
Arka: Boleh 'kan sesekali manusia berlarut-larut dalam kebahagiaan?
.......
Malam itu kedua insan berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Dengan jari jemari yang terus bertautan. Seperti di lem dan enggan untuk lepas jika bukan takdir yang melepaskan. Keduanya saling mengembangkan senyuman. Sesekali saling melirik. Melemparkan bunga ke hati masing-masing. Merasa dunia dan rumah sakit milik berdua. Pasien hanya mengontrak saja.
Apa yang ditakuti selama ini, tidak terjadi. Apa yang menjadi pertanyaan selama ini, telah terjawab. Dan mungkin apa yang diinginkan, akan segera kesampaian dan menjadi kenyataan.
Arka tidak pernah mengira dirinya akan mencintai gadis Adik kekasihnya di masa lalu. Begitupun Sekar. Pertemuan dengan Arka hari itu ternyata memanjang hingga saat ini. Tak sedikitpun tersirat di benak Sekar dirinya akan memandu kasih bersama pria pilihan sang Kakak. Pertemuan keduanya bukan sesuatu yang di duga sebelumnya. Namun ternyata berakhir membahagiakan.
Arka menghentikan langkahnya. Lorong rumah sakit begitu sepi karena hari sudah berangsur malam. Bahkan sudah tidak ada lagi suara dorongan brankar meski hanya satu. Hanya semirik angin malam yang menemani kedua insan ini berjalan.
"Sekar?"Arka memalingkan wajahnya. Menatap diri Sekar yang lebih pendek darinya. Menatap teduh mata sendu milik gadis itu.
"Iya?" Gadis itu begitu ceria. Begitu senang. Sumpah, belum pernah sekalipun Arka melihat Sekar seceria ini. Senyuman dan binar diwajahnya menolak untuk hilang. Demi apapun, tak ada kata yang mampu menggambarkan bagaimana bahagianya seorang Sekar saat ini.
"Kamu cantik malam ini," alamak. Bukan itu yang ingin Arka katakan sebelumnya. Tapi mulutnya seolah-olah membisu saat melihat binar di mata Sekar. Seakan-akan bukan dirinya yang mengontrol untuk berbicara.
Sekar merunduk. Memperhatikan setiap inci dari tubuhnya. Cantik dari mana?
Arka menengok ke kanan dan ke kiri. Memastikan apakah ada orang lain atau tidak.
Setelah di rasa aman. Bahkan tanpa permisi, bibirnya menyentuh bibir Sekar. Membuat Sekar membulatkan matanya lebar-lebar. Perlahan, Arka mundur dan memojokan Sekar ke tembok rumah sakit. Arka memegangi bagian belakang kepala Sekar agar gadis itu tidak kenapa-napa.
Sekar mematung. Tubuhnya bagaikan tersengat listrik. Kakinya merasa tidak napak di lantai rumah sakit. Pandangannya kabur. Sekar tidak bisa merasakan apa-apa selain ******* di bibirnya.
Arka menuntut. Menolak untuk berhenti. Mungkin ini hal yang seharusnya terjadi bertahun-tahun lamanya. Dan baru kali ini dapat ia lakukan. Maklum saja. Bagaimanapun juga Arka pria normal. Masalahnya, jangan di rumah sakit juga.
"A-Arka?" Sekar berusaha mendorong dada bidang Arka. Padahal Arka masih menikmatinya.
"Hmm?"
"Ta-takut ada yang lihat," Sekar menunduk.
"Memangnya kenapa kalau ada yang lihat? Bukankah kita suami istri?" Tak ada ketakutan dan rasa bersalah di diri Arka sedikitpun.
"Ta-tapi jangan di rumah sakit juga," ujar Sekar gugup.
__ADS_1
Sudut bibir Arka terangkat, "Dengar ya Sekar. Setelah ini, aku tidak akan menceraikanmu." Sebagai akhir, kecupan singkat mendarat di kening Sekar. Membuat jantung itu semakin dag dig dug kencang. Getaran hebat ia rasakan. Kemudian keduanya kembali berjalan dengan pelan.
