium," Arka terkekeh kala melihat Sekar bangkit dengan ekspresi terkejut nya.


"Tadi ada yang mau dijelaskan? Silahkan jelaskan," titah Arka.


Tunggu, tunggu. Otak Sekar sedang kosong saat ini. Masih shock berat.


"Hari itu aku mengatakan bahwa kau adalah sampah. Di depan Viona. Dengan lantang dan juga jelas," Sekar terpejam. Pasti setelah ini Arka akan menamparnya. "Lalu aku menyuruh Viona memungutmu."


"Hebat," Arka bangkit dari duduk nya. Arka tepuk tangan.


"Sekar yang pendiam ternyata bisa ganas juga," Arka menatap Sekar dengan tajam. Membuat Sekar kicep. Jantungnya kembali degdegan.


Arka memegang tangan Sekar. Menciptakan ketakutan besar di diri Sekar, "Tampar aku." Sekar mengangkat kepalanya. Tak percaya dengan apa yang dikatakan Arka.


"Tampar aku sebagai balasan karena Viona barusan menamparmu." Sekar terdiam. Ia berusaha menarik kembali lengannya.


"Tahu tidak? Kau pantas mengataiku lebih dari sekedar sampah. Aku pria yang kurang ajar dan tidak bertanggung jawab. Dulu membuangmu lalu mencarimu dan sekarang berperilaku seenaknya kepadamu. Aku lebih dari sampah. Wajar jika kau berkata begitu. Bahkan aku tidak bisa menghentikan Viona saat ia hendak menamparmu. Apa itu kalau bukan sampah?" Arka merunduk. Menyeimbangkan tingginya dengan tinggi Sekar. "Jangan takut aku akan memarahimu. Justru aku takut kau yang akan memarahiku. Berani mengatakan aku sampah itu artinya kau marah padaku. Maaf ya."


Sekar tak mengerti racun apa yang terkandung di kalimat yang Arka katakan barusan. Yang jelas berhasil membuat Sekar hendak terbang dan menangis.


"Aku tahu kata maaf saja tidak cukup untuk menyembuhkan hatimu yang hancur karena setiap tingkah laku ku Sekar. Maka dari itu aku akan berusaha mengembalikan hatimu yang rapuh mulai sekarang. Aku tahu itu susah. Tapi tidak ada yang salah dengan yang namanya mencoba."


Ya Allah, Sekar tidak tahan.

__ADS_1


Sekar ambruk memeluk Arka. Menangis sejadi-jadinya. Tak ingat bahwa ini adalah ruangan kerja Arka. Sekar sangat ingin. Ingin mendengar kalimat ini sedari lama. Dulu, sangat dulu sekali.


Inikah takdir Sekar? Inikah kebahagiaannya? Inikah pria yang akan memberikannya kebahagiaan suatu hari nanti?


Ya Allah, jika Sekar sedang bermimpi. Tolong, jangan bangunkan Sekar. Jangan!


"Aku suka ketika kau menangis karena ku. Tapi mulai saat ini, hanya aku yang boleh membuatmu menangis." Arka mendekap tubuh Sekar serapat mungkin.


"Ya Allah. Jika Arka sedang bermimpi, tolong jangan bangunkan Arka." Setetes air mata luruh dari mata Arka. Sebelumnya, ia tidak pernah merasakan getaran ini.


"Sekar. Aku mencintaimu."


***


Viona mengintip semuanya dengan jelas. Sangat jelas. Tanpa jeda sedikitpun. Ia seperti sedang menonton film dewasa. Dari mulai Arka memandang Sekar, memeluk Sekar dan yang paling parah saat bibir Arka menyentuh..... lupakan!


Tidak pernah sekalipun Arka menyentuh bibir Viona. Paling mentok Viona sendiri yang dengan lancang mencium kening dan pipi Arka. Tapi kalau sampai ke bibir? Tidak. Tidak pernah sama sekali.


Viona mengepalkan tangannya kuat-kuat. Sekujur tubuhnya terasa seperti disiram air panas. Panas sekali. Apalagi bagian hatinya.


Ia melenggang dari sana. Tapi jangan dikata amarah Viona pada Sekar segitu saja. Percayalah, Viona akan kembali.


****


"Bibirmu tipis kalau dilihat. Tebal pas dirasakan." Sumpah, Arka menyebalkan! Sekar itu polos. Jangan di kotori pikirannya. Dasar Arka!


Sekar mencubit lengan Arka pelan. Ia mendengus sebal.


"Itu kali pertamaku ciuman dalam seumur hidup. Selain mencium Papah dan Mamah," ucap Arka.


"Bohong. Viona?" Tanya Sekar.


"Viona? Tidak pernah dibagian sensitif. Lagipula Viona yang sering menyosor," timpal Arka.


"Kak Siska?" Tanya Sekar.


Arka menggeleng, "Tidak pernah. Kan sudah ku katakan kau yang mengambil first kiss ku," ucap Arka seraya mencolek hidung Sekar.


"Kenapa harus aku?" Tanya Sekar.


"Karena," Arka menunduk, "Kau adalah," Arka menunjuk Sekar. "Istriku," Arka menujuk dirinya.


Sebuah senyuman terbit di bibir Sekar seketika. "Tapi kan aku sudah memintamu bercerai," ucap Sekar.


"Masa bodo. Aku tidak akan melakukan itu," jelas Arka sambil tersenyum.


"Tapi kan surat cerainya sudah dibuat!" Tegas Sekar.


"Tinggal di robek. Gampang kan?" Tanya Arka dengan alis naik sebelah.


"Ya tidak segampang itu lah! Perceraian itu bukan permainan," jawab Sekar sedikit ngegas.


"Jangan bahas cerai bisa. Atau---" Arka menggantung ucapannya.


"Atau apa?" Tanya Sekar dengan alis terangkat.


"Atau malam ini kita buat anak," Arka menaik turunkan alisnya.


Sekar berdehem singkat. Sekar meneguk ludah nya kasar, "Permisi ke kamar mandi." Lalu Sekar keluar. Takut terjadi hal-hal yang makin aneh nantinya.

__ADS_1


"Mau bikin anak nya di kamar mandi ya?" Tanya Arka sedikit berteriak karena Sekar sudah berada di luar.


__ADS_2