
Arka: Dan janganlah kau membangunkan singa yang sedang tidur jika tidak siap diterjangnya.
Sekar: Maaf, ku kira suamiku itu bukan singa.
.....
"Arka bangun yuk. Kita sarapan," sudah hampir tujuh kali Sekar membangunkan kebo tampan itu. Entah dengan cara di guncang-guncang, bahkan Sekar pun berani mencubit lengan Arka.
"Arka? Mau bangun tidak? Bangun yuk," Arka tetap tak menggubrisnya. Ia menarik bantal. Digunakan untuk menutupi telinga nya.
"Ka udah jam 8. Kamu gak mau lari pagi lagi?" Tanya Sekar.
"Arka?" Tak ada jawaban. Sekar naik ke atas kasur. Mencoba membuka mata suaminya itu. Tapi nihil, Arka tak bangun sama sekali.
"Yaudah. Aku izin lari pagi sama tukang siomay ya Ka. Ba---"
Lengan Sekar di tarik Arka. Di bawa ke dekapannya. Memeluknya erat. Di jadikan guling.
"Barusan ngomong apa?" Tanya Arka ketus.
Sekar berniat menggodanya. Kali saja Arka akan bangun, "Izin lari sama tukang siomay."
Arka menulikan pendengarannya, "Izin apa? Izin minta bikin utun pagi-pagi? Oh yaudah ayo." Arka bangkit dari tidur nya. Memposisikan dirinya. Menindih tubuh Sekar. Menghimpit tubuh wanita itu dengan kedua tangannya.
Sekar hanya menatap Arka kesal. Setiap mau menggoda Arka kenapa ujung-ujungnya selalu Arka yang menang banyak?
"Sayangnya Arka tadi mau apa, hm?" Kini tubuh Arka berada di atas tubuh Sekar. Matanya sudah terbuka lebar.
"Abis nya kamu gak bangun-bangun Ka. Udah jam 8," Sekar gelagapan. Takut-takut Arka beneran murka terus minta jenguk utun pagi-pagi begini. Bukan apa-apa. Masalahnya, kemarin saja jam 2 malam baru berhenti?!
"Oh. Terus kalau aku gak bangun kamu mau apa? Nyari yang lain gitu?" Kan benar. Sekar selalu saja kalah.
"Bukan gitu ih Ka. Cuman bercanda, hehe."
"Bercanda nya gak lucu. Aku jadi marah," ucap Arka datar.
"Ya maaf. Abis nya aku bosen Ka di kamar hotel," rengek Sekar.
"Kok bosen? Kan ada aku," udahlah. Cewek mah serba salah. Iya gak Sekar?
"Iya deh iya. Kamu tidur lagi," Sekar merotasikan bola matanya. Ini yang cewek sebenarnya siapa sih? Perasaan Sekar salah mulu dah.
"Tidurnya mau sama Sekar," ucap Arka valid no debat.
"Aku mau keluar. Mau sarapan," ucap Sekar. Berusaha keluar dari kukungan Arka.
Sekali hentakan saja tangan kekar pria itu sudah berhasil membawa Sekar ke bawah kekuasaanya. Membuat gadis itu bungkam seketika. Merangkum kedua sebelah pipinya. Mencumbu nya dengan mesra.
__ADS_1
"Itu baru sarapan," Arka mengecap bibirnya. "Bibir kamu pagi-pagi kok kenyal sih?"
Bismillah. Sekali hentakan, Sekar berhasil mendorong tubuh Arka hingga pria itu terpental. Kemudian Sekar menginjakan kaki nya keluar.
"Sekar jangan keluar pake baju itu! Atau pas pulang aku bikin bibir kamu bengkak! Sekar!"
Sekar mengibaskan rambutnya. Acuh tak acuh pada apa yang dikatakan Arka. Tetap melangkahkan kakinya keluar. Dengan langkah sedikit tergesa-gesa. Sebenarnya ia sendiri tidak begitu berani keluar dengan penampilan se sexy itu. Tapi berada di dalam sana bersama Arka, pun buruk untuk kesehatan jantungnya.
"Ya Allah sexy nya Sekar cuman buat Arka," Arka meraih hoodie milik Sekar. Kemudian berlari keluar menyusul gadis itu.
Langkah Sekar berhenti di tengah-tengah ketika semua sorot mata tertuju padanya. Bisa dipastikan karena penampilan Sekar yang begitu minim. Hot pants disertai t-shirt pendek.
Arka berhasil menemukan wanita mungil itu. Ia melebarkan jaket hoodie nya. Di pakai menutupi tubuh Sekar dari belakang. Kemudian menggendong gadis itu dari depan. Membawa nya kembali ke kamar hotel.
"Bandel banget sih," cercah Arka sambil menggendong Sekar.
Sekar tak berontak. Ia juga malu kalau harus berjalan seperti itu. Ditambah, sepertinya Arka marah pada apa yang dilakukannya.
Hingga sampai di kamar hotel. Arka menjatuhkan tubuh Sekar ke kasur dengan sedikit kasar.
