Satu Hati 2 CINTA

Satu Hati 2 CINTA
Mamah Lestari


__ADS_3

Arka: Sebagian pria menyukai wanita sederhana. Yang tidak semena-mena. Karena jarang ada Imam yang rela Makmum mendahului gerakan Shalatnya.


.....


Arka mengunjungi Sekar yang saat ini hendak menuju lantai bawah. Untuk membeli makan siang. Tepat, Arka menemukan Sekar tepat di depan lift. Pintu lift sudah terbuka tapi untungnya Sekar belum masuk ke dalamnya.


"Makan bareng yuk," tanpa ancang-ancang permisi, Arka meraih tangan Sekar. Membiarkan jari jemari Sekar bertautan dengan jemarinya.


"Kemarin terima kasih untuk sambutannya. Kantor Mas Arka hebat," ucap Sekar berdecak kagum.


Sudut bibir Arka terangkat. Sekar tidak tahu saja kalau kemarin bukanlah ulang tahun kantor. Melainkan sambutan untuk Sekar.


"Sama-sama," ucap Arka.


Pintu lift terbuka. Membawa kedua insan itu menuju ke bawah. Tepatnya restoran bawah untuk membeli makan siang. Kebetulan hari ini Sekar tidak membawa makan siang dari rumah.


"Sudah lapar sekali yah?" Tanya Arka.


Sekar meraba perutnya. Belum keroncongan. Gadis itu menggeleng, "Belum. Kenapa emang?" Tanya Sekar dengan alis mengerut.


"Shalat dhuha dulu yuk. Dilantai bawah ada tempat untuk shalat."


Pertamanya Sekar mematung. Lama kelamaan bibir gadis itu melengkung membentuk senyuman. Sekar merapatkan pegangan tangannya pada tangan Arka dan berseru, "Ayo." Ucap Sekar antusias.


Mereka berdua melaksanakan shalat dhuha di lantai bawah. Arka teringat perkataan Jayur semalam. Dan Sekar teringat perkataan Anisa.


Keduanya memanjatkan do'a masing-masing. Meminta, berharap, dan berterima kasih kepada yang Maha Kuasa.


Arka, pria itu meminta kepada Allah agar Allah bisa membukakan hati Sekar agar Sekar bisa mencintainya. Meminta kepada Allah agar Sekar bukanlah Adik nya. Meminta Allah mempermudah segala urusan dunia dan akhirat Arka. Terlebih, meminta Allah memudahkan perjuangannya untuk memiliki Sekar.


Sekar, gadis itu berterima kasih kepada Allah atas segala yang telah ia berikan kepada Sekar. Mendo'akan yang terbaik untuk dirinya dan seluruh keluarganya. Serta meminta agar Siska tenang di alam sana.


Keduanya begitu khusyu. Terlelap dalam do'a masing-masing. Setelah di rasa cukup. Arka membalikan badannya. Samar-samar ia bisa melihat bayangan Sekar di balik garden pembatas di belakang sana. Senyuman terbit di bibir manis Arka.


Sungguh, Arka merasa dirinya mendapatkan ketenangan lebih saat ini.


"Sudah? Kalau sudah ayo kita makan," ucap pria itu.


Mereka berdua makan di caffe terdekat. Ada waktu 30 menit lagi untuk makan siang sebelum nanti harus kembali bekerja.


"Arka? Sebenarnya tugas ku itu apa? Aku belum mengerti sepenuhnya. Tadi saat aku keluar dari ruanganmu aku hanya beres-beres ruangan sebelah saja," ucap Sekar sambil memilih menu makan siangnya. Sekilas, Sekar mengintip isi tas nya kemudian membandingkan jumlah uangnya dengan harga makanan. Sial! Makanannya mahal-mahal sekali.


Sekar termangu. Bingung mau makan apa. Cari yang murah, belum dapat.


"Tugasmu? Sebenarnya tidak banyak sih. Cukup membantuku saja. Membawakan berkas-berkas ke ruanganku. Menemaniku rapat. Membantuku menye---" ucapan Arka terpotong kala melihat Sekar menunduk dan bengong. Arka menengokan kepalanya. Melihat apa yang Sekar lihat di bawah sana.


Arka tersenyum miris. Sekar ini memang tidak ada berubah-berubahnya sama sekali. Arka bisa membaca raut muka Sekar yang tampaknya khawatir.


"Pesan saja apapun yang kau mau. Biar aku yang bayar."


