
Sekar: Kata-kata yang enak di dengar tidak bisa di ucapkan dua kali.
Sekar, Arka: Jawaban spesial harus di katakan di tempat spesial.
......
Viona merasa sangat asing dengan rumah barunya ini. Tapi Tami terus memaksa Viona untuk tinggal di rumahnya agar Viona bisa terbiasa. Setelah bercakap dengan Sekar tadi. Mendapatkan hidayah. Viona berpikir semoga saja dia bisa mendapatkan kehangatan yang sebelumnya tidak pernah dia dapatkan. Karena jujur. Kedua orang tua sambung Viona (Paman dan Bibi Viona) tidak begitu memperhatikan Viona. Maklum saja, Viona bukanlah anak mereka jadi perhatian yang mereka berikan kepada Viona tidak lah sepenuhnya.
Viona berusaha menguatkan tekad dan hatinya untuk bisa menerima keluarga barunya ini meski sangat susah. Dan soal Arka. Mereka membuat kesepakatan Viona dan Arka harus jarang bertemu terlebih dahulu. Semoga saja dengan cara ini perlahan Viona bisa melupakan Arka.
"Selamat datang di rumah ini Non Viona. Semoga betah ya. Saya Iyam, saya berjanji akan melayani Non Viona sebagaimana saya melayani Bu Tami dan Pak Arman," ucap Iyam begitu ramah. Viona tak suka penyambutannya. Tapi Viona memaksakan untuk menerimanya.
"Makasih," ucap Viona datar lalu melenggang dari sana.
Viona memang sangat berbeda dengan Sekar. Mungkin keduanya sama tumbuh tanpa kasih sayang kedua orang tua. Bedanya, Sekar tumbuh menjadi gadis lembut dan baik hati. Kesulitan yang menerpanya ia jadikan topangan dan pelajaran.
Sementara Viona. Gadis itu sedikit beringas dan egois. Kesulitan dan kesusahan yang ia dapat selalu dijadikan alasan untuk mengeluh setiap saat tanpa ada rasa bersyukur di hatinya sedikitpun.
****
"Kalau tidak biasa tidur denganku tidak apa-apa. Aku tidur di luar atau di kamar mu ya. Kamu tidur disini. Di kamarmu banyak barang," Arka datang dan langsung memecahkan lamunan Sekar yang saat itu sedang berada di kamarnya dan duduk di sebuah kursi.
"Oh? Tidak usah Mas. Aku saja yang tidur di luar." Arka tersenyum miris. Dikiranya Sekar akan setuju malam ini mereka tidur berdua. Tapi ternyata tidak.
"Tidak apa-apa. Tuh remote AC nya disana," Arka menunjuk sebuah meja bundar kecil. Terdapat tissue dan remote AC disana. Sekar menoleh ke arah benda tersebut.
Arka melenggang pergi dari sana setelah urusannya dengan Sekar di rasa cukup.
Langkah dan atensi Arka teralihkan saat mendengar suara Sekar memanggilnya. "Kenapa Mas Arka tidak tidur disini saja?"
Hati Arka menggebu seketika. Udara mendadak panas dingin. Ingin sekali ia loncat ke kasur saat ini juga. Tapi malu pada Sekar.
"Memangnya kamu tidak masalah?" Tanya Arka.
Sekar menggeleng, "Tidak masalah kalau cuman tidur doang."
Tidur doang? Ayolah Kar Sekar. Bukan itu yang Arka inginkan. Anakkk anakkkk. Arka pengen keturunan.
"I-iya cuman tidur doang," Ingsyaallah kalau gak khilaf. Khilaf juga gakpapa kan, toh sudah sah.
"Iya. Sini." Arka menepuk-nepuk pinggiran ranjang. Meminta Sekar untuk duduk di sampingnya.
"Iya?" Sekar duduk.
"Pinjem pahanya," Arka merebahkan dirinya dengan posisi telentang. Menggunakan paha Sekar sebagai bantalannya. Tangannya ia lipat di atas perut.
"Berat tidak?" Sekar menggeleng. Menyunggingkan sebuah senyuman.
"Boleh minta sesuatu?" Sekar mengangguk.
