Satu Hati 2 CINTA

Satu Hati 2 CINTA
Pedagang Menyebalkan


__ADS_3

Sekar masih berusaha mencerna tingkah laku Arka barusan. Arnold sudah memanggilnya beberapa kali. Namun panggilan itu seperti angin halus yang hanya sekedar lewat di telinga Sekar tanpa membuat Sekar sadar dan menggubrisnya.


Pria yang mengemudi di depannya itu hanya menarik nafas berat. Pikiran Sekar pasti sedang mengelampung tentang Arka. Rupanya susah juga menarik perhatian Sekar sepenuhnya dan membuat ia melupakan Arka, sepenuhnya juga.


"Kita kemana, Kak?" gadis itu akhirnya buka suara setelah beberapa kali menarik nafas berat.


Arnold tersenyum. Senang akhirnya Sekar bisa buka suara. Sesekali ia melihat Sekar dari bagian spion depan. Meski sedang bersedih, aura kecantikan gadis itu tetap saja ada.


"Kamu maunya kemana? Pasar atau Mall?"


"Pasar? Wah seharusnya aku tidak berpenampilan secantik ini kalau mau belanja ikan asin," Sekar terkekeh atas guyonannya sendiri. Ia berusaha tertawa, untuk menutupi luka.


"Hehe bercanda. Lapar tidak? Kita makan dulu saja," tawar Arnold.


"Boleh. Makan dimana?"


Arnold mengacungkan jari. Ia mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi, "Ketoprak 'kan makanan kesukaanmu?" tanya Arnold sumringah.


"Haa? Sejak kapan aku suka makan ketoprak? Pasha yang menyukainya!" bentak Sekar dengan manyun manja. Kesal Arnold ternyata lupa makanan kesukaannya.


"Hehe bercanda Ekar. Kamu suka Sushi kan? Sushi Thai. Aku ingat waktu itu kamu sampai mengeluarkan air liur saat melihat orang makan Sushi di restoran. Saat aku dan Ibu bertanya apa kamu mau atau tidak terus kamu menjawab tidak eh pas di rumah kamu memasak ikan mas mentah agar terlihat seperti Sushi. Iya 'kan?"


Sekar tertawa. Ingat pada saat-saat dulu tinggal di rumah Arnold, "Benar. Habis itu ikannya jadi rezeki kucing," Sekar tertawa lepas.


"Pas udah di ambil kucing terus Pasha nangis karena mengira kucing itu yang mencurinya. Padahal aku yang memberikannya secara gratis," tambah Sekar.


"Setelah itu Pasha dan kucing kejar-kejaran seperti Tom And Jerry," balas Arnold.


"Bukannya kucing yang dikejar Pasha tapi Pasha yang dikejar kucing."


Keduanya terlelap dalam gelak tawa. Sekar lupa pada Arka. Dan Arnold bahagia Sekar bisa tertawa.


"Kak Arnold ada Doraemon!" gadis itu memekik. Tangannya menunjuk keluar. Ke sebuah toko yang menjual boneka Doraemon. Dari mulai mini size sampai big size yang besarnya sebesar tubuh manusia. Manik matanya begitu berbinar. Sesaat setelah itu ia menggigit bibir bawahnya. Ngiler ingin boneka.


"Sekar?! Wah gak nyangka ya. Udah jadi wanita berkepala tiga masih suka Doraemon," ujar Arnold. Sekar mendengus sebal. Penggemar Doraemon tidak hanya anak kecil saja. Orang tua juga bisa.


"Mau beli?" tanya Arnold.


"Mau," balas Sekar antusias.


****


"Udah Pak. Dengan bapak memukul Mas Arnold kayak tadi bukannya nyelesain masalah yang ada bikin Non Sekar tambah marah. Liat 'kan dia tadi gimana? Sampai matanya berdelik tajam," tukas Waluyo. Sebenarnya ia masih takut untuk menceramahi Arka. Emosi Arka nampaknya belum kembali stabil. Tangannya masih saja mengepal. Kupingnya saja masih merah. Namun tidak di ceramahi juga bisa bahaya. Takut ada pramugari yang menjadi korban nanti.

