
Sekar: Ia yang hadir ketika aku menyebut nama Allah. Ini kah takdir?
.....
"Ingat, jangan ikat rambutmu!" Perkataan Arka terus terngiang-ngiang di kepala Sekar. Gadis itu memulai harinya dengan senyuman indah seindah mentari pagi. Sekar sedang berada di depan cermin saat ini.
Ia sedang menggunakan bedak. Lip balm dan juga liptin warna merah yang katanya rasa strawberry. Rambutnya tergerai rapih. Sekar menggunakan stelan sweater oversize berwarna cream dan celana levis hitam. Dengan sebuah jam tangan hitam melingkar di lengan kirinya.
Daripada terlihat seperti seorang asisten pribadi, Sekar lebih terlihat seperti anak SMA yang hendak nongkrong di Mall. Sekar benar-benar tidak tahu style. Apalagi dandanan seorang skretaris, biar kata dirinya istri seorang Bos besar. Bagi Sekar, memakai baju itu yang terpenting nyaman. Nyaman bagi diri sendiri. Tidak perduli apa kata orang karena kita yang memakai, kita yang menggunakan dan kita yang merasakan kenyamanan. (Kayak Mimin nih:v)
Suara klakson mobil dari depan membuat Sekar terpaksa menghentikan aktivitasnya. Ia menarik tas selempangnya yang tergeletak di kasur. Tas selempang dengan gantungan bermotif Doraemon.
"Bu. Sekar berangkat yah," ucap Sekar seraya mencium tangan Anisa yang sedang menyapu. Sekar salaman sambil berlari. Ia tidak ingin membuat Arnold menunggu.
"Pagi Sekar," Arnold turun dari mobilnya. Menyapa gadis itu dengan senyuman yang merekah.
Sekar berlari kecil untuk bisa menuju Arnold, "Ayo langsung berangkat saja. Sudah permisi kok sama Ibu Anisa," ucap Sekar. Gadis itu seperti minum multivitamin banyak hari ini. Begitu semangat, antusias, berbinar, semangat 45.
"Senang sekali sepertinya. Pagi-pagi begini sudah happy," tukas Arnold.
"Hehe iya," Sekar menarik nafas dalam-dalam. Ia sungguh ceria pagi ini.
"Cerita dong," pinta Arnold. "Sepertinya sangat menyenangkan sekali," tambah Arnold.
Sekar memajukan duduk nya. Ia memegangi kursi belakang yang di duduki Arnold. Gadis itu sedikit menyibakan rambutnya.
"Kemarin Arka ke rumahku. Tahu tidak? Dia shalat bersamaku, main bersama anak-anak." Senyum di wajar Arnold pudar seketika. Ia senang melihat Sekar senang. Tapi tidak jika itu karena Arka.
"Dan ini bagian paling pentingnya. Arka mengangkatku menjadi asisten pribadinya," Sekar mengatakan itu dengan begitu antusias, "Aku akan di bimbing menjadi seorang asisten. Dan Kak Arnold tahu tidak? Gajih asisten jauh lebih besar daripada gajih seorang cleaning service."
Dada Arnold sesak. Ayolah, Arnold harap ini mimpi. Arnold senang sangat senang saat Sekar tertawa ceria. Tapi tolong, bukan dengan cara ini. Jika boleh egois, Arnold hanya ingin Sekar tertawa bahagia karenanya.
"Lalu kamu menerima tawaran itu?" Tanya Arnold ketus. Ia sudah tidak dapat menyembunyikan kekesalannya.
"Iya. Kata Arka tidak perlu pakai KTP dan Ijazah," jelas Sekar. Gadis itu begitu polos.
"Kamu tahu apa tugasmu?" Tanya Arnold dengan alis memicing. Ia sudah sangat geram.
"Katanya sih me---"
"Melayani Arka! Sudah bisa dipastikan tugasmu nanti adalah melayani Arka, Sekar!" Arnold sedikit berteriak. Membuat Sekar termangu. Sesaat setelah itu Sekar mengerjap-ngerjapkan matanya. Sedari tadi Sekar berbicara santai, mengapa Arnold tiba-tiba ngegas.
"Arka itu memanfaatkanmu?! Tahu tidak?! Dia sengaja menjadikanmu asistennya karena dia ingin kau melayaninya," timpal Arnold dengan mata yang sudah merah menyala.
"Aku tahu kau polos. Tapi bukan berarti kau bisa di bodoh-bodohi begini juga!" Apa yang Arnold katakan sempurna menyakiti hati Sekar. Sekar duduk lebih ke belakang. Jari-jarinya bertautan. Senyumannya seketika pudar.
