Satu Hati 2 CINTA

Satu Hati 2 CINTA
Siapa yang menang?


__ADS_3

Pasha: Benar kata orang. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Anak ini jatuh lalu tercebur ke selokan


Padahal Arnold mengatakan bahwa ia akan menjemput Sekar jam 7. Di SMS kemarin malam. Namun gadis berambut sepunggung itu tidak tidur lagi setelah melaksanakan shalat tahajud.


Ia membersihkan panti, memasak, mencuci baju lalu mandi setelahnya. Setelah selesai shalat shubuh, Sekar langsung siap-siap berganti baju. Ia menggunakan baju serapih mungkin. Sederhana dan sopan. Ia masih mengenakan style lamanya. Sederhana namun mempesona.


Sekar mencempol rambutnya di tengah. Agar tidak kesusahan pas kerja katanya. Tidak ada hiasan apa-apa di wajahnya selain lip balm agar bibirnya tidak terlalu kering. Namun ia masih terlihat mempesona.


Atensi Sekar teralihkan saat handphonenya yang berada di meja berbunyi. Sekar menyipitkan matanya. Melihat siapa yang menelefon. Arka? Sepagi ini dia sudah menelefon Sekar? Padahal ini masih shubuh.


Dengan penasaran. Sekar mengangkat telefon Arka, "Assalamualaikum. Halo?" Tanyanya.


"Waalaikumsalam. Sekar sudah bangun?" Tanya Arka.


"Sudah. Kenapa memangnya?" Tanya Sekar lalu duduk di pinggiran ranjang.


"Gakpapa. Kalau belum bangun tadinya mau dibangunin. Biar shalat shubuh."


Demi apapun Sekar bersumpah dirinya tidak memelet Arka. Tidak mengguna-guna Arka. Tidak melakukan apapun yang bisa membuat Arka berubah sedrastis ini. Sekar saja kebingungan mengapa Arka bisa begitu tiba-tiba bersikap manis padanya.


"A-Arka?"


"Hm?"


"Waktu di jalan kamu baik-baik saja 'kan?" Tanya Sekar sedikit gugup. Takut salah bicara dan membuat Arka tersinggung.


"Iya. Kenapa?"


"Kepalamu tidak terbentur 'kan?" Tanya Sekar hati-hati. Ditanya seperti itu justru membuat Arka tertawa hingga kulit perutnya sedikit kesakitan. Setelah dirasa cukup barulah Arka berhenti tertawa.


"Memangnya kenapa? Karena aku baik ya? Takut amnesia?" Tanya Arka seolah-olah tahu apa yang ada di pikiran Sekar. Sekar tidak menjawab. Ia hanya cengengesan sambil salah tingkah. " Semua orang akan mengatakan hal yang sama sepertimu, Sekar. Tapi aku pikir apa yang kulakukan ini wajar. Maksudku, berubah bukannya sikap manusiawi? Semua orang bisa berubah dimana saja dan bagaimana saja bukan? Lalu bagaimana? Apa kau menyukai perubahan sikapku?"


Suka. sangat suka Arka. Bahkan Sekar ingin memujinya. Namun Sekar tak mengatakan itu. Ia hanya bergumam saja. Ia tak mau memberikan harapan lebih untuk Arka jika perasaannya saja tak tahu bagaimana.


"Aku hanya ingin mengatakan. Semangat untuk hari ini. Jangan lupa makan. Jangan terlalu dekat dengan Arnold, sayang."


Sekar mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia menampar pipi sebelah kananya. Tak urung itu ia membelalakan matanya. Sa-sayang? Sekar tidak mimpi 'kan? Ingin bertanya apa maksud Arka namun pria itu sudah menutup telefonnya. Membuat Sekar hanya memghela nafas pasrah. Jantungnya mendadak berdegup kencang. Arka memang pintar membuat seseorang uring-uringan.


****


Mata Arka melihat sekeliling-- isi kamarnya. Memang benar kata Jayur, berantakan. Seperti habis di serang Israel. Arka menghela nafas berat. Ia tiba-tiba jadi teringat saat dirinya dulu mencoba membantu Sekar membersihkan rumah. Namun gagal.


Ia bangkit. Mengambil selimut lalu melipatnya dengan rapih. Berganti merapihkan bajunya. Mengumpulkan baju kotornya untuk di bawa pulang ke Jakarta.


Arka membersihkan kamarnya. Serapih dan sebersih yang ia bisa. Ia sedang belajar menjadi suami yang baik. Untuk calon istrinya suatu hari nanti. Agar apa yang terjadi dengan Sekar tidak terjadi lagi.


