
Arka: Jika menggodamu adalah pekerjaan yang dibayar. Mungkin sekarang aku sudah jadi milyader.
Sekar menguyel-uyel selang infusan. Sesekali memelintir rambutnya. Kalau tidak mengelus-elus perutnya. Terkadang meniupi kantong harumanis yang sudah kosong. Isinya berpindah ke perut Sekar.
Sementara Arka, dengan setia ia memperhatikan setiap gerak-gerik Sekar yang tampaknya kebosanan.
"Bosan yah?" Tebak Arka. Di balas anggukan lucu oleh Sekar.
"Yasudah. Jalan-jalan yuk keluar." Arka bangkit dari duduknya. Namun lengannya di cengkal Sekar.
"Udah dua hari kamu disini. Gak kerja ya?"
Arka menggeleng halus. Kembali duduk kembali di samping Sekar. Mengusap halus punggung tangan gadis itu, "Gimana aku bisa fokus kerja, hm? Kalau hati, otak sama jiwa aku disini?"
"Arka lebay," balas Sekar ketus sambil merotasikan bola matanya.
"Dih. Mau jadi jalan-jalan atau tidak?"
"Jadi," ucap Sekar antusias.
"Tapi jangan jauh-jauh ya. Sekitaran rumah sakit aja. Hujan juga baru reda. Pasti masih becek. Tunggu disini, aku ambilkan dulu kursi roda," ucap Arka.
"Hah? Buat apa kursi roda? Aku bisa jalan kok," Sekar mencoba berdiri. Tubuh nya memang sakit sekaligus ngilu. Namun jika untuk sekedar berjalan sebentar saja ia rasa masih bisa.
"Susah ya? Ngeyel sih kalau di bilangin." Arka membungkuk di hadapan Sekar. Membalikan badannya. Memberikan punggungnya. "Ayo. Aku gendong kalau tidak mau pakai kursi roda." Dan tanpa mendapatkan izin lagi, Arka menggendong Sekar. Padahal gadis itu meronta-ronta.
"Ih Arka malu! Turunin!" Sekar memukul-mukul bahu Arka. Meski tahu itu tak berarti apa-apa bagi Arka. Lagipula, ia hanya memukulnya menggunakan sebelah tangan. Itupun tangan kiri.
Dengan usilnya Arka menggendong Sekar keluar. Padahal orang-orang di sekitaran rumah sakit memperhatikan kedua mahluk aneh ini.
"Arka turunin atau aku jewer kuping kamu?!" Semakin di ancam, semakin menjadi. Itulah Arka. Tak sedikitpun ia berniat menurunkan Sekar. Arka hanya terkekeh mendengar penuturan istri polosnya itu.
"Ka turunin. Kalau di turunin kamu aku cium." Ingat bahwa Arka mesum? Buru-buru dia menurunkan Sekar. Mukanya langsung sumringah.
Saat ini keduanya sudah berada di luar ruangan Sekar. Hendak menuju ke seberang jalan atau mungkin halaman depan. Tempat baru agar Sekar tak bosan di kamar terus.
"Mau dimana? Pipi kiri atau pipi kanan?" Tanya Arka seraya menunjuk-nunjuk pipinya.
"Di... dimana-mana hatiku senang!!!" Sekar berlari meninggalkan Arka sambil tertawa. Senang telah berhasil menipu suami mesum nya itu.
Arka mengejarnya. Lari gadis itu cukup kencang. Padahal masih sakit.
"Sekar jangan lari. Nanti utun nya kenapa-napa!" Teriak Arka menggema. Membuat seluruh mata pengunjung yang ada disana menoleh kepadanya.
"Sekar jangan lari atau nanti malam...." Arka menggantung ucapannya saat Sekar berhenti berlari. Membalikan badannya lalu menatap tajam ke arah Arka. Membuat Arka terkekeh sekaligus kicep. Sekar takut Arka mengatakan kalimat bablas di depan umum.