"Sengaja Arka menyuruhmu menjadikanmu asistennya karena dia ingin kau yang melayaninya. Masa hal yang seperti ini saja harus aku jelaskan?! Dan kau tahu Viona? Viona juga asisten Arka. Arka itu tidak cukup hanya dengan satu wanita." Maaf, Arnold sudah tidak dapat menahannya. Ia emosi seemosi mungkin. Setelah apa yang dilakukan oleh Arka selama ini, seenak jidat ia kembali datang dan berusaha mengambil Sekar. Itu yang ada di pikiran Arnold.
Sekar terdiam. Mematung di tempat. Sekar memang sangat takut ketika seseorang membentaknya. Sekalipun itu Arnold. Terlebih selama ini Arnold jarang membentaknya.
"Ma-maaf," gumam Sekar lirih.
Arnold mengusap wajah nya gusar. Ia meminggirkan mobilnya. Memukul stir dengan begitu kencang. Membuat Sekar terkejut. Sekar tidak mengira Arnold akan semarah itu.
"Sekar?" Tanya Arnold.
"I-iya?"
"Turun," ucap Arnold datar.
__ADS_1
Kepala Sekar menonggak. Menatap pria yang di depannya itu. Benarkah Arnold mengusirnya?
"Aku minta kau turun. Sekarang."
Arnold beranjak dari duduknya. Membuka pintu mobil bagian Sekar. "Kau melayani Arka kenapa harus aku yang melayanimu."
Demi apapun Sekar tidak menyangka ini akan terjadi. Entah ada apa dengan Arnold saat ini. Yang jelas Sekar benar-benar terkejut setengah mati.
Dengan perasaan tak enak hati Sekar turun dari mobilnya. Meninggalkan Arnold yang tampaknya masih emosi.
Benar-benar. Arnold mengusir gadis itu. Meninggalkannya di tengah jalanan sendirian. Tanpa memberi intruksi apapun.
"Sekar kenapa kau naif sekali?!" Arnold meremas kuat rambutnya setelah ia meninggalkan Sekar.
Sebenarnya sudah dari kemarin Arnold kesal kepada Sekar. Ingin tahu kenapa? Arnold sengaja memasukan Sekar ke kantor Arka dengan tujuan agar Arka malu karena Sekar bekerja disana lalu marah kepada Sekar dan hubungan mereka akan semakin renggang. Tapi kenyataannya Arka malah menerima Sekar dengan baik. Membuat Arnold memakan kenyataan pahit.
Lalu kemarin Sekar membatalkan janjinya dengan Arnold karena Arka pula. Padahal Arnold sudah senang setengah mati karena bisa menjemput Sekar dan bisa berduaan dengannya.
Tak sampai situ. Sekarang Sekar mengatakan dirinya akan menjadi asisten Arka. Akan semakin dekatlah Arka dan Sekar. Bagaimana Arnold tidak kesal? Seolah-olah harapannya untuk mendapatkan Sekar kembali pudar. Mengecil, menyempit hanya karena Arka. Dan bodohnya Sekar masih saja menerima kebaikan Arka. Maka dari itu Arnold kesal.
Ia sudah tidak dapat menahan kekesalannya. Tanpa sadar dirinya mengusir Sekar. Sungguh, Arnold tidak berniat seperti itu sebelumnya. Semuanya hanya karena kesal. Dirinya di kuasai emosi tadi.
****
Sekar celingukan. Mencari taksi ataupun angkot atau kendaraan apapun yang lewat di depannya. Jalanan cukup sepi. Mungkin karena hari masih pagi. Tidak ada yang bisa ia kabari. Satu-satunya orang yang biasa Sekar repotkan adalah Arnold.
Atensi Sekar teralihkan kala ia mendengar suara bariton besar para pria. Ada dua motor yang berhenti tepat di depan Sekar. Satu motor mengangkut dua orang. Jumlah mereka ada empat orang Mereka turun lalu menghampiri Sekar.
Panggil saja mereka preman. Karena penampilan mereka. Memakai jaket levis robek-robek. Celana levis robek-robek juga. Memakai rantai, memakai anting hitam dan anting besi serta rambut yang sangat jabrig.
Mereka maju mendekati Sekar. Mengurung Sekar. Membuat gadis itu tidak bisa berkutik apalagi kabur dan melarikan diri. Jumlah mereka yang banyak di tambah badan yang kekar membuat Sekar bergidik ngeri. Sukses membuat Sekar ketakutan setengah mati.
