
Arka: Mertuaku adalah ratu, bagian dari istana yang harus di hormati juga.
Arka dan Jayur kembali berangkat untuk menemui Lestari pagi ini. Mereka sudah mendapatkan kunci rumah tempat Lestari berada dari teman Jayur kemarin.
Keduanya berjanji akan bertemu di lobby hotel. Setelah Jayur sampai. Tanpa menunggu waktu lama keduanya lantas tancap gas. Menuju ke rumah Lestari. Hati Arka berdebar sangat kencang.
Bertahun-tahun lamanya ia tidak menemui Ibu dari kedua gadis yang singgah di hatinya. Bertahun-tahun lamanya Arka tidak melihat Lestari. Bagaimana keadannya sekarang. Katanya Lestari gila. Apa dia tetap baik-baik saja? Apa yang akan Lestari katakan saat bertemu Arka nanti? Marahkah ia? Semua pertanyaan itu terbesit di benak Arka. Ada berbagai asumsi yang Arka keluarkan. Ketakutan mendominasi hatinya saat ini.
****
Mata Arka tak lepas dari wanita yang saat ini sedang berada di depannya. Ia sedang tertidur. Tampak nyenyak sekali. Namun dengan keadaan mengenaskan. Kaki dan tangannya di borgol. Rambutnya berantakan. Bercabang entah sudah tidak keramas berapa tahun lama nya. Wajahnya begitu kusam. Bajunya robek-robek. Boleh dikatakan mungkin seperti orang gila yang sering berada di jalanan? Namun itulah dia.
Dada Arka sesak. Hatinya terasa di iris. Di hujam benda tajam. Ia menatap nanar perempuan paruh baya yang sedang tertidur nyenyak itu. Bibir nya bergetar. Tak tahu harus berkomentar apa.
"Maaf. Bukan maksud aku dan anak buahku tidak ingin mengurusnya. Tapi kami sudah kewalahan. Dia selalu berontak. Tangan kami akan di gigit jika mendekatinya. Dia tidak pernah berhenti berteriak jikalau bangun. Maka dari itu kami sempat memberikannya obat bius tadi," jelas Jayur yang saat itu berada di samping Arka. Ikut menemani Arka untuk menemui Lestari. Jayur berkata dengan sedikit gemetar. Takut Arka marah besar kala melihat mertuanya dalam keadaan mengenaskan begini.
Tak sedikitpun mata Arka lepas dari wanita itu. Ia tak menggubris perkataan Jayur sedikitpun.
Tubuhnya hitam, berminyak juga kurus kering. Tulang-tulangnya begitu kelihatan.
"Dia tidak memakan nasi. Makannya hanya buah-buahan. Entahlah. Dirinya selalu menolak kalau kami memberikan nasi," tambah Jayur.
Perlahan Arka melangkahkan kakinya. Menuju ranjang kayu yang berada di depannya. Kamar nya tidak besar. Tidak banyak barang juga. Tidak ada yang namanya lemari apalagi televisi. Hanya ada jendela yang tertutup rapat yang katanya kalau pagi-pagi dibuka. Untuk mendapatkan udara segar.
Kini Arka sudah berdiri di samping wanita itu. Terdapat lingkaran hitam di mata wanita itu. Meski ia sedang tidur namun senyumnya tak pudar. Wajah nya sudah keriput. Perlahan pandangan Arka beralih pada tangannya. Merah. Mungkin bekas borgolan.
Arka menunduk. Ia mengusap pucuk kepala wanita itu. Sesaat kemudian ia meletakan bibirnya di kening wanita tua itu. Arka menciumnya. Sangat dalam dan lama hingga tak terasa air matanya menetes seketika.
Dia adalah mertuaku. Ibu dari dua gadis yang aku cintai. Dia adalah salah satu wanita yang aku sayangi dan aku hormati. Tak perduli bagaimana keadaannya saat ini. Lestari adalah ratuku. Yang harus ku hargai, gumam Arka.
Perlahan Arka bangkit dari duduknya. Ia melihat Jayur yang sedang berdiri setia menunggunya, "Mau dibawa sekarang, Ka?" Tanya Jayur.
Mata Arka kembali beralih pada Lestari. Ia tersenyum sekilas, "Lebih cepat lebih baik."
Jayur memanggil anak buahnya untuk membawa Lestari. Sesuai dengan perintah Arka. Sebelum Lestari bangun dan kembali berontak.
Arka senang. Sangat senang. Bertahun-tahun lamanya ia mencari wanita ini akhirnya bertemu juga. Sebentar lagi kebenaran akan terungkap. Mengenai siapa Siska dan siapa Sekar. Arka akan lebih senang jika Lestari mengatakan bahwa Sekar adalah anaknya.
