Satu Hati 2 CINTA

Satu Hati 2 CINTA
Ngidam aneh


__ADS_3

Arka: Sekar kalau makan harumanis, harumanis nya gigit dia gak sih? Hehe soalnya takut harumanis nya cemburu kalah manis sama yang makan.


......


Anisa permisi pamit kepada Sekar dan Arka. Hari sudah menjelang siang. Ada banyak hal yang harus ia urus di panti asuhan. Dan Zakiya. Anak kecil itu harus tidur siang.


"Kak Sekal Iya pamit ya. Kak Sekal jangan malah sama om ini. Kasian. Nih pelmen. Buat Kak Sekal. Cepet sembuh ya," di akhiri kecupan singkat di kening Sekar. Sekar hanya tersenyum singkat.


"Mau saya antar bu?" Tawar Arka.


"Gak usah. Nak Arka disini aja temenin Sekar. Jaga dia baik-baik ya." Arka mengangguk halus. Kemudian meraih tangan Anisa untuk menyalaminya.


"Sekar Ibu pulang ya. Jaga diri baik-baik. Jangan kasar sama Arka. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Terlihat Zakiya melambai-lambaikan tangannya sambil berjalan mundur dan mengemut permen susu yang tadi di belikan Arka.


"Om titip Kak Sekal ya. Dadah!!" Di balas lambaian tangan oleh Arka.


"Ngapain masih di sini? Gak keluar?" Arka menatap Sekar yang sedang mengusirnya. Jelas-jelas tadi Anisa menyuruh Arka menemani Sekar. Mana mungkin ia bisa keluar. Tak perduli setajam apa Sekar menatap nya. Arka tetap duduk santai di samping gadis itu.


"Nggak. Mau disini aja. Nungguin kamu."


Sekar berdecih, "Gak usah. Akan lebih baik kalau kamu di luar," ucap Sekar finish.


"Sinis gitu. Sudah siang. Mau makan apa? Nasi goreng ada, indomie goreng ada, bakso ada, seblak ada, ayam geprek ad---"


"Mau meracuni ku?" Tanya Sekar ketus.


Arka nyengir. Menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Lupa hehe. Kan katanya kalau hamil biasanya pengen pedes-pedes gitu. Terus sayangnya Arka mau apa?"


"Mau Arka pergi."


Arka menghela nafas sabar. Susah juga membujuk Sekar. Emosi nya sepertinya cukup tinggi.


"Boleh minta apapun. Kecuali minta aku pergi," tegas Arka. Menatap nelangsa mata teduh Sekar.


"Kalau begitu aku minta kau diam."


"Boleh minta apapun. Kecuali minta Arka diam dan pergi," tegas Arka.


Sekar mengalah. Ia lebih memilih diam. Stamina nya juga belum pulih sempurna. Berdebat dengan Arka sama saja mati dengan jalur darah tinggi.


Dan pada akhirnya kedua orang itu hanya diam-diam. Sekar merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan perutnya. Ralat nya ia lapar. Dan Arka, ia meringis kesakitan. Dari tadi luka di tangannya belum di obati.


"Arka?"


"Arka?"

__ADS_1


Sekar menoleh. Melirik Arka. Di dapatinya pria itu sedang tertidur dengan tangan bersimbah darah yang mulai berangsur kering.


Sejauh ini, Sekar tidak tega melihat Arka terluka. Apalagi ketika pria itu sedang tertidur lelap. Wajah nya seperti tanpa dosa. Membuat siapapun yang melihatnya iba.


Pandangan Sekar beralih pada kepala Arka yang berbalutkan perban, "Pasti sakit," gumannya.


Ia tak kuasa menahannya. Berusaha keras namun tak bisa. Hingga pada akhirnya kalah pada keinginan terbesar. Mengelus kepala Arka. Ralatnya mengelus rambut Arka. Mengusap nya halus diiringi senyuman lembut.


"Arka?" Ia berusaha membangunkan Arka. Mengguncang bahu nya pelan.


"Ka. Bangun yuk. Jangan tidur disini. Tidur di sofa," ucap nya lembut.


