Satu Hati 2 CINTA

Satu Hati 2 CINTA
Minta lah kepada- Nya


__ADS_3

Lusi: Jangan terlalu berharap banyak pada manusia. Jika manusia itu masih juga berharap dari yang Maha Kuasa.


.......


Tami menyenderkan kepalanya di bahu Arman. Menggenggam erat jari jemari Arman. Senyuman mengembang di bibirnya yang sedari tadi bergetar menahan tangisan.


"Aku pikir Arka akan marah saat tahu bahwa aku telah mengetahui segalanya namun tak kunjung memberitahukan dirinya."


Arman membalas tautan tangan Tami. Seulas senyum terukir di bibir nya, "Yang harus kau tahu adalah bahwa Arka mencintai Sekar. Perlahan, nama Siska telah terhapus di hati Arka. Meski belum sepenuhnya. Namun, sang pena Tuhan telah mengukir nama indah Sekar di hati Arka."


"Sifat seorang anak tergantung bagaimana orang tua mendidiknya. Mas telah berhasil mendidik Arka. Tumbuh menjadi pria dewasa berhati mulia. Cerminan dirimu di masa muda. Aku yakin, Arka akan menjadi suami yang baik bagi Sekar," ucap Tami.


"Aku tak menjamin Arka akan seperti itu. Yang kutahu, aku akan berusaha sekuat tenaga agar Arka menyanyangi Sekar sebagaimana aku menyanyangimu. Karena aku tahu....," Arman memalingkan kepalanya. Meraup kedua belah pipi Tami, "Bahwa Sekar adalah wanita baik sepertimu..."


Tak perduli apa yang telah dilakukan Tami di masa lalu. Bagi Arman, hidup dan kebahagiaan adalah di masa sekarang dan untuk masa nanti. Sebuah kesalahan adalah hal yang wajar dilakukan setiap manusia, meski sedikit fatal. Jika Tuhan saja bisa memaafkan, mengapa umat nya tidak?


Cinta bukan berarti harus egois dan berubah menjadi benci hanya karena sebuah kekhilafan. Karena pada dasarnya, selagi kita hidup, godaan setan akan selalu menghampiri. Iman manusia tak selamanya kuat. Disaat iman lemah, saat itulah setan menyerang. Lantas, apakah sepenuhnya kesalahan manusia?


Lagipula, dalam hidup dan dalam rumah tangga, selalu ada huru hara. Jika iman seseorang kuat. Huru hara tersebut akan menjadi benteng pertahanan baru. Begitupun sebaliknya. Jika kedua pihak memiliki keyakinan satu sama lain yang minim, maka huru hara akan menjadi mala petaka.


Tapi maaf, sepertinya iman Arman dan Tami kuat. Keduanya saling mempercayai satu sama lain sehingga hubungan keduanya masih terus berjalan. Hari ini... esok... dan mungkin nanti... sampai ajal yang memisahkan.


"Aku sangat berharap, Arka bisa menyanyangi Sekar segenap jiwa. Meski jiwanya belum benar-benar bisa melupakan Siska," imbuh Tami.


"Selagi aku hidup. Tak perduli sebesar apapun Arka, aku akan tetap mendidiknya. Aku akan mendidik Arka menjadi anak yang baik untuk kedua orang tuanya. Suami yang baik untuk istrinya. Dan Ayah yang baik bagi Anak nya," jelas Arman.


"Tapi ada satu hal yang sepertinya harus kita selesaikan," Tami memperhatikan Arman. Menanti apa yang akan dikatakan Arman selanjutnya, "Apa?"


"Viona," ucap Arman.


"Aku adalah Ibu nya. Izin kan aku yang menjelaskan segalanya pada Viona," jelas Tami.


"Dan aku adalah Ayah nya. Izinkan aku membantumu menjelaskan."


***


"Yakin tidak ingin ikut aku pulang? Kita tidak bercerai. Pulang yah bersamaku," bujuk Arka.


Mereka berdua sudah berada di depan panti asuhan. Sekar meminta diantarkan kemari. Tidak ada alasan kuat dibalik permintaannya.


