
Sekar: Aku benci ketika ia mengatakan kalimat mengenai perpisahan.
......
Hari-hari berjalan dengan seharusnya. Arka sudah kembali bekerja ke kantor. Meneruskan perusahaan Gumelar, Pt. Artisan Karya. Meski setiap pagi ia harus berat hati meninggalkan istri nya, Sekar.
Tapi Sekar saat ini tidak sendiri. Dengan paksaan Arka, Sekar di temani asisten rumah tangga yang membantu membereskan semua pekerjaan rumah dan juga menemani Sekar. Arka sangat tidak ingin Sekar kecapean. Bahkan sekedar melipat baju pun Sekar di larang. Bahkan Arka berniat akan mengambil asisten baru dari yayasan yang bertugas menjaga Sekar.
Memenuhi segala keinginan gadis itu. Namun sekuat tenaga Sekar menahan Arka. Dan akhirnya Arka kalah. Tentu dengan ancaman Sekar akan selingkuh kalau Arka sampai memperkerjakan dua pembantu di rumahnya.
Tami, Arman dan Anisa sering mampir ke rumah Sekar. Mengecek keadaan gadis itu.
Dan Arnold, sampai saat ini perasaan Sekar kepada Arnold masih sama. Masih marah. Sudah berulang kali Arnold datang ke rumah Sekar. Namun tidak diterima baik oleh perempuan itu. Padahal Arka menerima Arnold.
Dan kabar baiknya adalah usia kandungan Sekar sekarang sudah menginjak 7 bulan. Begitu tidak terasa.
Ingin tahu bagaimana suami siaga seperti Arka memperlaukan Sekar yang tengah hamil besar? Bahkan Arka membuatkan jadwal khusus untuk istri tercintanya itu.
05.00 : Bangun, shalat shubuh.
Tidur sampai pukul 08.
08:00 sarapan.
Setelah sarapan nonton tv, di pijit, mandi.
Tidur lagi sampai pukul 09.
09:00: Bangun, makan cemilan, nonton tv, di pijit.
Cari kegiatan lain (Baca buku, main hp, nonton tv).
Makan sampai jam 10.
10:00: Ngaji sampai jam 11.
11:00 :Tidur sampai jam 12.
12:00: Makan sampai jam satu.
Sampai Sekar dibuat bingung sendiri. Memangnya makan apa sampai satu jam lamanya?!
Tapi Sekar tak banyak menuntut atau komplain. Ia tahu betul bahwa suaminya itu sangat possesif, khawatir berat. Terlebih ini adalah pengalaman pertama Arka sebagai suami sekaligus calon Ayah.
Maka ia membiarkan Arka melakukan apapun yang ia suka. Meski sesekali Sekar tidak mematuhinya.
Terkadang Sekar melakukan pekerjaan rumah karena bosan meski sudah mati-matian di larang oleh ART karena katanya takut di marahi Arka. Tapi Sekar tak kuat melawan rasa bosan nya sehingga harus ada aktivitas yang ia lakukan selain menonton tv.
Arka pulang kerja jam 5 sore. Seharusnya, seorang Bos seperti Arka pulang jam 8 malam. Tapi ada saja caranya agar bisa sampai di rumah tepat sebelum maghrib.
Setelah maghrib tiba, ia akan shalat berjamaah, berdo'a dan mengaji bersama Sekar. Di susul makan malam. Kemudian mengobrol. Entah itu di ruang tamu, atau di kamar.
__ADS_1
Dan topik pembicaraan yang tak pernah lepas dari yang Arka bicarakan adalah mengenai utun Sekar.
Dimana mau melahirkannya. Hongkong, Korea atau Jepang?
Mau di rumah sakit berapa lantai?
Mau dokter yang terkenal atau yang mana?
Mau ngundang siapa aja pas lahiran?
Mau ngundang presiden negara mana?
Anaknya mau dikasih nama apa?
Nanti hadiah pertama anaknya apa? Pesawat terbang atau les bahasa di Korea?
Kira-kira itulah pertanyaan yang selalu keluar dari mulut Arka di setiap harinya. Membuat Sekar jengah namun tak urung juga tertawa. Apalagi saat melihat Arka menduselkan kepalanya di perut buncit Sekar. Membuatnya geli sekaligus ingin terbahak-bahak. Karena Arka seperti berinteraksi sungguhan dengan anak di dalam perutnya itu.
Seperti malam ini. Mereka berdua sedang mengobrol di halaman depan rumah. Jam 7 malam. Setelah selesai shalat isya, Sekar mengajak Arka menikmati udara luar. Padahal Arka sudah melarangnya karena takut masuk angin katanya. Tapi dengan gemas nya Sekar mengatakan bahwa itu adalah permintaan utun nya. Sehingga membuat Arka tidak tega untuk melarangnya.
Menikmati angin malam bertiga. Sekar, utun dan juga Arka. Ada dua kursi di luar. Namun pria itu lebih memilih duduk di lantai. Tepatnya di bawah Sekar. Mengelus halus perut Sekar. Padahal sudah berkali-kali Sekar menyentak tangan Arka karena kegelian.
"Lucu yah perut nya. Jadi besar gitu. Berarti aku juga dulu gitu," Arka mengusap halus perut Sekar dengan begitu hati-hati. Selain mencium Sekar, mengelus perut Sekar kini adalah sebuah candu bagi Arka. Sehari, bisa beberapa kali pria itu mengelus perut Sekar.
Entah itu sebelum kerja, bangun tidur, mau mandi, pulang kerja, mau tidur. Di setiap ada kesempatan, ia akan mengelus perut Sekar.