Buru-buru Sekar menutup tas nya. Ia tersenyum lebar, "T-tidak. Aku ada uang kok. Ta-tadi a-anu itu lho," Sekar menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Pesan apapun yang kau mau yah. Anggap saja sebagai perayaan dirimu yang baru mendapat gelar menjadi seorang asisten," Arka mencoba memberikan pengertian.


"Tidak perlu. Aku tidak lapar," Sekar menutup buku menu. Kemudian menyerahkannya kepada Arka.


"Kau tidak makan aku pun tidak makan. Padahal aku lapar sekali," Arka meringis sembari mendorong kembali buku menu. Di hadapkan kepada Sekar.


Sekar memelotot, "Lho? Kalau lapar ya makan," ucap Sekar.


"Kau saja tidak makan. Bagaimana aku bisa makan?"


Baiklah. Here we go with Arka. Sekar pasti kalah setelah ini.


"Yasudah. Samakan saja menunya dengan mu," kan benar. Arka memesan dua porsi makanan dan minuman kepada pelayan. Lalu pelayan itu menundukan badannya dan enyah dari sana.


"Sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan," ucap Arka. Kembali memasang muka serius.


"Boleh saja. Apa?" Tanya Sekar.


"Nanti malam aku ingin membawamu ke rumah sakit."


"Rumah sakit? Siapa yang sakit? Mamah Tami? Papah Arman? Atau siapa?" Mendengar kata rumah sakit membuat Sekar terkejut setengah mati.


"Bukan salah satu diantara mereka. Tapi sama pentingnya dengan mereka. Bahkan lebih penting," ujar Arka.


Sekar semakin penasaran, "Iya. Tapi siapa?" Tanya gadis itu.


"Nanti kau akan tahu sendiri. Yang penting nanti malam siap-siap. Aku akan menjemputmu. Dan jangan lupa minta izin ke Bu Anisa. Kalau kau ada janji dengan Arnold, batalkan saja."


Sekar mengerti. Gadis itu mengangguk. Meski di lubuk hatinya ia sangat penasaran siapa yang saat ini sedang berada di rumah sakit.


"Kata Arnold, Viona asisten mu juga. Memangnya boleh ya punya dua asisten?" Tanya Sekar dengan manik mata penuh binar dan tersirat rasa ketakukan. Takut jika Arka mengatakan hanya boleh ada satu asisten dan Sekar yang akan di singkirkan.


"Hanya boleh ada satu asisten," ucap Arka datar.


Sekar menghela nafas dalam, "Kalau begitu pec--"

__ADS_1


"Dan itu kau," Arka mendekatkan wajahnya ke wajah Sekar, "Aku akan memecat Viona setelah ini."


Bukannya tersenyum. Sekar justru marah. Wajahnya tiba-tiba berubah ketus, "Harusnya aku yang di pecat. Viona itu sudah lama menjadi asisten mu. Dia sudah lebih hebat. Dia tahu segala jadwal mu. Dia lebih pintar daripada aku. Di--"


"Kata siapa Viona hebat dalam melakukan pekerjaannya sebagai asistenku? Kau tahu sesuatu? Biar ku beritahu. Viona itu kerjanya menggodaku. Aku butuh asisten yang konsisten. Bukan yang bisanya hanya merayu. Dan... jikaa bersamamu... aku rasa aku yang akan merayumu," Arka menaik turunkan alisnya.


Sekar mendesis pelan. Dasar, bos tukang gombal.


"Aku juga ada yang ingin di bicarakan kepadamu, Arka." Sekar menatap teduh mata Arka. Semraut keseriusan terdapat di wajah gadis itu. Membuat Arka memicingkan alisnya.


"Apa?" Tanya Arka.


"Hari itu... Mamah Tami menceritakan suatu hal kepadaku. Kalau...," Sekar menjeda ucapannya. Ia menatap Arka, "Kalau aku Adik mu."


Gelak tawa Arka pecah seketika. Membuat Sekar---kening Sekar mengerut sangat dalam.


"Adik ku? Sekar itu jodoh Arka," ucap Arka dengan begitu percaya diri.


"Tidak percaya? Malam ini kita buktikan."


****


Arnold masih tak habis pikir dengan tingkah laku Viona. Bisa-bisa nya Viona menyamakan Arnold seperti iblis yang mau mendapatkan Sekar dengan cara terpaksa.


