
Rate# 21+ (21+ loh ya rate nya. Awas kalau ada anak 15 tahun baca ini! Ku tebas onlenš) jangan bagi-bagi dosanya sama Mimin! Ini juga request.
.....
Arka baru saja selesai mandi. Dirinya keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk kimono tipis yang dililitkan hanya pada bagian bawah tubuhnya saja. Sementara bagian perut dan dada nya terekspos jelas atau singkatnya telanjang. Menggunakan handuk kecil untuk mengeringkan rambut. Tanpa menolah ke arah manapun. Fokus mengeringkan rambut nya yang masih basah karena keramas.
Selang beberapa menit baru ia sadar bahwa istrinya itu tidak ada di kamar. Arka celingukan saat tidak mendapati Sekar di kamar. Pikiran Arka langsung kalang kabut, kemana-mana. Takut ada apa-apa dengan Sekar atau takut Sekar kemana-mana. Dengan keadaan bertelanjang dada, ia membuka lemari. Mencari sandal untuk kemudian keluar untuk mencari Sekar.
"Arka." Panggilan itu membuat langkah Arka terhenti.
Arka membalikan badannya, ia mendapati Sekar yang keluar dari arah balkon sana. "Darimana saja ka--" glek!! Arka menelan ludahnya kasar. Menelan saliva nya susah payah. Jakun nya naik turun. Rahangnya mengeras. Arka merasa seperti baru menelan biji salak.
Perempuan di depannya ini---- ah bagaimana menjelaskannya? Ia mengenakan baju piyama. Tipis dan sangat pendek. Mengekspos paha bagian atasnya dengan jelas. Rambut yang tergerai panjang. Bibir nya sedikit merah merona. Aroma minyak wangi tercium menyeruak. Sekar berjalan dengan anggun ke arah Arka. Namun masih saja dengan kepala menunduk.
"Ma-mau aku keringin rambutnya?" Jaraknya sudah dekat dengan Arka. Namun tak ada keberanian untuk menatap Arka sedikitpun.
Satu lagi kesialan bagi Arka. Entah sengaja atau lupa atau bagaimana. Sekar tidak mengenakan baju dalaman. Sementara piyama yang ia kenakan tipis bahkan tembus pandang. Membuat bagian dalam tubuhnya kelihatan. Membuat Arka membulatkan matanya dan harus bersusah payah menelan pahit saliva nya.
Tak hanya Arka. Sekar pun juga sama. Lipatan-lipatan perut Arka. Dada bidang Arka. Rambut Arka yang basah membuat Sekar kesulitan bernafas. Sesak di tempat.
Keduanya sama-sama diam. Linglung harus bagaimana. Tak bisa berkonsentrasi. Isi kepala mendadak kosong.
Setelah berdiri dalam sesi diam yang cukup lama. Sebagai pria akhirnya Arka memberanikan diri mengangkat wajah gadis itu. Membuatnya mendongak. Menatap teduh mata Arka. Begitupun Arka. Menatap Sekar kemudian tersenyum sepintas. Dengan keadaan tubuh yang bergetar hebat. "Siap?tanyanya. Entah apa maksudnya.
Sekar memejamkan matanya. Kemudian mengangguk halus.
Tanpa ba bi bu, Arka menggendong tubuh Sekar setelah mendapatkan kode lampu hijau. Menggendongnya dengan posisi miring. Menjatuhkannya dengan lembut di atas ranjang. Sekar tak berontak. Sudah berjanji akan memenuhi segala perintah Arka.
Arka membuka lilitan handuknya yang hanya menutupi bagian bawah tubuhnya. Memperlihatkan seluruh kesempurnaan tubuhnya. Ia melakukan itu tepat di depan mata Sekar. Rasanya Sekar ingin berteriak. Berlari saat itu juga. Menutup mata dan menyetabilkan nafasnya. Namun tak bisa. Hatinya benar-benar menolak. Menyuruhnya menikmati pemandangan di depannya ini. Mengunci tubuhnya agar jangan pergi kemana-mana
"Sudah hafal do'a nya?" Tanya Arka sedikit berbisik. Di balas anggukan oleh Sekar.
