
Sekar: Maaf, sepertinya aku terluka.
"Tapi Arka sendiri yang bilang kalau dia gak ngelakuin apa-apa sama Viona," ucap Sekar dengan nada suara parau. Berusaha menahan isak tangis. Berfikir positif tentang Arka.
"Kamu itu terlalu polos untuk kemakan sama kata-kata Arka. Viona itu cantik, sexy. Kamu juga tau sendiri kan kalau Viona sering nempel-nempel ke Arka. Pria mana sih yang tahan di tempelin wanita kayak Viona tanpa melakukan apa-apa," Arnold semakin mendramatisir. Menguasai dunia halu nya dengan menyangkut pautkan Viona.
"Kan dulu mereka belum tau mereka itu Adik Kakak. Yang adik kakak kandung aja masih ada yang ngelakuin hubungan terlarang. Gimana lagi Arka sama Viona?"
Ingin mencoba tidak percaya tapi sedikit belahan hati nya berkata tidak. Tidak mungkin apa yang dikata Arnold sepenuhnya salah. Seberapa tahankah Arka menahan diri sebagai pria sejatinya?
"Kamu yang pendiem aja Arka pernah nyosor 'kan? Apalagi sama Viona yang jelas dia nya yang kegatelan. Kepikir sampe situ gak?"
Entahlah. Kata demi kata yang terdengar begitu menyakitkan. Tidak ingin percaya namun susah. Perlahan, Sekar termakan juga oleh perkataan Arnold.
Bodohnya, mengapa aku baru sadar hal ini sekarang setelah apa yang dilakukan Arka padaku kala itu?
"Tapi semuanya belum berakhir. Masih ada kesempatan buat pisah sama Arka," begitulah bagaimana dengan terang-terangannya Arnold mengelabui Sekar.
"Lihat sekarang. Arka mengirimu pesan tidak? Terus apa kamu tidak merasa aneh pada kepergian Viona yang tiba-tiba ke Australia? Jujur, aku sendiri merasa aneh. Sebagai is--"
Ucapan Arnold terhenti kala dirinya melihat Sekar menunduk. Diiringi tetesan air mata.
Inikah yang Arnold inginkan sebenarnya? Sekar menangis, menderita. Sebenarnya Arnold tahu akan konsekuensi yang ia dapat ketika mengatakan hal seperti itu pada Sekar.
Bibir nya mengulas senyum. Menyeringai tanda kemenangan.
"Sabar ya. Mungkin Arka masih bukan lelaki yang baik untuk mu. Nanti juga pasti ada lelaki yang baik kok. Percaya lah," usaha macam apa ini?
Kepedihan hati Sekar makin menjadi kala melihat notifikasi pesan masuk dan itu dari Arka. Dengan tangan sedikit bergetar Sekar membuka pesan di handphone yang sedari tadi ia genggam ditangan---- menunggu telefon dari Arka.
Arka: Kan sudah ku bilang jangan masukan pria ke rumah! Tahu 'kan kalau Arnold itu pria?
Kasar, itulah yang terbelit di benak Sekar saat pertama kali dirinya membaca pesan dari Arka.
"Kak Arnold maaf ya Sekar harus shalat dulu. Tadi belum shalat," ucap nya pamit. Ingin mengusir tapi tak enak. Berusaha menenangkan diri dan jiwa. Berusaha menanggapi baik perkataan Arnold dan pesan Arka. Mencari ruang dan waktu untuk berfikir positif.
"Shalat apa jam 2?" Tanya Arnold santai. Sambil melirik arloji hitam yang melingkar di lengannya.
Saat itu juga langkah Sekar terhenti. Memutar otak berusaha menjawab pertanyaan Arnold. "Ma-mau mandi dulu. Abis itu siap-siap shalat ashar."
"Yang barusan SMS dari Arka 'kan? Marah ya tahu aku ada disini?" Sebenarnya hanya tebakan. Tapi raut muka Sekar membantu menjelaskan.
"Iya. Aku pulang. Jaga diri baik-baik. Dan pikirkan tentang Arka. Selamat siang, Sekar," pamit Arnold lalu melenggang dari sana. Membiarkan Sekar sendirian. Karena apa yang ia ingin lakukan sudah selesai.
Sekar menutup wajah nya. Bibir nya bergetar hebat. Dada nya sesak. Ia jatuh saat itu juga. Meremas kepala nya kuat-kuat.
__ADS_1
Kenyataan, dan apa yang Arnold katakan begitu meremas hatinya. Mencubit nya sekencang mungkin.
Arka yang pergi tiba-tiba, tak mengabari ditambah akan cerita Arnold barusan. Seperti lengkaplah sudah kesedihan Sekar.
Sekar menyeka air mata sialan yang luruh begitu saja. Merapihkan baju nya. Menghirup nafas dalam-dalam.
"Arka masih punya mulut untuk bicara. Kenapa harus percaya pada pria lain?"
Disaat pikiran dan perut sedang kosong. Hati dipenuhi rasa khawatir dan rindu. Datang Arnold dengan membawa segudang cerita luka.
Yang berhasil menjatuhkan Sekar yang sedang terbang tinggi saat itu juga.
****
Malam itu Sekar tidak bisa tidur. Sudah genap 3 hari dirinya tidak makan. Hebat, tidak ada rasa lapar yang menyerang. Namun kesehatan yang menjadi taruhan.
Kepala Sekar rasanya pusing dan berat, perutnya mual, nafas nya sesak. Sudah berulang kali Waluyo bolak-balik kamar Sekar untuk sekadar menanyakan keadaannya atau menawari Sekar makan. Namun Sekar tak mau dengan mengatakan kenyang.
