
"Iya, sekarang."
"Sekar?"
Sekar yang baru saja masuk ke dalam ruang make up harus kembali keluar karena Arka memanggilnya.
"Ya?" Tanya Sekar.
Arka menghela nafas "Kita harus pulang sekarang." Ujarnya dengan nada lesu.
Sekar terkejut, matanya terbelalak "Lho? Kenapa Mas?"
"Papah bilang ada meeting di luar kota yang harus aku hadiri saat ini. Ayo."
Tanpa mendengar perkataan Sekar lagi dan tanpa mengindahkan para petugas salon. Arka menarik tangan Sekar keluar untuk segera pulang ke rumah.
Pasrah, hanya itulah yang bisa dilakukan oleh Sekar saat ini. Kesal pastinya karena tidak jadi di dandani. Tapi percuma saja dandan cantik-cantik jika tidak dilihat Arka.
"Sekarang kita ke rumah Mamah dulu. Ada yang mau aku bicarain sama Papah."
Sekar terkejut. Ia masih ingat bahwa Viona ada disana dan Sekar tidak ingin menemuinya. Tapi bagaimana, tidak mungkin ia menolak dan tidak mungkin juga meminta Arka untuk menyuruh Viona pulang.
Sekar bingung sendiri. Ia menggigit kuku tangannya sambil memasang muka resah.
Arka tersenyum "Tenang saja. Viona sudah pulang." Ujarnya, seolah-olah tahu isi pikiran Sekar.
Barulah Sekar bisa bernafas lega. Kejadian tadi pagi begitu membuatnya parno karena takut Viona marah padanya.
***
"Assalamualaikum." Keduanya mengucap salam dengan hampir bersamaan lalu disambut oleh Bi Iyam dari dalam.
"Waalaikumsalam. Eh? Non Sekarrr." Iyam ambruk langsung memeluk Sekar dan diterima baik oleh Sekar.
"Hallo Bi." Ucap Sekar ramah.
"Bibi kangen banget sama non Sekar."
Tidak merasa kepada majikan, begitulah Iyam saat ini. Tetapi tidak ada yang marah ataupun melarang. Semuanya tahu bagaimana sayangnya Iyam pada Sekar.
Iyam adalah seorang janda yang ditinggal mati oleh suaminya 1 tahun lalu. Selain suami, anak perempuan Iyam yang diperkirakan usianya setara dengan Sekar juga meninggal bersamaan dengan Ayah nya yakni 1 tahun lalu.
Sedih, merana ditinggal keluarga. Lalu Sekar datang menghibur Iyam dan menenangkannya. Maka dari itu Iyam sangat sayang kepada Sekar.
Selain itu, jika Sekar datang ke rumah Tami dirinya tidak bersikap seperti bos besar. Dapur adalah tempat tujuannya. Memasak bersama Iyam untuk makan bersama.
Kepada Sekar, Iyam sudah menganggap Sekar adalah anaknya. Begitupun sebaliknya.
"Bibi apa kabar?" Tanya Sekar setelah pelukannya lepas.
"Alhamdulilah baik. Yuk masuk non."
"Iya."
"Mah, Pah." Ia menciumi tangan Tami dan Arman bergantian ketika sudah bertemu.
"Maaf yah jadi menganggu waktu kalian. Ada yang harus dibicarakan dengan Arka soal pekerjaan. Tapi karena tadi dia tidak ke kantor jadi Papah meminta dia kesini." Jelas Arman.
Sekar mengangguk. Tidak masalah baginya. Lagipula itu sudah biasa.
__ADS_1
"Masalah apa Pah?" Tanya Arka.
"Di kamar Papah yuk." Ajak Arman.
Sesaat setelah Arka pergi, Sekar hendak menuju ke dapur untuk memasak bersama Iyam. Namun Tami menahannya.
"Sekar? Mamah boleh bicara sebentar sayang?"
Sekar mengangguk, ia kemudian mengikuti Tami.
"Duduk sini sayang." Ujarnya sambil menepuk-nepuk tempat di sebelahnya, di sebuah sofa.
"Huft. Ini masalah serius."
Tami menarik nafas berat. Melihat hal tersebut membuat Sekar ketakutan. Selain Tami, Sekar juga mempersiapkan diri dengan menarik nafas panjang.
"Soal hubungan kamu sama Arka."
Ketakutan Sekar bertambah saat tahu apa yang ingin dibicarakan Tami.