__ADS_1


"Kan saya kesal Pak! Arnold tuh keterlaluan!"


"Se se se. Siapa toh yang keterlaluan?" balas Waluyo.


"Ar-Ar- ya saya! Tapi kan gak perlu pegang-pegang tangan Sekar juga!" Arka menaikkan volume suaranya.


"Lho lho lho? Jadi Bapak cemburu toh? Pas Non Sekar masih jadi istri Bapak kenapa gak Bapak pegang-pegang?" tanya Waluyo.


"Ya kan beda ceritanya! Lagian Arnold kan gak punya hubungan apa-apa sama Sekar. Buat apa pegang-pegang?!"


Waluyo tersenyum simpul, "Kan Bapak juga gak punya hubungan apa-apa sama Non Sekar. Buat apa cemburu?"


"Ah susah bicara sama orang yang kayaknya gak pernah muda!" balas Arka ngegas.


Waluyo terkekeh, "Kalau udah pisah lebih menggoda ya, Pak?"


Hampir saja kepala Waluyo jadi sasaran tangan kejam Arka. Namun ia menarik tangannya kembali seraya menarik nafas, "Sabar. Tidak ada pak Waluyo tidak ada yang mengantar saya," batin Arka.


"Pak?"


"Njeh?"


"Boleh kalau saya minta tolong?" suaranya sudah kembali normal.


"Jagain Sekar waktu saya di Yogyakarta."


Waluyo terperanjat, "Jagain gimana Pak? Saya harus ke panti asuhan juga?"


"Bukan. Maksudnya jangan sampai Sekar dekat-dekat sama Arnold," pinta Arka. Ia mulai memasang muka memelas.


"Welah," Waluyo tengah mempertimbangkannya, "Cemburu toh Pak?" Arka tidak menjawabnya. Ia malah mengalihkan pandangan, "Akhirnya Mas Arka ngerasain perasaan Non Sekar juga," ucap Waluyo menarik nafas lega.


"Maksud?"


"Yaa begitulah perasaan Non Sekar saat Mas Arka pergi sama Ndoro Viona. Panas kayak dekat matahari," ucapnya sambil mengipas-ngipaskan tangannya.


"Tapi ya wajar ya Mas. Namanya juga cinta. Kalau gak cinta berarti gak cemburu. Leres?"


Cinta? Cemburu? Ya aku mencintainya dan aku cemburu saat dia bersama pria yang lain, batin Arka.


"Tuh kan, Mas. Allah itu misahin kalian bukan buat ngejauhin kalian tapi supaya kalian lebih dekat. Supaya saling mengerti satu sama lain dan saling sayang satu sama lain. Kapan Mas Arka bisa mengerti perasaan Non Sekar waktu dulu? Kapan Mas Arka bisa tahu apa itu cemburu dan bagaimana sesaknya cemburu. Sekarang Mas tahu Toh? Nah itu dia. Gak enak 'kan? Makannya jangan bikin Non Sekar cemburu juga. Itu dia rasanya."


"Saya gak cemburu!" pria arrogant itu masih enggan untuk mengakui perasaannya. Terus saja berkata yang tidak sesuai dengan isi hati. Padahal Waluyo sudah tahu betul.

__ADS_1


"Saya ini kan cuman supir, Pak. Gak masalah kalau cerita sama saya. Ngaku hayoo. Mas Arka cemburu toh kalau Non Sekar sama Arnold?" Waluyo menunjuk-nunjuk muka Arka dari kaca spion. Muka pria yang dipanggil Arka itu tampak mengeluarkan bulatan merah. Ia tersipu malu.


"Kalau nggak cemburu terus kenapa Non Sekar harus di jagain?"


"Soalnya surat-surat cerai saya sama Sekar belum tuntas! Itu artinya Sekar masih tanggung jawab saya. Kalau Sekar kenapa-napa berarti saya juga yang akan repot nantinya!"


