
Sekar: Aku tidak bermaksud egois. Namun, bisakah aku merasakan secuil saja dari hal yang bernama kebahagiaan?
....
Pagi-pagi sekali Sekar sudah disibukan dengan aktivitas yang berada di dapur. Memasak untuk anak-anak panti dan juga yang lainnya.
Dirinya di panti tak kalah sibuk dengan saat di rumah Arka dulu.
"Kak Sekar... Zino sama Farah berantem!" seorang anak kecil berjenis kelamin wanita dengan postur tubuh gemuk dan memiliki kulit hitam eksotis menarik-narik baju Sekar yang kala itu sedang menggoreng ayam.
"Eh? Iya iya kak Sekar kesana," ucap Sekar. Sesekali mengalihkan pandangannya ke anak tersebut dan ke ayam goreng yang saat ini sedang ia masak.
"Buruan Kak! Farah nanti kenapa-napa!" ajak anak tersebut sambil tidak ada henti-hentinya menarik baju Sekar.
"Buruan!" teriaknya lagi.
Terpaksa Sekar harus menyudahi aktivitas memasaknya dan mengunjungi kedua anak yang tengah bertengkar di depan sana.
"Eh Farah udah! Zino juga!"
Seorang pria dan wanita di dapati Sekar sedang bertengkar. Saling mencakar dan juga saling menjambak rambut satu sama lain.
"Udah dong!"
Pada panggilan kedua mereka masih saja mengacuhkan Sekar. Lantas kembali menghantamkan pukulan pada lawan masing-masing.
"Farah, Zino! Kakak bilang udah!" teriak Sekar memekik. Mengalahkan suara anak-anak yang sedang sibuk meneriaki Farah dan juga Zino.
Spontan aksi keduanya terhenti. Kedua tangan Sekar memegang bahu mereka masing-masing. Mereka hanya mengatur nafas yang terengah-engah seraya melemparkan tatapan tajam satu sama lain.
"Kalau Kakak bilang udah ya udah!" teriak Sekar. Tak kalah memekik dari yang pertama.
"Ayo maafan," kedua anak berusia 8 tahunan itu malah menghempaskan tangan Sekar dan saling melipat tangan di dada. Seraya memasang muka ketus.
"Maafan Farah, Zino!" teriak Sekar untuk yang kesekian kalinya.
"Tapi Zino yang mulai!" teriak Farah sambil menunjuk Zino.
"Kan Farah juga sama!" teriak Zino tak mau kalah.
Sekar memijit keningnya. Susah membuat kedua mahluk kecil ini kembali baikan.
"Gak perduli siapa yang salah. Pokoknya maafan!" teriaknya sambil menarik kedua tangan mereka agar berjabatan.
Dengan enggan dan muka malas-malasan Farah dan Zino pun berjabat tangan. Masih dengan muka yang masam. Setelah itu mereka semua bubar.
Sekar kembali memijit keningnya. Pagi-pagi begini sudah disuguhi kedua anak kecil yang bertengkar bahkan sampai jambak-jambakan. Padahal tadi dia belum selesai masak.
"Kak Sekar.... kak Sekar," kembali lagi. Seorang anak gadis kecil berambut ikal menarik-narik bagian bawah baju Sekar.
"Ya?"
"Tuh ada yang nyariin," ujarnya sambil menunjuk ke arah pintu.
Disana, di ambang pintu sudah ada seseorang yang sedang melipat tangannya di dada. Menyenderkan tubuhnya pada bagian tihang pintu juga melemparkan sebuah senyuman. Di bawahnya terdapat kantong plastik hitam besar yang tergeletak di lantai.
Sekar menghampiri pria yang tengah tersenyum itu.
__ADS_1
"Pagi-pagi udah dibikin pusing sama anak-anak yah?" tanyanya lembut.
Sekar mengangguk sambil memasang muka lesu.
"Iya nih. Kak Arnold kok bisa ada disini? Kok tau Sekar disini?" ujar Sekar.
"Iya dong. Kemarin tau dari Pak Waluyo. Mau kesini kemarin cuman udah kesorean takut kamunya lagi istirahat. Jadi hari ini," tutur Arnold. Pria yang saat ini sedang mengenakan jaket levis berwarna hitam.
"Sepagi ini?" tanya Sekar dengan lipatan-lipatan kecil di keningnya.
"Hehe iya. Nih aku bawain ini," ucap Arnold seraya memberikan Sekar sebuah plastik besar yang tadi dibawanya.
"Apa ini?"
"Ayam."
Mendengar nama ayam di sebut seketika mata Sekar membulat. Ia lantas pergi dengan sedikit berlari menuju ke arah dapur.
Melihat Sekar yang terkejut Arnold pun penasaran hingga mengikutinya ke belakang.
"Ya Allah ayam nya lupa diangkat?!" ujarnya sambil berusaha memindahkan ayam itu ke sebuah saringan minyak besi. Namun naas. Ayam tersebut sudah berenang terlalu lama di dalam minyak panas sehingga menyebabkan kegosongan.
"Wah. Sampe jadi item gitu," ledek Arnold dengan sedikit terkekeh.
Bukan sedikit ayam yang tadi Sekar goreng. Ada sekiranya 5 sampai 6 biji. Gadis itu menunduk. Menyesali tingkah laku cerobohnya.
"Hey? Kan yang tadi aku bawa itu ayam. Kenapa harus sedih gitu? Udah. Itu rezeki kucing. Yuk sarapan," ujar Arnold sambil memegangi kedua belah pipi kembung Sekar.
Gadis itu lantas kembali melukiskan senyuman dengan pipi yang mulai memerah.