"Yakin. Aku hanya ingin berpamitan dulu kepada Ibu Anisa dan anak-anak panti lainnya," Sekar melepaskan lingkaran tangannya dari pinggang Arka.


"Kalau itu alasannya, aku akan menunggu."


Gadis itu menggeleng seraya tersenyum, "Tidak usah. Silahkan pulang. Lain kali saja aku pulang ke rumah."


"Tidak apa-apa aku bis---"

__ADS_1


"Assalamualaikum," pamit Sekar lalu melenggang pergi dari sana.


"Waalaikumsalam," jawab Arka lirih.


Ada sorot mata Sekar yang tak bisa Arka artikan. Ada sesuatu yang sepertinya mengganjal hati gadis itu. Tak tahu apa dan bagaimana.


Arka senang. Sangat senang ketika benteng penghalang telah rusak dan hancur. Membuat dirinya lebih mudah untuk mendekap Sekar. Lagipula, benih cinta sudah tumbuh di dalam dirinya.


Lalu mengapa gadis itu terlihat sangat gusar dan risau. Apa tumbuh duri baru yang sedang dalam proses berkembang?


****


"Anak Ibu kenapa lagi sih, Nak?" Lusi duduk di samping Arnold. Menemani pria yang sedang mengisap rokok nya itu.


"Lho? Kamu merokok? Kan dokter tidak boleh merokok," Lusi merebut batang rokok yang sudah habis setengah. Asap mengepul terbang bersama angin malam. Lenyap di telan langit.


"Kenapa kamu merokok? Sejak kapan? Kamu tidak pernah merokok setelah menjadi dokter. Kenapa?" Perasaan risau mulai menghadiri Lusi. Pasalnya Arnold memang tidak pernah merokok sebelumnya.


"Daripada Arnold mabuk-mabukan," Arnold meraih kembali sebatang rokok yang berada di meja kayu di sampingnya. Menghidupkan kembali rokok tersebut.


Dengan sarkas Lusi merebutnya. Meremas rokok tersebut. Membuatnya lecek dan patah.


Arnold tak memalingkan wajahnya. Membiarkan Lusi melakukan apapun yang dia mau. Hatinya lebih hancur daripada rokok yang baru saja di remas Lusi barusan.


"Katakan, kenapa?"


Perlahan, Arnold menoleh ke arah Lusi. Menatap kedua mata wanita tua itu dengan tatapan nanar. Bibir Arnold bergetar, "Apa Arnold tak pantas bahagia?"


Tuhan, mengapa ini menyakitkan bagi Lusi? Raut wajah Arnold, suara Arnold disertai kalimat yang keluar dari mulut Arnold terdengar begitu memilukan. Mengundang tangisan teruntuk yang mendengarnya. Terlebih, Lusi adalah Ibu nya. Ibu mana yang tahan tidak menangis ketika Anak nya terlihat sedang terluka?


"Ma-maksud kamu apa?" Ulang Lusi.


"Apa Arnold tidak pantas bahagia? Apa kebahagiaan hanya milik Arka? Apa Arn---"


Lusi memeluk Arnold. Menelungkupkan kepala pria itu di dadanya. Mengusap lembut rambut pria yatim itu. Membiarkan Arnold menangis di pelukannya.


"Setiap anak pantas untuk bahagia. Setiap manusia berhak bahagia. Mengapa Nak? Mengapa dirimu berkata seolah-olah kau tidak memiliki Allah yang memperhatikan kebahagiaanmu?" Tanya Lusi.


"Benar. Arnold rasa Allah tidak menyanyangi Arnold," suara Arnold terdengar sangat berat. Sesekali ia menarik nafasnya dalam.


"Maksudmu apa? Tidak! Allah menyanyangimu. Buktinya, dia memberikan kekuatan kepadamu. Kau, Arnold Prayoga. Seorang anak yatim yang dulu hidup berkekurangan kini telah menjadi seorang dokter yang sukses yang berhasil membahagiakan Ibu nya dan juga Adik nya. Suatu hal yang sangat membanggakan. Lalu, wajarkah jika kamu bertanya seperti itu? Allah menyayangimu Arnold," ucap Lusi.


