
Arka: Tak perduli siapapun dia. Aku tetap cemburu. Cemburu ku itu tak mengenal orang, ruang dan waktu. @ArkaBosNgaco2021
....
"Arka kamar kita banyak bunga nyaa!!" Teriak Sekar menggema. Mendominasi seluruh ruangan.
Duh, inimah pasti ulah Tami.
Arka tepuk jidat, "Maaf ya sayang. Ini mah pasti ulah Mamah. Mamah kan agak eror dikit."
Sekar mencubit perut suami nya itu. "Nyebut! Gak boleh ngatain Mamah eror."
"Hehe iya bercanda. Sekar mau keluar gak malam ini? Ini kan malam minggu. Jalan-jalan di luar seru kayak nya. Biar berasa anak muda lagi. Beli harumpait gitu," ajak Arka. "Tapi kalo capek gak usah. Bisa besok-besok lagi."
Capek jalan-jalan dengan Arka? Sepertinya tidak akan pernah Sekar rasa.
Gadis itu justru menerbitkan sebuah senyuman. Memeluk tubuh kekar Arka, "Ayo jalan-jalan. Tapi aku mandi dulu ya." Sekar menyambar handuk yang terletak di lengan kursi kerja Arka. Lalu melenggang pergi ke kamar mandi.
"Sekar mandinyaa bareng!!" Arka menerobos kamar mandi. Menyusul istrinya. Lalu mengunci pintu kamar mandi dari dalam.
*****
"Ka bintangnya indah banget ya," tunjuk Sekar pada salah satu bintang yang bersinar terang di langit sana. Mereka berdua sedang duduk di rerumputan kering. Di taman dekat rumah.
"Untung bintang di langit," ucap Arka tanpa mengalihkan pandangannya pada Sekar---fokus menatap langit.
"Maksudnya?" Tanya Sekar dengan alis mengerut.
"Iya. Untung bintang di langit. Kalau di bumi dia pasti jealous. Karena ada yang terang dari pada dia," Arka menunjuk dada Sekar.
Sekar tidak pernah mengira Arka akan sehangat dan seromantis ini sebelumnya. Dulu ia kira dirinya menikah dengan patung tampan.
Don't judge by the cover. Because we are living under the sun. Not under the cover.
Mungkin itulah kalimat yang cocok untuk di dengar Sekar.
"Sekar!" Suara bariton itu mengalihkan atensi Arka dan Sekar. Lantas dua orang itu menoleh ke belakang. Tempat suara berasal.
"Kak Arnold!!" Sekar memekik. 7 minggu tidak bertemu, rindu rasanya pada sosok Arnold yang lemah lembut itu.
"Hay. Apa kabar?" Arnold mengulurkan tangannya. Mengajak Sekar bersalaman.
"Alhamdulilah kabar ba--"
Sekar hendak mengulurkan tangannya. Membalas jabatan tangan Arnold. Namun Arka menyentaknya. Menggantikan posisi Sekar, "Kabar Sekar baik," ujar Arka ketus.
Arnold mengepalkan tangannya. Mencengkram erat tangan Arka yang kini sedang berjabat tangan dengannya.
"Kak Arnold sendiri apa kabar?"
Arka, pria itu benar-benar. Ia mundur beberapa langkah. Berdiri di samping Sekar. Menarik pinggang gadis itu. Menempelkannya dengan tubuh nya. Kemudian memasang senyuman menyeringai.
"A-aku. Kabar ku baik," Arnold gugup. Tentunya. Hatinya sedang panas melihat Sekar dan Arka menempel begitu. Biar dikata suami istri.
"Sendiri Kak? Mau kemana?"
"Nggak. Berdua sama temen. Jalan-jalan aja," ucap Arnold. Sekar mangut-mangut.
"Kita juga cuman berdua. Gabung aja Kak. Makan bakso yuk di sana," Entahlah. Sekar spontan berkata begitu saat tidak sengaja mata nya melihat tukang bakso di pinggiran jalan.
__ADS_1
Arka menatap Arnold dengan intense. Menantikan apa yang akan pria itu katakan.
"Oh? Boleh. Ayo."
"Gak usah! Kamu kan tadi baru makan. Emangnya belum kenyang?!" Tanya Arka. Mencekal lengan Sekar.
"Gak papa Ka. Kan bakso gak seberapa. Kalau kenyang kita semangkok berdua aja," ucap Sekar.
"Kalau lapar makan sendiri aja ya Nold. Aku dan Sekar mau liat-liat dulu," ucap Arka. Kemudian menarik lengan Sekar.
"Istrinya lapar kok dibiarin. Suami macam apa." Arka mengepalkan tangannya. Memejamakn matanya menahan amarah saat mendengar Arnold memgatakam itu.
"Ka? Udah Ka. Bukam gitu maksud Kak Arnold," ucap Sekar tskut. Karena ia bisa melihag jelas amarah yang tergambar di wajah Arka.
"Istri istri saya!" Teriak Arka.
"Kalau gak bisa jagain istrinya. Kasih aja ke saya," Arnold bersidekap tangan di dada. Sudut bibir nya terangkst. Ia tersenyum menyeringai. Mudah sekali memancing emosi Arka.
Arka menghampiri Arnold. Tak memperdulikan Sekar yang khawatir dan berusaha meredam amarahnya, "Ka udah dong Ka." Gadis itu benar-benar kalut. Tapi Arnold masih saja santai di tempat.
Karena memang itu tujuannya. Membuat Sekar dan Arka bertengkar.
"Ngomong sekali lagi!" Arka menarik kerah baju Arnold. Mengangkat wajah pria itu tinggi-tinggi.
"Kasihan yah Sekar. Nikah sama orang temperamen. Kasar dan dingin."