"Kak Arnold tangannya dingin," ujar Sekar sambil melepaskan tangan Arnold.
"Kita makan nya di depan aja. Anak-anak biar makan disini," titah Arnold. Sekar hanya mengangguk. Ia juga ingin menikmati udara pagi di luar.
Masa-masa dulu rupanya terkenang kembali. Sudah lama Arnold dan Sekar tidak makan berdua. Setelah Sekar dipinang oleh Arka. Dan sekarang, sekarang masa itu datang kembali. Kesempatan itu datang kembali teruntuk Arnold. Ia sangat bahagia. Teramat bahagia.
Matanya tak pernah lepas dari Sekar yang berada duduk di sebelahnya. Menikmati setiap inci kecantikan gadis lugu ini. Senyuman terus mengembang sepersekian detik.
"Pasha sama Ibu apa kabar, Kak?" tanya Sekar memecah keheningan.
"Ibu? Eh iya. Ibu sama Pasha alhamdulilah baik-baik aja," tukas Arnold sedikit gelagapan karena tadi dirinya sedang melamunkan Sekar.
"Sekar?"
"Hmm?"
"Boleh aku minta sesuatu?" tanya Arnold. Ia menyudahi suapan nasinya. Menyimpan piringnya di atas meja. Sesungguhnya dirinya sendiri tidak lapar. Hanya ingin sarapan bersama Sekar saja.
"Boleh dong," jawab Sekar imut.
"Berhenti panggil aku Kak."
Aktivitas makan Sekar pun terhenti. Ia menelan berat makanan yang sudah tersangkut di tenggorokannya. Pandangannya teralih kepada Arnold yang juga tengah menatap nya.
"Ma-maksudnya?"
"Boleh panggil aku Mas?" tanya Arnold begitu serius.
__ADS_1
Tapi keseriusan Arnold mengundang gelak tawa bagi Sekar. Gadis itu tertawa dengan begitu manis nya di depan Arnold.
"Mas? Kayak tukang jamu aja," tukas Sekar.
"Tapi kamu panggil Arka dengan sebutan itu."
Otomatis gelak tawa Sekar terhenti. Ia sadar betul bahwa Arnold sedang sedikit cemburu. Bisa dilihat dari nada bicaranya yang mulai naik.
"Kan Mas Arka suami aku," jawab Sekar.
Arnold menunduk. Ia telah salah besar. Rupanya panggilan Mas itu teruntuk suami saja. Sementara Arnold bukanlah suaminya.
"Mantan suami," ucap Arnold sambil menunduk.
"Kak. Seseorang yang dipanggil Kakak adalah seseorang yang dipercaya bisa menjaga adik nya. Seseorang yang di percaya bisa melindungi adik nya. Seseorang yang di percaya menyanyangi adik nya. Dan aku yakin, kak Arnold bisa ngelakuin itu semua buat aku. Setuju?"
Arnold tersenyum. Hatinya begitu tersentuh mendengar kalimat itu dari bibir manis Sekar. Ingin sekali ia mendekap tubuh gadis itu. Menenggelamkan tubuhnya di dalam pangkuan Arnold.
Kapan itu akan terjadi? batin Arnold.
"Betul. Kalau begitu panggil aku Kakak," tukas Arnold semangat lalu disambut senyuman hangat oleh Sekar.
"Tapi kalau bukan kandung seorang Kakak bisa menikahi Adik nya 'kan?"
Sontak Sekar membulatkan matanya. Ia menatap Arnold dengan tatapan tidak percaya dan penuh tanya.
"Hehe, bercanda kok Dik. Seorang Kakak kan senang mengusili adik nya," tangan Arnold memanjang. Berusaha meraih kepala Sekar dan mengacak-ngacak rambutnya.
Mendadak hatinya perih. Makanan yang ia makan hambar tanpa rasa. Saat melihat keterkejutan Sekar mendengar seorang Kakak ingin menikahi Adik nya.
"Apa aku ini hanya sebatas Kakak bagi Sekar? Tidak lebih dan tidak bisa lebih? tanya Arnold sambil masih terus mengacak-ngacak rambut Sekar sehingga gadis itu mendengus sebal.
"Ih Kak!" pekik Sekar manja sambil berusaha menepis tangan Arnold.
"Sekar?"
"Ya?"
Keduanya kembali pada keadaan normal. Yakni kembali menyantap sarapan ditemani udara pagi yang segar dan burung-burung di sarang yang terus berkicauan.
"Kamu mau nikah lagi?" tanya Arnold tiba-tiba. Tidak, sebenarnya tidak tiba-tiba. Pertanyaan ini sudah Arnold persiapkan sejak lama. Dan ingin segera mendapatkan jawaban sebenarnya.
"Nikah? Sampai saat ini belum kepikiran Kak," ujar Sekar. Kepalanya menunduk. Lidah nya mendadak kelu. Kata nikah adalah hal yang mampu membawanya kembali ke kenangan kelam bersama Arka.
"Terus kamu mau sampai kapan gini terus? Kamu harus nikah dan mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya bersama orang yang kamu cinta," Arnold kembali serius. Ia menatap Sekar. Bahkan menarik kursi kayu nya agar lebih dekat dengan Sekar.
"Sekar juga pengennya gitu. Tapi gak ada yang bisa bahagiain aku selain diri aku sendiri. Maka dari itu aku akan mencari kebahagiaanku sendiri. Di mulai dari panti ini," ujar Sekar sambil melihat ke atap bagian panti.
"Ada."
"Ada apa?"
"Ada orang yang suka sama kamu," ucap Arnold begitu serius.
"Siapa?"
Ya Allah, sedihnya neneng Sekar
__ADS_1