"Lalu mengapa Allah merebut orang yang Arnold cinta?" Arnold menyembulkan kepalanya. Menatap wajah Lusi yang sudah berlinang air mata.


"Arnold mencintai Ayah, Allah mengambilnya. Arnold mencintai Siska, Allah mengambilnya. Dan sekarang


.. Arnold mencintai Sekar, Allah tidak mengizinkannya."

__ADS_1


Lusi terhenyak. Ia kini mengerti bahwa yang mengusik pikiran Arnold adalah gadis yang hari itu ia tolong yang berhasil menanam benih cinta di hati Arnold.


"Arnold sudah ikhlas ketika saat itu Siska memilih Arka. Dan sekarang, haruskah Arnold ikhlas kembali saat Sekar bersama Arka lagi? Apa Arka diciptakan untuk merebut kebahagiaan Arnold? Satu pinta Arnold. Bersama bersama-sama orang yang kucinta."


Hati Ibu mana yang tidak teriris saat melihat putranya menderita. Benar apa katanya. Sudah banyak Arnold melakukan pengorbanan dan sudah sering juga ia mengalami kehilangan. Lagi dan lagi tentu bukan hal yang Arnold inginkan.


"Salahkah itu? Arnold berhsaha menjadi pria yang baik. Bukankah wanita yang baik utnuk pria yang baik pula? Sekar wanita baik Bu, Arnold pun begitu. Lalu kenapa harus Arka yang menang? Arnold yang pertama kali menolong Sekar. Arnold! bukan pria bajingan itu!" Tangisan Arnold semakin mendominasi halaman depan rumah itu. Ia menangis sekenanya. Tak perduli pada keadaan sekitar maupun tetangga.


"Sutt sutt. Ingat pesan Ayah mu? Jadilah pria dewasa dan berguna," Lusi kembali mendekap Arnold.


"Tapi pria dewasa juga butuh bahagia! Arnold ingin bahagia dan hidup bersama orang yang Arnold cinta. Tidak boleh kah?"


Ya Allah. Kuatkanlah Arnold. Terlebih, kuatkanlah Lusi yang saat ini sedang berjuang menenangkan Arnold agar pria itu tak salah dalam memutuskan pendirian dan tak salah paham atas keputusan sang Maha Kuasa.


"Arnold. Mungkin Sekar memang tercipta untuk Arka. Ada manusia yang sengaja diciptakan dengan hati tulus lalu menjalani hubungan dengan mereka yang memiliki sikap sedikit buruk. Agar keduanya bisa saling melengkapi lalu menjad--"


"Dulu Siska. Kenapa harus Sekar juga? Arnold yang berjuang. Aku yang mengambil Sekar di jalanan. Memberikan gadis itu kehidupan. Memberikan Sekar makanan agar Sekar bisa terus menginjalan kaki nya di muka bumi ini. Aku yang pertama kali khawatir pada keadaan Sekar. Aku yang selalu berada di depan memastikan keadaan Sekar. Setelah yakin Sekar baik-baik saja, mengapa Arka yang mendapatkannya?"


Lusi mengelus pucuk kepala Arnold dengan penuh kelembutan. Ia mengucap lafadz Allah. Meminta kepada Allah agar Allah bisa memberikan penjelasan kepada Arnold putra sulungnya.


"Jadi, kamu menolong Sekar karena mencintainya?" Tanya Lusi. Dibalas anggukan oleh Arnold.


"Pantas saja...," Lusi menggantungkan ucapannya.


"Coba kamu pikir. Bagaimana perasaan Allah saat tahu kamu melakukan kebaikan bukan karena-Nya. Tapi karena mahluk ciptaannya. Coba kamu pikirkan bagaimana kecewanya Allah saat tahu kamu melakukan kebaikan tidak dengan ikhlas melainkan karena ada maunya."


