
Arka: Kalau takut tenggelam, kenapa kau berenang? bukankah kau yang mengatakan bahwa ketakutan bukanlah hal yang bisa dipermainkan?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ*...
Semuanya berkutat. Bergulat dengan do'a masing-masing. Hingga pada saat nya polisi tiba semuanya bangkit. Menyeka air mata. Berusaha berfikir positif dengan memasang senyuman.
"Sudah di temukan?" Antusiasme Arka.
"Sudah. Saudara Sekar sekarang sudah berada di rumah sakit. Tepatnya di rumah sak---"
Arka mendorongnya. Berlari ke garasi setelah menyambar kunci mobil.
"Rumah sakit CENDANA!" teriak polisi tanpa rambut.
****
"Suster istri saya di rawat di ruang mana? Kamar mana?" Apa Arka berfikir dirinya itu dewa sehingga semua orang tahu siapa istrinya?
Mengusap wajah nya malu ketika para suster menatapnya cengo.
"Pasien atas nama Sekar..."
"Oh. Di sebelah san---"
"Makasih."
"Dih. Gimana kalau salah kamar?!"
Tapi firasat suami beda. Hanya dengan sekali tunjuk, Arka sudah bisa menemukan Sekar. Lewat wangi Sekar katanya.
Apa yang diharapkan tidak menjadi kenyataan. Ia harus menelan pahit saliva nya. Melihat istri tercinta terbaring lemah dengan mata tertutup rapat.
"Saya suami pasien. Boleh saya masuk?" Izin nya. Di balas anggukan oleh dokter wanita.
Pertama kali yang ia lakukan adalah tersenyum. Senang, bersyukur setidak nya Sekar telah berhasil di temukan. Meski keadaannya belum sembuh total.
Beralih mengambil kursi. Di dudukan di sebelah Sekar. Menyelipkan rambut nya ke belakang telinga. Beralih mengusap halus pipi nya.
"Bangun yuk. Ada bazar di depan rumah. Bazar makanan," bisik nya di telinga.
"Sayangnya Arka kok tidur gak ngajak-ngajak? In---"
"Arka."
Arka menolehkan kepalanya ke belakang. Sudah ada Tami disana. Memberinya isyarat agar keluar. Mendaratkan kecupan singkat di kening Sekar kemudian mengekori Tami yang membawa nya ke luar.
"Kenapa, Mah?"
"Tadi Mamah udah ngobrol sama Viona. Gak ada yang mencurigakan dari dia. Dia keliatan jujur. Bahkan tadi Viona nangis sampai tersedu-sedu. Gak ada niatan dia bukan mengatakan itu semua sama Sekar. Arka tahu sendiri kan gimana Viona? Coba kamu pikirin apa emang Viona yang udah nuduh kamu?"
"Mamah nggak bermaksud nuduh Sekar ngada-ngada. Cuman kayak nya kita harus berhenti nuduh Viona. Dia emang jahat tapi gak sejahat yang kita kira."
__ADS_1
Arka bungkam. Tanpa suruhan dari Tami pun Arka memang akan berhenti menuduh Viona. Jelas ia sudah tahu siapa penyebabnya. Bahkan kalau bisa, Arka ingin minta maaf atas kemarahannya tadi.
"Iya. Arka masuk dulu ya nemenin Sekar."
Kembali duduk di samping brankar. Arka meraih tangan kiri Sekar. Mengulas senyum. Memasangkan kembali cincin pernikahannya.
"Kita itu gak akan pisah kalau bukan Allah yang memisahkan. Lihat? Cincin ini sudah kembali ke pemilik nya." Mendaratkan kecupan di pipi kiri Sekar, "Pemilik asli dan sejati."
*****
Hari sudah menjelang pagi. Anggota keluarga sudah pulang ke rumah. Ralat, Arka yang memintanya pulang. Alasannya ingin berduaan dengan Sekar. Bahkan sampai saat ini Sekar belum membuka mata.
Arka kembali dengan peci bertengger di kepala. Tangan kanannya memeluk Al-Qur'an. "Tidurnya nyenyak banget, hm? Sampe belum bangun. Bangun yuk, shalat." Kemudian tersenyum sendiri. Merasa seperti orang gila.
Mau dikata gila pun tidak masalah. Arka memang gila. Ralatnya tergila-gila. Bisa tiba-tiba marah, menyebalkan lalu menyenangkan. Setelah kemarin marah-marah, berlagak seperti orang sakit jiwa kini terus tersenyum. Saat krystal nya sudah kembali.
"Bismillahirrahmanirrahim......"
Arka yang terjaga semalaman akhirnya tertidur di samping Sekar. Menjadikan tangannya sebagai bantalan. Tidur dengan posisi miring.
Harus nya orang-orang baru bangun, tapi Arka baru tidur.