"Apa itu?" Tanyanya.
"Maaf jika ini sedikit menyakiti hatimu. Tapi.. kapan kamu mau hamil?"
Jleb!
Seperti keris berkarat menusuk dadanya, sesak sehingga sulit untuk bernafas.
"M- m anu mah."
Mulut Sekar kaku. Tidak, bukan kaku. Tapi ia tidak tahu harus mengatakan apa.
Permainan jari Sekar dimulai, ia menggigit bibir bawahnya. Apakah ini saatnya mengatakan yang sebenarnya kepada Tami bahwa ia dan Arka tidak pernah tidur bersama?
"Mamah tidak akan memarahimu jika ada yang salah dengan rahim mu atau ada masalah di diri Arka. Mamah mempunyai sebuah ide. Jika memang benar kamu tidak bisa hamil karena sebuah takdir, bagaimana kalau kita coba mengikuti program bayi tabung?" Ucap Tami sambil memegang pergelangan tangan Sekar.
Sekar mengangkat kepalanya, ia menatap Tami tidak percaya. Mengapa Tami bisa berpikir sampai sejauh itu?
"Bagaimana? Keputusan ada di kamu. Kalau Arka pasti ikut kamu saja. Mau diperiksa dulu atau langsung program bayi tabung?" senyuman tulus tidak lepas dari Tami.
Senyuman itu lah yang membuat Sekar lemah dan tidak tega untuk berbohong. Sekarang ini Sekar sangat mengerti bagaimana perasaan Tami yang ingin segera menimang cucu di usianya yang sudah tua.
Jujur, itu yang akan Sekar lakukan sekarang.
"Sekar mau jujur akan satu hal Mah." Kepalanya menunduk.
"Apa sayang?"
Sekar menatap mata Tami dengan tatapan nanar. Di genggam erat olehnya tangan Tami yang sudah mulai keriput. Tanpa terasa, air mata mulai menetes membasahi pipinya.
"Bismillah. Sekar dan Arka tidak pernah tidur bersama."
Pegangan tangan Sekar langsung dilepaskan oleh Tami, ia bahkan bangkit dari duduknya. Matanya melotot disertai warna merah menyala.
Sekar sudah pasrah. Jika hendak diceraikan Arka pun tidak masalah. Mungkin ini sudah menjadi jalan hidupnya, menjadi wanita jalanan yang malang.
Karena Sekar sudah lelah hidup dalam kebohongan. Bertingkah baik-baik saja padahal tidak. Jika status Janda akan segera menghampirinya, ia akan terima.
Sekar berdiri "Salahkan Sekar atas semua ini. Sekar yang tidak mau ditiduri oleh mas Arka karena selama ini Sekar tidak mencintainya."
__ADS_1
Jika tadi keris menusuk dada Sekar sekarang keris itu berpindah tangan dan menusuk dada Tami.
Sekar kembali berbohong setelah mengungkapkan kebenaran. Padahal selama ini Arka sendiri yang enggan untuk meniduri Sekar karena jati diri Sekar yang belum ditemukan.
"Se-Sekar?" Tanya Tami lirih.
"Iya. Sekar tahu Mamah pasti tidak menyangka. Atas nama seorang istri Sekar katakan bahwa selama ini kami tidak pernah tidur bersama."
Tami terduduk, ia memegang dadanya yang sudah sesak. Kini dirinya tahu mengapa sesosok bayi tidak pernah di kandung Sekar.
"Maaf jika Sekar lancang. Tapi Mamah boleh menikahkan Arka dan Viona setelah menceraikan Sekar." Bukan satu dua lagi air mata yang membasahi wajah Sekar, banyak.
Ia menangis, begitupun Tami. Tami bahkan belum berkedip sama sekali.
"Selama ini Sekar kejam. Sekar telah membuat tameng kekangan untuk Arka. Karena Sekar mas Arka tidak bisa menikah dengan gadis yang ia cinta. Karena Sekar ia tidak bisa bahagia." Sekar berkata seolah-olah itu semua sepenuhnya salahnya. Padahal dia sendiri yang paling terluka.
Disaat yang bersamaan Arka dan Arman datang.
"Kenapa menangis?" Tanya Arka pada keduanya.
Karena sudah terlanjur memberitahu pada Tami, maka Sekar akan memberitahukan semuanya juga kepada Arman yang padahal sudah tahu.
