Satu Hati 2 CINTA

Satu Hati 2 CINTA
Kecelakaan Berujung Maut


__ADS_3

Arka: Jika mimpi itu menyenangkan dan selamanya seperti ini. Aku ingin bermimpi tanpa harus bangun lagi.


.....


"Papah!"


Seorang gadis kecil dengan rambut dikepang dua dan memegang ice cream coklat di tangan kiri serta sebuah balon udara di tangan kanan berlari menuju Arka.


Manik matanya yang berbinar. Indahnya rambut yang terombang-ambing oleh angin sore membuat Arka gemas dan sontak membawa gadis itu kepangkuannnya.


Tidak hanya itu. Arka juga melayang-layangkan tubuh gadis itu di udara tanpa takut jatuh.


Begitupun sang gadis. Bersama Ayah nya, tak ada yang ia takutkan sekalipun itu ketinggian.


"Kara tadi abis liat badut," ujar gadis tersebut dengan lucu nya sehingga membuat Arka gemas dan tidak tahan untuk mencubit pipinya.


"Oyah?" tanya Arka setelah menurunkan gadis kecil berambut hitam pekat bernama Kara.


Kara sendiri merupakan nama yang digabungkan antara dua nama yakni Sekar dan juga Arka. Nama yang sudah disepakati oleh keduanya


"Iya. Telus badut nya joged. Kayak gini joged nya. Papah Alka halus liyat."


Kara menari-nari di depan Arka dengan kedua tangan yang penuh oleh barang bawaan. Ia menari dengan sangat lihai sehingga membuat rambutnya terus melambung di udara.


"Hahahaha. Pasti lucu banget badutnya. Oyah, Mamah Sekar mana?" tanya Arka ketika dirinya tidak mendapati Sekar bersama Kara.


"Mamah Sekal? Tuh. Lagi liatin yang jualan kalung. Katanya mahu kalung," Kara mulai menjilat ice cream coklat nya yang mulai meleleh. Sesekali matanya tertuju kepada balon udara yang bermotif Hello Kitty itu. Dengan gemas, Kara menciumnya layaknya benda itu adalah boneka.


"Yaudah yuk. Ke Mamah Sekar," Arka menggandeng tangan Kara dengan mengambil alih balon Kara. Anak itu sangat senang ketika di genggam tangannya oleh Arka. Ia menari lenggak-lenggok untuk menghampiri Sekar yang sedang melihat-lihat sebuah barang dagangan di pasar minggu dekat rumah Arka.


"Hay sayang," Arka sudah sampai di tempat Sekar. Ciuman hangat langsung ia daratkan di kening mulus Sekar.


"Halo Kara. Udah ketemu Papah ya? Udah ceritain cerita badut nya?" tanya Sekar sambil berjongkok. Menyeimbangkan tinggi nya dengan tinggi Kara.


"Udah Ma. Masa Papah ngetawain Kala sih. Kan Kala jojed nya kayak Om badut tadi," gerutu Kara dengan ice cream yang belepotan di samping bibirnya.


Sekar dan Arka hanya terkekeh melihat tingkah laku lucu Kara.


"Kamu mau beli apa sayang?" tanya Arka. Tangan yang biasanya bergulat dengan keyboard itu kini melingkari pinggang ramping Sekar.


"Kalau yang ini bagus gak?" Sekar mengalungkan sebuah kalung di lehernya. Di perlihatkan kepada Arka untuk dimintai pendapat.


"Bagus. Apalagi kalau kamu yang pake."


Cup!


Sebuah kecupan mendarat di leher jenjang Sekar. Tak ingat tempat tak ingat waktu Arka melakukannya sehingga membuat Sekar mendengus sebal.

__ADS_1


"Nanti Mas di rumah!" Celoteh Sekar. Membuat Arka semakin bergelanyut manja padanya. Bahkan kini ia memeluk Sekar semakin leluasa. Tak membiarkan istrinya itu pergi kemana-mana.


Namun ulah Arka tersebut justru membuahkan insiden. Balon milik Kara yang tadi di genggamnya kini terbang.


Dari mulai rendah hingga semakin meninggi. Kara sadar bahwa balonnya terlepas dari genggaman Arka. Dan ia tidak ingin kehilangan balonnya. Kara membuang ice cream nya sembarangan lalu mengejar balon udara itu yang semakin meninggi.


