
Viona, Sekar dan juga Tami sudah kembali dari pusat pembelanjaan. Ketiganya tertawa ria sembari sesekali saling merangkul. Meski sulit, Sekar berusaha untuk ikut tertawa seolah dunianya sedang baik-baik saja.
"Ingat! Sejauh ini perlakukan Sekar sebaik mungkin, tidak ada bantahan! Baik dia adikmu, atau istrimu, perlakukan dia layaknya ratu! Tapi papah akan segera pastikan bahwa Sekar adalah istrimu, istri sah mu, wanita yang harus kau tiduri! Dan hentikan hubunganmu dengan Viona!"
"Tap-"
"Hallo. Udah selesai ngobrolnya?"
Belum juga Arka selesai dengan perkataannya, Tami dan yang lainnya sudah datang sehingga membuat Arka harus membungkam mulut dan menyudahi semuanya agar tidak akan ketahuan.
"Udah, pulang yuk."
Arman dan Arka bangkit dari duduknya seraya memasukan barang berharga seperti kunci mobil dan handphone ke dalam saku celana.
"Viona, kamu pulang sama siapa?" Tanya Arka, dilihatnya tangan Viona yang sudah bergelangkan tas belanjaan. Gelangnya seperti orang India, banyak sekali. Matanya kemudian beralih melihat barang bawaan Sekar, belanja selama itu namun dirinya hanya membawa 1 tas saja? Pening kening Arka kalau sudah memikirkan kesederhanaan Sekar.
"Gak tau." Viona menggeleng, manik matanya berbinar seakan-akan meminta kepada Arka untuk mengantarnya pulang.
"Viona pulang bareng kita aja ya sayang, kalau naik Taksi kasian, udah malem, bahaya di jalan."
Kode Viona mengajak Arka pulang bersama gagal, pupuslah sudah harapannya untuk bisa pulang bersama Arka mana kala malah Tami yang mengajaknya pulang bersama.
"Itu benar, pulanglah bersama Mamah dan tidur cepat, besok kau harus bekerja." Titah Arka sambil berlalu dengan menggandeng tangan Sekar. Sekar tidak berkutik karena ia sadar sedang dalam zona kebohongan yang menyatakan dirinya dan Arka harus bertingkah seolah-olah suami-istri pada umumnya, jadi ia diam saja ketika tangannya di gandeng Arka.
"Yasudah ayo."
Semuanya berjalan terlebih dahulu, kecuali Viona. Ia menghentakan kakinya ke lantai sekuat mungkin, kesal tidak jadi pulang dengan Arka dan melihat tangan Sekar di gandeng. Namun itulah nasib kekasih bayangan atau kekasih gelap, hanya terlihat dan dilihat saat gelap.
***
Sudah hampir setengah jalan meninggalkan restoran namun keduanya belum ada yang angkat suara dan berbicara.
Bayangan saat Arman mengatakan bahwa Arka harus berlaku baik pada Sekar kembali muncul mengitari kepalanya. Kemudian ia melirik ke arah Sekar, dilihatnya gadis itu sedang menatap ke luar lewat jendela samping. Wajahnya yang mulus tersorot oleh lampu jalan membuat kesan aetestic.
Namun bukan aetestic di mata Arka, melainkan menggoda. Ingin sekali ia tarik dagu itu dan melahapnya.
Kring
Di sela-sela lamunannya, getaran handphone berbunyi sehingga membuat Arka harus berhenti menatap Sekar.
"Halo, Pah?"
"Iya mengerti, Arka akan lakukan!"
Entah dalam keadaan sadar atau tidak ia mengatakan bahwa ia akan melakukan titah Arman.
Ingin tahu apa titah Arman? Ya, Arman menyuruh Arka untuk memperlakukan Sekar dengan baik, no more rude! Tidak ada main kasar lagi!
Arka terjerat ucapannya sendiri. Jika dirinya sudah berkata dan berjanji, maka tiada dusta harus ia tepati.
"Sial*n!" Batinnya kesal.
"Sekar?" Akhirnya Arka memulai aksinya, belajar baik pada Sekar.
"Ya?" Tanya Sekar sambil melihat wajah Arka.
"Belanja apa itu?"
Mata Sekar membulat, ia tersentak kaget oleh apa yang ditanyakan Arka karena yang dibelinya adalah baju penggoda (baju tidur pengantin yang kainnya tipis) dan ia tidak berani untuk mengatakannya pada Arka.
"A-anu ini eum."
Melihat Sekar gelagapan Arka menjadi merasa bersalah karena takut pertanyaannya itu salah.
"Sudah! Tidak usah di jawab kalau susah!" Bentaknya.
"Baiklah." Jawab Sekar sudah menunduk.
"Sudah makan?" Tanya Arka.
Sekar menganga.
"Hah?" Tanyanya.
"Sudah makan?" Ulang Arka.
