Satu Hati 2 CINTA

Satu Hati 2 CINTA
Thanks For Everything


__ADS_3

Viona: Aku sadar bahwa aku tidak akan mendapatkan kebahagiaan jika merebut kebahagiaan wanita lain.


Kedua insan itu tengah menatap ke dalam ruangan. Seorang gadis sedang tidak sadarkan diri. Ada beberapa dokter dan perawat yang berada di sampingnya. Salah satunya... Arnold.


"Kenapa bisa begini, Mah?" Tanya Arka pada Ibundanya------ Tami yang sedang duduk sembari terus menangis. Air matanya menolak untuk berhenti dari semalam.


"Viona nusuk dirinya sendiri. Tepatnya di bagian perutnya. Kemarin malam kami datang ke rumahnya. Berusaha ngasih dia penjelasan. Ngasih tau Viona kalau kalian ini Kakak beradik. Tap---"


"Viona sudah sadar!" suara bariton Arnold mengalihkan perhatian semuanya.


Semuanya lantas masuk ke dalam. Namun Arnold menahannya, "Sendiri-sendiri. Agar tidak menciptakan keributan," ucap pria itu.


Tami menoleh ke semuanya. Semuanya mengangguk. Mempersilahkan Tami masuk terlebih dahulu.


"Halo Anak Mamah," ucap Tami. Ia menarik kursi lalu mendekatkannya ke arah Viona. Viona memalingkan wajahnya. Menatap objek lain selain Tami. Tanpa melihat ke arah Tami sedikitpun.


"Gimana keadaannya?" Tami berusaha memegang tangan Viona. Namun Viona menyentaknya. Mulut Viona bungkam. Tak ada sepatah kata yang hendak ia katakan kepada Tami.


"Mamah tahu kamu masih marah besar sama Mamah. Pasti karena Mamah ninggalin kamu di masa kecil 'kan? Iya. Mamah mengerti. Tapi percayalah Viona. Mamah menyanyangimu. Setelah kejadian itu, Mamah mengutuk diri Mamah sendiri. Mamah menyesalinya. Jika waktu bisa di putar kembali menggunakan darah Mamah. Mamah lebih baik kehabisan darah untuk memutar waktu tersebut."


"Mamah menyanyangimu. Sama seperti Mamah menyanyangi Arka. Tak perduli dimana Ayah mu saat ini. Mamah menyanyangimu. Mamah ingin kau hidup bersama Mamah, Papah Arman dan juga Arka sebagai keluarga. Mam--"


"Pergi," potong Viona datar. Membuat Tami kicep.


Viona menoleh ke arah Tami. Mendapati wanita itu yang masih bengong di tempat, "Pergi atau kulempar kau?!" Ucap Viona sedikit berteriak. Membuat semua orang yang di luar menoleh ke arahnya.


Arka berlari masuk ke dalam ruangan tersebut, "Ayo Mah." Arka memegangi kedua belah bahu Tami. Mengajak wanita itu keluar dari sana. Awalnya Tami tidak mau. Ia malah mematung di tempat, "Biarkan Arka yang berbicara dengan Viona," bisik Arka.


Tami di sambut oleh pelukan Sekar di luar. Kedua wanita itu saling merangkul satu sama lain. Memberikan Arka kesempatan untuk berbicara dengan Viona.


"Memangnya mencoba bunuh diri itu lucu?" Tanya Arka datar lalu duduk di samping Viona.


"Berisik!" Bentak Viona.


"Biasanya juga kau yang selalu berisik. Arka inilah... Arka itulah.," ucap Arka menye-menye---- meledek Viona.


Viona menoleh ke arah Arka. Mendelik dengan tajam. Tatapannya mematikan. Ini bukan saat yang pas untuk bercanda.

__ADS_1


"Keluar!" Bentak Viona sambil menunjuk pintu keluar.


"Kalau aku tidak mau?" Tanya Arka. Ujung bibir sebelah kanannya terangkat.


"Akan ku lempar kau menggunakan barang-barang disini!" Ujar Viona sambil meraih salah satu vas bunga yang berada di sampingnya.


"Coba saja. Memangnya kau berani menyakiti Arka?"


Gigi Viona menggertak. Mata gadis itu terpejam sangat dalam. Viona memang tidak pernah bisa menyakiti Arka. Apalagi dengan cara terang-terangan begitu. Sekalipun Viona sedang terluka.