Saat di tengah jalan. Balon itu benar-benar hilang di sedot langit yang tidak bisa Kara jangkau.


Sayangnya, sebuah mobil dengan kecepatan tinggi sedang melaju ke arah Kara dan Kara tidak menyadari hal tersebut.


"Itu anak siapa?!" ucap pedagang kalung yang tadi sedang barter harga dengan Sekar.


Spontan Sekar dan Arka langsung menoleh ke belakang. Naas, Kara tidak mereka dapati di belakangnya. Hanya ada ice cream coklat yang sudah luluh lantah. Lalu mereka mendapati Kara di tengah jalan dan terdapat sebuah mobil dengan laju tinggi hendak menyerang Kara.


"Karaaaaaa!!" Sekar berlari. Menghempaskan tangan Arka yang sedari tadi melingkar di pinggangnya.


Wanita itu berlari sekuat tenaga agar bisa menyelamatkan Kara.


"Awas!"


Sekar mendorong Kara hingga anak itu terpental dan jatuh ke depan dengan jarak yang lumayan jauh dari mobil truk.


Namun, Sekar hanya bisa menyelamatkan Kara. Tidak bisa menyelamatkan dirinya. Sekar menggantikan posisi Kara yakni tertabrak sebuah mobil truk bermuatan besi.


Kecepatan mobil truk dan jarak yang sangat dekat tak dapat Sekar gunakan untuk menghindar sehingga kecelakaan tak dapat di elakan.


Truk menghantam tubuh Sekar begitu kencang sehingga membuatnya terpental cukup jauh.


"Sekar?!!" kini pria bernama Arka itu sudah sampai di tempat Sekar.


Ia mengangkat tubuh Sekar dan menyimpannya di pangkuannya, di pahanya. Wajah Sekar bermandikan darah. Begitu banyak darah yang mengalir dari kepala, hidung dan juga telinga Sekar.


Denyut nadi wanita itu masih ada. Namun mata nya sudah setengah tertutup. Melihat keadaanya saat ini sangat tidak mungkin rasanya Sekar bisa terselamatkan.


"Sekar?!" ujar Arka sambil terus menangis. Ia tak perduli pada sekitar juga lupa akan Kara. Ia terus memegangi wajah Sekar yang nampaknya sedikit retak.


Perlahan, Sekar membuka sedikit matanya. Di sisa-sisa akhir hayatnya. Saat ia sebentar lagi akan menghadap maut, ia menyempatkan berbicara sepatah dua patah kata kepada Arka.


"Aku mencintaimu, Mas. Namun kau tidak pernah berjuang," Sekar kembali menutup matanya. Rapat serapat mungkin. Bukan untuk sementara. Tapi selama-lamanya.


***


"SEKAR?!"


Ia bangkit dari tidurnya hingga terduduk. Dengan bermandikan keringat di sekujur tubuh. Nafasnya begitu terengah-engah. Arka seperti orang yang baru diselamatkan dari insiden tenggelam dan sudah tahan nafas selama 10 jam.


Ia melihat-lihat sekeliling. Meraba-raba wajahnya. Juga melirik jam dinding.

__ADS_1


"Kamar? Jam 10? ah ****!"


Kini ia mengusap wajah nya gusar. Mencengkram rambutnya keras.


"Argh!" setelah itu ia juga memukul kasur nya.


"Sekar?!" tidak lama kemudian Arka kembali menangis. Dengan memojokan badannya di pinggiran ranjang. Menutup muka dengan kedua tangannya. Melipat kaki.


"Ya Allah aku merindukannya," gumamnya dengan air mata yang terus berderai.


Baru tadi sore Sekar pergi ke panti asuhan. Namun Arka sudah memimpikannya di jam 10 malam. Mimpi yang begitu menyenangkan sekaligus mengenaskan.


"Ya Allah aku merindukannya. Aku merindukan gadis itu. Aku merindukan Sekar," sesekali ia memukul kepalanya sendiri. Merasa bodoh atas apa yang dia lakukan di atas kesadarannya sendiri.


"Ya Allah aku merindukannya," kalimat itu tak berhenti keluar dari mulut Arka seiring dengan air mata yang terus berderai entah kapan akan berhenti.


"Ya Allah maafkan hamba. Bawa Sekar kembali. Bawa Sekar kembali. Sekarang. Sekarang. SEKARANG!" Arka berteriak padahal hari sudah malam.


