Satu Hati 2 CINTA

Satu Hati 2 CINTA
Pengalihan


__ADS_3

Arka: Yang kutahu. Kau telah berhasil mengalihkan duniaku


Sekar hanya mondar-mandir di ruangan kerja Arka. Menantikan kedatangan pria itu. Sesekali Sekar mengigit kuku jarinya. Gelisah, takut Viona ke sana dan bertengkar dengan Sekar. Membuat keributan di kantor.


Tapi apa yang Sekar takutkan tidak menjadi kenyataan kala melihat Arka datang sambil menguap lebar. Tampilannya boleh di kritik buruk. Kemeja yang kusut, sepatu hitam kotor, tidak ada jam tangan, rambut yang tampak tak disisir, lingkaran hitam di bawah matanya tergambar begitu jelas.


"Mas, kamu kenapa?" Sekar memberanikan diri mendekati Arka yang tampilannya sudah seperti orang sakit jiwa itu.


"Hmm?" Tanya Arka sambil mengucek-ngucek matanya.


"Kamu kenapa?" Tanya Sekar khawatir.


"Ngantuk."


Arka, pria itu langsung mendudukan dirinya di kursi dekat meja kerjanya. Menempelkan kepalanya di meja nya. Dengan kedua tangan di lipat dan digunakan sebagai bantalan----posisi kepala miring ke sebelah kanan.


Tadinya Sekar hendak membangunkan Arka. Mengguncang-guncangkan tubuh pria berotot itu. Namun niatnya ia urungkan kala melihat Arka yang tertidur nyenyak.


Mata pria itu tertutup rapat. Bibirnya terkatup. Wajahnya indah. Membawa kedamaian yang melihat. Sekar berjongkok. Menyeimbangkan tingginya dengan Arka. Ia mengelus lembut kepala Arka. Melengkungkan sebuah senyuman, "Tampan." Gumamnya pelan. Tanpa bisa di dengar oleh Arka.


Arka mencekal lengan Sekar ketika gadis itu bangkit. Arka mengangkat kepalanya. Membuka matanya, "Mau kemana?" Tanyanya pada Sekar.


"Keluar. Mau buatkan kopi."


"Kita minta tolong Zaki saja. Sini." Arka bangkit dari duduknya. Membawa Sekar menuju sofa panjang yang berada di depan pintu masuk----pinggiran meja kerja. Mendudukan gadis itu disana. Kemudian Arka menyimpan kepalanya di paha Sekar.


"Aku tidur 10 menit ya. Sesudah itu tolong bangunkan," Arka tidur di paha Sekar. Sebelumnya ia menarik lengan gadis itu lalu memeluknya---di simpan di bagian perutnya. Katanya biar kalau Sekar mau kabur Arka tahu.


Sekar tidak melakukan penolakan. Dengan sebelah tangan, gadis itu mengelus dan menyugar rambut Arka yang kini sedang tertidur nyenyak di pangkuannya. Senyumannya terus mengembang di sepersekian detiknya. Ia mengambil handphone yang berada di saku celana levis nya. Memasang alarm 10 menit lamanya. Takut kelupaan. Tak lupa Sekar mengirimi SMS kepada Zaki dan mengatakan bahwa Arka menginginkan kopi dalam 10 menit ke depan. Sesuai dengan perintah Arka tadi.


*****


Tak sengaja saat Arnold hendak masuk ke ruangan kerjanya, dia mendapati Tami dan Arman berada di rumah sakit. Pria itu mengurungkan niatnya untuk masuk ke ruangan kerja lalu bergegas menghampiri Tami dan juga Arman.


"Tante..." panggil Arnold.


"Eh? Nak Arnold."


Arnold mengulurkan tangannya. Meminta tangan Tami untuk di salami. Dengan senang hati Tami dan Arman mengelurkan tangannya.


"Tante kenapa? Siapa yang sakit?"


Tami. Wanita tua itu sekarang sedang dalam keadaan mengenaskan. Baju kusut yang tidak diganti seharian, mata sebam, hidung besar nan merah, bibir yang tampaknya menebal. Suaranya sudah berubah serak, rambutnya acak-acakan. Frustasi, stress, sedih, takut. Segala kekacauan itu menyatu lalu menyerang diri Tami dalam waktu yang bersamaan.


"Viona," jawab Arman ketika Tami bungkam tak mampu mengatakan apa-apa.


"Lho? Viona sakit apa?" Tanya Arnold sambil melirik Viona yang berada di dalam ruangan. Viona masih belum sadarkan diri. Selang infusan terdapat di tangannya. Tak hanya itu, ia juga memakai alat bantu pernafasan. Matanya terpejam dalam.