Senyumnya kembali memudar. Ia ingat saat Arman berkata, "Meski Sekar adalah adikmu. Tetap sayangi dia," bagaimana lantas jika Sekar adalah adik Arka? Sementara kasih sayang Arka pada Sekar sudah lebih dari itu.
***
Sekar merutuki Arnold. Mulutnya tak berhenti marah-marah sejak tadi. Padahal Arnold sudah melenggang pergi. Kini ia sedang berada di lantai 12, bagiannya bekerja. Tadi Sekar dan Arnold sudah berbincang sedikit. Sekar tak banyak bicara dan tak banyak mendengarkan. Ia masih kesal pada keputusan Arnold ini.
Sekar dibimbing seorang security. Yang akan membantunya menunjukan gudang. Tempat alat kebersihan di simpan. Gadis itu akan mulai bekerja hari ini. Pekerjaan awal yang akan ia lakukan adalah membersihkan beberapa ruangan yang akan dipakai meeting siang ini.
Sekar menghela nafas dalam. Bagaimanapun juga ia harus bersemangat. Tak perduli kantor siapa ini. Lagipula dirinya dan Arka sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi.
Gadis itu kembali menyunggingkan senyuman. Ia berjalan denhan begitu anggun menuju gudang. Semua orang menatapnya. Bukan karena tahu ia mantan istri Arka. Tapi karena kecantikannya yang begitu mempesona.
"Selamat pagi, Pak," Sekar menundukan badannya saat ia berpapasan dengan salah satu pria berdasi juga mengenakan jas dengan membawa sebuah berkas di tangannya.
"Selamat pag--" langkah kaki pria itu terhenti. Ia mundur beberapa langkah agar bisa mendapati Sekar lagi, "Lho? Ini Sekar 'kan?" Sekar mengangguk, "Istrinya Pak Arka Gumelar?"
Sekar tersenyum. Ia menundukan badannya, "Mantan istrinya, Pak." Ucap gadis itu lugu.
"Kamu sedang apa disini?" Pria tersebut melihat Sekar dari atas sampai bawah, "Kenapa memakai baju cleaning service?" Tanya pria itu terheran-heran.
Sekar menghela nafas. Ia menunduk. Masa harus menceritakan mengapa dirinya bisa ada disini kepada orang yang bahkan tidak ia kenal?
"Silahkan Bapak tanya pada Pak Arka," Sekar pergi ketika dirasanya sudah cukup. Pria tersebut menatap kepergian Sekar yang memang masuk ke dalam gudang tempat alat kebersihsn tersimpan. Kedua alisnya menyatu. Tak tahu harus berkata apa. Singguh tidak bisa dimengerti kalau Sekar disini untul bekerja sementara suaminya. Ralatnya mantan suami, merupakan pemilik perusahaan ini sendiri.
__ADS_1
Pria tersebut merogoh saku celananya. Mengambil handphonenya yang sudah lama tersimpan disana. Ia mengotak atik handphonenya. Hendak menelefon Arka untuk memberitahunya. Tentu hal seperti ini harus di tanyakan pada Arka secara langsung.
Atensi Arka teralihkan saat benda pipih di dalam saku celanya bergetar. Sembari mengemudi, ia mengangkat telefonnya.
"Halo. Kenapa Zak?"
"Ka istri lo disini," ucap pria yang disapa Zak oleh Arka tersebut.
Arka membelalakn matanya. Hampir ia mengerem secara mendadak. Namun ia berhasil kembali stabil. Kini ia mengemudi dengan kecapatan rendah.
"Ngapain dia disitu?" Tanya Arka.
"Gak tau. Tapi dia pake baju OG. Terus tadi masuk ke gudang kebersihan. Dan sekarang," pria itu melihat Sekar keluar dsri gudang, "Sekarang dia keluar bawa sapu sama pel pelan. Lo nyuruh dia kerja disini, Ka?!" Tanya Zaki terhenyak. Ia bahkan membentak Arka.
"Nggak lah. Gila. Mana mungkin istri seorang CEO bekerja sebagai OG," imbuh Arka.
"Ralat. Sekar bilang kalian bercerai."
Arka menelan ludah nya kasar. Malu iya sedih iya. Arka masih saja mengaku-ngaku Sekar adalah istrinya. Tapi Sekar dengan begifu terang-terangan mengatakan apda orang-orang bahwa dirinya dan Arka sudah bercerai.
"I-iya. Tapi belum sah secara negara. Sekar dimana sekarang?" Zaki menonggakan sedikir kepalanha. Agar ia bisa melihat Sekar. Tepat! Saat itu juga ia mendapsti Sekar.
"Masuk ke ruang meeting Pak Broto siang ini," ucapnya, "Kok bisa dia disini? Bukannya seluruh kantor tahu kalau Sekar bini lo? Terus kenapa mereka nerima Sekar kerja? Terus kenapa Sekar kerja? Ter--"
"Nanti gue tanyain sama Sekar langsung," potong Arka. Ia hendak memstikan telefonnya. Namun ia teringat akan satu hal, "Zak?"