Sebenarnya Waluyo khawatir. Apalagi sudah berjam-jam wanita itu tidak keluar kamar. Tapi Waluyo tidak berani masuk kamar Sekar. Pelanggaran besar rasanya.
Hingga tiba saatnya pandangan Sekar kabur. Ia yang sedang membaca Qur'an tak dapat mengingat apa-apa setelah merasakan sakit di kepala yang teramat hebat.
"Halo Yam? Yam bos mu dimana? Bisa minta tolong suruh kesini gak? Ini Non Sekar gak makan udah beberapa hari. Terus dia gak keluar-keluar kamar dari tadi. Aku takut ada apa-apa sama dia. Tapi gak berani masuk," Waluyo menelefon Iyam. Hanya Iyam satu-satunya yang bisa ia minta pertolongan. Sebenarnya Waluyo bisa meminta tolong pada Anisa. Sayangnya, pria Jawa itu tak memiliki nomor telefon Anisa.
"Yaudah kalau gitu kamu aja ke sini. Sekedar ngecek aja keadaan Non Sekar."
Iyam mengiyakannya. Menutup sambungan telefon. Lalu tancap gas hendak pergi ke rumah Sekar.
****
Berulang kali mereka berdua memanggil-manggil nama Sekar, mengetuk pintu. Tak ada satupun sahutan yang di jawab.
Iyam menoleh ke arah Waluyo. Seolah-olah bertanya sesuatu padanya, lalu di balas anggukan oleh Waluyo.
Waluyo mundur beberapa langkah. Menciptakan jarak yang lebih jauh dari daun pintu. Hingga pada hitungan ketiga. Bahu kekar nya dapat membuat pintu roboh. Di susul pekikan Iyam yang menggema.
"Astagfirallah, Neng Sekar?!" Kemudian menghampiri Sekar yang sedang tergeletak di lantai dengan berbalutkan mukena.
"Bantuin saya. Bawa ke mobil. Kita bawa ke rumah sakit," Waluyo berusaha mengangkat tubuh mungil Sekar. Membopongnya berdua bersama Iyam. Membawa nya ke rumah sakit terdekat.
"Coba di hubungi Mas Arka nya. Telefon dia. Bilang kalau Neng Sekar pingsan," usul Iyam yang sedang sibuk menyeka keringat Sekar. Entahlah. Matanya terpejam damai. Namun wajah nya berlumuran keringat.
"Jangan. Mas Arka lagi kerja. Kalau di hubungi terus dikasih kabar buruk nanti bisa-bisa dia shock terus kerjaannya ke ganggu. Coba telefon Bos mu saja," usul Waluyo.
"Kalau bisa mah udah saya lakuin dari tadi. Masalah nya Bu Tami sama Pak Arman lagi sibuk. Duh mana rumah di tinggal lagi. Saya gak bisa pergi lama-lama. Pasti nanti teh nyampe di rumah sakit. Neng Sekar sama kamu aja ya berdua?" Ujar Iyam kala mengingat bahwa ia meningggalkan rumah tanpanizin dari kedua Bos nya. Keadaan memang sedang genting-gentingnya. Tapi akan mengundang bahaya juga jika Iyam pergi terlalu lama.
__ADS_1
"Tapi Non Sekar juga butuh orang lain buat dampingin dia," usul Waluyo.
"Bu Anisa aja. Coba telefon dia."
"Pekok. Saya mana ada nomor Bu Anisa," pekik Waluyo.
Dan akhirnya jawaban terakhir jatuh kepada Arnold. Orang terakhir yang dekat dengan Sekar. Yang diperkirakan bisa membantu Waluyo dan Iyam saat ini.
******
Arnold berlari sekencang mungkin menyusuri lorong rumah sakit. Tak perduli pada banyaknya orang yang sudah ia tabrak.
"Sekar mana?!" Tanyanya begitu sampai.
"Di dalam Mas. Tapi belum sadarkan diri," tunjuk Waluyo.
Tanpa meminta izin dari siapapun Arnold masuk ke dalam. Menghampiri Sekar yang saat ini masih dalam keadaan terpejam.
Apa ini salah satu konsekuensi merebut Sekar dengan cara kasar? Pikir Arnold. Menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Sekar.
"Arka." Sekar menyebut sebuah nama. Dengan nada sendu nan lirih. Tanpa membuka matanya sedikitpun.
Gigi Arnold menggertak. Tangannya terkepal kuat. Jika yang ada di hadapannya ini adalah samsak. Sudah bisa dipastikan Arnold memukul nya habis-habisan.
"Arka," gumam Sekar sekali lagi. Tidak begitu terdengar jelas. Namun siapa lagi kalau bukan CEO itu yang di maksudnya?
"Stt Sekar. Buka matamu sayang. Ini Arnold, Arnold." Arnold membisikanya tepat di telinga Sekar. Mengucapkan namanya berkali-kali. Berharap namanya yang akan Sekar sebut berikutnya.
"Arka."
Gagal. Tetap saja nama suaminya yang Sekar sebut.
Perlakuan Arnold membuat Waluyo sedikit risih. Masalahnya jarak Arnold dan Sekar terlampau dekat. Waluyo meraih benda pipih di baju kemeja nya. Mencari kontak nama Arka. Menelefonnya. Berharap pria itu akan mengangkatnya.
Arka, salahkah bila rindu ini terlalu menjadi?
Dan tak bisa kupingkiri, bahwa aku merindukanmu. Berat rasanya. Kini aku tak biasa menjalani hari-hari bersamamu
Kenapa tidak menelefon? capek ya? yasudah, kalau Arka capek istirahat ya. Sekar mengerti
__ADS_1