Satu Hati 2 CINTA

Satu Hati 2 CINTA
Sebuah isu


__ADS_3

Sekar: Tanpa kehadirannya. Bisa kah aku mempercayai orang lain selain dirinya?


.......


"Eh. Assalamualaikum Sekar," Arnold membalikan badannya. Yang tadinya melihat pemandangan di luar kini melihat Sekar yang menghampiri nya.


"Waalaikumsalam Kak," jawab Sekar loyo.


"Loyo gitu? Belum makan yah?" Tanya Arnold. Yang hanya di balas anggukan lemah oleh Sekar.


"Non Sekar udah dua hari gak makan Mas. Cuman minum air putih doang. Saya udah ngingetin. Tapi ora berhasil," adu Waluyo yang muncul di belakang Sekar. Sementara Sekar, gadis itu hanya tersenyum simpul. Tak tahu harus menanggapi nya bagaimana.


"Ya ampun. Makan yuk, aku traktir deh," ajak Arnold. Mengambil lengan gadis itu.


Dengan halus Sekar melepaskan pegangan tangan Arnold. Menggeleng lemah lalu mengukir sebuah senyuman. "Aku gak laper Kak."


"Dua hari gak makan gimana bisa ngomong gak laper? Kamu pikir perutmu ini gor yang bisa kosong melompong gitu aja?" Tanya Arnold. Menatap Sekar intens.


"Tuh liat. Tulang-tulang di tangan kamu udah keliatan. Sama tulang di lehe---" glek! Jakun Arnold naik turun saat tidak sengaja ia melihat leher jenjang Sekar. Meski sedikit lebih kurus. Tapi masih saja menggoda. Ah, memang pada dasarnya Arnold menyukai segala lekuk tubuh Sekar. Sekar pula sepertinya salah mengenakan baju. Ia hanya mengenakan t-shirt yang bisa mengekspos jelas leher jenjangnya. Lagipula, Sekar mana tahu kalau Arnold akan tergoda. Dan ia tidak sadar dengan apa yang di kenakannya.


"Le-leher kamu mulus. Eh astagfirallah. Kurus maksudnya," Arnold gelagapan. Untungnya Sekar tidak menyadarinya. Gadis itu sibuk melamun.


"Kak Arnold lapar ya? Kalau lapar aku masakin aja. Tapi aku gak ikut makan," tawar Sekar halus.


"Nggak sih. Boleh masuk?" Pinta Arnold. Karena saat ini mereka berdua berbicara di ambang pintu.


Sekar terlihat memikirkan permintaan Arnold. Teringat saat Arka melarang ada pria yang masuk.


Tapi pikiran Sekar tidak kemana-mana. Ia merasa Arnold bukanlah orang asing. Bukan pria yang masuk ke dalam daftar orang yang di larang masuk ke rumah oleh Arka.


Lagipula disaat seperti ini yang Sekar butuhkan adalah seorang teman. Sekar merogoh benda pipih di celana training nya. Mengetikan sesuatu lalu di kirim kepada Arka.


Sekar meminta izin agar Arnold masuk lewat SMS kepada Arka.


"Masuk aja Kak," ucap Sekar mempersilahkan.

__ADS_1


Arnold duduk di ruang tengah bersama Sekar. Sekar duduk di seberang Arnold. Mereka berdua terhalang sebuah meja.


"Kenapa duduk di situ? Duduk aja di sini," Arnold menepuk-nepuk area kosong di sebelahnya. Namun lagi-lagi yang di lakukan Sekar adalah menggeleng dengan halus.


"Yaudah. Aku aja ke sana," Arnold menghampiri Sekar. Duduk manis di samping wanita itu. Sekar tidak menghindarinya. Ia merasa tidak enak.


"Kamu kok gak makan sih selama dua hari? Gak sayang badan?" Tanya Arnold.


Sekar menunduk. Arnold tak tahu saja kalau sedang rindu nafsu makan Sekar hilang.


"Jangan mentang-mentang kurus itu cantik terus kamu gak makan," Arnold mengelus halus rambut hitam pekat Sekar. Mencium aroma rambut gadis itu yang kalau kata Arka macam wangi bayi.


Sial! Arnold tergoda. Tidak sengaja ia menyibakan rambut Sekar. Memperlihatkan leher mulus Sekar. Susah payah Arnold meneguk saliva nya. Akhir-akhir ini, mengapa Sekar menjadi lebih menggoda?


"Aku kangen sama Arka kak."


Arnold tak merespon apa-apa. Ia masih berperang melawan jiwa nya yang sedang meronta di dalam sana.


"Kak?" Tanya Sekar ketika tak mendapat respon apa-apa dari Arnold.