Arnold memang terobsesi dengan Sekar. Tapi ingin mendapatkan Sekar dengan cara halus. Arnold bukan pendosa. Percuma Sekar bersamanya kalau ternyata tidak bahagia.


Arnold melirik handphonenya yang terletak di bagian dashboard.


Ia berusaha menghubungi Sekar. Namun nihil, tak sekalipun Sekar mengangkat telefonnya. Haruskah Arnold bermain cara kasar agar tidak kedahuluan Arka?


****


Arka sudah sampai di panti asuhan. Hendak menjemput Sekar. Gadis itu berpenampilan biasa saja. Mengenakan celana levis warna biru langit dan kaos lengan pendek berbalutlan kardigan rajut berwarna merah. Sederhana. Tapi sekali lagi, mempesona.


"Memangnya siapa sih yang sakit?" Tanya Sekar.


"Kan tujuan kita ke rumah sakit. Jadi kau pasti tahu siapa yang sakit. Tunggu saja," ujar Arka.


Sudah ada Tami, Jayur dan Arman yang saat ini sedang berada di rumah sakit.


Mereka langsung bersorak ramai saat melihat kedatangan Sekar. Apalagi Tami. Wanita tua itu langsung ambruk memeluk Sekar. Rindu berat katanya.


"Mamah benar-benar merindukanmu. Maaf ya soal yang hari itu," Sekar membalas pelukan Tami. Ia juga sedang tidak ingin mengingat tentang waktu itu.


Sekar bergantian menyalami Jayur dan juga Arman.


"Iya. Sekar apa kabar?" Tanya Jayur lembut.


"Kabar Sekar baik," Arka menarik lengan Sekar agar menjauh dari Jayur. Membuat semuanya terkekeh pelan karenanya.


"Lihat siapa yang terbaring disana," Arka menunjuk ke ruangan dimana Lestari terbaring lemah dan masih belum sadarkan diri. Sekar mengintipnya.


"Siapa dia?" Tanya Sekar. Ia tidak bisa melihat Lestari dengan jelas karena wajah Lestari tertutupi sebagian rambutnya.


"Lestari," ucap Arka singkat. Sekar memelototkan matanya. Membungkam mulutnya. Tanpa izin lagi, Sekar masuk ke dalam. Diikuti oleh Arka dan yang lainnya.


"Mamah!" Sekar memekik. Ia ambruk memeluk Lestari saat itu juga. Tangisannya pecah seketika.


"Mamah! Sekar rindu Mamah," Sekar memeluk Lestari erat. Air matanya menetes tak tertahankan. Bagaikan sungai yang mengalir deras. Menolak berhenti. Dada Sekar sesak diiringi suaranya yang mendadak jadi berat. Lidah nya juga kelu.


Mimpikah ia? Benarkah ini? Lestari masih hidup? Tidak sama sekali Sekar pikirkan hal ini akan terjadi. Sekar memang sempat berfikir bahwa Lestari sudah tidak ada di dunia ini karena kehadirannya yang entah dimana.


"Ma-Mamah? I-ini Sekar," ucap Sekar terbata-bata. Perlahan Sekar bangkit dari duduknya. Menciumi kening, pipi, dan dagu Lestari berulang-ulang kali.


Jayur meneguk ludah kasar, "Andai aku yang dicium Sekar begitu," langsung mendapat toyoran kencang di kepalanya yang di akibatkan oleh Arka.


"Mah? I-ini Sekar. Mamah bangun yah. Mah?" Sekar mengguncang-guncangkan tubuh Lestari. Berharap Ibu nya itu akan segera bangun.


"Mamah!!" Sekar memekik saat tangan Lestari bergerak. Di susul matanya yang terbuka.


Wajah nya begitu pucat pasi. Bibirnya begitu kering. Tubuh Lestari teramat kurus. Lestari telah membuka matanya. Objek yang ia lihat pertama kali adalah Sekar.


"Se-Sekar?" Lestari memegang pipi Sekar menggunakan sebelah tangannya. Bibirnya bergetar. Air matanya luruh seketika.


Sekar mengangguk, "Iya Mah. Iya. Ini Sekar." Sekar mencium kening Lestari.


"Se-Sekar?" Ulang Lestari. "Anak Mamah?" Sekar mengangguk, "Sekar!" Lestari bangkit dari tidurnya. Ia ambruk memeluk Sekar.


"Anak Mamah. Sekar Anak Mamah."


Semuanya menyaksikan kisah haru itu. Mendalami dan menghayati tanpa terasa setetes demi setetes air mata datang mengarungi kesedihan.