"Arka? Bang---"


"Sekar. Aku gak ada apa-apa sama Viona. Percayalah... percayalah... percayalah...," Arka bergumam tanpa membuka mata dan mengangkat wajah nya. Singkatnya Arka tengah mengigau saat ini.


"Mimpi ya? Arka. Bangun yuk," dan pada akhirnya Sekar kalah besar. Sekuat apapun ia berusaha untuk marah dan membenci Arka tetap saja ia tidak bisa. Melihat bagaimana Arka terluka karena ulah nya membuat Sekar meringis sendiri. Melihat bagaimana pengorbanan Arka, justru Sekar semakin terluka.


Mungkin akan ada hal yang masih akan di pertimbangkan nantinya. Tapi untuk saat ini Sekar benar-benar tak kuasa melihat Arka seperti ini.


"Ka... bangun yuk. Coba pindah ke sofa tidurnya."


Arka mengangkat kepalanya. Mengerjapkan matanya beberapa kali. Tersenyum sumringah ke arah Sekar yang saat ini sedang menatapnya. Meski ada kemarahan dan kebencian di sorot mata gadis itu.


"Kamu laper? Mau makan apa, hm? Aku beliin ya. Asal jangan yang pedes-pedes. Nanti perut kamu sakit," Arka mengantuk berat. Tangan dan kepalanya sakit. Tapi itu tak dihiraukannya. Dirinya berpikir bahwa saat ini Sekar benar-benar membutuhkannya. Tubuh Arka nomor dua. Keinginan Sekar lah nomor satunya.


"Sedikit aja ya. Aku belikan apapun. Ya, ya, ya?" Memasang poppy eyes nya. Bertingkah seperti anak kecil.


"Yasudah," ucap Sekar finish.


"Oke. Mau makan apa?"


Sekar tak kunjung menjawab karena di luar sudah turun hujan. Begitu besar dan tiba-tiba. Membuatnya harus mengurung dalam-dalam keinginannya.


Bibir Sekar mengerucut, "Tidak jadi."


Alis Arka memicing, "Lho? Kenapa?" Melirik keluar. "Karena hujan ya? Tidak masalah. Aku bisa membelikanmu makanan apapun. Ayo katakan saja."


Sekar terlihat berpikir. Melirik keluar sekilas. Hujannya cukup besar. Mampukah Arka membelikan apa yang ia inginkan?


"Harumanis."


Arka membelalakan mata, "Hah? Tidak ada makanan yang lain apa? Ma-maksudnya bukan apa-apa. Dengan makan harumanis tidak akan membuat mu kenyang."


Sekar menggeleng tegas, "Hanya itu yang kuinginkan."


"Ekhem. Sayang. Tadi aku sudah janji kan akan membelikan mu apapun? Baik, harumanis. Tapi di tambahi makanan lainnya ya? Bubur? Atau mungkin nasi? Mau nasi apa?"

__ADS_1


"Harumanis," ucap Sekar. Singkat, padat dan tidak ada penolakan.


Arka menghela nafas dalam, "Yasudah. Kalau begitu ongkosnya?" Arka mendamprakan tangannya.


Sekar mengerutkan kening. Di pikirnya Arka akan membelikannya menggunakan uangnya sendiri.


"Ada di tas ku. Di sana, ambil saja berapapun yang kau mau. Harumanis tidak begitu mahal."


Arka menggeleng, "Tidak akan cukup."


"Hah? Coba di cek dulu. Itu tas dari Ibu Anisa. Ada uang nya kok. Pastinya cukup. Memangnya harga harumanis berapa?"


"Ish. Istriku ini polosnya kebangetan ya," cela Arka.


"Maksudnya?"


"Merem," titah Arka.


"Buat apa?"


"Buat ini," lagi dan lagi. Kecupan singkat terparkir tanpa jejak di bibir Sekar. Membuat sang empu memelotot. Ingin rasanya menarik rambut Arka. Tapi kasihan. Sekar hanya menghela nafas sabar. Hingga sampai erangannya terdengar barulah Arka melepaskannya.


"Makasih ongkosnya."


"Arka mesum!"


Arka mah kalau deket Sekar bawaannya oleng mulu



Bener apa bener?



Ya bener dong



Bodoamat. Terserah Arka



Sekar dedek gemes



__ADS_1


__ADS_2