"Mau aku buka kan. Atau buka sendiri?" Damn you Arka! Sekar mana bisa menjawab.
"Bangunlah. Aku buka kan," dengan gemetaran Arka melepaskan kain pelindung tubuh Sekar. Kain yang hanya balutan benang tipis. Kain yang hanya satu oktaf. Tidak ada bagian lain lagi di dalamnya. Hingga dalam sekali tarik saja. Sudah berhasil memperlihatkan kesempurnaan milik gadis itu.
Kini keduanya sudah kosong sempurna. Dinginnya angin malam menyesap ke dalam tubuh. Namun akan segera kembali hangat.
__ADS_1
Arka menurunkan sedikit badannya. Menyisakan sedikit jarak untuk bernafas. Mengucapkan do'anya. Diikuti oleh Sekar.
Seperti biasa. Pembukaannya pada bagian bibir. Kemudian meraba bagian tubuh lainnya. Sekar menjambak rambut Arka kuat-kuat. Sentuhan yang ia rasa di bibirnya benar-benar berbeda. Arka benar-benar terniat melakukannya.
Arka menghela nafasnya dalam. Inilah saatnya melepas keperjakaanya. Ia menatap Sekar sebentar. Membisikan sesuatu pada gadis itu. "Ingat. Jangan ditahan. Keluarkan apa yang ingin kau keluarkan."
Arka mengucap lafal bismillah. Sebelum akhirnya masuk pada goa lembut itu.
Sekar meremas sprei kuat-kuat. Matanya terpejam rapat, "A-Arka..." Arka tak mengindahkannya. Ia melakukan pergerakan lainnya. Keringat mulai bercucuran di tubuh keduanya.
"Sa-sakit," rintih Sekar. Mendengar Sekar merasa sakit Arka menjadi tidak tega. Ia mencari cara agar bisa menolong Sekar. Dan hanya ada satu cara yang terlintas di benak Arka.
Sambil terus bermain. Arka menurunkan kepalanya. "Maaf. Tapi nanti akan berubah," Arka merapatkan bibirnya pada bibir Sekar. Membuat gadis itu tak bisa berkata-kata. Selain meremas sprei dan meremas rambut Arka. Matanya masih saja terpejam.
"Sesekali buka lah matamu. Lihat aku saat sedang berada di atasmu," Sekar mematuhinya. Ia membuka matanya secara perlahan. Melihat wajah Arka yang sedang tersenyum kepadanya dengan keringat yang bercucuran.
"Jangan pegang sprei. Pegang yang lainnya," ucap Arka lembut. Berbisik di telinga Sekar. Sesekali menggigit daun telinga gadis itu.
Sekar melingkarkan lengannya mengitari leher Arka. Pria itu tersenyum penuh kemenangan. "A-Arka. Sa-sakit. Pe-pelan pelan." Sekar kembali meringis.
Awalnya permainan memang lembut. Sangat perlahan dan hati-hati. Susah payah Arka melakukannya. Karena gerbang tak kunjung terbuka. Begitu sempit rasanya. Namun hasrat membantu mendorongnya. Hingga sampailah pada permukaan yang lebih dalam. Pada saat itu terjadi. Permainan menjadi sedikit lebih cepat dan lancang. Tubuh keduanya di penuhi peluh. Diiringi erangan pelan.
Darah bercucuran dari milik Sekar. Untungnya sudah dilapisi matras. Sehingga tidak akan membuat sprei hotel kotor. Namun Arka tak memperdulikannya. Ia masih sangat fokus pada permainanya. Tangannya tak diam. Jika tak meraba perut ya meraba gunung. Sesekali meraup pipi Sekar. Memagutnya lembut.
Geli, ngilu, nikmat. Semuanya menjadi satu. Sekar tak bisa melakukan apa-apa selain mengikuti alur permainan. Desahan demi desahan ia tahan.
Sialnya Arka melarang Sekar menahan itu. "Tidak akan ada yang mendengar kita," ucapnya bersusah payah karena tenaganya sudah terkuras sempurna.
"A-Arka," hanya itu imbuhan kata yang keluar dari mulut Sekar.