"Jangan pernah tinggalkan aku." Arka meraih tangan Sekar. Menyimpannya di dadanya, "Pegang ini. Ini adalah milikmu. Seutuhnya milikmu. Jangan tinggalkan aku. Aku mencintaimu."
Arka memejamkan matanya. Mengeluskan tangan Sekar di pipinya. Sebuah air menetes di sudut matanya. Tiba-tiba bayangan Siska muncul di benaknya.
Itu adalah kalimat yang Arka katakan pada Siska dulu.
Jangan tinggalkan aku.
Siska, aku mencintaimu.
Siska, dada dan hati ini milikmu.
Siska, satu-satunya wanita yang kusayang di dunia ini.
"Kenapa nangis?" Tanya Sekar yang sadar akan air mata Arka.
"Dulu. Siska berjanji tidak akan meninggalkanku. Tapi kenyataannya, ia pergi dan tidak kembali."
Sekar tersenyum hambar. Hatinya teriris mendengarnya. Kehilangan, pergi adalah kejadian yang memang bisa Sekar rasakan bagaimana sakitnya.
"Kalau begitu, aku tidak akan berjanji. Agar aku tidak meninggalkanmu," Sekar mencolek hidung Arka.
"Sebenarnya aku yang salah. Aku meminta kepada Siska, dan Allah yang mengambilnya. Kali ini, aku yang akan meminta kepada Allah," ucap Arka.
"Kalau begitu nanti malam shalat bersama ya?" Pinta Sekar. Dibalas anggukan oleh Arka.
"Sekar? Kamu itu sukanya apa sih? Kalau dulu Siska sukanya naik biang lala terus nonton film horor. Kalau kamu?" Arka memainkan anak rambut Sekar.
__ADS_1
Sekar terlihat berpikir. Sebelah tangannya mengelus dan menyugar rambut Arka, "Apa ya? Gak tau. Tapi aku suka acara bazar Ka. Rame aja gitu. Banyak anak kecil. Terus barang-barang yang mereka jual murah-murah," ucap Sekar lugu sambil tersenyum dan memejamlan mata.
Mendengar kata bazar, membuat Arka teringat pada mimpinya kala itu. Mimpinya bersama seorang anak. Mimpinya saat baru saja ditinggalkan Sekar.
"Tahu tidak. Hari itu aku pernah bermimpi kita memilikk seorang anak."
"Oyah?"
"Iya. Namanya Kara. Dia cantik sekali, seperti dirimu. Sayangnya itu mimpi buruk. Kara hendak tertabrak tapi kau menyelematkannya lalu kau yang tertabrak. Mimpi itu terjadi ketika kau baru saja meninggalkanku. Aku langsung terbangun dan shalat," jelas Arka.
"Itu artinya Allah sedang merindukanmu. Menyuruhmu beribadah."
Arka mengangguk, "Iya. Setelah kematian Siska ibadah ku jadi tidak beraturan. Tahu tidak, aku menyalahkan Allah karena telah mengambil Siska. Padahal Allah berniat baik. Ia mengambil Siska untuk memberikan Sekar. Adik nya yang kucintai setengah mati."
Baru kali ini Sekar melihat sisi baik, lembut, lucu dan periang Arka. Arka yang garang, pemarah, galak sudah hilang sepenuhnya. Meski Arka berubah tapi jujur Sekar lebih menyukai Arka yang ini. Semuanya benar-benar berubah drastis.
"Kamu mau anak berapa?" Tanya Arka sambil mengancingkan baju Sekar yang tadi sempat terbuka.
"Satu?" Jawab Sekar.
"Satu? Aku maunya tiga! Kalau nggak ya dua!" Timpal Arka.
"Satu laki-laki, satu perempuan. Biarin yang laki-laki jadi anak pertama. Biar bisa jaga anak yang kedua," imbuh Arka.
"Terus kalau Kakak nya yang jagain Adik nya. Tugas Papah nya apa?" Tanya Sekar. Menyentak tangan Arka yang dengan usil membuka kancing baju Sekar.
"Papah nya jagain Mamah nya."
Tap! Arka berhasil membuka tiga buah kancing baju Sekar. Sehingga baju dalam wanita itu kelihatan. Arka memelotot. Meneguk ludahnya kasar saat melihat betapa mulusnya leher jenjang Sekar dan belahan dadanya.