"Nah gitu dong. Istri pintar," setelah berhasil menyusulnya, Arka melewati Sekar begitu saja setelah berhasil mengacak-ngacak rambut gadis itu.
"Mau kemana, hm? Jangan capek-capek ya. Nanti utun nya kenapa-napa." Arka mengelus perut Sekar dengan halus.
__ADS_1
Ngomong-ngomong, Arka sudah berganti baju. Luka di tangannya juga sudah di atasi. Tadi Waluyo datang ke rumah sakit. Memberikan Arka baju ganti.
Dan kalian tahu apa, Arka ganti baju di depan Sekar?! Cem tidak ada toilet saja. Untung Sekar sabar. Kalau tidak, pasti Arka sudah di lempar tiang infusan.
"Kamu pusing gak sih Ka? Tadi aku liat darah di kepala kamu banyak banget. Terus tangan kamu gak perih ya?" Sekar melirik sekilas kepala dan tangan Arka.
"Aduuh sakitt bangett. Ini kepalanya pusing. Tangannya juga sakit aduh aduh," Arka memulai drama nya. Kali bisa di elus Sekar.
"Oh? Yang mana yang sakit Ka?" Tanya Sekar khawatir.
Arka tersenyum penuh kemenangan. Menunjuk keningnya, "Yang ini."
"Oh yang itu. Sini aku obatin," Arka tersenyum senang. Sedetik setelah itu meringis kesakitan karena Sekar menyentil dahi nya.
"Kok di sentil sih?!" Arka mengusap-ngusap dahi nya.
"Kenapa hm? Mau marah?" Tanya Sekar menantang.
"Untung di tempat umum," ucap Arka ketus.
"Emangnya kenapa kalau bukan di tempat umum?" Tanya Sekar.
"Bibir kamu abis sama bibir aku," ucap Arka seraya mencomot bibir Sekar.
"Arka mesum!" Teriak Sekar tak asa. Membuat atensi orang-orang teralihkan padanya.
"Nah loh. Malu kan di liatin banyak orang?" Arka terkekeh melihat bagaimana muka malu Sekar. Bahkan gadis itu langsung bersembunyi di belakang tubuh Arka.
"Iya. Makannya kamu nya juga jangan polos-polos amat."
Mumpung sedang di belakang Arka. Tak segan-segan Sekar menggigit punggung Arka.
"Argh Sekar polos!" Teriak Arka. Lagi-lagi membuat pengunjung menoleh dan menatap bingung pada mereka berdua
"Ya Allah kau apakan istriku. Kenapa jadi tukang gigit gini," Arka mengelus punggungnya. Sakit bekas gigitan Sekar.
"Istri Arka mau makan apa? Makan yah. Kamu dari kemarin cuman makan harumanis doang."
Sekar terihat berpikir. Situasi badannya sudah membaik. Dan sepertinya selera makannya juga sudah kembali.
"Bakso boleh?" Tanya gadis itu dengan manik mata penuh binar.
"Apapun," Arka mencubit pipi Sekar gemas.
Lantas mereka berdua berjalan penuh hati-hati menuju tukang bakso yang berada di depan rumah sakit. Tentu atas permintaan Sekar.
"Lucu ya. Coba di pikir lagi, mana ada CEO tampan mau makan di pinggiran jalan," ucap Arka. Menarik lengan Sekar. Namun lagi-lagi gadis itu menyentaknya kasar.
"Kenapa? Kalau tidak mau tidak usah makan." Sekar berjalan mendahului Arka.
__ADS_1
Tentu Arka tak tinggal diam. Langkah Sekar terhenti kala tangan kekar Arka melingkar di perutnya. Mengusap halus bagian perutnya.
"Ya Allah Ka, gak disini juga." Sekar hanya mengelus dada sabar. Harus banyak-banyakin sabar sama Arka mah.
"Kangen hehe. Akhirnya Sekar udah gak marah lagi. Maaf ya sayang. Tapi percaya deh, gak ada apa-apa antara aku sama Viona. Nanti kita tanya Viona sama-sama kalau kamu gak percaya."