"Arghhh!" pria itu terus saja gusar. Jambakan rambutnya semakin mengencang beserta isak tangisnya.


"Ya Allah aku merindukannya. Bawa dia kembali. Hamba berjanji, hamba berjanji akan menjaganya. HAMBA BERJANJI!" Arka telah berteriak untuk yang kesekian kalinya.


Dalam seumur hidup, Arka tidak pernah merasa sedepresi ini. Sekalipun soal pekerjaan. Menurutnya, pekerjaan lah hal yang paling membuatnya depresi tapi tidak sampai separah ini.


Rupanya ia telah salah. Pemikirannya telah dibuktikan salah oleh seorang gadis bernama Sekar yang sekarang sedang berada di panti asuhan.


Lelaki berotot, lelaki kuat, lelaki pintar, lelaki hebat. Biasanya itu semua akan menjadi julukan bagi seorang Arka. Tapi sepertinya tidak berlaku untuk hari ini, malam ini.


Ia begitu lemah dan juga bodoh setelah melepaskan Sekar pergi lalu membawanya kembali ke alam mimpi. Mimpi tragis yang akan sulit dilupakan.


Ya, Sekar telah berhasil. Sekar telah berhasil merebut perhatian Arka. Telah berhasil merebut cinta dan hati Arka. Telah berhasil mencairkan es batu itu. Telah berhasil membuat ukiran indah di batu yang dulunya sangat keras dan hanya berwarna hitam pekat.


"Shalat. Ya. Aku harus shalat."


Arka menyudahi tangisannya. Ia bangkit, berusaha menenangkan dirinya dengan Shalat.


Shalat yang ia laksanakan adalah Shalat sunnah beribu kebaikan yang dapat membawa kesejahteraan, yakni Shalat tahajud.


Padahal dulu, dimana Arka akan terbangun lalu Shalat. Biasanya ia tertidur nyenyak karena penat. Sekalinya bangun pasti akan langsung tidur lagi.


Tapi tabiat itu telah musnah karena gadis polos penuh duka bernama Sekar.


Selesai Shalat, Arka menengadahkan tangannya. Meminta sesuatu kepada yang Maha Kuasa. Hal yang tidak pernah ia minta sebelumnya.


"Ya Allah hamba tahu hamba bukanlah pria yang baik yang cocok untuk wanita baik seperti Sekar. Tapi jika Engkau mengijinkan, berikanlah aku kesempatan untuk menjadi pria baik bagi Sekar. Aku tahu kesalahanku terlampau banyak pada wanita itu. Tapi bolehkah aku menebusnya? Bolehkah aku memintanya kembali lalu membahagiaakannya? Hamba tahu Engkau adalah maha pemaaf. Maka maafkanlah segala kesalahan Hamba yang telah menjadi suami yang lalai padahal ia istri yang begitu tulus dan setia. Ambil lah segala harta hamba, ambilah kesehatan hamba, ambilah segala yang telah Engkau berikan kepada hamba. Lalu tukarkan dengan Sekar. Satu pinta hamba saat ini, yaitu Sekar. Hamba tahu hamba bodoh dengan menyia-nyiakan gadis sepertinya. Tapi kebodohan itu sudah hamba sadari. Dan hamba ingin memperbaikinya. Hamba merindukannya. Hamba tidak bisa berada jauh-jauh darinya. Dia istri hamba. Belahan jiwa hamba."


Sesaat kemudian Arka menunduk lalu menyempatkan diri mengusap air matanya.

__ADS_1


"Tapi tidak apa jika Engkau tidak mengijinkan kami bersama kembali. Setidaknya tolong berikan pria yang lebih baik daripada hamba untuk gadis manis itu. Berikan pria yang lebih layak menjadi kekasih dan pasangan hidupnya. Berikan ia pria yang mencintai dirinya. Bukan pria bajin*an seperti hamba. Tapi tolong. Tolong kuatkan hamba ketika hari itu tiba. Hari dimana Sekar bersama pria yang ia cinta," itulah pinta Arka.


Sepenggalan do'a yang tidak pernah ia perkirakan akan terucap dari mulut sadisnya seumur hidup. Hanya untuk seorang gadis yang dulu senantiasa ia siksa dengan kata-kata yang begitu menyakitkan.


__ADS_2