"Iya?"
"Jagain Sekar. Pastiin dia baik-baik saja," Arka pun menutup telefonnya.
Zaki menatap ponselnha cukup lama setelah ponsel itu terlepas dsri telinganya. Pasalnya semua warga negara aljas penghuni Kantor PT Artisan Karya tahu bahwa hubungan Arka dan Sekar tidak berjalan dengan lancar. Apalagi Zaki. Ia sangat tahu betul Arka tidak mencintai Sekar. Tapi barusan? Seperti bukan Arka. Ada nada khawatir di dalamnya. Yang membuag kening Zaki mengerut.
"Jagain? Biasanya nyuruh godain," ucap Zaki lalu melenggang pergi.
***
Sudah 5 kali Arka menelefon Sekar. Jera Sekar rasanya. Ingin ia mereject atau mematikan handphonenya. Tapi ia ingat saat tadi security mengatakan bahwa handphone Sekar harus selalu aktif takut ada perlu.
Sekar merotasikan matanya. Ia sangat malas berhadapan dengan Arka. Sekar sudah tahu pasti Arka akan memarahinya dan akan memecatbya saat itu juga lewat telefon. Tapi sudah nanggung. Sekar ingin bekerja meski untuk sehari saja.
"Halo? Iya aku akan berhenti bekerja setelah ini," ucap Seksr dengan nada ketus. Padahal Arka belum mengatakan apa-apa.
Arka mebgorek kupingnya. Siapa yang di telefonnya ini? Sekar kah? Mengapa ketus begini?
"Kamu dimana? Tadi Zaki menelefonku. Katanya kam--"
"Iya, maaf. Kak Arnold yang membawaku kesini. Ia mungkin tidak tahu ini kantormu. Aku bekerja sebagai cleaning service disini. Aku akan berhenti bekerja. Tapi besok. Kalaj sekarang tanggung. Aku sudah masuk ke ruangan meeting dan harus membersihkannya," jelas Sekar. Padahal sumpah Arka tidak bertanya.
"Sekar? Bulan mu sedang datang yah?" Tanya Arka memelototkan matanya, "Mengapa galak begini?" Mulut Sekar terkatup eapat-rapat. Benar, ia galak. Hiasanya juga Arka yang begini.
"Mas Arka menelefonku untuk memecatku bukan? Iya aku sudah paham. Aku memang akan keluar. Maaf sudah memalukan nama mu. Tapi seisi kantor sudah tahu bahwa kita sudah bercerai," jelas Sekar.
"Siapa?" Tanya Arka.
Sekar mengerutkan keningnya. Ia menyimpan sapunya terlebih dahulu. Agar bisa fokus berbicara pada Boss sekaligus mantan suaminya itu, "Apanya yang siapa?"
"Siapa yang akan memecatmu?" Tanya Arka.
"Lho? Kan Mas Ar--"
"Bagaimana? Kantornya bagus ya? Suka bekerja disitu?" Entahlah. Apa Arka ini sedang mengejeknya atau memarahinya. Yang jelas Seksr sedang kebingungan saat ini.
__ADS_1
"Maksudnya?"
"Lakukan apa yang kau suka Sekar. Aku sudah tidak memiliki hak untuk melarangmu ini dan itu. Aku tidak marah kau bekerja di kantorku. Justru aku senang. Dengan itu para karyawanku bisa mengawasimu. Begitupun aku. Setelah pulang dari sini nanti aku bisa mengawasimu. Dan ak--"
Seksr memofong ucapan Arka, "Aku tidak suka di awasi. Mungkin besok aku akan keluar dari sini. Maaf telah memalukanmu. Sekali lagi aku minta maaf."
"Kenapa tidak suka? Karena itu kantorku? Kau sendiri yang mengatakan bahwa kita sudah bercerai. Tentu bukan masalah kau mau bekerja di manapun juga. Termasuk kantorku. Lantas, apa masalahnya hingga kau memutusksn untuk keluar. Dengar Sekar. Cukup sulif saat ini untuk menemukam pekerjasn. Kau coba saja bekerjs disitu. Kalau nyaman silahkan lanjutkan. Kalau tidak bsru kau kelusr. Jangan keluar hanya karena alasan itu adalah kantormu. Kantorku terbuka lebar untuk siapapun hang memiliki kepentingan di dalamya."
Sekar memstung. Tak salah dengar kah ia? Tadi Sekar sudsh mengambil ancang-ancang. Mempersispksn hati dan kupingnha karena beroikir bahwa Adka akan marah besar padanya. Yapj ini tidak. Justru Arka begitu bakk dan bahkan mengijinkan Sekar bekerja disana. Bahkan menahannya pergi.