"Mari Om ceritakan," Arman mendudukan Tami. Mengusap lembut kepala wanita tua itu. Lalu melenggang pergi bersama Arnold. Mencari tempat yang sekiranya tidak bisa Tami dengar.

__ADS_1


"Begitu ceritanya.....," ucap Arman. Ia merangkum ceritanya. Menyatakan inti nya kepada Arnold. Yang dimana menyatakan bahwa Vioma adalah anak kandung Tami.


Arnold terlihat terkejut. Pria itu membungkam mulutnya. Hendak menjerit kalau saja ini bukan rumah sakit.


Arman menghembuskan nafasnya kasar, "Pada awalnya, memang tidak ada yang percaya. Tidak sampai tes DNA yang membuktikannya," jelas Arman. Berusaha meyakinkan Arnold.


"Arka sudah tahu?"


Arman mengangguk. "Kalau soal Viona adalah Adik nya Arka sudah tahu. Awalnya dia marah. Lalu kemudian dia bahagia. Mungkin senang karena Adik nya bukanlah Sekar. Tapi Arka terlihat tidak perduli saat ini. Ia bahkan tidak menemui Viona. Dan soal keadaan Viona, Arka belum mengetahuinya."


Arnold menatap pria yang di depannya ini dengan tatapan nanar. Ada rasa sakit yang menjalar di tubuh Arnold. Bukan karena Viona. Bukan pula karena Arman. Kata Arka bahagia bersama Sekar menyulap hatinya yang tadinya utuh sempurna menjadi terbelah dua.


Ingin mengadu, susah. Ingin mengeluh, tidak bisa. Arnold hanya meringis lemah. Menghembuskan nafasnya kasar. Menatap langit dengan tatapan nanar. Matanya berlinang. Bertanya-tanya kepada Tuhan mengapa dirinya yang ada di posisi ini.


"Boleh Om minta tolong?" Arnold menoleh, "Om mau kamu yang menangani Viona."


****


Zaki sudah mengetuk-ngetuk pintu berkali-kali. Namun tidak ada yang menyahuti satupun. Ia membawa secangkir kopi dan secangkir susu hangat. Untuk Arka dan Sekar.


Zaki melancangkan diri masuk ke dalam ruangan daripada kopinya keburu dingin. Disana, ia mendapari kedua insan itu sedang terlelap tidur. Arka, dia tidur di pangkuan Sekar. Sementara Sekar, ia tidur dengan posisi tidak benar. Lehernya miring dan sedikit menjungkang ke belakang. Bertumpu pada pundak kursi.


Mengelus Arka selama beberapa menit mengundang kantuk bagi Sekar sehingga gadis itu tertidur bahkan ketika alarm berbunyi ia tidak menyadarinya.


"Ka... Arka..," Zaki membangunkan Arka dengan sedikit berbisik dan mengguncang-guncangkan tubuhnya.


"Huwaa.. eh, Zak?"


"Kenapa?" Tanya Arka sambil mengangkat kepalanya.


"Itu. Sekar tidurnya gitu," otomatis Arka menoleh ke arah Sekar. Di dapatinya gadis itu sedang tidur dengan posisi yang tidak benar. "Apa gak sakit lehernya?" Tanya Zaki masih dengan nada berbisik----- takut Sekar terbangun.


"Biar gue urus. Itu kopi ya? Taro aja disana," Arka menunjuk meja. "Thanks ya, Zak." Ujar Arka sambil tersenyum.


Zaki hormat, "Siap. Gue balik dulu. Jangan bikin anak di kantor, Ka!" Ujar Zaki sambil melempar laser elangnya kepada Arka. Yang hanya di balas cengiran oleh Arka.


Arka duduk di samping Sekar. Dengan begitu hati-hati, Arka menarik kepala Sekar. Menyimpan kepala gadis itu di pundaknya, "Tid---"


"Arka?" Arka gagal. Sekar bangun. Gadis itu mengerjap-ngerjapkan matanya.


"Iya?" Tanya Arka sambil mengulas senyum.


"Ini jam... Ya Allah Arka udah lewat sepuluh menit!!" Sekar bangkit dari duduknya ketika sudah melirik jam di handphonenya. Gadis itu bangkit dengan keadaan terkejut. Kemudian membenahi baju dan rambutnya yang sedikit kusut.


"Ya Allah Arka aku ketiduran. Arka aku minta maaf. Beneran aku gak sengaja. Tadi aku ngelus kepala kamu sampai ketiduran segala. Tadi aku udah pasang alarm. Terus... kopi ah iya kopi." Sekar senewon. Gadis itu terkejut bukan main. Sudah setengah jam kurang Sekar dan Arka tertidur padahal Arka meminta dibangunkan dalam waktu sepuluh menit.