"Neng mau kemana? Ke pasar yah? Cantik banget. Abang anter yuk," seorang pria bertubuh tegap besar mencolek dagu Sekar.
Sekar mundur secara perlahan. Berusaha kabur dari para preman yang menghadangnya saat itu juga. Dan tepat! Ketika dirinya mundur. Satu pria sudah berada di belakangnya. Mencekal tubuh Sekar. Agar gadis itu tidak kabur. Sekar berontak dan berteriak meminta tolong.
"TOLONGGG!!" Sekar berteriak sekuat tenaga. Tak perduli jika pita suaranya harus pecah seketika. Yang ia inginkan saat ini adalah bebas dari para preman yang sepertinya berniat jahat ini, "Tolonggggg!!!" Imbuhnya sekali lagi seraya terus berontak. Semakin Sekar berontak, maka semakin lemas tubuhnya karena pria tegap itu mencekalnya. Mencengkram kedua lengan Sekar. Membuat gadis itu kesusahan bergerak.
"Aku mohon. Tolongg... lepaskan," ringis Sekar. Tangisannya sudah pecah. Entah sejak kapan. Ia hanya takut sesuatu yang buruk menimpa dirinya.
"Kenapa harus di lepaskan? Jarang-jarang loh ada wanita cantik seperti dirimu," pria dengan rambut panjang dan gimbal mengelus pipi Sekar.
"Enak untuk dijadikan santapan pagi, siang dan malam. Iya gak bro?" Timpal pria ketiga sambil menaik turunkan alisnya.
"Tolongg!!" Sekar memejamkan matanya rapat-rapat. Satu-satunya yang bisa ia mintai tolong saat ini hanyalah Allah semata. Berharap ada keajaiban yang bisa menolongnya. Meski itu sedikit mustahil.
Sekar membuka matanya saat orang yang tadi memegangnya sudah berhenti. Disusul suara pukulan yang menggema dan suara ambrukan seseorang.
"Bajingan! Aku saja tidak berani menggodanya seperti itu! Setan!" Arka memukul pria yang tadi mencekal lengan Sekar. Memukulnya sekuat tenaga hingga pria itu jatuh tersungkur dengan pelipis yang berdarah. Arka tidak sendiri. Ada Zaki bersamanya. Mereka menghajar pria itu habis-habisan.
Arka menindih salah satu diantara mereka. Melayangkan pukulan demi pukulan tepat di wajahnya, "Kuingatkan kau! Jika kau melihat perempuan ini lagi jauh-jauh darinya atau kupastikan kau tidak akan menginjakan kaki lagi di muka bumi ini!"
Terakhir. Arka meninju mukanya dengan sangat kencang. Darah keluar dari mulut si pria. Zaki datang dan menghentikan Arka yang memukul orang seperti kesetanan.
"Sudah Ka. Kalau dia mati kita juga yang di penjara," Zaki mengangkat tubuh Arka. Dada Arka naik turun. Nafasnya berubah menjadi satu-satu. Ia benar-benar emosi.
"Pergi kalian berandal!" Usir Arka. Menendang pria yang sedang terkapar. Ketiga orang lainnya berdiri dengan tertatih-tatih. Nyeri di sekujur tubuh melanda bekas bogem mentah Arka.
Setelah kepergian para berandal itu Arka beralih menatap Sekar. Sekar mematung di tempat. Suhu tubuhnya sangat dingin. Ia tak mampu berkata-kata. Terkejut sekaligus takut. Apalagi saat melihat Arka memukuli preman tadi habis-habisan. Sekar benar-benar takut. Tubuhnya bergetar hebat.
__ADS_1
"Sekar? Tidak usah takut," Arka memeluk tubuh Sekar. Membiarkan gadis itu menangis dan menyelesaikan keterkejutannya di tubuh Arka.
"Tidak usah takut ya. Tidak usah menangis lagi. Mereka sudah pergi kok," ucap Arka seraya mengelus halus punggung Sekar.
Sekar membekap mulutnya. Ia memeluk Arka. Seluruh tubuhnya bergetar hebat.
"Ini pasti belum sarapan. Tubuhnya gemetaran gini," Arka terkekeh. Tubuh Sekar benar-benar bergetar seperti tersengat listrik.
"Manis. Jangan takut dan jangan menangis ya. Yang penting mereka sudah pergi. Coba lihat kesini. Lihat ke depanmu. Ini Arka," Arka menunjuk dirinya. Merapihkan rambut Sekar. Memasukan rambut Sekar ke belakang telinganya.