Apa Arka sebegktu tidak eprdulinya pada Sekar? Sekar punt idam tahu.
"Sudah ya. Aku akan lanjut bekerjs. Selamat fayang di Pt Artisan Karya. Sekar si cleaning service manis." Arka memutus sambungan telefonnya.
Sekar menganga. Matanya terbelalak. Handphonenya masih setia bertengger di telinga padahal Arka sudah tidak ada di seberang sana.
Akhir-akhir ini sifat Arka begitu aneh pada Sekar. Terlebih saat Arka baru berangkat ke Yogyakarta kemarin. Arka berubah menjadi sangat-sangat-sangat dan amat baik.
Sekar tidak ingin ambil pusing. Ada benarnya juga apa kata Arka tadi. Sekar memiliki kepentingan di kantor ini. Lagipula ia sudah bercerai dengan Arka. Jadi tidak masalah jika Sekar bekerja.
Sekar menggelengkan kepalanya keras, "Fokus saja bekerja. Jangan hiraukan Arka," imbuh gadis itu pada dirinya sendiri.
Sekar melanjutkan aktivitasnya. Membersihkan ruangan meeting. Di luar ia melihat sedikit kegaduhsn dan langkah kaki orang banyak. Ia mendonggakan kepalanya. Sekar terkejut saat itu juga. Orang-orang tersebur berjalan ke arahnya. Meetinf akan segera di mulai. Dan Sekar belum selesai.
Sekar mempercepat gerakannya. Namun nihil. Kecepatannya tidak sesuai dengan kedatangan para orang-orang itu hingga Sekar harus kewaalahan sendiri. Nafasnya menggebu begitu kencang. Ini adalah hari pertamanya bekerja. Ia gaj ingin meninggalkan kesan buruk untuk dirinya sendiri.
****
"Saya tidak tahu bagaimana Adik Anda di didik di rumah," ucap guru dengan kepala botak dan kacamata minus nya.
Di sekolah Pasha. Tepatnya SD Kencana. Ada Arnold disini. Tak hanya Arnold. Ada juga Viona. Dua orang ini dipanggil ketika guru mengetahui bahwa Pasha dan Gilsha bertengkar di kelas tadi.
Pasha seperti orang kesurupan. Ia menjambak rambut Gilsha dengan sangat kencang. Hingga rambut gsdis itu tercabut begitu banyak.
Viona melirik Pasha yang berada di sofa ujung. Ia mendelik tajam. Sementara Pasha justru menjulurkan lidahnya.
"Pasha dan Gilsha tadi bertengkar hebat. Dengan alasan yang tidak saya ketahui kenapa," ucap guru tersebut dengan mata berkaca-kaca.
"Mungkin Adik dia yang mulai." Arnold menunjuk Viona yang berada di sampingnya. Viona menoleh ke arah Arnold. Ia memukul lengan atas pria itu.
"Pasha, Adikmu yang kurang didikan!" Sentak Viona.
"Maaf. Pasha di didik dengan sangat baik. Ia dikelilingi orang baik. Apakabar Gilsha? Melihat Anda saja saya tidak yakin Gilsha akan tumbuh sdengan sifat seperti manusia. Paling sifat iblis," ujar Arnold santai.
"Begitu ya? Lalu pria mana yang mainnya sama wanita selain pria pengecut? Anda tidak lupa bukan bahwa Pasha itu laki-laki dan Gislah itu perempuan?" Ucap Viona penuh penekanan.
"Tidak perduli apa jenis kelaminnya. Kalau dia salah Adik saya pasti akan menghajarnya," balas Arnold.
Sebenarnya sudah lama sekali Arnold ingin adu mulut dengan Viona seperti ini. Tapi ia selalu tidak memiliki kesempatan. Dan mungkin ini kesempatsn yang bagus untjk memperosokan Viona.
"Oh pantas saja. An--"
"Diam!!!" Guru tersebut mendobrak meja. Membuat semua orang menoleh padanya, "Kalian disini untuk menyelesaikan masalah. Bukan untuk menambah masalah!" Ujarnya dengan dada naik turun. Kesal pada tingkah Arnold dan Viona.
"Dia yang mulai," tunjuk Viona pada muka Arnold.
Arnold membalasnya, "Kau juga sama saja." Ucap Arnold.
"Diaaammmm dan keluarrr!! Dalam hitungan detik kalian tidak keluar saya botakan kepala kalian. Macam ini nih?!" Guru tersebut menunjukan kepala botaknya.
Dengan usilnya Arnold menendang kursi Viona sebelum gadis itu turun. Membuat Viona terjungkal setelah itu ia tos dengan Pasha lalu melenggang dari sana.
__ADS_1
Viona menatap tajam kepergian Arnold. Tak lama kemudian ia menarik lengan Gilsha agar keluar dari sana.