"Anak Mamah? Hahaha Anak Mamah ya?" Lestari melepaskan pelukannya. Tiba-tiba saja ia tertawa sambil mengacak-ngacak rambutnya. Sekar mengernyitkan dahinya.


"Sekar Anak Mamah? Iya? Iya?" Lestari mengangguk-anggukan kepalanya. Tertawa. Lalu meremas kepalanya kuat.


"Gawat Arka. Gila nya kambuh," bisik Jayur kepada Arka.

__ADS_1


"Mah? Mamah kenapa? Ini Sekar anak Mamah. Adik Kak Siska. Mamah ba--"


"Ikut aku Sekar," Arka menjauhkan Sekar dari Lestari. Kalau penyakit gila Lestari sudah kambuh. Bisa saja ia melukai Sekar. Entah dengan cara mengigitnya, mencakarnya atau menyanyatkan benda tajam ke tubuh Sekar.


"Tapi Arka. Itu Mamah!" Sekar berontak. Tangannya meronta-ronta berusaha menjangkau tangan Lestari.


"Sekar? Anak Mamah? Anak Mamah?" Ujar Lestari sambil terus mengacak-ngacak rambutnya dan tertawa.


"Biar dia ditangani dokter dulu. Ayo keluar," Arka mendorong tubuh Sekar. Berusaha membawa gadis itu keluar.


"Mamah!' Sekar berteriak sekencang mungkin. Dokter sudah ada disana. Hendak menyuntikan obat penenang pada Lestari.


"Sutt sutt. Mamah baik-baik saja," Arka memeluk Sekar. Menelungkupkan kepala gadis itu di dadanya.


"Arka? Ma-Mamah," ucap Sekar.


"Iya sayang. Mamah kita baik-baik saja," ujar Arka.


Rasanya Tami sudah tak tahan lagi untuk melihat semua ini. Apapun resikonya, ia maju beberapa langkah menuju Arka dan Sekar. Hendak mengatakan yang sebenarnya.


"Sekar bukan Adik Arka," ucap Tami tiba-tiba. Membuat semua orang menoleh kepadanya.


"Sudahlah Mah. Kita kan memang sedang mencari tahu kebenarannya," ucap Arman sembari menarik lengan Tami agar wanita itu kembali ke belakang. Arman berfikir bahwa apa yang dikatakan Tami barusan semata-mata hanya untuk mencairkan keadaan.


"Biarkan Mamah menjelaskan semuanya, Pah!" Tami menyentak Arman.


"Iya Mah. Kami mengerti Mamah ingin meredakan tangisan Sekar. Tapi sedang kita cari tahu kebenarannya," ucap Arka.


"Sekar bukan adik Arka," jelas Tami. Suaranya sedikit gemetar. Kedua tangannya mengepal. Tami berkata penuh keyakinan.


"Mah!" Bentak Arman. Karena Tami ngeyel dan meneruskan aksinya.


Tapi Tami sudah tidak tahan. Ia ingin segera membongkar semuanya.


"Adik Arka itu Viona."


Arka melepaskan pelukannya dari Sekar. Ia menatap Tami dengan tatapan tak percaya. Begitupun Arman, Jayur termasuk Sekar. Setelah menyeka air matanya, Sekar menatap Tami dalam.


"Maksud Mamah?" Tanya Arka.


"Adik kamu itu Viona! Viona anak Mamah. Mamah adalah Ibu kandung Viona!" Jelas Tami.


"Mah. Sudahlah. Tidak bagus membuat lelucon di saat seperti ini," ujar Arman sambil terus berusaha menarik lengan Tami agar menghentikan ucapannya.


"Mamah sedang tidak bercanda! Lihat mata Mamah. Lihat ekspresi Mamah!" Tami menghampiri Sekar. Mengguncang-guncang tubuh gadis itu, "Sekar kamu lihat ekspresi Mamah? Apa Mamah terlihat seperti sedang bercanda?!" Sekar menggeleng.


Tami yang biasanya humoris, lucu, periang memang sedang berkata serius saat ini.


Tami terduduk. Bersujud di kaki Arka, "Maafkan Mamah. Maafkan Mamah karena tidak jujur sebelumnya. Tapi tolong percaya, Viona anak Mamah." Tangisan Tami pecah seketika. Ia menangis sambil memegangi kedua kaki Arka.