Mata Sekar yang sedari tadi menatap jalanan beralih melihat ke arah Arka. Iya, itu memang Arka. Jawaban dari do'a Sekar. Keajaiban yang Allah berikan. Pertolongan yang Allah berikan. Malaikat pelindung yang datang secara tiba-tiba. Penyelamat nasib Sekar.
"Ka. Gue balik ya. Ke kantor duluan. Ada yang harus di kerjakan," Zaki pamit. Ia pergi menggunakan sepeda motornya.
"Makasih ya, Zak." Arka melambai-lambaikan tangannya pada Zaki kemudian pandangannya tertuju kembali pada Sekar. "Sudah selesai belum deg-degannya? Kalau sudah bisa kita pergi sekarang? Disini berbahaya. Bisa saja mereka kembali lagi dengan jumlah orang yang lebih banyak. Ayo."
Arka meraih tangan Sekar. Menggandeng tangan gadis itu dan memasukannya ke dalam mobil. "Hati-hati," ucap Arka sambil memegangi kepala Sekar agar tidak terbentur bagian mobil.
Di dalam mobil Sekar belum mengatakan apa-apa. Sekar masih shock. Degup jantungnya saja masih belum berjalan normal.
"Sekar?"
"Sekar?"
"Eh iya?"
"Kok Mas Arka bisa ada disana?" Kalimat itulah yang pertama kali lolos dari mulut Sekar. Sekar tidak mengerti mengapa Arka bisa dengan tiba-tiba ada di sana.
"Aku tadi pagi ke panti asuhan. Menjemputmu. Tapi kata Bu Anisa kau berangkat bersama Arnold. Maka dari itu aku melanjutkan perjalanan lewat jalan ini. Di tengah jalan, aku bertemu Zaki yang sedang berada di toko bunga. Jadi aku mengajak Zaki berangkat bersama. Tadi, aku tidak sengaja melihat Arnold menurunkanmu di tengah jalan. Disaat yang bertepatan langsung datang para preman yang menyergapmu. Aku turun dan langsung menghajar mereka. Dengan bantuan Zaki juga," jelas Arka. Sesekali ia mengusap peluh yang ada di keningnya. Pukul memukul dengan para preman itu cukup menyita tenaga Arka.
"Sekar?" Sekar menoleh. "Aku benci ketika mereka menggodamu. Apalagi ketika mereka mencolek dagumu. Kalau saja tadi Zaki tidak ada, pasti aku akan membuat pria tadi langsung tidak bernyawa."
Sekar tidak mengatakan apa-apa. Gadis itu masih terkejut setengah mati.
"Masih takut ya? Kalau mas--- Sekar baju belakangmu robek!" Arka sedikit berteriak. Sekar menoleh ke belakang. Meraba-meraba bagian belakang bajunya, "Ya Allah!" Pekik Sekar.
Arka tersenyum simpul. Berusaha membuat gadis itu tidak lagi ketakutan, "Kita berhenti di toko baju sebentar ya."
Sebenarnya Sekar tidak mau. Tapi untuk kali ini ia tidak bisa menolak.
"Ayo turun," pinta Arka ketika sudah sampai di sebuah butik. Butik yang mewah nan besar. Padahal mereka kesini hanya untuk membeli satu buah baju saja. Arka membukakan pintu mobil Sekar. Mengulurkan tangannya pada gadis itu.
"A-aku tidak bisa," Sekar merunduk. Tak berani menatap Arka.
"Kenapa?" Tanya Arka dengan kening mengerut.
"Ba-bajuku robek."
Arka mangut-mangut, "Ohh itu. Urusan itu gampang," Arka membuka jas warna abu-abu nya. "Pakai ini saja biar bagian yang terbuka nya tidak kelihatan."
Sekar tidak langsung menerimanya. Ia malah melihat Arka dengan tatapan tak percaya.
"Ayo. Kita harus segera ke kantor. Nanti kesiangan."
Perlahan Sekar berdiri. Arka memasangkan jas nya ke tubuh Sekar tanpa memakaikannya dengan benar. Hanya untuk menutupi bagian belakang tubuh Sekar yang bajunya sedikit robek.
"Pilih baju yang kau suka dan nyaman ya. Asal jangan terlalu sexy," ucap Arka.
Sekar tak banyak pilih. Gadis itu memilih sebuah kemeja dengan lengan panjang dan ukuran besar. Kemeja berwarna putih polos tak banyak motif.
__ADS_1
"Tak perduli sepolos apapun bajunya. Kalau Sekar yang pakai pasti terlihat anggun dan cantik," gumam Arka ketika Sekar sudah keluar dari ruangan mengganti baju.
"Yang itu ya bajunya? Cocok kok. Ayo berangkat."