****


Selesai sarapan Sekar langsung pamit kepada Anisa. Ia sudah di jemput Arnold. Menggunakan mobil Avanza hitam milik pria itu.


"Udah sarapan?" Tanya Arnold.


"Udah. Yuk jalan," gadis itu menaiki mobil setelah mengucap Basmallah. Senyumnya tak memudar sedikitpun. Dari tadi pagi. Ralatnya dari ketika Arka menelefonnya sampai saat ini.


"Wah seneng gitu kayaknya. Gak sabar yah pengen kerja?" Tanya Arnold. Memperhatikan Sekar dari kaca spion depan.

__ADS_1


Salah. Salah besar. Bukan itu yang membuat Sekar tersenyum hari ini. Melainkan Arka. Ingin Sekar menceritakannya. Tapi yasudahlah. Biar ia simpan sendiri saja.


"Iya Kak. Hari pertamaku kerja. Semoga lancar,"


"Amiin Ya Allah Ya Rabbal Alamin."


Arnold menghentikan mobilnya tepat di suatu perusahaan besar dan mewah. Ia lantas mencari tempat untuk memarkirkan mobilnya. Lantas mereka berdus turun dari mobil.


Sekar mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali. Ia menggenggam erat tali tas selempangnya. Lalu beralih menatap Arnold yang sudah berada di sampingnya. Kedua alisnya menyatu tanda bahwa dirinya kebingungan.


"Kenapa masih tunggu disini? Ayo masuk," Arnold hendak meraih tangan Sekar. Menggandengnya untuk masuk ke dalam bersama. Namun baru beberapa langkah saja, Sekar sudab menepis tangan Arnold. Ia bahkan mematung di tempat.


"Kenapa? Ayo," ajak Arnold. Kembali meraih tangan Sekar. Namun lagi-lagi gadis itu menyentak tangan Arnold. Bahkan kini Sekar menunduk.


Arnold mengangkat kepala Sekar dengan memegang kedua pipinya. Ia menatap teduh mata sendu gadis itu. Sedari tadi Sekar sangat bersemangat. Namun kenapa tiba-tiba murung begitu?


"Kenapa? Sakit yah?" Tanya Arnold. Masih setia memegangi kedua belah pipi Sekar.


Perlahan, Sekar mengangkat kepalanya. Lebih tinggi dari sebelumnya hingga ia bisa melihat nama perusahaan tempatnya menginjakan kaki saat ini. Perusahaan yang akan menjadi tempat kerjanya. Tertera tulisan, 'ARTISAN KARYA', disana. Sekilas info. PT Artisan Karya adalah perusahaan milik Arman yang diturun tahta kan kepada Arka. Singkatnya perusahaan itu kini milik Arka.


Sekar tak ingin bekerja disini. Alasan yang paling kuat adalah malu. Dirinya akan bekerja sebagai OG. Sementara suaminya- Arka merupakan pemilik perusahaan ini sendiri. Apa kata orang nanti? Mau menyembunyikan telinga pun susah. Pasti semua karyawan akan mengolok-oloknya.


Terlebih bagaimana jika Arka tahu dan ia marah besar?


Sekar menatap Arnold. Ada semraut muka marah di sorot matanya. Pasalnya Arnold tahu bahwa ini perusahaan yang berada di bawah naungan Arka.


"Kenapa bawa aku kesini?" Tanya Sekar dengan alis sedikit memicing. Jujur ia sangat kecewa berat kepada Arnold. Arnold sendiri yang meminta Sekar untuk jauh-jauh dengan Arka. Kalau Sekar sendiri bekerja di perusahaan Arka bagaimana ceritanya bisa jauh-jauhan?


Tersungging sebuah senyuman di bibir Arnold. Tangannya beralih memegang bahu Sekar. Ia sedikit menunduk. Menyeimbangkan tingginya dengan tinggi Sekar, "Ini adalah tempat kerja mu yang baru."


Arnold menyunggingkan sebuah senyuman. Ia kembali meraih bahu Sekar setelah tadi Sekar menyentaknya, "Tahu. Sangat tahu. Perusahaan Arka bukan?" Tanya pria itu santai. Padahal jelas-jelas gadis yang berada di depannya ini sudah mati-matian menahan amarah.


Sekar sangat bersemangat. Sangat senang. Ia memang ingin bekerja. Tapi tidak di tempat Arka juga. Malu iya. Takut Arka marah apalagi.


