Satu Hati 2 CINTA

Satu Hati 2 CINTA
Hidayah Untuk Keduanya


__ADS_3

Arka: Peringatan yang paling senang aku dengar adalah peringatan tentang Shalat.


Sekar: Di jauhkan oleh Masa Lalu. Di satukan oleh Masa Depan.


........


Sekar tidak bisa tidur. Ia melirik jam dindingnya yang berbentuk kuba yang terpasang di tembok bagian depan kasur nya. Waktu menunjukan pukul 12 malam. Seharusnya ia sudah tidur nyenyak saat ini. Apalagi jika mengingat besok pagi dirinya harus bekerja. Dan ingat ya, mulai besok Sekar akan menjadi asisten pribadi Arka. Bukan lagi cleaning service.


Sekar membolak-balikan badannya. Menghadap kenan lalu ke kiri. Sesekali ia terbangun lalu duduk. Setelah itu tidur lagi. Kadang tangannya dijadikan alas untuk kepalanya.


Senyuman terbit di bibir Sekar. Enggan untuk hilang. Sekar seolah-olah di kutuk agar tersenyum terus sepanjang malam ini. Dan yang mengutuk adalah Arka.


Sekar terbayang-bayang wajah Arka. Mulai dari ketika Arka wudhu, ketika Arka shalat, mengenakan peci, menyalami anak-anak panti, mencium keningnya, mengusap rambut Sekar, tertawa, tersenyum. Bahkan setiap kata yang keluar dari mulut Arka terasa menggelitik di perut Sekar. Membuat gadis itu ingin terus tersenyum.


"Yang di rumah baik-baik ya. Yang di luar bisa jaga diri," perkataan Arka terus terngiang-ngiang di kepala Sekar. Menolak untuk hilang.


Bunga di hati Sekar sedang mekar. Sangatttt mekar. Bagaimana gadis itu bisa tidur kalau begitu caranya?


Suara gerakan engsel dan decitan pintu membuat Sekar terperanjat. Gadis itu lantas melihat ke arah pintu masuk. Dengan perasaan yang sedikit was-was karena ini sudah tengah malam.


"Ibu Anisa? Astagfirallah. Sekar pikir siapa," Sekar mengatur nafasnya. Mengelus-ngelus dada nya saat mendapati Anisa lah yang masuk ke kamar Sekar.


"Maaf yah. Lampu kamar mu masih menyala. Jadi Ibu pikir kamu belum tidur," ucap Anisa.


Sekar melirik ke atas. Ia terlalu sibuk dengan bayangan Arka sampai tidak sadar bahwa lampu kamar pun belum di matikan.


Anisa duduk di pinggiran ranjang. Sekar pun mengubah posisinya menjadi duduk dengan kedua kaki dilipat.


"Yang tadi itu Arka ya?" Tanya Anisa.


"Iya," ucap Sekar sambil tersenyum.


"Tampan," ucap Anisa. "Ibu kagum sama dia. Tapi bukan karena ketampanannya."


Sekar mengerutkan keningnya. Ia memposisikan duduknya menjadi lebih dekat dengan Anisa. Menanti Anisa mengatakan kalimat selanjutnya.


Ada yang ingin Anisa katakan saat ini. Anisa melihat wajah Sekar dengan begitu teliti. Tangannya beralih mengusap lembut kepala Sekar. Wanita berhijab dengan usia kepala empat itu mengukir sebuah senyuman.


"Ibu tahu Arka dari ceritamu. Katanya Arka tidak menyanyangimu. Begitu bukan?" Sekar mengangguk. "Maaf Sekar. Tapi kalau boleh jujur Ibu katakan kamu salah. Bahkan salah besar." Anisa menjeda perkataannya. Ia memegang tangan Sekar.


"Ibu cukup lama tadi memperhatikan Arka. Ketika dia shalat. Ketika dia berbicara dengan anak-anak dan ketika dia berbicara denganmu di luar."


"Mata Arka tidak kosong. Ada sesuatu di dalamnya. Sebuah kehangatan dan kasih sayang serta ketulusan. Ibu dapat melihat semuanya. Melihat bagaimana Arka mengelus rambutmu dengan penuh kasih sayang. Tertawa denganmu dengan penuh kehangatan dan tersenyum kepadamu dengan penuh ketulusan. Sekar mengerti?" Sekar menggeleng pelan.