"Sekar?"
"Hmm?" Tanya Sekar yang belum sadar kancing baju nya terbuka.
"Aku jadi vampire sebentar boleh ya?"
"Hah? Biar apa?" Tanya Sekar.
"Biar bisa nyedot leher kamu." Sekar menunduk. Ia melihat dada nya yang terekspos dengan jelas. Tank top hitamnya kelihatan.
"Arka mesum!" Teriak Sekar tak asa.
Waluyo yang sedang berada di bawah dan mendengarnya hanya terkekeh.
"Non Sekar kan polosnya mendarah daging. Menjalar sekujur tubuh. Emang bisa Mas Arka godain dia?" Tanya Waluyo cekikikan.
*****
Malam tadi Sekar dan Arka tidak jadi tidur bersama karena Sekar kesal atas ulah Arka yang dengan lancang membuka kancing baju nya. Akhirnya Arka mengalah tidur di kamar Sekar dan Sekar tidur di kamar Arka.
Pagi ini keduanya sudah bangun. Hendak pergi ke kantor. Sekar sudah menyiapkan sarapan. Sekar bangun lebih pagi dari biasanya karena ia harus ikut ke kantor juga hari ini.
Saat ini Sekar sedang memasangkan dasi Arka. Dengan begitu teliti dan telaten. Tangannya begitu lihai membentuk simpul dasi.
"Sudah," ujar Sekar sambil menepuk-nepuk dasi Arka. Menghilangkan sedikit debu yang menempel.
Sekar mundur beberapa langkah. Namun Arka mencekalnya. Memajukan kembali tubuh gadis itu.
"Dasi sudah. Kening nya belum," Arka mengecup kening Sekar. Memberikan kehangatan pagi untuk gadis itu.
"Terimakasih," gumam Sekar.
"Sekar?" Arka menatap mata teduh Sekar. Ada yang ingin ia utarakan. Namun sedikit berat dan mengganjal.
"Hmm?" Tanya Sekar penasaran. Ia bisa melihat raut muka Arka yang ingin mengutarakan sesuatu.
"Cium perut boleh?" Tanya Arka dengan perasaan was-was. Takut Sekar menyentaknya.
Sekar merunduk. Ia tak tahu harus menjawab apa. "Tidak apa-apa kalau tid--"
"Boleh."
Arka tersenyum. Ia menunduk. Membuka baju Sekar. Mengecup perut rata Sekar, "Suatu hari nanti akan ada anak Ayah disini. Penerus Gumelar." Arka mengusap perut rata Sekar. Membuat gadis itu sedikit menggeliat.
Selain itu, Arka menempelkan kepalanya di perut Sekar. Sekar memperhatikan bagaimana Arka menduselkan kepalanya di perut Sekar.
'Ya Allah. Apa Mas Arka sudah ingin memiliki anak?' Batin Sekar pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Sudah. Ayo kita berangkat," Arka merangkul pinggang Sekar. Kemudian bergegas pergi dari sana.
****
"Mas. Boleh aku minta izin?" Tanya Sekar ketika dirinya sedang berada di dalam mobil.
"Tentu. Minta izin kemana?" Tanya Arka sambil masih terus fokus mengemudi.
"Minta izin ke panti asuhan sebentar. Ketemu Ibu Anisa."
"Boleh dong. Nanti pulang dari sana kita jenguk Mamah Lestari habis itu kita ke rumah Mam---"
Ucapan Arka terpotong mana kala benda pipih yang berada di saku celananya berbunyi. Arka meraih benda tersebut. Mengangkat telefon dari seseorang.
Arka terlihat mangut-mangut. Lalu mengiyakan panggilan telefonnya. "Sekar?" Tanya Arka ketika sudah selesai berbicara dengan seseorang di seberang sana kemudian memasukan kembali handphonenya.
"Iya?"
"Kayaknya nanti siang kita gak jadi jenguk Mamah Lestari dulu. Soalnya Mamah minta kita ke rumahnya. Ada yang ingin Viona katakan," ucap Arka serius. Arka menempelkan tangannya di atas tangan Sekar. Mengusapnya halus. Berharap gadis itu tidak marah apalagi salah paham.