"Tadi mau kemana hm? Berani keluar pake baju gitu?" Dan sekarang barulah Sekar bisa melihat kekesalan di wajah Arka.
"Bu-bukan gitu Ka. A-abis nya kamu ta-tadi," kalau sudah di hadapkan dengan raut muka garang Arka. Sekar pasti koyah. Keberaniannya lenyap.
"Suka banget kayaknya bikin aku cemburu atau marah," Arka melepaskan jaket hoodie yang Sekar kenakan. Gadis itu menunduk. Dengan melawan, ia takut marah nya Arka akan semakin besar.
"Kalau suami bicara. Boleh angkat kepala?" sekar memejamkan matanya rapat-rapat sebelum akhirnya mengangkat kepalanya.
"Ma-maaf," ucap Sekar dengan suara parau. Badannya sudah mulai bergetar.
Arka menghela nafas dalam, menghembuskannya dengan kasar. Menunduk. Berjongkok agar bisa berdiri seimbang dengan Sekar. Mengusap halus pucuk kepala gadis itu.
"Sekar. Lain kali jangan keluar pake pakaian gini ya. Lagian kan Bandung dingin. Kalau kamu masuk angin gimana?"
Dan pada kenyataannya. Arka lah yang lemah jika di hadapkan dengan wajah sedih dan ketakutan milik Sekar.
Arka merangkup kedua belah pipi Sekar. Mengangkat kepalanya agar menatap matanya.
"Ya? Suami mana sih yang mau istri nya di lirik sama orang lain. Aku itu cemburu nya besar. Jangan coba-coba buat aku cemburu ya. Atau malam ini lima belas ronde."
Ingin sekali Sekar mencakar wajah Arka. Mesum dasar! Tapi ia kembali mengingat bahwa kali ini memang salah nya. Maka Sekar lebih memilih bungkam.
"Maaf," gumam Sekar lirih.
"Maaf diterima. Tadi kenapa? Mau sarapan yah? Ayo sarapan," Arka bangkit dari duduk nya. Hendak berganti baju dan keluar untuk sarapan.
Belum juga Arka melangkah, Sekar menarik lengan pria itu. Menundukannya. Mendekatkan wajah nya ke wajah Sekar. Hingga bibir dan bibir bertautan.
__ADS_1
"Ini sarapan pagi nya. Arka sayang," setelah itu Sekar berlari ke kamar mandi. Menggosok-gosok bibir nya yang mendadak panas.
Dan Arka. Pria mesum itu terpaku di tempat dengan memegangi bibir nya yang baru saja di cium Sekar.
"Baper," gumam Arka di akhiri kekehan kecil.
****
"Matanya di jaga!"
"Mulutnya di jaga!"
"Itu mulut jangan mancing-mancing!"
"Ini tempat umum loh Sekar. Jangan sampai kebablasan!"
Entah ada apa dengan Arka. Sekar menengok ke kiri sedikit, di kasih peringatan. Sekar tersenyum dikit, di kasih peringatan. Sekar mengunyah makananpun di suruh di jaga mulutnya. Terus Sekar harus makan lewat mana? Lobang idung?!
Tapi aneh nya Sekar suka di perlakukan seperti itu oleh Arka. Seolah-olah dirinya special.
"Iya Arka. Kamu gak makan?" Sekar menoleh ke piring Arka yang masih berisi penuh. Pria itu bahkan belum menyentuh makanannya sedikit pun.
"Iya. Nanti makannya nunggu kamu selesai makan."
"Hah?"
"Kalau gak di perhatiin. Mata kamu kemana-mana. Soalnya di sana ada banyak pemuda," Arka menunjuk ke salah satu meja bundar yang di kerumuni banyak pemuda tampan di sana. Bukan salah Arka terlalu possesif, masalah nya pemuda disana sedari tadi terus melambai-lambaikan tangannya pada Sekar. Sesekali tersenyum. Bahkan ada yang mengedipkan matanya dan menaik turunkan alisnya. Menggoda Sekar.
"Acuhin aja Ka. Aku gak papa kok. Kamu makan yah. Biar abis ini kita pulang," Sekar mencoba menyuapi Arka.
Mata Arka tertuju terus pada meja bundar itu. Menatap para pemuda yang ada di sana.
"Kayaknya yang pake kaos belang itu keterlaluan deh. Terus ngeliatin kamu," melihat bagaimana tatapan Arka pada mereka Sekar jadi khawatir. Takut ada adegan baku hantam di restoran.
Hingga saat yang paling di takutkan pun tiba. Pria yang mengenakan stelan kaos belang yang di maksud Arka tadi menghampiri Sekar dan Arka. Memasang senyuman selebar mungkin.
"Hai cewek. Namanya siapa?" Tanyanya tak sopan. Arka masih diam memperhatikan. Melihat apa yang akan di nantikan pemuda ini selanjutnya.
"Nama gue Haikal. Tuh, anak band. Di sana temen-temen gue. Ini..." ia menoleh ke arah Arka. "Kakak lo 'kan?"
Menatap Haikal, anak band kurang ajar.
Membangunkan Arka
__ADS_1
Menatap Haikal, anak band kurang ajar.