Arka menghentikan permainannya. Memastikan Sekar apakah dia baik-baik saja. Nafasnya terpenggal. "Sekar? Aku disini. Buka matamu."
Perlahan Sekar membuka matanya. Objek yang ia lihat pertama kali adalah wajah Arka yang entah bagaimana ketampananya menjadi berlipat ganda.
"Lelah ya? Kita sudahi saja ya?" Arka mengelus wajah Sekar yang sudah di penuhi keringat. Mengelusnya halus. Menyelipkan anak rambut nya ke belakang telinga. Mengulas senyum semanis mungkin.
Sekar menggeleng lemah, "Tidak apa-apa."
__ADS_1
"Yakin? Masih kuat?" Tanya Arka penuh pengertian.
Sekar mengangguk, "Kalau begitu aku beri sedikit kekuatan." Ucap Arka.
Arka menghentikan permainannya sejenak. Memberikan sesuatu pada bibir ranum gadis itu. Mengesapnya sangat dalam. Sekar mulai terbiasa. Ia tak hanya meremas sprei. Kini rambut Arka yang di remasnya. Arka tak merasa sakit. Justru ia bahagia. Bibirnya turun ke leher jenjang Sekar. Sekar menggeliat geli karenanya. Kemudian turun ke bagian perut. Dan yang terakhir. Tempat paling sensitif. Arka menempelkan bibir nya di sana. Sekar menggigit bibir bawahnya. Ia ingin berteriak sekencang mungkin saat Arka melakukan itu. Arka kembali naik ke atas. Menancapkan benda yang barusan sempat keluar.
Arka menjauhkan tangan Sekar yang sedang sibuk menutupi mukanya. "Kalau sudah lelah bilang. Aku tidak mau asyik bermain sendiri. Dan ini," Arka memegang tangan Sekar. "Tempelkan disini." Arka melingkarkan tangan Sekar tepat mengitari lehernya.
Kemudian permainan kembali berlanjut. Setidaknya sampai salah satu diantara mereka mengeluh lelah. Meski keduanya sudah bermandikan keringat.
Bukannya semakin melambat. Arka justru semakin kencang saat merasakan ada sesuatu yang sepertinya akan keluar.
"A-Arka.. " Sekar mengigit bibir bawahnya kuat-kuat. Ia pun merasakan apa yang Arka rasakan.
"Sekar. Tahan ya. Sebentar lagi. Tahan..." kini Arka pun ikut memejamkan matanya. Tak kuat, ia menempelkan bibirnya di bibir Sekar. Kini Sekar sudah ahli. Ia tak diam seperti biasanya saat bibirnya di sentuh. Permainan juga terjadi di dalam bibir keduanya. Kini kedua benda sedang bermain di alur dan waktu yang sama. Dengan kecepatan yang tak dapat terhindarkan.
"A-aku." Arka benar-benar memejamkan matanya rapat-rapat.
Keduanya sudah mencapai puncaknya. Permainan sudah terhenti. Sebagai akhir. Keduanya saling membuka mata. Membiarkan bulu mata lentik saling bertautan. Meski yang bawah sudah berhenti. Yang atas masih berlanjut. Arka masih menuntut.
"Terimakasih. Terimakasih untuk malam ini. Malam paling spesial yang tidak akan pernah bisa aku lupakan," Arka mengusap keringat Sekar. Mengecup kening perempuan yang sudah tidak gadis itu. Sekar hanya tersenyum. Sudah tidak ada tenaga untuk berkata-kata.
Arka merebahkan dirinya di samping Sekar. Menatap langit-langit. Membayangkan apa yang baru saja ia lakukan. Kemudian beralih menatap Sekar. Gadis itu sudah tertidur pulas. Arka menarik selimut. Menutupi tubuh Sekar. Mengangkat kepala perempuan itu. Meletakannya di lengan Arka.
Mengecup pucuk kepala Sekar, "Tidur yang nyenyak ya. Sekar nya Arka." Kemudian Arka tertidur. Menyambut esok hari yang menyegarkan.
Godaan terbesar bagi Arka:
Iman Arka mendadak lemah gara-gara ini
Sedang menahannya.
__ADS_1