"Aku tahu kau gila harta. Bukan karena hal lain kau marah pada Mamah Tami. Tapi karena kau mencintaiku, menyanyangiku lebih dari seorang Kakak," ucap Arka begitu blak-blakan. Meski begitu, ia mengatakannya dengan santai.


Viona meletakan kembali vas bunga itu. Memperhatikan Arka. Menanti apa yang akan pria itu katakan selanjutnya.


"Sama halnya seperti aku kepada Sekar. Dulu aku membencinya. Tapi sekarang aku mencintainya. Dan aku yakin, kau bisa sepertiku. Yaitu mengubah perasaanmu. Meski sedikit sulit. Tapi aku yakin kau pasti bisa. Dulu, aku bukanlah siapa-siapa di hidupmu. Lalu kau bisa mencintaiku tanpa tahu perasaanku yang sebenarnya. Dan sekarang, tentu kau pasti bisa mengubah perasaan itu."


Air mata Viona luruh seketika. Bibirnya bergetar hebat. Ia tak tahu harus berkata apa. Hatinya masih sulit menerima kenyataan yang menyatakan dirinya adalah Adik Arka.


"Aku mencintaimu lebih dari seorang Kakak, Arka!" Teriak Viona menggema.


"Lalu mau bagaimana lagi? Melanggar takdir Tuhan? Siap masuk neraka? Ini bukan yang semua orang inginkan. Tap---"


"Semua orang memiliki ujian hidup mereka masing-masing. Dan ini adalah ujian di hidupmu. Kalau kau bisa melewati ujian ini. Tinggal menanti kelulusan nantinya."


"Bagaimana aku bisa melewati ujian ini bahkan tanpa belajar sedikitpun?! Aku tidak pernah mengira kau adalah Kakak ku. Aku tid---"


"Sama. Aku juga tidak pernah mengira kau adalah Adik ku. Aku tidak pernah mengira Siska akan meninggal. Aku tidak pernah mengira Sekar akan hadir di hidupku dan aku mencintainya."


"Viona. Hidup itu adalah kejutan. Dimana sesuatu yang tidak kita ketahui, tidak kita perkirakan datang bahkan tanpa persiapan. Yang harus kita lakukan adalah menjalani segalanya sesuai dengan kehendak Ilahi. Ini akan sulit untuk mu. Tapi aku yakin kau pasti bisa. Aku. Arka, Kakakmu yang akan membantumu mengubur cinta mu kepadaku. Aku akan menjadikanmu Adik paling bahagia di dunia." Arka beranjak dari duduknya. Hendak pergi dari sana. Dengan setia Viona memperhatikannya.


"Satu lagi," Arka membalikan tubuhnya. "Sekalipun kau bukan Adik ku. Aku tidak akan mencintaimu, kau tidak akan memilikiku karena aku tidak pernah mencintaimu. Sekarang pilih. Jadi Adik ku lalu mendapatkan kasih sayang seorang Kakak. Atau pergi dariku lalu tidak akan mendapatkan apa-apa."


Viona termangu. Kata demi kata yang terlontar dari bibir Arka terdengar menyakitkan di telinga dan hatinya. Arka bukan kurang ajar ataupun tega. Tapi memang itu hal yang terbaik yang bisa ia lakukan untuk menyadarkan Viona.


Semuanya menanti kehadiran Arka dengan muka berbinar. "Bagaimana?" Tanya Tami dengan raut muka sumringahnya. Arka menggeleng halus. Tami merunduk. Ia meringis. Merasa gagal mendapatkan hati Viona.


"Izinkan aku masuk," semuanya menoleh ke arah Sekar.

__ADS_1


"Tidak. Bisa-bisa Viona menerkam mu," Arnold melarangnya.


"Aku dan Viona sama-sama perempuan. Sama-sama wanita yang terbuang. Aku tahu bagaimana cara membujuknya," Sekar permisi. Ia masuk ke dalam. Memejamkan matanya dalam. Menghirup udara dalam-dalam.


"Hay," Viona memalingkan wajah nya. Ia melihat Sekar sedang berdiri di ambang pintu.


"Mau apa kau kesini? Mau menertawaiku? Tidak perlu. Aku sudah cukup menderita," ucap Viona.