"Arka menyanyangimu, Sekar. Arka mencintaimu. Ibu sengaja memperhatikan Arka agar bisa mengetahui apakah yang kau katakan tentang Arka benar atau tidak. Maaf jika ini menyakitimu. Dengan lantang Ibu katakan bahwa kau salah besar. Ibu melihat cinta di mata Arka. Arka memperlakukanmu dengan special Sekar. Arka menyanyangimu. Arka mencintaimu. Ibu tidak buta. Ibu tahu." Anisa memberikan penjelasan penuh. Ia sangat berharap Sekar dapat mengerti apa yang dikatakannya.


"Tidak Bu. Arka bersikap seperti itu mungkin hanya kasihan kepada Sekar. Ibu tahu tempat bekerja Sekar dimana? Di kantor Arka. Sekar bekerja sebagai cleaning serv---"


"Asisten pribadi Arka, ralatnya. Ibu tadi mendengar itu. Arka berusaha mengangkat derajatmu Sekar," timpal Anisa.


Sekar menggeleng, "Tapi Arka tidak mengatakan bahwa ia mencintai Sekar."

__ADS_1


"Memangnya kalau Arka mengatakannya kamu akan percaya?" Tanya Anisa.


Sekar menggeleng, "tuh kan. Pasti Arka berpikiran sama dengan Ibu. Ibu berfikir kamu tidak akan mudah memaafkan Arka setelah 5 tahun lamanya Arka memperlakukanmu bak pembantu. Benar bukan?" Sekar mengangguk.


"Tapi Ibu melihat perubahan Arka. Sepertinya Arka mulai mencintai dirimu. Arka ingin berubah. Ia berusaha mengambil perhatianmu. Mungkin dia ingin mengulang semuanya. Ia mencintaimu dan ia baru tahu itu. Arka baru mulai Sekar. Jika memang benar Arka baru memulai perjuangannya, mau kamu memberikan Arka peluang untuk bisa kembali memiliki mu?"


Sekar terlihat berpikir. Gadis itu merunduk. Menatap tangan Anisa yang berada di genggamannya, "Sekar tidak tahu. Sekar tidak mencintianya," ucap Sekar.


"Bohong kalau kamu tidak mencintainya. Kalau begitu kenapa kamu belum tidur sampai sekarang? Kenapa kamu begitu bahagia saat bersama Arka tadi? Apa itu bukan cinta? Maaf ya Sekar. Meski Ibu menghabiskan banyak masa muda Ibu di panti asuhan, tapi Ibu juga mengalami yang namanya masa muda dan kisah kasih cinta. Ibu tahu betul apa yang saat ini sedang menimpamu dan Arka."


"Arka itu orangnya baik. Itulah mengapa dulu Kakakmu, Siska memilihnya. Siska itu menyanyangimu. Dia tidak mungkin memberikan pria yang salah untuk Adik kesayangannya. Siska tahu bagaimana Arka, maka dari itu ia mempercayai Arka untuk menjagamu. Coba kau pikir kembali," jelas Anisa.


"Kalau Arka baik lalu kenapa selama 5 tahun Arka tidak memperlakukan Sekar sebagaimana layaknya suami memperlakukan seorang istri?" Tanya Sekar dengan mata berkaca-kaca.


"Mau Ibu tanyakan langsung pada Arka? Setiap orang memiliki rahasia masing-masing. Memiliki alasan tertentu di balik sikap mereka yang tertutup. Ibu yakin Arka memiliki alasan tertentu di balik dirinya mengapa selama ini berperilaku jahat kepadamu. Karena yang Ibu lihat Arka itu anak yang baik. Rugi jika kamu tidak memaafkannya," ucap Anisa.


"Tapi Arka tidak minta maaf pada Sekar."


"Bukan tidak. Tapi belum. Suatu hari nanti akan ada kalimat maaf dari mulut Arka. Jika hari itu datang, mau kamu memaafkannya?" Sekar terdiam. "Jika kamu tidak bisa memaafkan Arka untuk dirimu. Boleh kamu memaafkan Arka untuk Ibu dan Kakakmu. Siska sangat menyanyangimu. Dia juga menyanyangi Arka. Siska sangat ingin melihat kalian berdua bahagia."