"Bukannya kita baru pulang dari restoran?" Tanya Sekar.
Malu, ya itulah yang dirasa oleh Arka. Ia kemudian mengusap wajahnya gusar, dirinya sangat stress karena tidak tahu bagaimana cara bersikap baik pada orang lain, ia tidak tahu apa yang harus dikatakan.
Dulu ia memang sangat baik. Tapi setelah ditinggalkan oleh Siska kepribadiannya menjadi berubah 180°. Ia sudah lupa bagaimana caranya menjadi orang baik saat ini.
"Maksudku euh apa kau masih lapar?" Tanyanya dengan gelagapan juga, Sekar menggeleng pelan.
"Baiklah, awas kalau lapar tengah jalan!" Akhirnya bentakan kembali keluar dari mulut sexy nya, susah sepertinya bagi Arka untuk berbicara lembut dan manis.
Lampu rumah sudah menyala, gorden sudah ditutup meski pemilik rumahnya tidak ada, itu pasti Waluyo yang melakukannya.
__ADS_1
"Sini, aku bawakan." Kalimat izin nya tidak tulus, ia langsung mengambil barang belanjaan Sekar yang hanya satu kantong berisi 3 piyama saja.
"Tidak usah." Larangnya, ia takut Arka melihat isinya.
"Diam lah! Kau perempuan dan tidak boleh membawa barang berat!"
Akhirnya Sekar kalah. Daripada berdebat dengan Arka ia lebih memilih diam di tempat kemudian membatin "Berat? Beratan juga baju yang saya pakai di banding belanjaan itu."
"Saya permisi tidur." Ucapnya pada Arka tanpa melihat wajah Arka yang lebih tinggi dari nya sedikitpun.
"Eh, tunggu." Henti Arka.
"Kenapa?" Tanyanya tanpa membalikan badan sedikitpun.
"Mau kubuatkan susu?"
"Tidak usah."
"Teh?"
"Tidak usah."
"Kopi?"
"Aku tidak ingin berdagang."
"Bandrek?"
"Tidak perlu."
"Baiklah, tidur sana! Kalau haus minum saja air kran!"
Arka pergi, ia kesal karena segala kebaikannya di tolak, uring-uringan sendiri jadinya. Sadar bahwa Arka telah menjauh, Sekar memalingkan badannya melihat Arka, diangkatnya sebelah alis.
"Jangan-jangan steak tadi mengandung racun membuat suami candu pada istri?"
Namun terserah mau seperti apa Arka padanya. Jika malam ini baik, besok pagi juga pasti langsung galak. Tidur adalah pilihan terbaik untuk menghilangkan penat.
Di sebuah kamar, dimana jam dinding menunjukan pukul 12 malam, ada sepasang mata yang masih terjaga, dan jari yang beradu dengan keyboard.
Mata Arka enggan untuk terpejam, setiap kali ia berusaha menutupnya bayangan bagaimana janjinya akan berbuat baik pada Sekar terpampang jelas.
Seolah-olah wangsit sekitarnya berbisik tiada henti.
"Berbuat baik pada Sekar."
"Berbuat baik pada Sekar."
Kini dirinya sedang berada di dunia sosial media. Bukan sedang chattingan, main game apalagi Tiktokan. Dirinya sedang mencari sesuatu, sesuatu yang akan ia hadapi esok hari.
"Cara memperlakukan istri dengan baik." Ya, itulah yang kini sedang ia cari di Google.
"Argh!" Ia geram kala melihat apa yang ia dapatkan tidak sesuai dengan ekspetasi nya dan tidak ada satupun yang dapat membantunya.
• Puaskan ia di ranjang
• Membantunya memasak
• Elus rambutnya, cium keningnya
• Tidurkan ia di paha Anda, lalu simpan tangan Anda di pinggangnya
"Argh!"
Arka menutup laptopnya dengan kasar.
"Mentang-mentang aku mencarinya jam 12 malam, yang keluar begini semua!"
Ia tidak menyangka ternyata urusan istri dan rumah tangga lebih rumit daripada urusan kantor.
Jika boleh memilih Arka mungkin lebih memilih menandatangani 1.200 berkas daripada mencari satu cara membahagiakan istri, hal yang seumur hidupnya belum pernah ia lakukan.
Daripada percaya pada Google atau laman internet lainnya, Arka lebih memilih menelefon sahabat yang sudah berpengalaman di bidang rumah tangga.
"Hallo, Za?"
Terdengar seseorang yang di panggil 'Za' itu menyahuti Arka.
"Ngapain Arka jam segini nelefon? Mau ngepet ya?" Tanyanya dengan suara berat, pasti ia sedang tidur.
"Ada yang ingin kutanyakan." Jika disana Za sedang tidur, maka disini Arka sedang memainkan kuku jarinya dan sesekali menggigitnya, ia malu mau bertanya tentang hal ini.