Sekar melepaskan pegangan tangan Arka dengan halus. Membalikan badannya. Bertatap muka dengan Arka. Arka, pria itu bisa-bisanya memasang wajah memelas padahal sudah memeluk Sekar dari belakang.
"Aku belum percaya Ka. Cuman aku mencoba untuk gak terlalu kejam. Jujur, aku kasian sama keadaan kamu. Menyakiti diri sendiri itu hal yang menyebalkan. Dan soal ancaman aku yang minta cerai itu masih berlaku Ka."
Arka meraih tangan Sekar. Mengusap halus punggung tangan wanita itu. "Iya. Tapi kalau udah terbukti aku gak salah. Gak jadi minta cerai kan? Jadi rawat Kara bareng-bareng 'kan?" Sekar hanya tersenyum simpul. Soal ke depannya, ia sendiri tidak tahu.
"Sekar itu bukannya...." Arka menyipitkan matanya. Berusaha menangkap jelas objek yang ada di belakang Sekar.
"Arnold awas!" Arka berlari sekencang mungkin setelah menghempaskan lengan Sekar. Menghambur ke tengah jalan. Mendorong kencang tubuh orang yang hendak tertabrak mobil.
"Arka!" Dengan kekuatan minim Sekar menghambur ke arah Arka dan Arnold yang saat ini sedang terkapar di pinggir jalan.
Arnold hendak tertabrak mobil. Tapi dengan secepat kilat Arka mendorong tubuh Arnold. Kejadiannya begitu cepat. Namun Arnold selamat. Meski keduanya harus sedikit lecet karena benturan akibat dorongan Arka. Arka mendorong Arnold hingga akhirnya keduanya terkapar di pinggir jalan.
Ada banyak pejalan kaki yang menghampiri mereka. Termasuk supir mobil avanza yang tadi nyaris menabrak Arnold. Sekar pun ikut serta ke sana. Memastikan keadaan keduanya.
"Apa kau gila?!" Teriak Arka pada Arnold.
"Woy Mas! Kalau jalan liat-liat dong! Gimana kalau tadi saya nabrak Anda! Bisa-bisa saya masuk penjara!" Hardik sang supir ketika sudah turun dari mobil.
"Maafkan teman saya pak. Dia sedang sakit. Saya minta maaf. Ini uang, tolong maafkan dia ya," Arka menyodorkan sejumlah uang kepada supir tersebut. Seraya membungkuk-bungkukan badannya tanda maaf.
Setelah menerima uang tersebut sang supir pun pergi. Beberapa orang lainnya yang tadi sedang mengerumuni Arka dan Arnold pun mulai membubarkan diri saat tahu Arka dan Arnold tidak kenapa-napa. Hingga pada akhirnya Sekar tiba disana dengan kaki yang sedikit pincang.
"Arka kamu gak papa?"
Arka tak menghiraukan pertanyaan Sekar. Pria itu membantu Arnold berdiri. "Gak papa Nold?" Tanya Arka. Memutar-mutar tubuh Arnold.
Bukannya menjawab, Arnold malah menatap Arka lama. Hingga pada detik berikutnya Arnold ambruk memeluk Arka. Sekar yang melihat hanya bisa mengerutkan kening.
"Maaf Ka. Maaf," Arnold menangis setelah sekuat mungkin menahan agar air mata nya tidak jatuh di depan Sekar.
Arka tak mengatakan apa-apa. Ia hanya membalas pelukan Arnold dengan menepuk-nepuk punggung pria itu. Karena sesungguhnya Arka sudah tahu apa yang Arnold katakan.
"Maafkan aku Ka. Maaf. Aku bodoh. Aku bego. Maaf Ka, sekali lagi maaf," perkataan Arnold membuat Sekar benar-benar kebingungan. Tak bisa bertahan lama-lama akhirnya Sekar memberanikan diri maju mendekati Arnold. Menanyakan apa maksud dari kata maafnya.
Permisi, mau pamer kegantengan
Bodoamat Arka, bodoamat!
__ADS_1