"Eh. Itu-itu tadi ada daun di rambut kamu." Sontak Sekar menyampingkan rambutnya. Melihat daun yang Arnold maksud, "Mana kak?"


Dengan keadaan rambut di kesampingkan. Membuat leher Sekar terlihat sepenuh nya. Tubuh Arnold bergetar hebat. Isi kepalanya hampir saja kosong. Kalau saja sebentar lagi ada pancingan lebih besar. Pasti lolos lah sudah.


"Lupakan. Tadi kamu bilang apa?" Setelah memejamkan matanya dalam. Barulah Arnold mendapatkan kesadaran kembali. Namun tetap saja jiwa prianya masih meronta.


"Aku kangen sama Arka."


"Kangen? Bukannya kamu udah biasa di tinggalin sama Arka? Lagian apanya yang mau dikangenin dari Arka?"


Sekar merunduk. Meremas kuat bagian bawah bajunya. Ternyata Arnold tidak mengerti bagaimana perasaan Sekar.


"Aku emang gak punya pasangan. Tapi aku tau gimana rasanya rindu," ucap Arnold tiba-tiba. Membuat Sekar mendonggakan kepala.


"Tapi sosok kayak Arka itu gak pantes di rinduin. Udah dua hari kan Arka pergi? Apa dia ngasih kabar?"

__ADS_1


Arnold tahu kepergian Arka dari Zaki, teman sekantor Arka. Arnold, Arka dan Zaki memang berteman.


Sekar menggeleng, "Satu yang mungkin belum kamu tau dari Arka. Arka itu gak cinta sama kamu."


Sakit? Tidak. Sekar justru memicingkan mata. Merasa marah pada Arnold.


"Maksud Kak Arnold apa? Kok ngomongnya gitu?" Tanya Sekar sedikit emosi.


"Pernah Arka cerita apa yang terjadi diantara aku, Arka dan Siska?"


Sekar mengingatnya. Mengingat saat Arka mengatakan bahwa Arnold adalah teman nya. Arka juga sering menyebut nama Arnold di deretan kisah nya. Tapi tak sekalipun Arka pernah menceritakan soal mereka bertiga.


"Arka emang pernah bilang kalau Kak Arnold temen Arka. Tapi Arka gak pernah cerita apa-apa. Temen gimana maksudnya?"


Sudut bibir Arnold terangkat, "Tentu Arka gak pernah cerita. Karena itu aib dia."


Kedua alis Sekar menyatu. Benar-benar tak mengerti maksud Arnold.


"Dulu, aku Arka dan Kakak kamu itu sahabat baik. Teman dekat. Singkat cerita, Arka menyukai Siska. Namun ternyata Siska suka sama aku. Arka marah dan gak terima. Terus dia mutusin pertemanannya sama aku. Arka juga yang maksa Siska buat jadi pacarnya. Kamu tau kan kalau Arka itu kasar? Ya. Begitulah dia maksa Siska buat jadi pacar Arka terus ninggalin aku, pria yang Siska suka."


Itulah niat terselubung Arnold. Maksud dari senyuman iblis nya. Ketidak hadiran Arka ia gunakan untuk merebut Sekar secara perlahan. Mengelabui gadis itu, mencuci otak nya. Membuat Sekar benci pada Arka dengan karangan ceritanya sendiri.


"Hah? Itu gak mungkin Kak. Kak Siska sendiri yang nyuruh aku buat nikah sama Arka," mana mungkin Sekar langsung percaya.


"Iya. Itu karena Arka yang nyuruh. Arka liat kamu cantik, maka dari itu minta Siska buat jadiin kamu kekasih Arka."


Gelak tawa Sekar pecah seketika. Membuat Arnold menatap nya dengan tatapan jengkel, "Mana mungkin Arka gitu. Arka itu sayang sama aku. Dia udah ngebuktiin semuanya. Datang ke makam Ayah, nemuin Mamah Lestari, jagain aku, ngajak aku liburan ke Bandung."


"Iya. Itu semua kan skenario Arka. Kamu gak lupa kan kalau Arka selingkuh sama Viona padahal kalian udah rumah tangga? Arka selingkuh nya terang-terangan. Kamu gak tau kan apa yang udah Arka lakuin sama Viona? Tapi aku tau. Karena aku teman Arka."


Sekar mematung mendengar penuturan Arnold. Kata demi kata dari pria yang ia anggap Kakak ini menohok hatinya. Membuat desiran darah nya memgalir hebat.


Dirinya sedang rindu Arka. Di landa duka, kesedihan yang melanda. Mengapa ada berita buruk seperti ini? Mengapa? Haruskah Sekar percaya?


Ketidakhadiranmu adalah luka bagiku.

__ADS_1



__ADS_2