"Harusnya beritahu aku dulu kalau disini tempat kerjaku!" Sekar membalikan badannya. Bergegas pergi dari sana dengan muka yang sangat marah. Ia benar-benar kecewa karena Arnold telah mempermainkannya.


"Sekar dengar, dengar dulu." Pinta Arnold sambil berlari menyusul Sekar. Ia kembali membalikan badan Sekar. Memegang kedua lengan bagian atas gadis itu.


"Saat ini, sedang tidak ada perusahaan yang membuka lowongan kerja. Sementara dirimu ingin segera bekerja, bukan? Kebetulan disinilah ada lowongan pekerjaan yang kau inginkan. Kedua, sengaja aku memasukan mu kesini. Biar kita bisa membuktikan kepada Arka. Bahwa kamu bisa tanpanya. Setiap pagi aku akan menghantarmu. Dan sore hari aku akan menjemputmu," ucap Arnold penuh pengertian.


"Aku ingin bekerja, bukan ingin membuat Arka cemburu!" Tegas Sekar.


"Aku tahu sangat tahu. Bukan itu maksudku. Kita buktikan sama-sama kepada Arka kalau kau bisa hidup mandiri kepadanya. Dan belajarlah hidup normal dengan Arka. Seolah-olah kau bawahannya dan Arka atasannya. Agar kalian terbiasa menjadi orang asing nantinya," Arnold melirik ke kanan dan ke kiri, "Ayo kita masuk. Orang-orang sudah memperhatikan kita. Tenang Sekar. Aku bersamamu. Aku tak akan membiarkanmu kenapa-napa. Aku tak akan meninggalkanmu sendirian."


Arnold menggandeng tangan Sekar. Sekar sudah mulai tenang. Meski hatinya belum sepenuhnya menerima usulan Arnold ini. Tapi jujur ia juga tak ingin mengecewakan Arnold dan apa yang Arnold katakan barusan ada benarnya juga.


Pada saat mereka masuk, satpam yang menjaga pintu masuk menundukan kepalanya. Memberi hormat kepada mereka berdua.


Sekar menyikut Arnold yang berada di sebelahnya. Yang dengan tenangnya berjalan dengan santai sambil mengumbar senyuman, "Kenapa aku bisa diterima bekerja disini? Bukannya sebagian diantara mereka tahu bahwa aku ini istri Arka?" Alis gadis itu mengerut. Ia sungguh tak mengerti sama sekali.


Arnold nyengir. Menunjukan semua gigi rapihnya, "Memangnya itu masalah besar bagi seorang Arnold? Tentu tidak," ucapnya sombong dengan busung dada.


"Disana," Arnold menunjuk salah satu ruangan. Dimana seseorang baru saja masuk ke dalamnya.


"Aku akan memperkenalkanmu kepadanya. Dan akan memberitahunya apa tujuan mu. Dia manager disini. Bawahan Arka," jelas Arnold. Tentulah alis Sekar semakin memicing. Arnold bilang katanya benci Arka. Lantas darimana ia tahu semua ini?

__ADS_1


Arnold menarik tangan Sekar. Berlarian kecil menuju ruangan tersebut. Sekar sama sekali tak melepaskan pegangan tangan Arnold. Ia hanya akan ikut saja.


****


Pria bermarga Gumelar itu tidak tidur lagi setelah tadi ia menelefon Sekar. Sekarang dirinys sedang duduk santai di balkon kamar hotel. Ditemani secangkir kopi yang tadi ia buat sendiri.


Meski kaya, Arka tidak merokok. Ia hanya merokok ketika stress saja. Itupun sangat jarang sekali. Ia lebih memilih makan coklat daripada harus merokok.


Ia sedang menikmati pemandangan hotel Radison, Yogyakarta. Arka tak habis pikir. Sekarang ini usianya sudah menginjak 35 tahun. Dan dirinya belum menjalin hubungan rumah tangga dengan benar sekalipun.


Sempat tersirat di benaknya ia ingin segera mendapatkan keturunan. Ia ingin segera menimang anak. Namun dari siapa.


Lamunannya harus bayar kala handphonenya yang ia letakan di samping kopi bergetar dengan hebat disana. Ia melirik sekilas. Awalnya ia melirik dengan malas. Namun tidak lagi saat Arka tahu siapa gerangan yang menelefon. Itu adalah Jayur.


Arka lantas mengangkatnya, "Kenapa Pak?"


"Bagaimana? Mau pergi sekarang?" Tanya Jayur di seberang sana.