"Kuberi kau 3 permintaan, monggo. Habis itu tutup telefonnya, aku mau tidur Arka!" Bentak Za.
"Baiklah, satu saja cukup."
"Buruan!"
__ADS_1
"Bagaimana cara membahagiakan istri?"
Za terperanjat, matanya sudah terbuka sempurna bahkan ia sampai terduduk. Pertanyaannya sih satu, tapi jawabannya bisa seribu.
"Gimana?" Tanya Arka karena belum kunjung mendengar Za menjawab.
"Gila kau! Harusnya kau tanyakan pada istrimu apa hal yang membuatnya bahagia."
Za yang tadi sedang tidur dengan istrinya kini harus terpaksa terbangun dan keluar agar tidur istrinya tidak terganggu.
"Itulah dia, dia hanya diam saja kalau aku perlakukan dengan baik." Stress Arka.
"Itulah dia! Berarti istrimu bahagia dengan diamnya!" Bentak Za dengan semakin kasar karena sudah berhasil keluar dari kamar.
"Come on, Za! I need you right now." (Ayolah, Za. Aku membutuhkanmu sekarang.)
"Hmm, kalau Sirene biasanya sih doyan makan dan belanja, kalau ia sedang stres atau marah-marah akan kubawa dia ke Mall lalu mood nya langsung bagus dan ia berubah menjadi baik sebaik mimi peri." Jelas Za.
Arka memijit keningnya, pening.
"Itu sudah kulakukan. Tadi dia sudah belanja, belanjaannya kau tahu semana? Seisi map kerjaku. Aku rasa dia tidak suka belanja."
Kini gantian Za yang memijit keningnya. Memang cukup susah menghadapi Barbie pendiam bak Sekar.
"Namanya Sekar ya? Hmm bagaimana kalau belikan dia motor?" Saran Za.
"Dia tidak bisa naik motor." Jawab Arka.
"Kalau begitu belikan dia mobil." Saran Za lagi.
"Dia juga tidak bisa naik mobil." Ucap Arka.
"Belikan saja dia sepeda!" Tutur Za.
"Panas! Buat apa sepeda? Jualan cucur?" Tanya Arka.
"Kalau begitu belikan dia Jet, Kapal Ferry, Helikopter! Sekalian belikan dia Venus, Jupentus. Aku mengantuk Arka!"
Tut tut tut
Brak
Arka melempar ponselnya. Sahabat satu-satunya, sahabat yang selalu bisa ia andalkan pun tidak bisa membantunya sama sekali.
Arman, ya. Arka tiba-tiba teringat pada sang Ayah. Arman lah yang menyuruh Arka untuk berbuat baik pada Sekar maka pasti Arman pula yang memiliki cara bagaimana melakukan kebaikan itu, itulah pikir Arka.
"Halo, Pah?"
Tidak perlu waktu lama, Arman sudah mengangkat telefon Arka. Dirinya yang sudah tua memang suka begadang.
"Gimana sih Pah caranya ngebaikin Sekar? Arka tuh kayak berbuat baik sama boneka kalau sama Sekar. Ditanya itu, diem atau nggak gak mau, ditanya ini pun begitu. Arka jadi pusing." Gerutu Arka.
Alih-alih menjawab, Arman malah tertawa, tawanya seperti mengejek.
"Bagaimana? Sulit juga kan mengurusi urusan istri?" Tanya Arman disela-sela tawanya.
"Ayo Pah, beritahu! Kepala ku seperti akan meledak dalam dua menit lagi."
"Baiklah, baiklah. Simple saja, namun sedikit rumit."
Arka mengernyitkan dahi. 'Simpe namun rumit?' Arman seperti orang mabuk saja.
"Bantu Sekar mengurusi pekerjaan rumah." Ujar Arman.
Arka tersenyum, senang karena memang sesimple itu.
"Si simpel itu kah? Haha mudah! Akan Arka cari ART besok pagi, kalau perlu malam ini juga! ART yang handal yang bisa masak, cuci sama gosok."
Di seberang sana Arman menggeleng.
"Tidak usah mencari ART lagi kalau sudah ada." Tukas Arman.
"Hah? Siapa?"
"Kamu."
"Maksud Papah?"
"Kamu yang harus mengurusi pekerjaan rumah."
Arka berdecak sebal, mengapa pula harus dirinya.
"Baiklah. Akan Arka urusi semua pekerjaan rumah, itu simple." Ujarnya sambil menjentikan jari.
"Kedengarannya simple, rasakan lah kerumitannya besok."
Tit tit tit
__ADS_1
Akhirnya Arka bisa tidur setelah mendapatkan jalan keluar. Ia menutup matanya dan menanti esok hari datang menjelang dengan hati senang.
"Besok akan kubuktikan bahwa aku adalah suami yang hebat, lihat saja." Ujarnya.