Teman? Maaf Arka melupakannya.
Sebuah bogem mentah mendarat di pipi sebelah kanan Arnold. Melesat dengan cepat tak terhindarkan. Membuat pria itu jatuh tersungkur di rerumputan. Langsung mengeluarkan bercak darah merah.
Dada Arka naik turun. Nafasnya terpenggal. Menahan emosi yang menggebu. Hal yang paling Arka tidak suka adalah ketika sesuatu buruk menyangkut pautkan istrinya.
Sekar tertududuk. Membantu Arnold bangkit. Arnold tak merasa sakit. Justru ia senang. Karena sebentar lagi akan ada pertengkaran sengit antara Arka dan Sekar.
"Udah Ka udah."
Arnold memegangi pelipisnya. Senyumnya tak luntur. Ia benar-benar senang.
"Berapa kali sudah ku katakan bahwa hal yang paling ku benci adalah ketika seseorang menggoda istriku! Arnold tadi menggodamu," ucap Arka geram.
"Benar. Aku menggoda Sekar. Kenapa? Marah?" Tanya Arnold menantang.
Jika Sekar tidak menahannya. Bogeman lainnya akan mendarat di pipi mulus Arnold.
"Pergi!" Usir gadis itu. Membuat semuanya membelalakan mata.
"Aku bilang pergi!" Tunjuk Sekar.
"Ta-tapi."
"Aku minta Kak Arnold pergi!"
Arka menganga. Tak salah dengar kah ia? Sekar mengusir Arnold? Bukannya biasanya Sekar membela Arnold.
"Tidak masalah. Kalau begitu biar aku dan Arka yang pergi."
Gadis itu menarik lengan Arka yang masih membulatkan matanya. Dengan langkah kasar, Sekar meninggalkan Arnold yang masih diam mematung. Memegangi pelipisnya yang berdarah.
Tapi Sekar sudsh tidak mau memperdulikannya. Ia kesal pada Arnold. Bukan salah Arka memukul Arnold di tempst umum itu. Lagipula cemburu memang bukan hal yang dapat di hindari. Arka cemburu saat melihat Arnold menggoda Sekar. Dan Sekar melihat ke sengajaan di rsut muka Arnold.
__ADS_1
"Sekar?"
Sekar melepaskan tangan Arka. Berjalan lebih cepat darinya. Menuju tempat mobil yang di parkirkan.
"Sekar maaf. Tadi kan kamu lihat sendiri Arnold yang mulai."
Tak perduli. Kekerasan adalah hal yang Sekar benci.
"Sekar? Maaf. Tolong maafkan. Pelan-pelan jalannya. Nanti utun nya kenapa-napa." Pengen jitak kepala Arka boleh?
"Sekar?"
Hap! Arka bisa menggapai Sekar. Menarik bahu gadis itu. Membalikan badannya menghadap Arka. Sebelah tangan memegangi tengkuk gadis itu.
Benda kenyal nya mendarat lagi disana. Sekar sudsh berontak. Dengan memukul-mukul dada bidang Arka dan memejamkan matanya rapat-rapat.
Tapi Arka semakin menjadi. Ia memperapat tubuh nya dengan tubuh Sekar. Menarik pinggang ramping gadis itu agar semakin dekst dirinya. Memperdalam ciumannya. Tidak hanya dalam, tapi juga main-main di dalam sana.
Sebuah kesialan bagi Sekar. Tadi dirinya berontak. Sekarang malah tidak ingin melepaskan. Mengikuti alur permainan.
"Maaf. Jangan lari lagi ya," ucap nya. Mengusap lembut sudut bibir Sekar.
"Nanti utun nya terluka."
Bruk! Sekar mendorong tubuh Arka. Tak kurun dari itu ia juga terkekeh.
****
"Enak ya jadi seorang pria. Kalau wanita marah, tinggal di cium aja. Abis itu langsung bungkam," ujar Arka. Melirik sepintas ke arah Sekar yang sedang duduk di sampingnya.
Sekar mendengus sebal. Tak lama kemudian menarik nafas dalam, "Kamu ada masalah apa sih sama Kak Arnold? Kok kayak nya musuhan gitu."
"Percuma aku mengatakannya. Kau tidak akan percaya," ucap Arka begitu yakin.
"Memangnya apa?"
"Arnold mencintaimu," Sekar menahan getaran hebat di bibirnya. Hampir gelak tawa nya pecah. Menyembur di wajah Arka. Namun sekuat mungkin ia tahan agar Arka tak marah.
"Mencintai sebagai Adik. Begitu bukan?" Tanya Sekar.
"Nah kan. Tidak percaya 'kan? Sudahlah lupakan. Yang jelas, apapun hubungan kalian. Buatlah jarak lebih jauh. Tak perduli perasaanmu pada Arnold hanya sebatas Kakak. Aku sebagai suami mu cemburu melihatnya."
"Iya Arka sayang."
Senyuman terukir di bibir Arka. Begituuu panjangg nan lebar. "Mudah ya jadi perempuan. Kalau pria nya marah tinggal di rayu saja," ucap Sekar. Melawan perkataan Arka tadi.
"Harus sering-sering marah kayaknya. Biar sering-sering di rayu," gumam Arka.
"Pengen banget di rayu Sekar," gumam Sekar sedikit malu-malu.
"Malam ini gadang yah," ucap Arka menaik turunkan alisnya.
Gadang? Mau berapa ronde Arka?
"Tau film Indisious 3? Malam ini tayang. Kita nonton sama-sama."
Oh ngajakin gadang nonton film. Di kira mau membuat penerus Gumelar.
"O-oh. Iya tau film itu. Ayo nonton bareng," ucap Sekar gugup.
__ADS_1
Prepare nemenin Arka nonton film horor