"Iya. Aku jadi gak sabar pengen liat dia keluar," ucap Sekar.
"Iya. Kalau udah keluar, kita isi lagi ya," goda Arka. Menempelkan kepala nya di perut Sekar, "Ih dia nendang-nendang." Arka tertawa. Sementara Sekar gadis itu sedang menahan sakit karena anak nya sedang menendang-nendang perutnya.
Sekar menyimpan jari telunjuknya di bibir Arka. Mengulas senyum. Eskpresi wajah nya sudah kembali normal. Ia sudah tidak lagi merasakan sakit. Anak nya sudah tidak lagi menendang-nendang.
"Emang sering begini kok. Nanti juga sembuh lagi."
Arka menatap sendu mata teduh Sekar yang senantiasa tersenyum itu setiap hari nya. Duduk di samping wanita itu. Memegang telapak tangannya.
"Maaf yah. Aku bisanya cuman enak nya doang. Giliran susah nya, kamu sendiri yang nanggung. Aku gak bisa bayangin gimana bisa ada manusia di perut seorang wanita," ucap Arka. Mencium jari jemari Sekar.
"Kamu jadi Ayah dan suami yang baik aja udah cukup kok. Begini terus selamanya. Jangan pernah ninggalin aku."
"Gimana bisa aku ninggalin separuh nyawa aku? Kamu dan juga utun adalah segalanya bagi aku. Kebahagiaan aku. Dunia aku. Setelah kehadiran utun, gak ada sedikitpun niat buat ninggalin kalian berdua. Janji ku adalah untuk membahagiakaan kamu dan utun sampai ajal menjemputku."
Bibir Sekar mengerucut. Matanya bergelimang. Sebentar lagi krystal nya itu akan luruh.
"Bisa tidak jangan bicarain soal ajal? Aku takut Ka."
Arka mendekatkan diri. Meraih tubuh Sekar. Memeluk tubuh gadis itu dari samping.
"Ajal adalah hal yang selalu mengintai. Hal yang tidak bisa di hindari. Justru kita harus senantiasa mengingat ajal. Agar kita terus mengingat bahwa kita bisa meninggal kapanpun dan mempersiapkan diri."
Gagal lah sudah usaha Sekar menahan isak tangisnya. Apa yang dikatakan Arka benar-benar mengguncang jiwa nya.
__ADS_1
"Sekar sayang. Tahu apa yang paling aku benci selain perpisahan? Yaitu melihatmu menangis. Ngeliat kamu nangis, aku ngerasa gagal jadi suami. Aku ngerasa gagal jadi sosok pria yang bisa ngebahagiain kamu."
Namun Sekar sungguh tak kuasa. Ia malah memperkuat pelukannya pada Arka.
"Sutt. Malu sama utun. Jangn nangis. Selagi kita ada umue, selagi kita bersama ayo kita jalani hari-hari ini dengan penuh kebahagiaan. Penuh canda tawa. Ayo kita besarkan utun sama-sama. Didik dia sebaik mungkin. Jangan biarkan dia mengalami penderitaan seperti yang pernah kamu alami."
"Teruntuk utun. Kalau udah besar nanti, jaga Mamah Sekar baik-baik ya sayang kalau Papah Arka udah gak ada."
"Arka!" Bentak Sekar.
"Jaga dia, sayangi dia. Jangan sampai ada orang lain yang nyakitin dia. Seluruh tugas Ayah, akan Ayah kasih ke kamu. Mamah Sekar adalah tugas terberat kamu. Ingat, sekali aja kamu buat Mamah Sekar nangis. Ayah gak akan segan-segan mukul kamu."
"Arka!" Sekar membuat jarak dengan tubuh Arka. Diirngi isak tangis, gadis itu membengak Arka yang berbicara ngelantur.
"Hehe bercanda sayang. Mana mungkin aku rela ninggalin kamu," Arka meraih kembali tubuh Sekar. Mendekapnya.
"Kamu jangan pernah berubah ya sampai kapanpun. Tahu kan kalau umur aku udah tua? Aku pengen habisin masa tua aku bersama kamu dan juga utun. Aku sayang kalian. Terimakasih. Terimakasih atas kebahagiaan yang udah kamu berikan selama ini. Dan dengan kehadiran utun nantinya. Keluarga kita akan semakin lengkap."
Sekar mengangguk lemah, "Makasih juga udah mau jadi pria yang mau ngebehagaiaan aku. Pria yang ngerubah hidup aku. Pria yang ngehilangin segala derita aku. Pria yang meberikan aku kehidupan dan kebahagiaan baru. Aku sayang kamu."
"Aku juga sayang kamu, Sekar."
*****
Pagi ini Arka tidak berangkat ke kantor. Dengan alasan malas. Padahal Sekar sudah berulang-ulang kali membangunkan Arka. Menyuruh pria itu bekerja. Tapi Arka masih sibuk dengan kasur, guling dan bantal nya.
"Kamu gak inget ya hari ini hari apa?" Tanya Arka dengan mata masih tertutup.
"Ini hari selasa. Kamu ada meeting kan sama Zaki?"
Arks menggeleng tanpa melepaskan pelukannya dari guling, "Bukan."
"Hah? Terus?"
Arka bangun. Ia menarik lengan Sekar, "Udah mandi 'kan? Ayo ganti baju. Ikut aku," ucap Arka sembari mendorong punggung gadis itu agar berganti baju.
"Hah? Kemana Ka?"
"Rahasia hehe. Pokoknya ganti baju aja ya. Tapi jangan tampil cantik-cantik. Apalagi sexy. Aku pantau loh ya baju nya."
Jangan ngomong gitu Ka
Iya maaf
__ADS_1