
Sekar: Hatiku senang dan tenang saat bersamanya. Apa dia itu semacam angin malam?
......
Setelah puas seminggu di rumah sakit. Akhirnya dokter mengizinkan Sekar pulang. Dengan syarat Sekar harus banyak istirahat dan makan teratur.
Tentu Sekar menyetujuinya. Ia sudah rindu berat dengan rumah nya itu.
Saat ini Arka dan Sekar sedang mengemasi barang-barang. Sekar sudah di larang Arka untuk ikut serta mengemasi barang-barang itu. Tapi itulah Sekar. Selalu tak bisa diam dan melihat orang lain kesusahan. Selalu tak bisa menyusahkan dan berusaha melakukan hal yang bisa ia lakukan.
"Itu nanti utun nya kecapean," sebagai suami siaga tentu Arka tak bisa membiarkan Sekar yang bahkan belum pulih harus ikut serta berkemas barang.
"Ya Allah Ka. Cuman beres-beres doang, gak cape kok," Sekar terus memasukan barang satu persatu ke dalam tas nya.
"Kan lama kelamaan cape sayang. Nurut sekali bisa gak? Perasaan dulu kalau di suruh nurut mulu. Kenapa sekarang jadi banyak bantah hm?"
Sekar nyengir kuda, "Hehe," kekeh nya. Setelah hubungannya membaik Sekar memang lebih sering menantang suruhan Arka. Tapi tentu bukan menentang yang cederung ke hal buruk. Dirinya hanya tidak ingin merepotkan.
"Mamah Tami sama Papah Arman gak bisa jemput kita. Soalnya ada acara kantor. Paling nanti di jemput Pak Waluyo. Tapi ada bi Iyam di rumah. Gak papa ya?" Tanya Arka. Di balas anggukan oleh gadis nya itu.
Arka menghentikan aktivitasnya karena sudah selesai. Ia menghampiri Sekar yang masih sibuk melipat baju nya.
Mumpung ada kesempatan, pria itu melingkarkan tangan kekar nya di perut Sekar dari belakang.
"Gak sabar pengen nanti kehadiran utun. Sayang nya Ayah," Arka mengusap halus perut Sekar yang bahkan belum kelihatan sedang mengandung alias masih rata.
Sekar meraih wajah Arka. Mengusap nya halus, "Sabar ya. Banyak-banyakin berdo'a biar dia lahir dengan selamat."
"Pasti."
******
Keduanya sudah sampai rumah. Rumah kosong, tidak ada siapa-siapa karena Iyam sudah pulang. Namun terawat rapi dan juga sudah tersedia banyak makanan. Itu pasti Iyam yang menyiapkannya.
"Kayak nya kamar kita harus pindah jadi di bawah deh. Soalnya kasihan kamu kalau harus naik turun tangga," ucap Arka sembari memperhatikan tangga menuju ke kamar nya yang memang lumayan tinggi.
"Gak usah. Lagian gakpapa kok, biar sekalian olahraga."
__ADS_1
"Sayang. Olahraga Ibu hamil itu bukan naik turun tangga. Untuk kali ini, aku gak mau ada pembantahan. Demi keselamatan kamu juga."
Sekar hanya tersenyum. Menanggapi suaminya ini memang perlu kesabaran. Pasal nya Arka sangat possesif. Apalagi setelah ada kehadiran utun di diri Sekar. Membuat nya menjadi suami yang ekstra siaga.
"Yaudah iya."
"Nah gitu dong. Makin sayang," Arka mengecup kening Sekar singkat sebelum akhirnya menarik koper nya ke salah satu kamar yang berada di bawah. Jarang di pakai namun sering Sekar bersihkan dulu, dan mungkin Iyam membersihkannya juga sehingga bisa langsung dipakai.
"Sekar kamu kok baik banget sih? Hamil tapi gak ngidam apa-apa. Ngidam helikopter kek, ngidam motor, ngidam kereta api kek. Atau apa gitu. Yang mewah. Aku sanggup kok," ucap Arka sembari meletakan koper nya kemudian menarik tangan Sekar untuk ikut duduk bersama nya di atas ranjang.
"Semoga aja gak ngidam kayak gitu. Aneh banget itu ngidam nya Ka. Mungkin belum. Lagian belum juga genap sebulan."
Arka menundukan kepalanya. Mengusap halus perut Sekar, "Sayangnya Ayah kalau mau apa-apa minta ya jangan sungkan. Kalau Ayah bisa, janji kok bakal di beliin. Asal jangan minta Ayah baru aja ya."