Dasar Arka. Umur sudah tua namun kelakuan seperti para remaja yang maunya menang sendiri.


Waluyo hanya geleng-geleng lalu tersenyum kecut, "Susah juga ya Pak Arka."


"Yowes. Nanti kalau ada apa-apa sama Sekar tak kabarin. Woke?"


Arka tersenyum, ia mengangguk, "Makasih."


****


"Mau yang mana?" Arnold meraih sebuah boneka. Diberikannya kepada Sekar, "Lebih suka yang kecil atau yang besar?"


Sekar menunjuk sebuah boneka. Yang berukuran normal size. Boneka berbentuk Doraemon, kartun kesayangannya yang biasa ia tonton bersama Pasha dulu.


Saat bersama Arnold, terkadang sikap dan sifat keibuan Sekar mendadak hilang. Ia berubah seperti anak kecil lugu, polos dan tanpa dosa berusia 8 tahunan.


"Yang ini lucu," ucapnya sambil membolak-balikan boneka tersebut. Bahkan menciumnya.


"Bu. Boneka nya satu ya," Arnold menyerahkan sejumlah uang kepada penjual. Kini mereka telah resmi menukar barang dengan uang.


"Berapa harganya? Ini uangnya," Sekar merogoh tas nya. Mengeluarkan sejumlah uang dan diberikan kepada Arnold.


"Masa seorang Kakak meminta imbalan dari adiknya? Aku aja," Sekar tersenyum. Dirinya memang tak selalu menolak tawaran Arnold.


"Ih so sweet ya Mas nya sama istri. Pake beliin boneka segala. Mas tahu suami saya beliin saya apa? Kalau gak ikan mas ya lele, suruh di pecel. Katanya itu hadiah. Hadiah hasil mancing," pedagang yang usianya di perkirakan 40 tahunan tiba-tiba mengadu nasib pada Arnold dan juga Sekar. Ia menopang dagu nya lalu memasang muka begitu lesu. Terzomili suami sendiri.


"Huft. Meski begitu saya sangat mencintainya. Saya takut kehilangan dia. Padahal dulu, tau gak Mas, Mba?" Wanita itu menjeda pembicaraannya. Ia beralih menatap Arnold dan Sekar bergantian dengan memasang muka serius.


"Padahal dulu saya tuh gak cinta sama dia. Tapi dia tetep ada buat saya. Perlahan demi perlahan saya jalanin rumah tangga bareng dia. Sampai akhirnya setelah dua tahun kami berumah tangga saya mencintai dia dan bisa menerima dia sebagai suami saya. Saya selalu yakin bahwa cinta, perjuangan itu ada dan nyata. Saya tuh dulu nikahnya di jodohin orang tua Mba. Beuh, saya nolak mati-matian tuh yang namanya suami. Tapi makin hari, setitik demi setitik rasa sayang dan cinta tumbuh begitu saja yang pada akhirnya berubah menjadi besar. Sampai-sampai saya takut banget tuh kehilangan suami saya," pedagang itu berkata seraya menghitung uang kembalian yang akan di serahkan kepada Arnold.


"Mas sama Mba kalau ada masalah jangan langsung ngambil keputusan yaa. Nanti nyesel lho kalau udah kejadian. Diomongin dulu aja baik-baik. Di tenangin dulu hatinya. Jangan sampai ada kata pis--"


"Kembaliannya buat Ibu aja. Assalamualaikum," Arnold memotong perkataan Ibu-Ibu tadi. Ia menggandeng tangan Sekar dan melenggang enyah dari sana.


Hatinya mendadak panas. Entahlah. Apa yang dikatakan perempuan tadi seperti menyindir Sekar. Dan sialnya Sekar seperti masuk ke dalam perkataan Ibu tadi. Ia begitu fokus memperhatikan. Tentu itu berbahaya untuk Arnold sendiri.


Sekar sudah mendapatkan kebahagiaan. Bagaimana kalau hilang lagi gara-gara dia mengingat soal Arka?

__ADS_1


__ADS_2