Siska adalah alasan mengapa Sekar harus memaafkan Arka. Itu benar, sangat benar.


Sekar mengangguk. Ia menerbitkan sebuah senyuman yang terlihat sangat tulus.


"Adik dan istri yang pintar. Tidur yah. Besok harus bekerja," Anisa mencolek hidung Sekar, "Sebagai nyonya nya Mr. Arka."


****


Setelah selesai berdebat hebat dengan keluarganya, terutama Tami yang terus menyalahkan Arka karena Arka tidak romantis dan payah dalam hal cinta. Kini pria bermarga Gumelar itu sedang duduk di balkon kamar atas nya. Ditemani secangkir kopi hangat yang tadi dibuatkan oleh Bi Iyam.


Jayur duduk di samping Arka. Ia membawa minumannya sendiri. Jayur juga membawa sebungkus rokok.


Info lagi. Jayur menginap di rumah Tami. Tentunya atad izin Arman dan Arka serta Tami juga. Karena Jayur sudah seperti adik Arman sendiri. Lagipula tempat tinggal Jayur aslinya adalah di Bali. Dia merantau ke Jakarta untuk mencari pekerjaan dan beruntungnya Jayur bertemu dengan Arman yang ternyata begitu baik kepadanya. Bertahun-tajun sudah Jayur menjalin hubungan baik dengan Arman dan keluarganya sehingga tidak ada kecanggungan di antara keduanya.


"Mikirin Sekar yah?" Tebak Jayur sambil menyalakan rokoknya. Mengalihkan perhatian Arka.


Arka membenahi duduknya setelah tadi punggungnya sedikit merosot, "Iya." Aku Arka.


"Kalau cinta jangan di pikirin. Di perjuangin," tukas Jayur.


"Akan. Tapi nanti. Seorang Arka bermain seru. Tidak membosankan," ucap Arka dengan pandangan lurus menerawang ke depan.


"Memangnya sudah berhasil yah melupakan Siska?" Tanya Jayur tiba-tiba. Jayur menyerahkan rokok nya kepada Arka. Namun Arka menolak dengan halus.


"Sepertinya sudah. Akhir-akhir ini Sekar selalu meracaukan pikiranku. Aku juga baru sadar bahwa ternyata Sekar sangat cantik. Lebih cantik dari Siska."


"Nyari yang cantik? Viona sama Iyam juga cantik," tukas Jayur polos. Membuat Arka terkekeh karenanya.


"Bukan. Sekar tidak hanya cantik. Ia baik, polos, lugu. Kadang sifatnya kekanak-kanakan. Harusnya aku benci sifat perempuan yang kekanak-kanakan. Tapi jika itu terjadi pada Sekar. Entahlah. Aku menyukainya," Arka mulai gusar karena pemandangan bagaimana tadi Sekar meneguk air hujan kembali terbayang di benaknya.


"Itu artinya kau menyukai Sekar, Arka." Ucap Jayur.

__ADS_1


"Iya." Jayur terkekeh. Setelah sekian lama akhirnya Arka mengaku juga. Padahal dulu mati-matian Arka menolak dan mengatakan bahwa dirinya tidak akan pernah mencintai Sekar.


"Kemakan omongan sendiri. Enak?" Tanya Jayur.


"Dulu aku hanya buta saja. Sekarang buta ku sudah sembuh. Aku sudah sadar bahwa ternyata aku menyukai Sekar. Menurut Bapak. Apa aku dan Sekar cocok?"


Arka menoleh ke arah Jayur. Setia menantikan kalimat yang akan keluar dari mulut Jayur.


"Tidak. Sekar cocoknya sama saya," ucap Jayur. Arka melemparkan bungkus rokok dan tepat mengenai muka Jayur.


"Bercanda hehe. Sekar dan Arka? Menurut saya cocok. Sangat cocok sekali. Arka itu kasar, Sekar itu lembut. Arka itu cerdas, Sekar pintar. Dua-duanya sama-sama cantik dan tampan. Wah. Aku sampai tidak habis pikir kalau suatu hari nanti kalian berdua memiliki keturunan. Pasti anaknya seperti kaisar tampannya," ucap Jayur sambil geleng-geleng kepala. Membayangkan bagaimana keindahan wajah perpaduan wajah Sekar dan wajah Arka.