"Kamu tahu 'kan bahwa di dalam hidup ini selalu ada cobaan? Benar. Sekar adalah cobaan mu. Allah menciptakan Sekar. Mempertemukannya denganmu. Memintamu menolongnya. Kemudian mengambilnya. Sekar adalah ujian bagimu, Nak. Jika kau berhasil menolongnya, maka Allah memberi mu pahala. Jika kau berhasil membahagiakannya, maka kau telah berhasil melewati ujianmu. Sekarang, bahagiamu bahagia Sekar juga bukan?" Arnold mengangguk. "Jika bahagia Sekar dengan Arka. Kenapa kau tidak bahagia juga?"


Arnold menggeleng keras. "Tapi Arnold juga ingin bahagia bersama Sekar. Arnold mencintainya. Arnold ingin memilikinya," ucap Arnold.


"Jika Sekar tercipta bukan untukmu, kenapa harus memaksakan? Yang menciptakan Sekar itu Allah. Jadi segalanya terserah kepada Allah. Dulu Ibu mendukungmu karena Ibu pikir Sekar memang berjodoh denganmu. Tapi jika pada kenyataannya Sekar memang terlahir bukan untukmu, akan Ibu tarik kembali kata-kata Ibu. Ibu tidak akan memberimu semangat karena Ibu tidak ingin Anak Ibu menjadi pembangkang. Pembangkang takdir yang maha kuasa."


"Arnold. Ada cinta yang tidak harus memiliki. Ada cinta yang harus merelakan. Ada cinta yang tak terbalaskan. Apapun itu, cinta adalah ketika kita bahagia melihat orang yang kita cinta bahagia. Kamu pernah menjadi orang yang paling khawatir sebelum akhirnya menjadi orang yang paling mengikhlaskan. Cintai Sekar sebagai Adikmu. Dengan begitu kau tidak akan kehilangan dirinya seutuhnya."


Arnold bangkit dari duduknya.


"Tidak. Arnold ingin memiliki Sekar sebagai kekasih Arnold."


"Lantas, jika Sekar tidak bahagia hidup denganmu karena tidak mencintaimu, apa kau tega? Tidak bukan? Sekarang Ibu beri kau pilihan. Cintai Sekar sebagai Adikmu, maka kalian masih bisa bersama. Atau cintai Sekar sebagai kekasihmu, rebut dia dari Arka tapi Sekar akan membencimu. Sekalipun Sekar hidup denganmu, kebencian mengirinya. Karena bukan kau orang yang Sekar inginkan. Hidup itu pilihan. Silahkan pilih pilihanmu sendiri." Lusi bangkit dari duduk nya. Membiarkan Arnold berdiskusi degan dunia dan pikirannya.


"Kenapa bukan Arnold yang dipilih Sekar?"


Lusi berhenti, tanpa membalikan badannya ia berkata, "Hidup itu pilihan. Dan mungkin Arka lah pilihan Sekar. Arka tidak seburuk yang kau pikirkan. Kau tahu Arka bagaimana, kau temanmu. Ibu yakin kau bisa merelakan Sekar bersamanya karena percaya Arka bisa membahagiakannya. Pikirkan apa yang akan kau lakukan selanjutnya. Dan ingat baik-baik. Apa yang menjadi keputusanmu sekarang, menentukan apa yang akan menjadi milikmu di masa depan. Berpikirlah menggunakan otakmu. Jangan menggunakan emosimu."


Arnold bergeming. Dengan setia menatap kepergian Lusi dengan tatapan nanar.


Sekarang ia berdecak sebal. Menendang kursi. Mengacak-ngacak rambutnya. Bingung harus memilih apa. Jujur saat ini Arnold sedang dilanda amarah dan emosi. Sulit baginya berfikir jernih. Ia juga sedang di kuasai setan sehingga sedikit lupa pada Allah yang akan memberinya jalan keluar.

__ADS_1


Tapi ketika emosi Arnold sudah reda. Ia akan kembali bertanya dan meminta jawaban pada yang Maha Kuasa.


__ADS_2