Sekar meraih sebuah kursi. Di dekatkannya di samping brankar Viona. Tanpa rasa takut, Sekar meraih tangan Viona meski Viona menyentaknya.


"Sebelumnya aku minta maaf. Maaf karena telah berperilaku kasar kepadamu," Sekar membuka ucapannya.


"Aku tahu ini sulit. Aku juga pernah mengalaminya. Dimana aku di tinggalkan oleh kedua orang tuaku, sendirian di jalanan, di jahati orang-orang tak berhati. Tapi aku tetap sabar. Aku tetap menjalaninya. Aku tetap meminta dan berdo'a sampai akhirnya Allah mengubah segalanya. Sedihku menjadi tawa. Bingungku men--"


"Mau menceritakan kisah hidupmu disini? Tidak mau. Telingaku pengang rasanya," ucap Viona.


"Bukan. Aku hanya ingin mengatakan harusnya kau bersyukur Mamah Tami masih mau menerimamu. Kau harus tahu. Selama ini Mamah Tami mencarimu, ia bersusah payah berusaha menemukanmu. Mengumpulkan bukti-bukti bahwa kau adalah Anak nya. Berusaha membahagiakanmu dalam diam. Mungkin ini menyakitkan. Tapi masih ada waktu untuk mengubah sakitmu menjadi bahagia. Karena aku, Arka, Mamah Tami dan Papah Arman ada untukmu. Siap membahagiakanmu," ucap Sekar penuh pengertian.


"Cih. Jangan pura-pura bego! Kau tahu 'kan kalau aku menyukai Arka?! bagaimana aku bisa menjadi Adik nya," cibir Viona.


"Dulu bagaimana ceritanya kau bisa menyukai Arka? Sekarang mari kita buat history itu lagi. Dimana kau bisa mengubah cinta seorang kekasih menjadi cinta seorang Kakak," ucap Sekar tulus.


"Mana mungkin! Aku tidak bisa!" Teriak Viona.


"Bukan tidak bisa. Tapi belum bisa. Kau bisa karena terbiasa dan luar biasa karena mencoba. Aku yang akan menjadi teman pertamamu yang akan menemanimu mengubah cintamu untuk Arka. Viona, bagaimanapun juga Arka adalah Kakak mu. Dosa besar jika kau menyukainya lebih dari itu."


Viona semakin menjadi. Tangisannya kembali membucah, "Aku tidak bisa Sekar!"


"Mengatakan tidak bisa bahkan sebelum mencoba? Aku rasa itu awal yang buruk. Kau pasti bisa. Ayo kita lakukan ini sama-sama. Lama-lama juga kau harus terbiasa. Keluarga Mamah Tami adalah keluarga yang hangat. Kau harus merasakan kehangatannya juga. Aku dan Arka akan mencintaimu layaknya seorang Adik. Aku akan memperlakukanmu sebaik mungkin. Aku menyanyangimu. Kau adalah Adik ku," Sekar memegang kedua belah tangan Viona. Mengukir sebuah senyuman, "Ayo kita berjuang meraih kebahagiaan bersama. Kita, dua wanita yang memiliki akhir kisah bahagia."


Viona termangu. Ia melamun sangat lama. Ada sesuatu di mata Sekar yang tidak ia tahu apa itu. Hati Viona tertohok. Ada sesuatu yang tiba-tiba mengganjal di hatinya. Ada ikatan yang baru saja terbangun akibat perkataan Sekar. Kata keluarga, Adik dan hangat begitu menyenangkan di dengar oleh Viona.


"Kenapa kau baik seperti ini padaku padahal dulu aku sangat jahat padamu?" Mata Viona bergelimang.


"Karena," Sekar mencolek hidung Viona, "Kau adalah Adik ku."


"Aku menyanyangimu. Nanti, akan kucarikan pria yang lebih dari Arka. Jika pria itu menyebalkan, mari kita hukum sama-sama," Sekar mengelus kening Viona.

__ADS_1


"Kau beruntung memiliki wanita seperti Sekar," ucap Arnold yang sedang berdiri di samping Arka. Kedua pria itu tengah memperhatikan interaksi antara Viona dan juga Sekar.


"Terimakasih hari itu sudah menyelamatkan Sekar," imbuh Arka lalu merangkul pundak Arnold.


__ADS_2