Sekar mengacak rambut Arka dengan gemas. Bagian paling menyenangkan dari tingkah laku Arka adalah ketika dirinya berbicara dengan perut Sekar. Seolah-olah berbicara dengan anak kecil.
"Kalau minta Mamah baru gimana?" Sekar mencoba menggoda Arka.
"Mamah Sekar aja udah cukup. Lebih dari cukup malah. Buat apa Mamah baru?" Arka masih dengan posisi yang sama. Namun apa yang ia lakukan sedikit berbeda. Ia menyibakan baju Sekar. Karena gemas, Arka mengigit nya hingga Sekar mengerang.
"Arka sakit!" Untung saja Sekar tidak menukul kepala Arka.
"Bantal?! Gimana kalau anak kita penyek di dalam?!" Teriak Sekar. Tak terima akan niat buruk Arka yang akan menjadikan perut buncit nya bantal.
"Abis nya gemes. Udah wangi bayi, terus gembung. Lucu aja gitu," kini Arka beralih merangkum wajah Sekar. Membuat bibir gadis itu tertekan sehingga sedikit manyun di buatnya.
"Haha. Kayak bebek," ledekan terakhir Arka yang langsung dihadiahi cubitan di lengan atas nya.
*****
"Nanti kalau kandungan kamu udah besar otomatis perut kamu besar otomatis baju kamu juga besar. Nih, aku pilihin kamu baju di online shop biar kita gak usah keluar-keluar buat beli baju. Kamu pilih sesuka kamu."
Arka menyerahkan ponsel nya kepada Sekar yang saat itu sedang menata meja rias nya. Mata Sekar bulat sempurna melihat apa yang di suguhkan oleh Arka. Ralatnya saat melihat nominal harganya.
"5 juta harga kaos doang? Ini baju hasil produksi negara mana Ka? Kok semahal itu? Ini juga. Daster 3 juta?! Kalau di pasar 3 juta bisa dapet daster 10." Sekar menyerahkan kembali handphonenya kepada Arka.
"Sekali-kali kamu belanja disini. Jangan di pasar mulu. Sekali aja. Kamu pilih semau kamu. Mau berapapun jumlahnya. Aku mampu kok buat bayar. Yah, yah?" Arka memasang poppy eyes nya. Di tunjukan kepada Sekar. Berharap wanita nya itu mau menuruti keinginannya.
__ADS_1
Namun nihil, Sekar menggeleng tegas. Meraih handphonenya yang di simpan di salah satu paper bag yang tadi dibawa dari rumah sakit.
"Nih liat. Masih banyak Ka harga baju yang murah. Kita beli yang murah aja ya?"
"Kalau bisa yang mahal, kenapa harus yang murah? Sedari dulu, mana pernah aku beliin kamu baju. Aku sering cawad penampilan kamu, tapi gak pernah merhatiin kebutuhannya."
"Sekarang. Izinin aku buat jadi suami yang berguna ya. Aku mau beliin segala kebutuhan kamu, apapun itu," ucap Arka.
Sekar tersenyum senang. Mengusap halus lengan bagian atas Arka, "Kamu udah jadi suami yang berguna."
"Aku tetep beli ya. Ukuran baju kamu ber---" Arka menggantung ucapannya. Menatap Sekar dengan wajah nanar. Membuat gadis itu mengerutkan kening, "Aku payah ya? Bahkan ukuran baju kamu aja aku gak tau." Sesaat kemudian ia menunduk.
Melihat suaminya menunduk begitu Sekar tak tega. Ia mengangkat kepala Arka menggunakan kedua tangannya. Menerbitkan sebuah senyuman meski Arka nya tidak tersenyum, "Bukan kesalahan tidak mengetahui ukuran baju istri. Lagipula kamu udah ngelakuin hal yang terbaik."
"Beruntungnya Arka Ya Allah," Arka menengadahkan kedua tangannya kemudian di usapkan ke mukanya. Seolah-olah mengucapkan terima kasih kepada Allah.
"Jadi gemes. Jadi pengen nyapa utun, hehe."
"Arka mesum!"
Sudah tau suaminya itu mesum, masih saja dia polos. Hmm
Oke. mari kita pikirkan langkah baru untuk mengotori pikiran Sekar
Kelewat polos istri gue mah
Sum, mesum. Arka si mesum. Yehee pulang ke rumah
__ADS_1