"Amiin. Umurku juga sudah mulai tua. Aku ingin segera memiliki anak. Tapi tidak dari gadis lain. Aku ingin Sekar. Hanya Sekar. Aku cukup kehilangan Siska, dan tidak mau lagi jika harus kehilangan Sekar."


"Arka?" Arka menoleh, "Iya?"


"Tidak sadarkah kau bahwa kau sudah kehilangan Sekar? Sekar sudah mati-matian memintamu menceraikannya. Sekar sudah pisah dengamu. Dan satu lagi, kau memiliki saingan yang merupakan temanmu sendiri. Arnold Prayoga. Jangan lupakan Arnold. Aku rasa dia juga menyukai Sekar," ucap Jayur.


Arka menyeruput kopinya. Menyenderkan punggungnya pada tangan kursi, "Biar kuberi tahu. Pertama, aku tidak kehilangan Sekar. Selagi Sekar ada di dunia ini. Aku akan mengejarnya dan akan mendapatkannya kembali. Hanya maut pemisah kami berdua. Kedua. Tak perduli berapa ribu kali Sekar meminta aku bercerai, itu tidak akan berlaku jika bukan aku yang melakukannya. Ketiga, Arnold hanyalah masalah kecil. Bukan penghalang bagiku," jelas Arka.


"Yakin? Bagaimana kalau Sekar tidak mau? Dan jangan lupa ya. Arnold itu orang yanh peryama menolong Sekar saat Sekar bebas dari genggamam jahat pria bernama Tigor itu," jelas Jayur.


"Perlahan, tapi pasti. Aku akan meraih Sekar dengan caraku. Aku akan membuat Sekar menyukaiku. Dan jangan lupa ya. Aku dan Sekar pernah menjalin hubungan selama 5 tahun lamanya. Aku mengetahui Sekar bagaimana. Dan jangan risaukan soal Arnold. Aku lihat Sekar mencintai Arnold hanya sebatas Kakak," tutur Arka. Penuh kepercaya dirian.


"Lalu bagaimana dengan Viona?" Tanya Jayur.


"Viona? Silahkan bawa Viona ke Bali. Anda kan tahu kalau Viona hanya pelarian saya saja."


"Maksudku bagaimana kalau Viona menyakiti Sekar?"


Arka membalikan badannya. Menghadap tegap tubuh Jayur.


"Selagi Sekar ada di dekat saya. Saya pastikan dia baik-baik saja."


"Cih, percaya diri sekali kamu," tukas Jayur.


"Hanya satu penghalang saya," ucap Arka.


"Apa?"


"Tentang siapa Sekar sebenarnya. Kalau saja Sekar memang sudah jelas siapa Ayah dan Ibu nya. Mungkin Anak ku dan Sekar sudah besar sekarang ini," jelas Arka.


"Hilih dasar. Pikirannya anak melulu!" Bentak Jayur meledek Arka.


"Aku punya kata-kata untukmu," Jayur beralih menatap Arka. Jayur mematikan rokoknya dengan cara diorek-orek ke asbak yang tersedia di meja.


"Rayu yang menciptakan. Jangan rayu yang diciptakan. Jika kamu mendekati Sekar, Allah bisa saja menjauh darimu karena cemburu. Tapi jika yang kau dekati adalah Allah, Sekar akan melihatmu."


Arka mencerna perkataan Jayur. Secara tidak langsung Jayur mengingatkan Arka untuk lebih istiqamah dalam beribadah. Meminta dan menyerahkan segalanya kepada Allah. Tuhan yang maha kuasa.


"Tidak ada Arnold, Viona ataupun masalah lainnya yang akan menghadangmu jika Sekar adalah jodohmu dan Allah memudahkan itu. Tingkatkan ibadah mu Arka."

__ADS_1


Arka mengukir sebuah senyuman. Peringatan yang paling senang ia dengar adalah peringatan tentang shalat.


"Ingsyaallah akan kulakukan," ujar Arka.


__ADS_2