Sekar mengerjap-ngerjapkan matanya. Berusaha menetralkan kembali pandangan. Memijit kepalanya yang terasa pening. Nafas nya begitu sesak. Objek kedua yang ia lihat adalah kepala Arka.
Sekar sangat kenal rambut tebal itu. Terlebih dengan dengkuran keras nya yang beberapa hari lalu mengganggu pendengaran Sekar.
Tunggu. Ini di syurga apa di neraka?
Sekar meraba wajah nya. Alhamdulilah, utuh. Berlanjut menyibakan selimut. Kaki nya juga utuh. Melirik jam dinding, pukul 6.
Sedikit kecewa. Karena harapannya gagal. Tadi nya mau ketemu Siska dan Abraham. Takdir malah menyuruh bertemu lagi dengan Arka. Mau mendengus sebal tapi masih belum ada kekuatan. Lemas sekali rasanya.
Tapi Sekar heran. Bagaimana ceritanya dirinya bisa berada di rumah sakit? Ah namanya juga pingsan. Mana mungkin sadar.
Kata pingsan tidak enak di dengar saat ini. Sekar inginnya lebih dari itu.
Kepala Arka bergerak. Mendusel. Sekar salah tingkah. Tak tahu lagi harus melakukan apa akhirnya ia berpura-pura terlelap.
"Masih tidur ya? Sekar, bangun yuk. Perintah suami gak boleh di bantah kan? Sekarang aku perintahkan padamu untuk bangun."
Arka gila. Orang pingsan mana yang bisa menuruti perintah.
"Sekar?" Bisiknya lembut. Geli hampir membuat Sekar tertawa. Untung masih bisa ia tahan.
Arka bangkit dari duduk nya. Pergi keluar menenteng Al-Qur'an yang tadi sudah menjadi teman penumpahan masalah nya.
Sadar Arka nya sudah pergi barulah Sekar buka mata. Ia terkejut kala mendapati sosok seseorang berdiri di ambang pintu tengah tersenyum ke arah nya. Kemudian berjalan mendekatinya.
"Udah sadar ya?"
Sekar belum bisa buka mulut. Seluruh tubuh nya masih sakit.
__ADS_1
"Tau kok tadi kamu pura-pura. Soalnya pas di bisikin matanya gerak-gerak." Dalam keheningan Sekar menahan malu. Arka ternyata sudah mengetahuinya.
"Kok pura-pura tidur segala? Emang gak mau liat Arka?" Godanya. Tapi sungguh. Bahkan untuk sekedar bicara pun Sekar masih kesusahan.
"Gimana kabar nya? Gak baik ya," mendekatkan wajah nya ke wajah Sekar. Kalau saja ada tenaga, pasti Sekar sudah mencakar nya.
"Maaf ya telat. Coba kalau gak telat, pasti bisa nemenin kamu berenang. Kayak waktu itu," ujar nya pelan. Seraya mencolek hidung Sekar.
"Jangan suka tenggelam. Liat bibir nya, jadi pucet," ucapnya seraya mencomot bibir Sekar.
"Udah tau gak bisa berenang. Ngapain pake lompat segala?" Itu umpatan atau ejekan? Sekalipun Sekar bisa berbicara, pasti tidak akan ia jawab.
"Permisi, Pak." Keduanya menoleh ke arah pintu masuk.
"Saya permisi periksa pasien dulu ya," ucap nya seraya menghampiri mereka. "Tapi maaf, kalau bisa Bapak nya tunggu di luar." Arka tak menolak. Tak masalah Sekar berduaan karena yang menanganinya dokter perempuan.
****
"Gimana Ka keadaan Sekar?" Baru juga datang Tami langsung menyembur putranya. Padahal Arka sedang asyik tertidur di luar sembari menunggu Sekar selesai di periksa.
"Bangun Ka! Istrinya lagi sakit malah tidur!" Gertak Jayur. Tak lupa dengan toyoran di kepala.
"Ngantuk. Semalem gak tidur."
"Kalong. Siapa pula yang nyuruh gak tidur?! "
Hebat, satu wanita bisa mengubah banyak dunia. Kemarin dunia menangis karenanya. Sekarang sudah kembali bahagia. Seolah-olah mudah memutar balikan keadaan.
"Tadi Sekar udah sadar. Sekarang lagi di tangani dulu sama dokter."
Dokter dengan tag name Sri itu keluar. Membawa wajah sumringah yang bisa di pastikan membawa kabar bahagia.
"Alhamdulilah. Ibu Sekar sama bayi nya selamat."
........
Maaf karena sudah lalai menjagamu
Kebodohan terbesarku adalah membiarkanmu terluka
Aku ingin mati
Kenapa aku harus melihatnya lagi?
__ADS_1
Aku benci dunia ini. Mau mati pun malah tidak jadi.