"Aku takut setengah mati kalau kau adalah Adik ku. Masalahnya, aku sudah mulai mencintaimu," telunjuk Arka mencolek pelan hidung Sekar.
"Terima kasih," ujar Sekar.
"Terima kasih untuk apa?"
"Karena sudah mencintaiku." Sekar menggemaskan!! sifat lugu nya membuat Arka ingin menelan Sekar hidup-hidup dan membiarkan Sekar berkembang biak di perutnya.
"Boleh aku minta satu hal?" Tanya Arka.
"Tentu," jawab Sekar mantap.
"Cintai aku sebagaimana aku mencintaimu," Arka menghentikan langkahnya. Arka membalikan tubuh Sekar. Memegangi kedua belah bahu Sekar.
"Memangnya sebagaimana kau mencintaiku?" Tanya Sekar. Matanya menatap dalam mata Arka yang saat ini sedang menatapnya dari jarak yang begitu dekat. Kehangatan nafas Arka dapat terasa oleh Sekar.
"Kau tahu lautan?" Sekar mengangguk, "Lebih dalam dari itu."
"Kau tahu gunung?" Sekar mengangguk, "Lebih in--"
"Kau mencintaiku atau mencintai alam?" Potong Sekar. Membuat Arka nyengir kuda dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Mereka kembali berjalan dengan gandengan tangan dan jari jemari yang terus bertautan.
"Pokoknya seperti itu. Dulu, aku sangat mencintai Kakak mu. Mencintai sifat ceria Kakak mu. Kakakmu itu hyper aktif. Tapi aku suka. Karena sifat ceria nya bisa membuat jenuh ku kabur," Sekar menyimak segala cerita tentang Siska.
"Aku bahkan tak bisa berkata-kata bagaimana aku mencintai Siska. Aku benar-benar takut kehilangan dia. Aku takut dia kenapa-napa. Sekali saja dia sakit, aku langsung khawatir dan menyalahkan diriku sendiri. Aku menghukum diriku dengan tidak makan berhari-hari kalau Siska sakit. Siska itu wanita pertama yang berhasil mengubah duniaku. Mengubah warna abu dalam hidupku menjadi warna-warni. Mengubah sunyiku menjadi melody yang penuh irama. Mengubah segalanya. Hidupku, diriku. Memberikan kebahagiaan yang tak pernah kurasakan dan ku perkirakan sebelumnya. Itulah Siska," ujar Arka dengan tatapan nanar. Menerawang mengikuti derap langkah kaki nya.
Sekar menunduk. Ia tersenyum simpul. Siska memang wanita hebat. Wanita yang tak akan ada duanya di dunia ini. Sekar dan Siska memang sangat jauh berbeda. Siska sangat periang, sementara Sekar sangat pendiam.
"Aku tak tahu bahwa ternyata Siska memiliki seorang duplikat, hasil reinkarnasi nya. Dan itu dirimu," Arka menunjuk diri Sekar.
Sekar menggeleng, "Sikapku dan sikap Kak Siska sangat jauh berbeda. Hanya wajah kami saja yang sedikit mirip. Itupun masih cantikan Kak Siska," ucap Sekar sedikit gugup dan merasa rendah hati.
"Siska memang cantik. Tapi kau manis," Arka mencolek hidung Sekar.
__ADS_1
"Baik periang, baik pendiam. Aku menyukai keduanya. Kau dan Siska bagiku sama. Sama-sama wanita yang telah berhasil masuk ke dalam hatiku. Membuatku risau dan khawatir di setiap luka yang kau dapat. Apalagi jika luka itu karena ku."
Arka menghentikan langkahnya. Ia menyeimbangkan berdirinya dengan Sekar. Memegangi kedua belah bahu gadis itu.
"Maaf. Sedari dulu aku membencimu. Karena kupikir kau lah penyebab matinya Siska. Padahal aku salah besar. Sebenarnya kau pemilik hatiku yang sebenarnya. Kematian Siska, hadirnya aku dan hadirnya dirimu merupakan takdir Tuhan yang seharusnya tidak aku permasalahkan. Seharusnya aku sadar bahwa ini memang nasib kita. Hal yang sudah Tuhan rencanakan sebelumnya. But i was too selfish. Aku terlalu egois. Aku terlalu buta karena Siska sampai tidak sadar bahwa aku melukai mu. Gadis yang memang dilahirkan untuk ku."