"Pergi ke mana? Mamah Lestari? Ayo."


Arka begitu antusias. Ia tidak memberikan Jayur kesempatan untuk berbicara lagi. Arka mematikan handphonenya. Lalu masuk ke dalam untuk segera mandi. Mungkin ia akan menemui Jayur di lobby nanti.


****


"Kak Sekar yang merebut suami orang," ucap salah satu gadis manis dengan rambut tergerai. Disertai sebuah bando dengan hiasan pita di kepalanya. Ia berkacak pinggang. Menatap Pasha dengan tatapan menyalang.


Panggil saja dia Gilsha. Gilsha Radipta Mawangsari. Gadis berusia 10 tahun yang merupakan teman sekelas Pasha, adik Arnold.


Sekilas info. Gilsha ini merupakan adik dari orang yang selalu membabad habis bangunan rumah tangga orang. Jelasnya, Viona. Viona Radipta Mawangsari adalah Kakak dari Gilsha. Gilsha seringkali berdebat dengan Pasha. Selain karena Pasha suka mengusilinya juga karena Viona sering memanas-manasi Pasha dan mengatakan Sekar adalah orang jahat. Pasha yang berada di pihak Sekar pun tentu tak terima. Maka dari itu mereka berdua sering berdebat satu sama lain.


"Kak Viona tuh yang galak. Macam singa," ucap Pasha dengan santai.


"Heh enak aja ya! Kalau Kak Sekar tidak ada pasti Kak Arka sudah menjadi Kakak ku sekarang!" Ucap gadis itu. Semakin ngegas. Entah apa pula yang selalu di katakan Viona pada Gilsha. Hal yang seharusnya tidak diketahui anak seusia Gilsha pun di ketahui.


"Oyah? Jelas-jelas yang menikah itu Kak Arka dan Kak Sekar. Bukan Kak Arka sama Kak Viona!" Emosi Pasha mulai terpancing. Meski Gilsha seorang perempuan tapi tetap saja ia menyebalkan di mata Pasha.


"Oyah? Tapi yang Kak Arka cinta itu Kakak ku. Bukan Kak Sekar. Kenapa Kak Sekar tidak menikah dengan Kakak laki-lakimu itu saja? Ohh pasti karena Kak Arka lebih banyak uangnya di banding Kakak mu. Siapa namanya? Cendol?"


Pasha mengepalkan tangannya. Anak gadis ini telah menguras habis kesabaran Pasha. Anak-anak di kelas mereka mulai mengerumuni Pasha dan juga Gilsha. Namun hanya menonton. Tak ada yang berniat melerai seorang pun.


Pasha maju beberapa langkah. Menjambak kuat rambut gadis itu dengan tenaga sumo nya. Sungguh Pasha sudah tidak tahan dengan kelakuan Gilsha yang sebelas dua belas dengan Viona.


Pikiran Pasha sudah kalut. Ia tak perduli lagi baik Gilsha seorang perempuan ataupun sekarang dirinya sedang berada di kawasan sekolah. Satu yang ingin Pasha lakukan saat ini, menikam Gilsha. Memberi gadis itu pelajaran.


"Kak Arnold tidak seburuk itu! Kak Arnold mencintai Kak Sekar seperti adik nya. Suami sah Kak Sekar itu Kak Arka. Bukan Kakak mu si Viona!" Tegas Pasha sambil terus menjambak rambut gadis itu.


Gilsha tak ingin kalah meski dirinya perempuan. Ia pun ikut serta menjambak rambut Pasha. Meski rambut pria sedikit sulit di jambak.


"Bodoh! Kak Viona selalu mengatakan bahwa yang merebut suami orang itu Kak Sekar. Kak Sekar tidak pantas hidup!" Bentak Gilsha.


"Kalau saja aku sudah sebesar Kak Arnold. Ku pastikan rambutmu dan rambut Viona akan botak," ucap Pasha sedikit berteriak.


"Oyah? Sebelum itu terjadi akan ku botaki rambutmu terlebih dahulu!" Ancam Gilsha.


"Aku tetap tampan meski botak," ucap Pasha.

__ADS_1


Pertengkaran mereka semakin sengit. Rambut Gilsha yang panjangnya sepunggung sudah kusut macam sapu injuk. Tapi tak ada satupun yang niat berhenti atau memberhentikan. Yang ada teman-teman Pasha dan Gilsha bertepuk tangan lalu saling menyoraki. Memenangkan tim masing-masing


__ADS_2