Sekar tak tega melihatnya. Sekar berusaha mengangkat tubuh Tami, "Mah. Jangan sujud begitu," ucap Sekar halus.


Tami menatap Arka dengan air mata yang berlinang. Sementara Arka sendiri belum bisa berkata-kata, "Kamu boleh menampar Mamah. Mengatai Mamah gila. Tapi sumpah demi Tuhan, Viona itu Anak Mamah." Air mata dan raut muka Tami membantu menjelaskan semuanya.


"Kalau itu memang benar? Kenapa Mamah tidak mengatakannya dari sebelumnya?" Air asin Arka luruh. Ia menatap Tami, Ibu yang melahirkannya dengan tatapan kesal dan geram. Bahkan kedua tangan Arka sudah mengepal.


Arka sakit. Terluka. Ia merasa dibohongi oleh Ibu nya sendiri. Selama ini, mati-matian Arka dan yang lainnya mencari tahu identitas Sekar. Tidak disangka ternyata Tami mengetahui segalanya. Dan yang paling parah, Tami mengatakan Viona adalah adik Arka. Sebuah kenyataan yang sulit bahkan rasanya tidak mungkin bisa diterima. Untung saja Arka belum pernah menyentuh Viona. Karena pasalnya Arka dan Viona memiliki hubungan sebelumnya.


"Nak, Mamah punya alasan tersendiri mengapa tidak mengatakan ini. Alas--"


"Ayo." Arka menarik tangan Sekar. Mengajak gadis itu enyah dari sana. Tami hendak mengejarnya, namun Arman mencekal lengan Tami.


"Katakan! Mengapa bisa tiba-tiba kau mengatakan bahwa Viona adalah anakmu!" Titah Arman.


****


Arka memukul pohon yang berada di halaman depan rumah sakit.


"Argh! Anjing!" Bukan sekali. Tapi berkali-kali. Jari-jari tangannya mulai berdarah. Sesekali Arka mengusap wajah nya gusar. Arka juga berteriak, "Anjing! Argh! setan!" Umpatnya kesal.


"Arka sudah ya," Sekar berusaha menghentikan aktivitas Arka. Memegangi tubuh kekar Arka dan mengajaknya duduk di kursi taman.


"Bagaimana bisa? Bagaimana bisa Mamah mengatakan bahwa Viona adalah Adik ku? Dan kenapa baru sekarang? Kemana saja Mamah selama ini?!" Tanya Arka dengan begitu kasar.


"Mamah memiliki alasan tertentu. Ada sebuah kenyataan yang tersembunyi di balik suatu hal yang tidak bisa diungkapkan. Kita belum tahu kenyataan apa itu Arka," jelas Sekar.


"Tapi kan Mamah tahu kalau aku memiliki hubungan dengan Viona. Bagaimana kalau saja ak-ak," Arka tak mampu melanjutkan ucapannya.


Sekar memeluknya, "Yang penging hal itu tidak terjadi. Kau tidak pernah melakukan hubungan intim dengan Viona... sudah ya. Jangan melukai dirimu sendiri. Aku terluka melihatmu terluka."


Ucapan lembut Sekar mampu meredam emosi Arka. Singa yang sedang kalaf itu mendadak halus. Arka membalas pelukan Sekar. Arka merasakan bahwa tubuh Sekar bergetar cukup hebat. Mungkin karena terkejut melihat kemarahan Arka barusan, "Maaf." Gumam Arka.


"Tidak apa-apa. Aku tahu sulit bagimu menerima kenyataan ini. Begitupun aku. Tapi yang penting, sekarang kita sudah tahu bahwa aku bukan adik mu. Sekalipun Adik mu adalah Viona," ada kebahagiaan di balik kata-kata yang Sekar lontarkan. Bolehkah dikatakan? Sekar bahagia, sangat bahagia. Akhirnya ia tahu bahwa dirinya bukan adik Arka. Itu berarti mereka bisa menjalin hubungan kekasih.


"Aku senang kau bukan Adik ku," kesedihan dan tangisan Arka hanya sesaat. Ia kembali menerbitkan senyuman. Kenyataan yang menyatakan Sekar bukanlah Adik nya amat sangat menyenangkan.


"Aku juga," Sekar menduselkan kepalanya di dada bidang Arka.

__ADS_1


"Sudah ya? Ayo kita kembali ke dalam. Tanyakan pada Mamah Tami apa yang sebenarnya terjadi," pinta Sekar yang lalu dibalas anggukan oleh Arka.


__ADS_2