"Mulai sekarang. Izinkan aku mencintaimu sebagaimana aku mencintai Siska dulu. Izinkan aku menjagamu. Membahagiakanmu. Kebahagiaan ini bukan lagi milik Siska, tapi milikmu, Sekar. Kematian Siska memang disengaja agar aku bisa bertemu dan menjadi milik mu. Pengorbanan mu sebagai seorang Adik sudah cukup. Siska sudah merasakan banyak kebahagiaan karena mu. Kini, saatnya kau yang merasakan kebahagiaanmu. Terimakasih telah menyadarkan aku. Terimakasih telah bersabar untukku."
"Terima kasih masih memberikan kesempatan untuk ku. Sekar adalah wanita terhebat dan terbaik yang ku kenal setelah Siska. Ibu mu dulu ngidam apa sih? Kok sampai memiliki anak sebaik dirimu?" Arka kembali mencolek hidung Sekar.
Air mata Sekar sudah jatuh dari tadi. Kata demi kata yang keluar dari mulur Arka mampu meluluh lantahkan hatinya. Apalagi saat Arka menyebut nama Siska.
"Terimakasih dan maaf. Aku mencintaimu, Sekar." Arka memeluk Sekar kembali. Malam ini, dunia adalah milik mereka berdua.
Begitupun Sekar. Meninggalnya Siska, bertemu dengan Arnold, Arka, Waluyo, Tami, Arman dan Iyam bukanlah hal yang ia kira sebelumnya. Pada awalnya, mereka semua adalah orang asing bagi Sekar.
Namun ternyata. Kejadian tak terduga ini merupakan takdir Tuhan. Jalan hidup Sekar.
Awalnya memang penuh lika-liku. Namun Sekar menjalaninya dengan semangat dan kesabaran hingga akhirnya ia sampai pada puncaknya. Yang dimana di puncak tersebut terdapat kebahagiaan yang semoga akan menjadi miliknya.
Benar. Berakit-rakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Setelah apa yang dialami Sekar selama ini. Kini semuanya berbalik. Sekar mendapatkan kebahagiaannya. Dan semoga saja bersama Arka.
Mereka melanjutkan langkahnya yang sudah berhenti beberapa kali. Rasanya mereka mengambamg. Kaki dan tangan kaku. Dingin dan membeku. Rasanya seperti mayit hidup. Separuh nafas entah dimana.
"Tanganmu sangat kecil. Kalau berumah tangga denganku harus gendut yah. Kalau gendut itu artinya bahagia."
Sekar mendengus sebal. Pasalnya kebanyakan wanita muda memang memiliki tubuh idela, kurus. Arka malah menyuruhnya untuk gemuk. Dan perkataan Arka seperti orang sedang meledek.
"Tidak semua orang gendut itu sehat. Ada juga orang gendut yang sakit," ucap Sekar. Mendelikan matanya.
"Terserah. Mau gendut atau kurus. Yang penting Sekar harus bahagia." Tangan kekar Arka mengacak-ngacak rambut Sekar. Membuat poni gadis itu berhasil menutupi wajah imutnya. Dengan gemas, Sekar meniup rambutnya. Membuat Arka dengan cepat meraup bibir Sekar yang sedang manyun lalu di masukan seolah-olah ke dalam hatinya.
Sekar terkekeh. Ia menempelkan kepalanya di pundak Arka. Dengan penuh kelembutan Arka mengusap halus kepala Sekar.
Apapun yang terjadi di masa lalu. Biarlah berlalu. Sebuah hal yang tidak dapat di ulang dan di ubah. Hanya sebuah hal yang bisa diambil hikmah dan pelajaran.
Jalani masa kini yang akan banyak hal-hal baru akan menghampiri. Dan persiapkan untuk masa depan.
__ADS_1