Tapi bukan Sekar namanya kalau gampang marah apalagi salah paham. Sekar itu wanita penuh pengertian, "Iya gakpapa. Aku ikut?"
"Kamu ke rumah Ibu Anisa dulu aja. Nanti aku antar. Kalau sudah selesai urusannya baru ke rumah Mamah. Tapi harus aku yang jemput," ujar Arka dengan sedikit penekanan. Agar Sekar mau. Karena Sekar adalah wanita yang sangat tidak ingin merepotkan.
"Aku pergi sendiri aja. Terus nanti bisa kok ke rumah Mamah nya sendiri," benar 'kan? Sekar: Selagi bisa sendiri kenapa harus merepotkan orang lain.
"Satu hal yang harus kau tahu. Arka itu pria possesif pada wanitanya. Sekalinya aku bilang aku yang antar harus aku yang antar. Kamu tidak tahu ya kalau kamu itu cantik? Nanti banyak yang goda di jalan gimana?"
"Ya gampang. Tinggal aku tampar," ucap Sekar. Sudut bibirnya terangkat. Ia sedang ingin menggoda Arka.
"Kalau gagal gimana?"
"Panggil Kak Arnold. Kak Arnold kan selalu nolongin aku di setiap kesempatan. Selalu ada buat aku. Sel---" ucapan Sekar terhenti kala ia menoleh ke arah Arka dan Arka sedang melihatnya dengan tatapan tajam seperti hendak menerkam.
"Apa? Kenapa gak di terusin?" Tanya Arka ketus.
"Hehe. Sayang Arka," Sekar menempelkan kepalanya di lengan atas Arka.
Arka terkekeh karenanya. Mudah sekali ia luluh oleh Sekar. Melihat senyum Sekar saja Arka sudah luluh.
"Bilang apa barusan?" Tanya Arka. Sengaja----- ingin mendengarnya lagi.
"Kata-kata yang enak di dengar tidak bisa diucapkan dua kali," ujar Sekar sembari mengangkat kepalanya. Membenarkan duduknya menjadi lebih tegak.
"Untung aku sayang. Kalau gak sayang. Aku......" Arka menggantung ucapannya, "Gak jadi hehe. Tadinya mau aku gelindingin."
*****
Keduanya sudah selesai dengan urusan kantor masing-masing. Tidak ada yang special di kantor hari ini selain Arka dan Sekar yang terus saja menggoda satu sama lain. Terus tiba-tiba datang Zaki yang menjadi nyamuk.
Sekilas info. Tadi Zaki hendak di lempar Arka menggunakan mesin print karena Zaki tiba-tiba saja masuk tanpa alih-alih permisi dan disaat Arka hendak nyosor Sekar. Untung Sekar menahannya. Kalau tidak bisa bocor itu pala orang di lempar Arka.
"Nanti kalau udah selesai urusannya di rumah Bu Anisa telefon aja ya," ucap Arka memberi peringatan.
"Iya."
"Kalau misalkan aku belum datang kamu tunggu di dalem ya," ujar Arka.
"Iya," balas Sekar.
"Kalau ada pria langsung jauh-jauh ya."
"Iya."
"Kalau---" cup! Satu kecupan mendadak mendarat di pipi sebelah kiri Arka. Membuat Arka terdiam seketika. Mematung. Detak jantungnya berdebar tak karuan. Mulutnya terkunci. Padahal Sekar hanya mengecup pipinya singkat.
"Arka bawel," ujar Sekar datar.
"Mendingan bawel. Biar bisa dicium terus. Lagian bawel nya sama istri doang."
Sekar hanya mendelik. Tak tahu harus berkomentar apa pada sifat Arka yang begitu hebat dalam hal menggombal. Hebat juga dalam menyenangkan hati Sekar.
"Arka. Kok bisa suka sama aku?" Tanya Sekar. Ini adalah pertanyaan yang ingin Sekar tanyakan beberapa hari lalu. Namun tak kunjung ia tanyakan lantaran tak ada waktu yang pas.
"Jawaban spesial harus di jawab di tempat spesial," ucap Arka. Sekar mengerutkan keningnya. "Maksud?"
Namun pertanyaan Sekar tidak bisa terjawab sekarang karena mereka sudah tiba di panti asuhan.
__ADS_1