"Aku sudah mengatakan kepada Mamah bahwa kita tidak pernah tidur bersama. Aku juga sudah mengatakan kepadanya bahwa kita tidak saling cinta. Dan aku mengatakan bahwa ini sem-"
"Sekar?!" Arka menghentikan perkataan Sekar karena Tami sudah semakin menangis.
"Biar Papah bawa Mamah mu ke kamar." Arman biasa saja karena dia memang sudah mengetahui segalanya.
Dengan kasar Arka langsung menarik tangan Sekar menuju ke luar, takut Tami semakin mendengarnya.
"Kau ini?!" Arka mencakar mukanya sendiri. Kesal pada tingkah konyol Sekar.
"Ibu menanyakan soal bayi lagi. Dalam 5 tahun ini aku sudah tidak tahu berapa kali ia menanyakan soal bayi. Dia ingin seorang cucu Mas, dia ingin menimang bayi. Sampai kapan kita akan terus begini? Mungkin aku bisa terus menderita karena penderitaan adalah jalan hidupku. Tapi tidak dengan kamu dan keluargamu mas. Mereka harus bahagia! Aku hanya pembawa duka dan luka di keluarga ini. Aku hanya seorang perempuan yang kehadirannya tidak diinginkan! Aku tidak bisa memberikan mu apa-apa sementara dirimu selalu memberikan aku banyak hal yang tidak pernah kumiliki. Aku mengerti Mas bahwa kamu menikahiku di dasari kasihan dan karena permintaan kak Siska. Maka dari itu mari kita sudahi semua ini. Aku sudah terbiasa menderita dan kak Siska sudah lama tiada. Lalu untuk apa kita mempertahankan semua ini? Ceraikan aku dan menikahlah dengan Viona!" Tangisan Sekar pecah seketika. Untaian kata itu keluar dari mulutnya dengan begitu mudah.
Menampar Sekar? Tidak. Arka justru menarik tubuh Sekar dan memeluknya. Ia mengelus kepala Sekar dan tanpa sadar ia juga ikut menitikan air mata.
Perkataan Sekar kali ini cukup menyentuh hati batu Arka.
"Aku lelah. Kita berdua butuh bahagia. Jika bahagia mu bersama Viona, nikahi dia. Dan aku akan mencari kebahagiaanku sendiri. Tidak perlu kasihan padaku, aku sudah biasa. Aku gadis buangan, aku gadis malang. Derita adalah makanan ku dan tangisan adalah minumanku." Pelukan Arka tidak berarti apa-apa bagi Sekar. Dunianya sedang hancur berat saat ini.
"Kasihan Mamah. Bertahun-tahun sudah kita membodohinya dalam kepura-puraan yang tidak diketahui kapan ujungnya. Dengan Viona, aku yakin kau akan mendapatkan kebahagiaan yang tidak pernah kuberikan. Pernikahan macam apa ini? Bertahun-tahun tanpa adanya keharmonisan."
Bukan hanya Sekar saja tapi Arka juga ikut bersedih. Selama ini ia sudah banyak menyakiti hati Sekar.
Ingin sekali Arka mengatakan bahwa ia sedang mencari jati diri Sekar. Namun, jika ia mengatakan itu akankah Sekar tetap bertahan?
Apa menceraikan Sekar merupakan jalan terbaik?
"Cukup katakan saja maka kita sudah resmi bercerai secara agama."
Sekar menarik tubuhnya dari Arka. Matanya sebam, hidungnya memerah.
"Cukup katakan saja maka kita sudah resmi bercerai secara agama." Sekar mengulangi perkataanya.
Selama 5 tahun ini Arka belum berhasil jatuh cinta kepada Sekar. Tapi kenapa? Kenapa susah kali mengatakan sebuah kalimat 'talak' kepada Sekar?
Arka melihat manik mata Sekar yang masih menunjukan cahaya. Ada sesuatu di dalamnya. Ya, ia melihat sosok Siska. Ia ingat bahwa Siska pernah mengatakan bahwa suatu hari Arka akan melihat sosok Siska di dalam diri Sekar.
Namun mengapa harus sekarang? Setelah semuanya hampir berakhir. Atau kenapa tidak nanti saja? Setelah semuanya terungkap.
__ADS_1
Arka mulai gelisah. Bimbang. Keputusan yang akan ia ambil adalah keputusan yang sangat besar.