"Kenapa tidak membangunkanku tadi?" Tanya Arka dengan nada suara berat. Membuat Sekar takut dan gemetaran.


"Ma-maaf. Ta-tadi aku," ingin ia menjelaskan. Namun mulutnya seperti terkunci rapat. Di tambah masih terkejut. Membuat Sekar kesusahan berbicara.

__ADS_1


"Sini," Arka menunjuk tempat kosong di sebelahnya menggunakan ekor matanya. Pria itu bersidekap tangan di dada.


Sekar merunduk. Ia mendekati Arka dengan perasaan was-was. Sekar duduk di samping Arka sambil terus menunduk.


"Tahu 'kan kalau yang salah harus di hukum?" Sekar mengangguk. "Ini hukumannya," Arka meraih kepala Sekar. Menyenderkannya di bahu Arka. Membuat Sekar memelotot.


Sekar hendak bangun. Namun Arka menahannya, "Kalau masih ngantuk tidur saja. Lain kali, jangan tidur dengan posisi seperti tadi ya. Lehermu bisa sakit." Arka merentangkan tangannya. Meraih leher Sekar. Mengusapnya dengan lembut.


"Ta-tapi..."


"Tapi kenapa? Masih mau bangun? Jangan. Kalau tidak, ada hukuman lebih untuk mu."


Sekar mengangkat kepalanya. Mengernyitkan dahinya. "Mau tahu apa hukumannya?" Tanya Arka. Sekar mengangguk.


"Itu." Arka menunjuk perut Sekar menggunakan matanya. Lalu menaik turunkan alisnya.


"Arka mesum!" Teriak Sekar sambil mendorong tubuh Arka. Meski tak berarti apa-apa untuk Arka.


*****


Atensi Arka teralihkan saat benda pipih di samping laptopnya berdering. Pria itu melirik sekilas. Ada nama Tami tertera di sana.


"Iya Mah? Oh iya iya. Arka kesana sekarang."


Arka melirik ke arah Sekar sekilas. Gadis itu sedang sibuk mempelajari materi tentang perusahaan yang tadi di berikan oleh Arka. Begitu fokus dan serius. Sekar sangat ingin mengerti banyak tentang kantor dan perusahaan agar ia bisa membantu Arka lebih banyak.


"Sekar?"


"Hmm?"


"Fokus sekali belajarnya," ujar Arka lalu duduk di samping Sekar.


"Iya. Soalnya materi nya cukup susah," ucap Sekar dengan alis memicing.


"Mamah memintaku ke rumah sakit. Kamu mau ikut tidak?" Tanya Arka halus.


"Hah? Mamah Lestari kenapa-napa ya?" Arka menggeleng, "Terus siapa yang sakit?"


"Viona." Satu kata. Satu kata namun mampu membuat Sekar melebarkan bola matanya. Pasalnya, setelah tahu Viona adalah Adik Arka, Sekar tidak lagi ingat dengan gadis yang beberapa hari lalu menamparnya itu. Bukan sengaja. Tapi karena Arka telah mengalihkan dunianya.


"Ya Allah Viona. Aku sampai lupa pada dia. Ayo kesana." Sekar lantas menyimpan bukunya. Menarik lengan Arka agar pria itu bangkit.


Arks melukiskan senyuman. Berdecak kagum pada Sekar. Tadinya Arka takut kalau Sekar tak mau ikut atau Sekar cemburu karena Arka akan menjenguk Viona. Nampaknya Arka salah. Sekar justru terlihat antusias menjenguk gadis itu.


"Memangnya Viona kenapa? Kok sampai di bawa ke rumah sakit?" Tanya Sekar ketika sudah berada di dalam mobil.


"Tidak tahu. Mamah belum mengatakannya. Dia hanya memintaku kesana."


"Arka. Maaf ya. Aku lupa pada Viona. Harusnya saat itu kita tidak langsung pulang ke rumah dari rumah sakit. Har---"

__ADS_1


"Sekar mengalihkan dunia Arka. Dan Arka mengalihkan dunia Sekar." Sekar menoleh. "Itu yang kutahu. Kita sampai lupa kalau ada dunia lain. Tidak apa-apa. Aku justru bangga padamu karena kau masih mengkhawatirkan Adik ku setelah perlakuan buruk yang dia lakukan." Arka mengelus pucuk kepala Sekar. Membuat Sekar terpejam.


__ADS_2